Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Pertahanan Manisya


__ADS_3

"Iya mba betul, pesanan an Mba Manisya" Jawab Pengendara Ojek Online tersebut.


"Iya betul saya sendiri" Jawab Manisya.


Saat Manisya hendak menaiki motor tersebut.


Tangannya di tarik oleh seseorang, ya seseorang yang membuatnya berurai air mata, seseorang itu tak lain adalah Adam.


"Adam" wajah Manisya pucat pasi melihat Adam yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Maaf, pesanannya di batalin" Dengan raut muka datar Adam membatalkan sepihak Ojek Online yang Manisya pesan.


"Tapi Adam" Manisya menyanggah.


"Batalin ga" Adam mengancam dengan penuh kekesalan.


"Baiklah" Manisya mengeluarkan ponselnya agar ia bisa membatalkan pesanan Ojek Online tersebut.


"Kenapa Mas" Tanya Ojek Online tersebut.


Tanpa menjawab pertanyaan Ojek Online tersebut Adam mengeluar kan sejumlah uang dari dompetnya, kemudian ia berikan pada pengemudi Ojek Online tersebut.


"Inih untuk ganti ruginya" Adam memberikan semua uang yang ada di dompetnya kepada Ojek Online tersebut.


"Inih kebanyakan Mas" jawab Ojek Online yang kaget menerima uang sebesar tiga juta Rupiah yang ia terima dengan cuma-cuma.


"Gak papa, ambil saja untuk ganti rugi" Jawab Adam tanpa basa-basi.


"Baiklah Mas terimakasih banyak, semoga rezeki melimpah kesehatan yang baik, serta kebahagian selalu menyertai Mas dan Mbak nya" Iringan doa Ojek Online tersebut panjatkan untuk untuk Manisya dan Adam sebagai wujud bahagianya karena mendapatkan rezeki yang banyak hari ini.


"Ammiin" Jawab Manisya dan Adam bersamaan.


Setelah berpamitan, Ojek Online pergi meninggalkan Manisya dan Adam.


Tangan Adam masih memegang Manisya, "Bisa lepaskan tanganku" Pinta Manisya yang sedikit canggung, Adam pun mulai melepaskan genggaman tangannya.


"Bisa Lo jelasin kenapa Lo tiba-tiba kabur seperti itu" Adam mulai menginterogasi Manisya.


"Kamu terima pesanku kan?" tanya Manisya kepada Adam tak mau menjelaskan untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Apa perlu Gua telepon Ibu Dewi sekarang?" Adam sedikit emosi memberikan sebuah ancaman pada Manisya.


Keringat dingin mulai Manisya rasakan saat ia sadar Adam mengetahui jika dirinya sedang berbohong.


"Itu, anu, Aku" Jawab Manisya gelagapan. Manisya pun memilih diam tak ingin berkata kebohongan yang lainnya.


"Sudahlah ikut Gua" Perintah Adam kepada Manisya yang diam mematung, tak ingin berkata memperdebatkan sebuah masalah.


"Kita mau kemana" tanya Manisya belum melangkahkan kakinya, ia tak ingin beretemu kembali dengan Leo yang membuatnya menangis.


"Gua belum bayar makanan kita tadi dan belum pamitan sama Leo" jawaban Adam membuat Manisya mengingat kata-kata Leo yang menyakiti hatinya.


"Aku enggak mau masuk ke dalam lagi, kamu saja, aku menunggu di sini" Jawab Manisya kepada Adam, namun setelah mendengar jawaban Manisya, Adam yang Telah melangkah satu langkah di depan Manisya, memundurkan langkahnya kembali, kemudian Menyamkan kakinya dengan Manisya, ia memberikan tatapan penuh selidik kepada Manisya.


"Ada apa?" Tanya Manisya yang merasa risih Adam menatap curiga kepadanya. Manisya pun menundukkan kepalanya.


"Apa Leo yang membuat Lo


pergi duluan?" Tanya Adam yang mulai curiga.


"Bukan" Manisya menjawab dengan memutarkan kedua bola matanya pertanda ia menyembunyikan sesuatu.


Saat Manisya sedang berdiri, Ada yang memanggil namanya, Manisya menoleh ke Arahnya.


"Hei Manisya" Ternyata sosok yang memanggil namanya adalah Leo, laki- laki yang membuat sakit hatinya dan membuatnya ingin menghilang saat itu juga.


"H e ei" Dengan gugup dan menahan luka hatinya karena perkataan Leo tadi membuatnya menjawab sapaan Leo dengan gugup.


"Kamu kenapa di sini?" tanya Sheryl.


"Sedang menunggu Adam" Jawab Manisya perlahan dengan menahan perasan sakit dalam dada nya.


Sehryl yang saat itu sedang bercakap dengan Manisya, mendapat panggilan telepon, kemudian melangkah ke arah yang Manisya dan Leo tidak dapat menjangkau Nya.


" Lo beneran teman sekelas Adam" Tanya Leo yang menaruh curiga.


"Kalau iya kenapa dan kalau enggak kenapa?" tanya Manisya menampakan raut muka yang tidak senang pada Leo saat Leo memberi pertanyaan tersebut.


"Lo suka kan sama Adam" pertanyaan Leo yang terus terang membuat Manisya terkejut, dan kini mukanya berubah pucat, bingung akan pertanyaan Leo.

__ADS_1


"Jangan - jangan kamu cemburu ya!" Jawaban Manisya membuat Leo terkejut, membulatkan kedua bola matanya yang memang sudah nampak besar.


"Ngaca donk Lo" Jawaban Leo membuat sekujur tubuh Manisya tiba-tiba dingin.


"Kamu tau sendiri kan, kamu ituh sama Adam kalau di bandingkan dengan Adam, jauh berlebih Adam dalam segala hal, jadi sewajarnya aku lebih suka Adam daripada Kamu, maaf ya" kali ini Manisya memutuskan untuk tidak cengeng, Manisya menyilangkan kedua tangannya kemudian berkata melawan Leo yang setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu menyakitkan.


" Apa maksud Lo?" Jawab Leo yang tidak terima jika dirinya di bandingkan dengan Adam, dan tidak terima jika dirinya sedang cemburu dengan Manisya.


"Aku juga udah ngerti, jangan memutarbalikkan fakta dan jangan menjelak-jelekan sainganmu.." Manisya mendominasi pembicaraan, berharap Leo tak bisa mengeluarkan kata-kata dan tak ingin mendengar Leo memojokkan dirinya kembali.


"Dasar wanita murahan, ngaca dong Lo, mana ada cowok yang mau sama Lo, liat saja Badan Lo rata, muka pas-pasan, gua gak habis fikir kenapa si Adam mau jalan bareng Lo" Leo memaki habis-habisan Manisya, ia juga menatap jijik dari ujung kepala sampai ujung kaki Manisya.


Jleb semua kata kata Leo berhasil menusuk semua perasaan Manisya, baru kali ini ia mendengar makian langsung untuk dirinya dan sangat menusuk hatinya, Manisya kini sedang menahan buliran - buliran air mata yang sebentar lagi memkasa akan mengaliri pipinya, ia menatap kosong kesembarang Arah, tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan.


"Maaf aku lama" Kedatangan sheryl membuat Manisya terkejut.


"Maaf aku permisi dulu" Manisya berpamitan kepada Leo dan Sheryl kemudian ia berlari kencang mencari tempat bersembunyi untuk mengeluarkan cairan yang perlahan telah mengahmpiri pipinya, ia pun menemukan tempat tersebut Manisya berjongkok kemudian menangis terisak Isak.


"Dia kenapa?" tanya Sheryl kepada Leo.


"Entahlah" Jawab Leo tersenyum penuh kemenangan.


Adam.


Saat Adam datang kembali ke kafe, ternyata Sheryl dan Leo sudah tak lagi di tempat dan makanan yang mereka pesan pun sudah di bayar Leo, kemudian Adam hendak kembali menghampiri Manisya, di jalan ia pun bertemu dengan Leo dan Sheryl yang saat itu berada di Loby.


"Lo liat cewek itu?" tanya Adam kepada Sheryl dan Leo, sambil tergesa-gesa takut jika Manisya pergi meninggalkan nya.


"Cewek kampungan itu maksud Lo, tanya Leo kepada Adam" Leo balik bertanya pada Adam , seolah tak perduli.


"Gua gak lihat" Leo menyambungkan kata-katanya.


Mendengar ucapannya itu membuat Adam menatap bengis ke arah Leo, tak ingin memperkeruh ke adaan, Adam pergi meninggalkan Leo dan Sheryl dengan perasaan kesal akibat kata-kata Leo menghina Manisya, Adam menahan marahnya.


"Mungkinkah gadis cengeng itu pergi duluan, ah sial" batin Adam mendekati mobilnya yang terparkir, Adam tak berhasil menemukan Manisya, kemudian ia membuka ponselnya dan melakukan panggilan kepada Manisya.


Saat melakukan panggilan, samar samar Adam mendengar suara getaran ponsel di sekitarnya.


"Drtt drrtt drrtt" suara getaran ponsel, Adam melirik ke sekitarnya, kemudian melangkah ke samping mobil, akan tetapi Adam tidak menemukan apapun, namun suara ponsel tersebut masih terdengar getarannya, kini ia mendengar suara tangisan mengiringi getaran ponsel tersebut, Adam kemudian berjalan ke arah belakang mobilnya, betapa kagetnya ia saat menemukan seorang wanita tengah berjongkok bertelungkup wajah sambil memegang sebuah ponsel, ia menangis terisak pula.

__ADS_1


__ADS_2