Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Merindukan Adam Setiap Hari


__ADS_3

Pagi itu di sebuah bus, Manisya duduk seorang diri, angin yang berhembus masuk dari kaca jendela yang memang sengaja di biarkan sedikit terbuka, udara dinginnya berhasil menyapu kulitnya yang memakai sebuah setelan baju kerja, celana panjangnya yang berwarna hitam pun ikut bergerak perlahan mengikuti arah angin, begitupun dengan kemeja berwarna pink yang ia pakai terlihat ikut bergerak tak beraturan, Wajahnya terlihat menatap kosong ke arah depan, mengingat saat pertamakali ia beradu mulut dengan Adam, yang berakhir Adam mencium bibirnya, ya setiap kali ia menaiki bus, bayang-bayang Adam selalu saja menemaninya.


Manisya terlihat menghela nafas, ia juga mengingat saat seseorang berhasil mengancamnya bahkan hingga ia sangat ketakutan, dan ancaman terakhir lah yang membuat ia berfikir untuk melepaskan Adam, betapa tidak, sang peneror mengancam keselamatan Adam.


Dengan mengirimkan sebuah foto Adam yang berlumuran darah dan pisau di atasnya "Aku Akan melenyapkannya jika kau masih saja berada di sampingnya, menjijikkan!"


Isi pesan tersebut lah yang membuatnya dengan berat hati melepaskan Adam, dan sekarang ia sangat menyesal telah melepaskan laki-laki yang ia sudah sukai sejak mulai duduk di bangku SMA, ia menyesal tidak meminta saran temannya atau bahkan melaporkan nya pada pihak kepolisian, ya itulah yang sangat ia sesali, namun hingga kini Manisya masih menyimpan soal teror tersebut seorang diri.


Setelah kejadian itu, Manisya mengganti nomor ponselnya dan pergi meninggalkan rumah untuk bekerja, sang peneror pun berhenti mengirimkan pesan kepadanya.


***


Empat tahun pun telah berlalu, Manisya pun Sudah sempat bekerja di berbagai tempat, mulai dari minimarket, restoran, butik, bahkan di sebuah pabrik, dan akhirnya seorang teman yang baik hati mengajaknya bekerja di sebuah perusahaan besar, walaupun hanya sebagai Pegawai dasar saja karena memang ijazah yang Manisya pakai hanya sebatas ijazah SMA, namun Manisya sangat bersyukur atas apa yang ia peroleh saat ini, karenanya Manisya terlihat bekerja dengan semangat dan sepenuh hati.


"Manis, tolong perbanyak ini!" Seorang Staff menyuruhnya untuk memperbanyak dokumen.


"Baik Pak!" Jawab Manisya.


Setelah itu Manisya segera melakukan pekerjaannya.


Saat sedang memperbanyak sebuah dokumen, bayangan Adam berputar kembali dalam fikirannya, Empat tahun memang telah berlalu dan Manisya masih menyimpan Adam jauh dalam hati dan fikirannya, Hal yang paling ia sesali adalah tak mempertahankan Adam di sisinya.


Manisya menarik nafasnya sangat dalam mencoba meluapkan apa yang menjadi pengganggu fikirannya, bagaimana tidak sebentar saja ia tidak bisa melupakan Adam, bahkan Rangga geleng-geleng kepala, hampir tiap hari ia menanyakan kabar Adam kepadanya.


"Ah lu mah, gua udah Kasih nomornya, sana telepon sendiri!" Jawab Rangga mengomentari pesannya kepada Manisya.


"Kan dia ga bales pesanku!" Jawab Manisya.


"Ya telepon lah!" Jawab Rangga melalui sebuah balasan pesannya.


"Mana mau dia angkat!" Jawab Manisya.


"Dia udah punya pacar belum ngga?" Tanya Manisya kembali.


"Ya mana gua tahu, gua yakin banyak wanita-wanita seksi menggodanya di sana!"Jawab Rangga dengan jahilnya kepada Manisya.


Manisya terlihat mengerutkan bibirnya membaca balasan pesan Rangga, "Tahu ah kamu mah bukan teman yang baik!" Jawab Manisya sedikit sewot.


"Ya udah jangan tanya-tanya gua lagi!" Jawab Rangga.


"Iya iya maaf maaf!" Manisya yang akhirnya mengalah karena merasa takut jika Rangga tak lagi bersedia memberikan informasi tentang Adam.


"Kan Lo tahu, masalah pribadi dia apalagi soal cinta, ga pernah gua denger apapun dari mulutnya, soal itu dia ga pernah berbagi, jadi jangan tanya gua lagi, nanti kalo ada info soal itu gua pasti kasih tahu ke Lo!" Jawab Rangga sedikit sewot.

__ADS_1


"Iya iya, maafin, dan makasih banyak ngga, aku tunggu informasi selanjutnya!" Jawab Manisya, namun kali ini pesannya tak mendapat balasan dari Rangga, dan Manisya pun menutup percakapan melalui pesan WA bersama Rangga.


"Apa Adam benar-benar sudah memiliki kekasih?" Tanya Manisya dari dalam hatinya.


"Yang sabar ya hati, ini memang hukuman buatmu!" Manisya mengelus perlahan bagian dadanya mencoba menenangkan perasaanya yang selalu kacau jika mengingat kesalahannya kepada Adam.


"Kenapa Sya?" Seorang teman sesama pegawai dasar yang bernama Mona di perusahaan itu membuyarkan lamunan Manisya.


"Eh Mon, aku hanya melamun!" Setelah itu Manisya membereskan dokumen pekerjaannya dan memberikannya kepada Staff yang menyuruhnya.


"Manis tolong kerjakan ini ya, yang sudah di tandai tolong di ketikkan!" Setumpuk dokumen tersimpan di mejanya, begitulah pekerjaannya, memang untuk membantu para staff di sana.


"Baik!" Jawab Manisya singkat dengan mulai membuka setumpuk dokumen di hadapannya.


"Sya!" Tiba-tiba Mona yang memang duduk di sampingnya berbisik kepadanya.


"Kamu mau tahu gosip ga?"


"Gosip apa?" Jawab Manisya secara perlahan.


"Akan ada pegawai baru, katanya seorang laki-laki tampan dan masih muda lulusan Amerika loh!"


Manisya mengangkat kedua alisnya.


"Lulusan Amerika?" Tanya Manisya.


"Iyah!" Jawab Mona.


Tiba-tiba "Deg!" Manisya teringat akan Adam yang memang kuliah di Amerika juga.


"Tahu ga gosip yang lainnya Sya!"


"Apa Mon!"


"Dia itu anak pemilik perusahaan, dia itu anak pemilik perusahaan!"


"Ooh ya ya ya!" Jawab Manisya dengan perasaan yakin bahwa itu bukanlah Adam.


Tiba-tiba, "Brug!" Setumpuk dokumen tersimpan di meja Mona.


"Kalian ini bergosip melulu, kerja yang betul!" Ucap Siska seorang Staff dengan wajah yang cantik dan seksi namun bertolak belakang dengan perilakunya, ia merupakan salah satu Staff yang memandang rendah Manisya dan Mona sebagai pegawai dasar.


"Baik Bu!" Jawab Manisya dan Mona secara bersamaan dengan menggerakkan siku mereka secara perlahan. Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Sya aku ke toilet dulu!" Ucap Mona.


"Ho oh!" Jawab Manisya dengan menganggukkan kepalanya secara perlahan.


Manisya pun melanjutkan pekerjaannya, kemudian setelah beberapa saat Mona kembali lagi dari toliet.


"Sya, Sya!"


"Apa?" Menjawab dengan pelan panggilan Mona, karena takut ada yang menegur mereka.


"Barusan aku lewat ruangan manajer Lho Sya, Pegawai baru sudah Ada!"


"O ya!" Jawab Manisya yang tidak sesemangat Mona.


"Kamu tahu Sya, bener banget sesuai yang aku omongin, dia sangat tampan, tinggi, badannya wah keren banget pokoknya!"


Manisya hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Mona.


Tiba-tiba Mona terdiam, dan melakukan gerakan menyiku kepadanya.


"Kenapa si Mon!" Ucap Manisya merasa risih dengan apa yang dilakukan Mona kepadanya.


Mona belum menjawab pertanyaan Manisya dan masih terus saja melakukan gerakan menggerakkan siku tangannya.


"Apa si Mon?"


"Lihat dia orangnya?" bisik Mona di telinga Manisya yang masih sibuk mengetikkan pekerjaan di layar monitornya.


"Dia siapa?" Ucap Manisya masih tak mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


Tiba-tiba,


"Mohon perhatiannya semua!" Sang manajer membawa seorang laki-laki dengannya hendak memperkenalkannya kepada pegawai lainnya.


Manisya menatap ke arah suara.


Tiba-tiba, "Deg!" Jantungnya berdegup begitu kencang, Kedua bola matanya membulat seketika, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan bergetar sangat hebat, Nafasnya tiba-tiba sesak, kini ia tak bisa berfikir lagi, dengan gerakan yang sangat cepat Manisya bersembunyi di bawah kolong meja kerjanya berharap siapapun tak melihatnya saat itu.


Mona yang memperhatikan tingkah Manisya begitu merasa aneh, secara tiba-tiba saja bersembunyi di bawah meja kerjanya dengan raut mukanya yang jelas terlihat sangat gugup.


"Ini ada pegawai baru yang akan bekerja dengan kita kedepannya!" Sang Manajer melanjutkan perkataannya.


"Silahkan langsung perkenalan saja!" Menyuruh pegawai tersebut untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Baik Pak, Terimakasih atas waktunya, perkenalkan Nama saya Adam!"


__ADS_2