
"Mas Adam sekarang di rumah sakit, mengalami kecelakaan". Jawab Pak Polisi tersebut.
"Deg" Kedua lutut Manisya kini melemas, detak jantungnya se akan berdegup semakin kencang, keringat dingin mulai bercucuran membasahi rambutnya perlahan turun ke wajah yang memerah, kedua matanya di aliri air mata yang tak bisa lagi ia tahan, Manisya kini menangis tersedu-sedu.
Mendengar Manisya menangis tersedu-sedu sambil memegang ponselnya, membuat Pak Polisi yang mendengar di balik ponselnya segera menenangkan Manisya.
"Mba tenang mba, Mas Adam baik-baik saja"
"Benarkah apa Adam baik-baik saja" Manisya kembali menangis, memikirkan jika hal buruk terjadi kepada Adam.
"Iyah Mas Adam sekarang berada di rumah sakit mba, mbaknya yang tenang" dan pak polisi pun memberikan informasi kepada Manisya rumah sakit tempat Adam di rawat.
Manisya yang kala itu sedang berada di bis, segera menyeka Airmatanya dan mencoba menenangkan diri agar Aliran bening yang sedang membasahi pipinya itu segera berhenti, Manisya mencoba berdiri walaupun kedua lututnya terasa lemas ia menahan dengan berpegangan pada Kursi penumpang, perlahan Manisya berjalan untuk bersiap akan turun karena bis yang ia naiki akan segera berhenti pada pemberhentian selanjutnya. Tanpa ia sadari semua mata menatap dengan tatapan heran ke arahnya namun Manisya mengabaikannya, ia kini hanya fokus mengkhawatirkan bagaimana kondisi Adam saat ini.
Setelah turun dari Bus, Manisya segera memesan Ojek Online, Agar mempercepat perjalanannya menuju rumah sakit tempat Adam di rawat.
"Mbak Manisya" Tanya seorang pengendara sepeda motor yang tak lain adalah Ojek Online pesanannya.
"Iyah Mas saya sendiri" Jawab Manisya Masih dalam ke Adaan menangis.
Sejenak Pengendara Ojek Online tersebut menatap ke arah muka Manisya yang Masih berurai air mata, namun segera mengalihkan pandangannya saat Manisya menyadari Ojek Online tersebut sedang menatap ke arahnya.
"Maaf mba" Ojek Online meminta maaf kepada Manisya karena telah menatapnya.
"Saya juga minta maaf" Kata Manisya sambil menaiki motor milik Ojek Online tersebut, sang Ojek Online Mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang, namun Manisya yang tak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan sedikit berteriak meminta untuk menaikan kecepatan laju sepeda sang Ojek Online.
Manisya menepuk pundak Ojek Online "Mas boleh minta tolong agak cepat sedikit, saya sedang terburu-buru" Manisya menaikkan suaranya agar terdengar oleh pengendara ojek online tersebut.
__ADS_1
"Baik mba" Ojek Online tersebut mendengar permintaan Manisya , seketika melajukan kencang motor yang ia kendarai.
Manisya masih memikirkan kondisi Adam saat ini, namun ia kini bisa lebih tenang, karena mengingat perkataan Bapak Polisi yang berkata jika Adam baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama untuk Manisya sampai ke rumah sakit tempat Adam di rawat.
Saat Manisya sampai di tempat tujuan "Pembayarannya sudah pakai aplikasi ya pak, terimakasih banyak" Kata Manisya mengakhiri pesanan Ojek Online tersebut.
"Sama-sam mba, semoga kebahgaian selalu meliputi mbaknya" Ojek Online tersebut berkata kepada Manisya sebelum akhirnya melajukan kembali Motor Hijau miliknya tersebut.
Sejenak Manisya menatap gedung bertingkat di depan matanya, ia berdoa untuk kesehatan Adam, setelah itu perlahan Manisya melangkahkan kakinya ke dalam gedung tempat Adam di rawat, Manisya mengingat kembali saat seorang Polisi tiba-tiba menghubunginya mengatakan bahwa Adam mengalami kecelakaan, hal itu yang membuatnya kini berurai air mata kembali, sesaat Manisya menghentikan langkahnya, ia ragu untuk mengayunkan kakinya, takut jika yang ia lihat sama dengan yang ia bayangkan.
Manisya menghampiri meja informasi di dalam rumah sakit tersebut.
"Permisi mba, saya mau menanyakan kamar an Adam Putra Haryanto ada di kamar berapa ya?". tanya Manisya pada seorang petugas informasi dengan menahan isak tangisnya yang keluar akibat dari fikiran kacaunya saat ini.
"Ada di kamar sepuluh mba, naik saja kelantai satu nanti belok kanan, kamarnya tak jauh dari sana" Jelas petugas informasi kepada Manisya secarq rinci.
"Baik Mba" Terimakasih banyak, jawab Manisya sambil megusap kedua matanya yang di banjri airmata dengan tissu yang ia pegang sejak tadi.
Manisya pun berjalan dan menaiki lift Sampai dengan lantai satu sesuai dengan arahan petugas informasi berikan kepada Manisya. Tak perlu waktu lama, Manisya pun menemukan tempat Adam berbaring.
"Kamar sepuluh" Manisya berkata dalam hati sambil menatap pintu dengan tulisan angka sepuluh di depannya. Tiba - tiba jantungnya semakin berdegup kencang, kedua lututnya semakin melemas dan keringat dingin menyelimuti seluruh badannya saat Manisya memegang pegangan pintu kamar tersebut untuk ia buka. Manisya memberanikan diri membuka pintu tersebut, pintu tersebut terbuka secara perlahan sehingga ia melihat seorang pasien tengah berbaring di tempat tidur, ia juga melihat sebuah luka di pipi yang dibiarkan begitu saja dan di bagian pipi lainnya terbungkus rapi oleh sebuah perban, dan pergelangan lengan kirinya terbungkus rapi oleh sebuah kain perban berwarna putih, pasien yang berbaring tersebut tak lain adalah Adam.
Namun bukannya masuk kedalam kamar, Manisya memilih untuk menutup kembali pintu tersebut kemudian berjalan beberapa langkah dan akhirnya berjongkok, tak lama setelahnya Manisya menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya, kini ia menangis tersedu-sedu hingga semua mata yang melewatinya menatap iba ke arah Manisya.
" Neng Manis, neng" Suara seorang laki-laki memanggil namanya namun tak di hiraukan nya, laki-laki tersebut tak lain Adalah pak Komar supir pribadi Adam. Pak Komar yang memang sudah menemani Adam sejak awal, Pak Komar pun memasuki kamar Adam.
__ADS_1
"Mas, itu yang di depan yang lagi nangis sesenggukan Neng Manis ya Mas, Kasian segitu khawatirnya sama Mas Adam Ampe nangis begitu, Ampe di lihatin banyak orang lho Mas".
Mendengar perkataan Pak Komar membuat Adam mengerutkan keningnya dan menarik kedua bola matanya mencoba mencerna apa yang Pak Komar katakan.
"Manis? Manisya maksud Pak Komar?" tanya Adam kembali memastikan.
"Iyah, yang sering bareng pulang sama kita" Pak Komar memberi kan sebuah keterangan yang memang mengarah kepada Manisya.
"Gak mungkin gadis bodoh itu" Jawab Adam kepada Pak Komar.
"Lah itu toh yang di luar yang lagi nangis sesenggukan siapa toh" Pak Komar masih dengan pendiriannya.
"Tapi yang tau aku di sini cuma Pak Komar doank, apa Pak Komar ngasih tau wanita bodoh itu" Adam kini menaruh curiga kepada Pak Komar.
"Loh kenapa jadi saya, saya kan ga tau no hape nya neng Manis Mas, gimana nih Mas Adam"
"Coba lihat lagi Pak Komar, fotoin sekalian" Adam masih belum yakin jika wanita yang di katakan Pak Komar adalah Manisya, Adam juga memberikan ponselnya kepada Pak Komar.
Pak Komar pun mengikuti perintah Adam, tanpa Manisya sadari, Pak Komar mengambil foto Manisya yang tengah menangis, tak hanya itu Pak Komar juga merekam sebuah Video Manisya yang sedang Menangis tersedu-sedu, dan setelah selesai merekam, Pak Komar memberikan ponsel tersebut kepada Adam.
"Coba lihat Mas, betul gak itu neng Manis" Giliran Pak Komar yang merasa penasaran.
Adam menatap layar ponselnya dengan serius, ia membolak-balik kan gambar yang Pak Komar Ambil, kemudain menarik keningnya hingga terbentuk sebuah kerutan di sana, dan akhirnya Adam berkata mengambil sebuah kesimpulan.
"Benar-benar wanita bodoh".
***
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya semoga kita semua selalu happy.. ๐คน