Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Rumit


__ADS_3

Adam keluar dari ruangan pasien tepatnya kamar di mana Manisya terbaring, dengan emosi yang masih meluap-luap ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit tersebut, mengendarai mobil nya sendiri dengan kecepatan di atas rata-rata,


Di rumah sakit,


Pak komar sedang menenangkan Manisya yang masih menangis.


"Sudah neng, nangisnya udahan, gimana toh nanti kalo ada Ayah Ibu, nyangkanya nanti di apa apain loh sama mas Adam" sambil menepuk nepuk bahu Manisya.


Manisya masih mengeluarkan airmata kesedihannya, mengingta perkataan Adam atau pun sikapnya yang selalu kasar padanya.


"Bapak itu kenal sekali sama mas Adam neng, dia itu sebetulnya baik neng hatinya, ya cuma gitu suka gak bisa menyampaikan dengan lembut, agak kasar orangnya, dan gak mau di bantah, tapi aslinya baik kok, buktinya neng Manis di ajak kesini sama Mas Adam." Pak Komar sedikit menenangkan Manisya.


Namun Manisya tidak merespon perkataan Pak Komar.


"Bapak mewakili mas Adam, mohon di maafkan ya perlakuan mas Adam sama neng Manis" Pak Komar meminta maaf dengan logat sunda Nya.


Manisya kini menghentikan tangisnya.


"Sudah saya maafkan ko pak, cuma masih kesel aja sama dia" Manisya mencoba menarik nafasnya bermaksud mengeluarkan segala ke sedihan dalam hatinya.


"Mungkin masih belum terbiasa aja neng dengan sikap Mas Adam, lama-lama juga terbiasa" Pak komar kembali menghibur.


Saat Manisya dan Pak Komar sedang asik bicara, orang tua Manisya datang ke ruangan.


"Manis" Ibu memanggil Nama Manisya sambil berkaca - kaca.


"kenapa bisa begini?" tanya sang ibu sambil memeluk Nisya.


Sang Ayah giliran menatap Manisya sedih.


"Nisya baik baik saja Ayah Ibu, kamren-kemaren kan Nisya kesiangan melulu jadi suka di hukum trus kadang paginya ga makan dulu, jadi ini Nisya hanya kelelahan saja" Nisya mencoba menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


Setelah percakapan antara orangtua dan anak selesai, Ibu Manisya melirik ke arah Pak Komar yang tengah duduk di sofa, melihat Orangtuanya melirik ke arah Pak Komar, Nisya langsung memperkenalkan Pak Komar,


"Ibu Ayah, itu Pak Komar, Pak Komar tadi yang mengantar Nisya ke Rumah Sakit"


Kedua orang tua Manisya menghampiri Pak Komar, mereka pun berjabat tangan, saling bersalaman.


"Terimakasih ya Pak sudah menolong anak saya" Ayah Nisya mengungkapan rasa beryuskurnya pada Pak Komar.


"Saya cuma di suruh mas Adam" jawab Pak Komar,


"Lho nak Adam Nya mana Pak?" tanya Ayah Niysa.


"Mas Adam tadi ada keperluan jadi pulang duluan, saya di suruh Mas Adam nungguin Neng Manis di sini sampai Bapak Ibu datang" Pak Komar memaparkan.

__ADS_1


"Oh begitu" Ayahna Manisya menganggukan kepala nya.


"Karena Bapak Ibu sudah datang, saya ingin permisi pulang" Pak Komar berpamitan.


"Oia Pak,, silahkan, silahkan, terimakasih banyak Pak Komar atas bantuannya, dan tolong sampaikan kepada Mas Adam, terimakasih atas bantuannya" Ayah Manisya menitip Pesan.


Pak komar pun pergi meninggalkan Rumah Sakit tersebut, tinggalah Ayah Ibu Manisya dan Manisya sendiri di dalam kamar.


"Kamu udah makan belum Sayang?" tanya sang ibu yang bernawa Ibu Dewi tersebut.


"Belum bu" jawab Manisya yang masih mengenakan baju seragam sekolahnya dengan lengkap tersebut.


"Kalau begitu kamu makan dulu ibu bawakan bubur untuk kamu" Ibu Dewi berkata sambil membuka tas yang berisi perlengkapan Manisya dan membuka tas plastik yang berisi makanan tersebut.


Manisya pun mengangguk mengikuti perintah sang Ibu, ia pun memakan bubur terlebih dahulu di bantu oleh Ayahnya yang bernama Aralan, sedangkan berganti pakaian di bantu oleh Ibu Dewi yang merupakan Ibu nya sendiri.


"Ayah" Manisya memanggil.


"Kenapa sayang" tanya sang Ayah.


"Maafkan Manisya" Nisya menundukkan kepalanya.


"Kamu ini, namanya juga sakit, kita kan ga tau kalau bakal seperti ini, jadi kamu ga perlu minta maaf" Perkataan bijaksana sang Ayah menenangkan hati Manisya.


"Iya sayang, kamu ga perlu minta maaf" Ibu Manisya meyakinkan kembali perkataan Sang Ayah.


Hal itu pula yang membuat Manisya menolak saat Adam membawanya ke rumah sakit, perasaan bersalah akan membani kedua orang tuanya sudah terbersit saat ia merasa sakit.


"Ibu, boleh Manisya minta tolong Ambilkan Ponsel Nisya di dalam tas" Manisya meminta tolong Ibunya, kemudian Ibu Dewi pun Memberikan Ponsel tersebut kepada Manisya.


Manisya kemudian teringat akan sahabatnya Nina, ia mendengar cerita dari teman sekelasnya jika orangtua Nina merupakan salah satu pengusaha sukses, walaupun Nina tidak pernah bercerita ataupun menyinggung tentang keluarganya.


Nisya mencoba mengetik sebuah pesan kepada Nina, isi pesan tersebut :


Manisya : "Nin, kamu punya uang banyak ga di Tabungan?"


Nina : "Uang? kamu perlu uang? berapa? dan buat apa?"


Manisya : "Ceritanya panjang, mungkin sekitar 50 juta, aku janji aku ganti"


Nina : "Buat apa hei?"


Manisya : "Dua atau tiga hari kedepan pokoknya kalau aku perlu uang itu, kamu pinjamkan aku ya, aku janji aku ganti"


Tak lama ponsel Manisya bergetar, tertulis di layar lonsel "Nina Memanggil", namun Manisya buru-buru menekan tombol cancel Pada layar monitornya, tak ingin Ayah dan Ibunya mendengar percakapannya dengan Nina, kemudian ia mengetik sebuah pesan yang isinya :

__ADS_1


Manisya : "jangan telepon sekarang, nanti aku janji aku jelasin".


Nina : "kamu hutang penjelasan sama aku"


Manisya: "oke"


Walaupun Nina tidak menjanjikan apapun, tapi Manisya yakin jika Nina memiliki uang tersebut dalam rekening pribadinya, Manisya pun sedikit merasa tenang, walaupun pikirannya masih memikirkan cara untuk melunasinya jika betul uang tersebut harus di pinjam untuk pengobatan sakitnya sekarang ini.


"Semua ini gara-gara si Adam nyebelin itu!! Padahal aku bilang aku baik - baik saja tapi dia malah bawa aku kesini" Manisya bergumam dalam hatinya.


"Manisya, istirahat dulu sudah malam sayang" Ibu Dewi mengingatkan Manisya yang masih memainkan Ponselnya.


"Baik bu" jawab Manisya.


Kemudian Manisyapun mulai memejamkan matanya mengesampingkan semua yang Mengganggu fikirannya dan akhirnya terlelap dalam mimpinya.


Di sisi lain.


Adam yang baru saja tiba di rumahnya membanting pintu saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Brukkk" Bunyi pintu di banting dengan keras.


Adam juga membanting tas yang ia bawa, tanpa khawatir barang yang ada di dalam tersebut.


"Bugg" bunyi tas Adam yang terjatuh di lantai.


Kemudian Adam duduk di pinggir tempat tidur, seakan banyak sekali beban fikirannya, ia kemudian mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa harus gua yang harus ber urusan sama cewe menyebalkan itu" Adam yang merasa tidak terima harus sering ber urusan dengan Manisya, apalagi kini ia memikirkan awal mula Manisya terjatuh pingsan, karena dirinya menyentak kasar kepada Manisya.


"Wanita menyebalkan" Adam mengepalkan tangannya memukul kasur yang ia sedang duduki, kemudian Adam pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh badannya yang sudah di basah oleh keringat.


Di luar rumah kamar Adam.


"Mas Adam kenapa ya, kayaknya suasana hatinya sedang tidak baik, semua pintu ia banting" Para Asisten Rumah Tangga di rumah itu merasa ketakutan akan sikap Adam saat pulang ke rumah.


"Mungkin Mas Adam lagi marahan sama pacarnya" Sambung ART yang lainnya.


"Ssttt, jangan berisik nanti kedengeran sama Mas Adam" ART yang lainnya mengingatkan.


Pada saat Itu memang Orang Tua Adam sedang tidak berada di rumah, hanya ada Asisten rumah tangganya saja yang berada di rumah Adam yang berjumlah 7 orang tersebut, di tambah 2 supir yang salah satunya Pak Komar dan 2 Petugas Pengamanan.


Adam pun selesai dari kamar mandinya, dengan rambut yang masih basah dan sebuah handuk yang ia ikatan pada pinggangnya sambil membawa baju yang ia bawa dari Wardrobe yang akan ia pakai di dalam kamar, ia mendengar ponselnya bergetar.


"Drrrt, Drrrt, Drrrt" bunyi ponsel Adam, ia melatakan baju yang ia pegang di atas Meja belajar kemudian ia meraih Ponsel yang berada di atas kasur yang memang ia letakkan di sana.

__ADS_1


Ada sebuah pesan di sana, Air muka Adam berubah seketika kemduaian ia menaikkan kedua alisnya.


__ADS_2