
Adam yang sedang duduk di atas kasur tiba-tiba menggerakkan tangan sebelah kanannya, meraih pinggang Manisya hingga membuat jarak mereka hanya terhalang beberapa centimeter saja, Manisya menggerakkan badannya berusaha melepaskan dekapan Adam.
"Apa ini kurang" tanya Adam sambil memberikan tatapan kepada Manisya yang sedang meronta.
Manisya membalas tatapan Adam, "Plak" dengan sengaja Manisya menepak tangan kiri Adam yang terbungkus oleh kain perban.
"Aaaww" Adam meringis kesakitan, hal itu membuat Adam dengan spontan melepaskan dekapannya terhadap Manisya, Manisya segera memberi jarak antara dirinya dan Adam, agar Adam tidak bisa meraihnya dengan semena-mena.
"Apa itu sakit?" tanya Manisya kepada Adam, dalam hati Maniya kini tersbersit perasaan menyesal kepada Adam karena telah menepak tangan kiri Adam yang memang sedang sakit.
"Menyebalkan sekali, tunggu saja Lo akan membalas semua ini!" Sebuah ancaman Adam kepada Manisya.
"Aku Minta maaf, aku hanya tidak sengaja" Manisya mulai berfikir mengenai ancaman yang Adam sebutkan sebelumnya.
"Tidak sengaja?" kata Adam meninggikan sedikit suaranya.
"Itu karena kamu menakutiku" jawab Manisya berusaha membujuk Adam agar menghentikan segala kekesalannya.
Adam tidak membalas lagi perkataan Manisya, ia hanya menahan segala kekesalannya kepada Manisya.
Di saat itu, Manisya segera kembali ke sofa tempat ia duduk semula, dan untuk menjauhi Adam yang entah apa yang akan dilakukannya jika Manisya mendekat lagi kepada Adam.
Tak lama setelah Manisya duduk lagi di sofa nya, Pak Komar yang sudah mengambil makanan pesanan Manisya datang. Manisya segera membantu Pak Komar membawa makanan pesananya.
"Neng Manis, beli apa saja ini, kenapa banyak sekali" tanya Pak Komar kepada Manisya.
"Aku hanya beli satu Nasi Goreng dan dua bungkus pecel lele untuk Pak Komar dan Adam " Jawab Manisya kepada Pak Komar.
"Loh Mas Adam kan gak makan ikan?" Pak Komar merasa heran dengan pesananan Manisya.
"Bukan Ikan Pak Komar, ini pecel lele" Jawab Manisya dengan pasti kepada Pak Komar, hal itu membuat Pak Komar tersenyum di buatnya.
"Sudahlah Pak Komar dia tidak akan mengerti hal itu" Adam memberikan sebuah isyarat kepada Pak Komar agar tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
"Iya Mas" Pak Komar hanya mengikuti perkataan Adam.
"Apa maksudnya?" tanya Manisya yang tidak mengerti arah percakapaan Adam dan Pak Komar sehingga ia dengan mudahnya menyambar perkataan Adam dan Pak Komar.
"Enggak Neng Manis bukan Apa-apa, hanya saja Pak Komar sudah makan tadi di luar, terimaksih sudah membelikan makanan untuk saya" kata Pak Komar menolak secara halus pesanan Manisya.
"Kalau Pak Komar bawa pulang gak apa-apa Neng, biar nanti di makan sama orang rumah" Pak Komar mengatakan sebuah ide yang bagus kepada Manisya.
"Oia Pak boleh-boleh, di ambil saja" Kemudian Manisya pun membantu Pak Komar mengambilkan bungkusan pecel lele untuk Pak Komar bawa pulang, tak lama setelah itu Pak Komar berpamitan untuk pulang, karena jam pun sudah cukup larut menunjukan Pukul 22.00.
"Hati-hati di jalan Pak Komar" Kata Manisya saat Pak Komar hendak melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Iya neng" Jawab Pak Komar sambil berlalu menutup mintu kamar.
Seteh Pak Komar pergi dari kamar tersebut, Manisya mulai membuka bungkus makananya, ia mulai melahap Nasi Goreng kesukaannya tersebut dengan lahapnya, tanpa ia sadari Adam memperhatikan setiap suapan Nasi Goreng yang masuk kedalam mulutnya.
"Apa Lo tau, tatakrama makan di hadapan seseorang yang ada didepan Lo" Perkataan Adam membuat suapan sebuah Nasi Goreng yang hendak masuk ke dalam mulut Manisya terhenti sesaat, setelah mendengar perkataan Adam, Manisya melahap kembali suapan Nasi Goreng yang sempat tertunda tersebut.
"Appa Kamu mau?" tanya Manisya dengan mulut penuh nasi goreng kepada Adam.
"Nasi Goreng atau pecel lele" tanya Manisya kepada Adam,
"Gua mau makan yang Lo makan" jawab Adam.
"Kamu mau makan nasi goreng? baiklah, aku akan memakan pecel lele milikmu". Kemudian Manisya mendekat ke Adam membawakan nasi goreng miliknya.
"Inih" Manisya menyodorkan nasi goreng tersebut kepasa Adam.
"Apa kamu ingin aku suapin" tanya Manisya sambil terkekeh membayangkan jika ia harus menyuapi Adam layaknya adegan romantis dalam sebuah drama korea.
"Jangan harap Lo" mendengar hal tersebut se akan membuat Adam bergidik ketakutan.
"Kan lucu" Jawab Manisya.
"Apa seperti sebuah adegan romantis dalam drama korea" Kata Adam mendahului Manisya yang ingin mengatakan hal tersebut, sambil membawa bungkusan yang berisi nasi goreng yang di berikan oleh Manisya.
"Kenpa kamu tahu?" Tanya Manisya yang heran Adam bisa mendahului kata-katanya.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu setiap apa yang kamu fikirkan" Jawab Adam dengan muka datarnya se akan menakuti Manisya.
Mendengar hal tersebut membuat Manisya menutup bagian depan tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya di sana, kemudian berbalik badan hendak berjalan ke sofa tempat ia duduk sebelumnya.
"Mau kemana Lo" tanya Adam kepada Manisya yang sudah berbalik badan.
Manisya kembali menghadap Adam. "Aku mau makan pecel lele" jawab Manisya masih dengan tangannya yang menyilang bagian dadanya.
"Lo ga liat?" tanya Adam menunjuk tangan kirinya yang diperban dengan mengangkatkan kepalanya mengarahkan kepada tangannya. Manisya kini lebih mendekati Adam.
Manisya diam sesaat mencoba mencerna maksud perkataan Adam, ia melihat ke arah tangan Adam yang di balut oleh kain perban, kemudain menatap bungkusan nasi goreng yang tengah terbuka kini di pegang oleh tangan kanan Adam, serta menatap ke arah muka Adam.
"Em, apa betul kamu ingin aku menyuapimu?" tanya Manisya yang masih belum mengerti sebuah kode yang diberikan Adam kepadanya.
"Jangan ke geeran Lo, Gua gak nyuruh Lo suapin Gua" kata Adam yang bingung dengan kepolosan seorang Manisya.
"Gua hanya minta Lo buat pegangin ini" Adam menunjuk pada bungkusan nasi goreng yang ia pegang.
"Em baiklah" Manisya menekan sedikit bagian bibirnya merasa kecewa mendengar apa yang di katakan Adam.
Manisya meraih bungkusan bungkusan nasi goreng yang berada di tangan Adam, kini beralih ketangan Manisya.
"Tanganmu kan sakit, apa tidak sekalian aku suapi saja" berkata sambil menggeser sebuah kursi yang berada tak jauh tempat duduk Adam, kini Manisya duduk di atas kursi tersebut sambil menghadap Adam lengkap dengan bungkusan nasi goreng miliknya.
Tiba-tiba tangan Adam menepuk kepala bagian atas Manisya secara perlahan dan berkata "Singkirkan khayalan drama drama bodoh Lo itu."
"Hehe,kok kamu tahu" Sambil memegang kembali bagian kepalanya yang di tepuk oleh Adam, karena Manisya memang sedang memikirkan betapa romantisnya adegan saling suap menyuapi dalam sebuah drama, yang membuatnya ingin mencoba kepada Adam.
"Lo tahu, seorang bayi pun bisa menebak isi fikiran Lo yang dangkal itu" Jawab Adam dengan asal berbicara.
"Tidak mungkin" Jawab Manisya menekan kembali salah satu sudut bibirnya, merasa perkataan Adam yang sangat
berlebihan.
Adam pun mulai memakan nasi goreng tersebut dengan bungkusan nasi goreng di pegangi oleh Manisya, namun tidak seperti keingnan Manisya untuk menyuapi Adam, Adam memakan nasi goreng menggunakan tangannya sendiri.
Setelah selesi Adam memakan semua Nasi Goreng, "Apakah itu enak?" tanya Manisya kepada Adam.
"Bukankah Lo tahu sendiri bagaimana rasanya" jawab Adam kepada Manisya.
"Tapi apa kamu tahu, punya mu pasti lebih enak" Manisya melanjutkan perkataannya kepada Adam.
Adam melirik ke arah Manisya yang hendak berdiri meninggalkan kursinya.
"Kenpa bisa seperti itu" Adam mulai penasaran yang terpancing perkataan Manisya.
"Em, karena, karena kamu menggunakan sendok yang aku gunakan sebelumnya" Manisya menarik kedua sudut bibirnya, kemudian menjulurkan lidahnya kepada Adam layaknya sebuah ejekkan, kemudain Manisya belari menuju sofanya agar segera menjauh dari Adam.
Mendengar perkataan Manisya tersebut membuat Adam terdiam membisu, tatapannya ia arahkan kepada Manisya, entah apa yang berada di dalam fikirannya saat ini, sedangkan Manisya tertawa penuh kemenangan dari arah sofa.
"Dasar wanita bodoh" Adam berkata namun memelankan suaranya hingga samar-samar Manisya mendengarnya.
"Apa kamu ingin memakan pecel lele juga" tanya Manisya yang melihat sebuah bungkusan yang belum terjamah olehnya kepada Adam.
"Itu Lo yang pesan, jadi Lo harus tanggung jawab untuk itu" kata Adam se akan mehakimi Manisya.
"Em, baiklah aku akan memberikannya kepada Insung besok saat aku pulang" jawab Manisya.
"Insung?" kata Adam bertanya penasaran.
"Iya laki-laki tertampan di rumah yang selalu menemaniku di saat sedih" Jawab Manisya.
Adam tidak bertanya namun Manisya melihat ada kerutan di sela-sela kedua alisnya.
"Dia itu kucingku, hihi" Manisya tertawa melihat expresi muka Adam yang semakin di tekuk, kemudian membuat juluran lidah kepada Adam, pertanda Manisya penuh kemenangan.
Setelah itu terjadi keheningan beberapa saat, Manisya kembali memainkan Ponselnya, tanpa ia sadari Adam yang berada di atas kasur tak jauh darinya memperhatikan ke arahnya, entah apa yang dia fikirkan.
"Mau kemana Lo" tanya Adam kepada Manisya saat Manisya mulai berjalan beberapa langkah.
"Aku ingin mengganti pakaianku" kata Manisya sambil membawa tas jinjing yang di berikan Pak Komar.
__ADS_1
"Kamu jangan mengintip" kata Manisya menyilangkan satu tangannya kedepan badannya sedangkan tangan satu lagi memegang sebuah tas.
"Lo tau di sini ada banyak CCTV termasuk di kamar mandi" Adam menakuti Manisya.
"Benarkah" Manisya percaya perkataan Adam, ia bergidig ketakutan kemudain kembali duduk di atas sofa sambil memandangi setiap sudut atap kamar tersebut.
"Kamu jangan menakutiku" Manisya yang mulai ketakutan.
Saat Adam sedang menakuti Manisya, seorang perawat datang ke dalam kamar untuk memeriksa ke adaan Adam.
"Apa dia baik-baik saja suster" tanya Manisya kepada perawat tersebut.
"Mas nya baik-baik saja kok Mba, sepertinya besok juga sudah boleh pulang" Jawab perawat tersebut sambil tersenyum lebar menjawab pertanyaan Manisya.
"Apa benar tidak ada luka dalam suster, di kepala atau di badannya" tanya Manisya kembali.
"Kami sudah melakukan General Checkup keseluruh badannya mba, dan semua baik-baik saja" Jawab suster tersebut.
"Benarkah itu" Jawab Manisya.
"Betul mba, mbaknya tidak perlu khawatir, sekarang hanya perlu pemulihan saja" Jawab perawat tersebut.
"Baiklah kalau begitu terimakasih banyak suster" jawab Manisya, Manisya mengabaikan tatapan tajam Adam yang ia berikan kepada Manisya, Manisya sibuk menginterogasi perawat tersebut.
Saat perawat tersebut hendak berlalu meninggalkan ruangan tersebut, Manisya memanggil kembali.
"suster suster apa di sini ada CCTV?" tanya Manisay kepadanya.
"Ada Mbak" Jawab perawat tersebut.
"Di kamar ini?" tanya Manisya kembali memastikan.
"O maksud mba di kamar ini?" tanya perawat tersebut.
"Di kamar pasien atau di area Privasi tidak di pasang CCTV mba" Jawab sang perawat.
"Baiklah, terimakasih" Jawab Manisya kepada perawat tersebut. sebelum akhirnya perawat tersebut meninggalkan kamar.
"Kamu membohongiku" Manisya menatap kesal ke arah Adam yang tengah tersenyum lebar menatap ke arahnya.
"Hanya ingin membuat Lo selalu waspada" jawab Adam masih dengan senyuman lebarnya.
"Tidak Lucu" Kemudian Manisya pergi ke kamar Mandi.
Setelah beberapa Lama, Manisya keluar dari kamar mandi memakai piyama yang di siapkan Oleh Pak Komar, dengan ukuran yang pas di badannya.
"Kenapa Pak Komar.. " Manisya hendak berkata kepada Adam, namun Adam di lihatnya sedang tertidur, di betulkannya selimut yang tak muntupi tubuh Adam, sejenak Manisya menatap ke arah Adam, "Semoga lukanya cepat hilang" . Manisya berkata di dalam hatinya.
Manisyapun mulai berjalan pelan menuju sofa tempat ia akan beristirahat, Manisya mematikan sebagian lampu kamar agar tidak terlalu terang. Manisya mulai duduk di sofanya dan memainkan ponselnya berharap ia akan tertidur, saat itu waktu mulai menunjukkan pukul 23.30. Manisya belum juga tertidur.
Akhirnya tepat pukul 24.00 Manisya berahsil memejamkan kedua matanya. Namun tak lama setelah itu, di dalam tidurnya Manisya memanggil-manggil kedua orangtuanya "Ayah ibu, ayah ibu" enatah apa yang Manisya mimpikan di alam bawah sadarnya. keringat dingin kini mulai menyelimuti seluruh badannya.
Mendengar suara Manisya yang sedang mengigau memanggil Ayah dan Ibunya tersebut membuat Adam terbangun dari tidurnya, samar - samar ia melihat ke arah Manisya, dan benar saja saat Adam berhasil membuka kedua matanya dengan sempurna sesuai apa yang dia firkirkan, suara itu berasal dari suara igauan Manisya.
Adam berusaha menggerakkan badannya dari atas tempat tidur untuk berjalan menghampiri Manisya yang tengah mengigau tersebut, perlahan akhirnya Adam bisa menurunkan kakinya tanpa bantuan siapapun walaupun seluruh badannya masih terasa ngilu.
Adam berjalan ke arah Manisya yang tengah mengigau memanggil nama ayah dan ibunya yang semakin kencang dan saat ini panggilannya di sertai dengan Isak tangis Manisya.
"Ayah ibu, hiks hiks, ayah ibu " Manisya masih memanggil nama ayah dan ibunya.
"Hu u u" Manisya menangis, Adam duduk dekat dengan wajah Manisya, di pandangnya sesaat wajah gadis yang tengah mengigau Ayah dan Ibunya tersebut, sebelum akhirnya ia menepuk - nepuk pipi Manisya agar terbangun dari tidurnya.
"Hei gadis bodong bangun" Adam perlahan menepuk-nepuk pipi Manisya.
"Apa yang sedang kamu impikan" Ada masih menepuk pipi Manisya.
"Bangun gadis bodoh" karena tepukan di pipi Manisya tak kunjung membuatnya terbangun, akhirnya Adam menepuk pundak Manisya tepatnya mengguncangkan pundak Manisya, Adam kini merasa khawatir karena tangisan Manisya yang semakin kencang.
"Bangun bangun" Adam semakin gelisah melihat Manisya yang tak kunjung bangun.
"Bangun" Adam berteriak agar Manisya segera menghentikan teriakannya dan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Dan akhirnya Manisya membuka matanya, dia tatap wajah Adam dengan sangat dalam sebelum akhirnya memeluk Adam dengan sangat kencang, Manisya pun melanjutkan tangisannya di pelukan Adam.
"Aku ingin pulang"