Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Apa Sudah Menemukan Dompetmu?


__ADS_3

"Aku?" Manisya menunjuk dirinya sendiri merasa ragu dengan apa yang Adam ucapkan kepadanya.


Adam yang sudah memalingkan mukanya dari Manisya, mendengar ucapan Manisya seketika menoleh kembali ke tempat Manisya berdiri, tepatnya berada di belakang Adam dan Siska.


"Apa kamu Fikir ada orang lagi selain dirimu dalam ruangan ini?"


Manisya mengangkat kedua alisnya mencerna ucapan Adam, "Tentu saja ada, ada kamu, maksud saya, ada Bapak dan Ibu Siska!"


Adam terlihat mendesah mendengar ucapan Manisya. Sedangkan Siska memutarkan kedua bola matanya saat mendengar ucapan Manisya. "Sudahlah, percuma kita bicara dengan wanita bodoh!" Ucap Siska sambil menatap jijik ke arah Manisya.


Manisya hanya menunduk, perasaannya terluka mendengar ucapan Siska. "Maaf!" Jawab Manisya.


Setelah itu lift terbuka, Adam, Siska dan Manisya segera melangkahkan kaki nya keluar dari lift.


"Maaf Pak Adam Bu Siska, saya tidak ikut menumpang Mobil Bapak, kebetulan hari ini saya ada keperluan!" Tutur Manisya, ia hanya merasa sangat kesal mendengar ucapan Siska yang selalu menyudutkan dirinya.


Adam dan Siska yang berjalan di depan Manisya, seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Manisya.


"Suka-suka mu saja, itu lebih baik!" Jawab Siska.


Sedangkan ucapan Adam berbeda, "Tidak, kau harus ikut denganku!" berkata tanpa memberikan sebuah pilihan kepada Adam.


"Maaf saya ada keperluan, permisi!" Manisya yang memang sangat kesal melihat Siska tak tahan lagi memutar badannya hendak berbalik arah.


Namun langkah Manisya tertahan, karena Adam menarik tas miliknya saat ia hendak berlari meninggalkan mereka.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Bagas datang, ia melihat Adam menarik paksa tas Manisya.


"Apaan si Lo Dam!" Ucap Bagas hendak melepaskan tangan Adam dari tas Manisya.


"Dia cari gara-gara!" Ucap Siska.


"Gara-gara?" Bagas mengangkat alisnya.


"Maaf saya buru-buru, bisa tolong lepaskan tas saya pak Adam!" Ucap Manisya menatap kesal ke arah Adam, bagaimana Manisya tidak kesal pada Adam, ia tidak berusaha membela dirinya saat ada seseorang yang menghina dirinya, terlebih lagi Siska salah satu wanita yang selalu berhasil membuat dirinya kesal.


"Tidak kamu harus ikut denganku!" Adam masih tak membiarkan Manisya pergi.


"Tapi saya sedang ada keperluan!" Kali ini Manisya yang meninggikan suaranya.

__ADS_1


Tiba-tiba Bagas melepaskan tangan Adam yang menarik tas Manisya.


"Sorry, si Manis mau jalan sama Gua!" Jawab Bagas sambil merangkul pundak Manisya kemudian berjalan meninggalkan Adam dan Siska yang masih menatap tajam ke arah mereka.


"Ayo Dam!" Ucap Siska sambil berusaha melingkarkan tangannya pada tangan Adam, namun Adam masih tak bergeming menatap tajam ke arah Manisya, sangat jelas sekali kedua rahangnya ikut mengeras menyaksikan Manisya pergi dari hadapannya dengan Bagas yang merangkulnya.


"Maaf Pak Bagas ini sangat tidak nyaman, bisakah Bapak melepaskan tangan Bapak?"


Seketika tangan Bagas terangkat mendengar ucapan Manisya.


"Sorry sorry!"


Manisya tersenyum, "Gak apa-apa Pak, Oia Pak maaf saya memang sedang ada keperluan, jadi saya akan pulang sendiri!"


"Lha kok gitu sih, kamu tuh kenapa setiap kali aku ajakin bareng suka nolak terus?" Protes Bagas kepada Manisya.


"Maaf Pak memang benar-benar ada perlu!" Ucap Manisya, ya memang Bagas sudah sering menawarkan untuk mengantarkan Manisya pulang, tapi dengan berbagai alasan Manisya selalu berhasil menolaknya, sebetulnya Manisya pernah mendengar cibiran pegawai lain tentang dirinya, bagaimana muka polosnya menjadi bahan cibiran, ia dikira mencoba menggoda pria-pria di kantornya dengan muka polosnya, untuk itulah siapapun yang mengajaknya untuk pulang bersamanya jika itu seorang lelaki, Manisya pasti menolaknya.


"Lain kali aku ga mau ya kamu banyak alasan aku ajakin pulang bareng!"


Manisya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu pamitan kepada Bagas.


***


"Bukan, aku hanya meminjamnya!" Jawab Adam dengan nada malasnya.


Saat Siska hendak membuka pintu mobil, Adam menahannya dan menutupnya kembali, tak membiarkan siska masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sedang ada perlu!" Ucap Adam tanpa basa-basi, tanpa pamit dan tanpa meminta maaf kepada Siska, ia kemudian segera masuk kedalam mobil miliknya kemudian menyalakan mesin mobil dan segera berlalu meninggalkan Siska yang sedang berdiri mematung menatap setiap gerakan mobil merah yang di kendarai oleh Adam.


"Menyebalkan!" Dengan kedua tangan mengepal sedangkan salah satu kakiknya ia hentakan ke bumi melepaskan kekesalannya saat itu.


***


Pagi hari di kantor.


Seperti biasa, saat pagi setiap pegawai berlomba-lomba untuk memasuki lift yang memang tingkat kesibukannya akan sangat meningkat saat di pagi hari, membantu karyawan menuju lokasi kerjanya tentu saja dengan menggunakan lift.


Sudah beberapa menit berlalu namun lift tak kunjung berhenti di hadapannya, saat itu Manisya tengah larut dalam fikirannya, entah apa yang ada dalam benaknya hingga seseorang yang berdiri tepat di pinggirnya pun ia tak menyadarinya.

__ADS_1


Manisya menengok ke arah kirinya, ia sangat terkejut melihat Adam yang sudah berdiri tepat di hadapannya hingga membuat tubuhnya bergerak seketika, melihat reaksi Manisya membuat Adam menatapnya kedua bola mata saling memandang untuk beberapa saat.


"Adam!" Panggil Manisya sambil menarik kedua sudut bibirnya.


"Reaksimu itu berlebihan!" Ucap Adam menatap tajam Manisya.


"Maaf aku terkejut, melihatmu tiba-tiba ada di pinggirku!"


Adam meluruskan kembali pandangannya. Manisya mengerutkan bibirnya sambil mengikuti Adam menatap lift yang belum terbuka.


Setelah beberapa saat dala kebisuan, "Ting!" bunyi Lift terbuka.


"Apa sudah menemukan dompetmu?" tanya Adam sambil berlalu melangkah memasuki lift yang pintunya sudah terbuka.


"Sudah!" Sambil menengok ke arah Adam, Manisya berfikir sejenak.


"Adam tahu aku hilang dompet? apa Mona menceritakannya?" Manisya masih mematung didepan lift yang akan segera tertutup tersebut.


Benar saja Manisya masih mematung saat pintu lift benar-benar akan tertutup.


"Gadis bodoh!" Ucap Adam sambil menahan pintu lift yang hendak tertutup secara sempurna itu.


"Apa kamu tidak akan masuk?"


Manisya melirik ke arah Adam dengan tatapan kosong, namun Manisya masih belum melangkahkan kaki nya ke dalam lift.


Adam merasa gemas melihat Manisya, kemudian menarik tangan Manisya dengan paksa. Manisya begitu terkejut Adam menarik paksa tangannya, seketika matanya membulat menatap Adam. Berkat Adam yang menarik tangannya, akhirnya Manisya melangkahkan kaki nya ke dalam lift dan lift pun segera tertutup dan melaju, Manisya terlihat begitu gugup saat di dalam lift karena jantungnya yang berdegup kencang saat Adam menariknya secara tiba-tiba, mencoba mengatur nafasnya saat itu ia mendengar seseorang berkata dari arah belakang menggerutu dengan sikap Manisya.


"Bikin lama saja!"


Mendengar hal itu, Manisya segera menengok ke arah belakang dan meminta maaf,


"Maaf, maaf!"


Setelah itu Manisya menatap Adam yang berdiri di pinggirnya di dalam lift, "Apa Mona bercerita kepadamu soal dompet ku yang hilang?"


Adam yang sedang lurus menatap kedepan, mendengar pertanyaan dari Manisya membuatnya seketika menengok ke arah Manisya menatapnya dengan tajam, kini mereka saling menatap untuk beberapa saat. Kemudian Adam menjawab pertanyaan Manisya.


"Tidak!"

__ADS_1


__ADS_2