
Senyum di sudut bibirnya masih terlihat menyungging menatap layar ponselnya hingga ia tak menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Adam sedikit terkejut menghentakkan kakinya.
"Kenapa kamu masuk se enaknya tanpa mengetuk pintu!" Adam sedikit mengencangkan perkataan nya.
Wajah laki-laki yang kini resmi menjadi asisten pribadinya yang baru saja ia kenal menjadi sasaran.
"Maaf Pak, saya sudah mengetuk pintu dari tadi, namun Bapak tak menjawab, takut ada apa-apa makannya saya langsung masuk, dan bapak sedang tersenyum sendiri menatap layar ponsel!" Langsung menutup mulutnya karena ia salah berucap.
Ya selalu saja tingkah, isi pesan, ataupun foto Manisya yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Setelah itu, laki-laki yang menjadi sekertaris dan juga memberikan segala informasi perusahaan dan merupakan salah satu kepercayaan sang kakek yang bernama Bara hendak memberikan sebuah laporan kepada Adam.
"Saya permisi dulu Pak!" Pamit Bara setelah selesai memberikan informasi.
Saat Bara telah melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauhi Adam, ia kembali berbalik arah, mendekati Adam.
"Apa dia kekasih Anda?"
Mendengar pertanyaan Sekretarisnya membuat mata Adam menatap dengan tajam ke arahnya.
"Aku akan membuat hidung mu patah jika kamu berani mengatakannya pada CEO mu itu!" dengan penuh ancaman Adam berkata.
Bara seketika memastikan hidungnya masih berada pada posisi yang seharusnya.
"Si, siap!"
"Bukannya hanya CEO saya, CEO Anda juga tuan muda, CEO perusahaan ini!" Bara meluruskan kata - kata nya.
Adam, hendak melangkahkan kakinya mendekati Bara, namun dengan cekatan ia mempercepat langkahnya menjauhi Adam.
"Menyebalkan!" Desis Adam yang terlihat kesal.
Tak lama ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.
Sebuah foto dirinya yang tengah tersenyum sedang menatap layar ponsel serta sebuah kata-kata yang mengancam.
"Traktir aku, atau aku akan memberitahukan kakek mu!"
"Sial!"
***
Jam pulang tiba.
"Hei mau kemana? buru-buru amat?" Mona menatap Manisya yang terlihat sibuk merapihkan meja kerjanya.
"Aku ada janji Mon!""
"Sama Adam?"
Manisya mengangguk mengiyakan ucapan Mona.
"Emangnya jam segini dia udah pulang? bukannya mereka para pejabat pulangnya malam?"
"Entahlah, aku ada perlu dulu, dah Mona aku duluan ya!"
Setelah itu Manisya pun pamit kepada semua rekan kerjanya yang masih berada di meja kerja masing-masing.
Namun bukannya ke ruangan Adam, ia berbelok arah, melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO.
"Hai, ketemu lagi!" Wajah cerianya menyapa Amel.
"Mau ketemu CEO?"
Manisya mengangguk, "Ada ga ya?"
"Baru aja keluar ruangan!" Jawab Amel.
"Wah?"
"Hu uh!"
Seperti biasa Manisnya menunggu di sana, namun hasilnya masih belum bisa di harapkan, sudah satu jam berlalu, ia masih belum bertemu dengan Kakek Adam, karena teringat akan janjinya dengan Adam, Manisya memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku ada perlu, jadi ga bisa lama-lama, mungkin kita akan sering bertemu, kamu ga keberatan kan?"
"I, iya ga papa ga papa!" Senyuman bingung terlihat jelas di wajah Amel, hanya merasa heran Manisya sudah menunggu satu jam lamanya tapi ia bilang belum lama.
Beberapa saat setelah Manisya pergi.
Dering telepon di meja Amel bunyi.
"Dia sudah pergi beberapa saat yang lalu Tuan!"
***
Langkah Kaki telah sampai tepat di ruangan kerja Adam.
"Apa Pak Adam belum pulang?"
Manisya menyapa seorang wanita yang terlihat tengah sibuk dengan komputer di hadapannya.
"Apa sudah buat janji? tapi saya rasa pak Adam tidak memberitahukan saya jika akan ada tamu yang datang hari ini?" berkata sambil menatap sinis ke arah Manisya. Wanita tersebut tak lain adalah sekretaris Adam yang bernama Linda, ya Adam memiliki dua sekertaris.
Manisya hanya menganggukkan kepalanya tak banyak berkomentar.
"Kalau boleh tahu ada perlu apa ya, takutnya Pak Adam tak mau menerima tamu jika belum membuat janji? dan kebetulan hari ini Pak Adam sedang banyak pekerjaan!" Masih menatap curiga ke arah Manisya.
Mendengar ucapan wanita tersebut membuat Manisya merasa tidak enak jika harus mengganggu Adam yang tengah bekerja.
"Em, kalau begitu, saya boleh menunggu di sini?" Menunjuk sebuah kursi yang di sediakan memang untuk tamu.
"Silahkan!"
Manisya segera menempati kursi tersebut.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan Adam masih belum keluar ruangan, dan sialnya ponsel miliknya telah mati beberapa menit yang kalau karena kehabisan baterai.
Satu jam telah berlalu, Manisya yang kelelahan menunggu akhirnya tertidur dengan posisi duduk di atas kursi.
Suara dering telepon membangunkan tidurnya.
"Halo!"
"Baik tuan!"
Mendengar wanita tersebut mengangkat telepon, Manisya segera bangun dari kursinya berjalan mendekat ke arah suara.
"Apa yang barusan Adam yang telepon, maksud saya pak Adam yang telepon?"
"Iyah!"
"Apa dia masih sibuk bekerja?"
"Iyah!"
"Apa dia tidak bertanya sesuatu?"
"Bertanya sesuatu? maksudnya?"
"Em, tidak maksud saya, apa boleh Mba Linda mengatakan padanya jika saya menunggunya di luar?"
"Maaf mba, saya sudah bilang hari ini dia sangat sibuk, saya tidak berani menyampaikan nya, lebih baik Anda kesini di lain waktu saja!"
"Tapi.. !" Manisya berfikir.
"Ya sudah saya menunggu sampai dia pulang saja!"
"Terimakasih sudah mengerti!" Dengan nada sinis wanita itu menjawab.
__ADS_1
Raut wajah kecewa tak bisa lagi Manisya hindarkan, namun ia memutuskan untuk mengubur nya sangat dalam, dan kembali duduk manis menunggu sang kekasih di tempat duduk semula.
Selang beberapa lama, Ada seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat rapih datang, ia menghampiri Linda, menanyakan keberadaan Adam di ruangannya, namun betapa kagetnya Manisya, melihat perlakuan Linda kepada wanita itu sangat jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan kepadanya, dan yang lebih membuat Manisya terkejut adalah Linda dengan cekatan mengatakan jika ada tamu yang datang ingin bertemu degannya, tentu saja setelah itu, wanita tersebut dengan segera di persilahkan masuk ke dalam ruangan Adam.
"Deg!" tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal perasaannya, raut wajah Manisya berupah sendu.
Segera menghampiri Linda.
"Mba, ko saya yang menunggu lama, tidak di perbolehkan ketemu pak Adam, wanita itu yang baru saja datang langsung di biarkan masuk?" Manisya melakukan protes kepada Linda.
"Mba, kan saya sudah bilang, harus janji dulu jika ingin bertemu dengan pak Adam, dan harus jelas dulu tujuannya apa!"
"Tapi saya tadi jelas sekai dengar ko mba, wanita itu sama dengan saya ga janjian dulu!"
"Anda menguping?"
"Saya memang mendengar nya dengan jelas!"
Manisya masih protes.
"Mba tolong dong jangan buat kegaduhan di sini! jika tidak terlalu mendesak silahkan lain waktu ke sini lagi!"
"Saya memang tidak mendesak, tapi saya....!" Manisya memotong ucapannya, bagaimana mungkin dia mengatakan kepada semua orang jika dia adalah kekasih Adam.
Bibir Manisya berkerut, kemudian kembali duduk di tempat semula, tak ada pilihan lain lagi ia kembali tertidur di kursi tersebut.
Manisya masih terlelap dalam mimpinya, kini posisi tubuhnya berubah, berbaring di atas sofa, dalam tidurnya ia bermimpi seorang laki-laki tampan mencium kedua pipinya.
Kedua matanya mengerjap, seseorang mengusap lembut kedua pipinya.
Samar Manisya melihat wajah tampan tepat di depan kedua matanya, sebelum akhirnya dia tersadar jika laki-laki yang tengah mengusap kedua pipinya untuk membangunkannya adalah Adam.
Manisya menarik kedua sudut bibirnya menatap ke arah Adam.
"Adam!"
"Hem?" Jawab Adam secara perlahan.
Dengan segera Manisya memeluk laki-laki yang tengah menatapnya dengan penuh kehangatan itu.
"Maaf membuat mu menunggumu begitu lama!"
Manisya menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sedikit mengantuk jadi ketiduran!" Jawab Manisya masih dalam pelukan Adam.
"Jam berapa ini?" tanya Manisya sambil perlahan melepaskan pelukannya.
"Jam 11 malam!"
Mendengar ucapan Adam, membuatnya sangat terkejut, selama itu ia tertidur di sana.
"Jam 11 malam? ternyata sangat senang di sini aku tidur sangat lama, hehe!"
"Maafkan aku, mendadak aku ada pekerjaan! Apa kamu tidak membaca pesanku? aku sudah mengirimkan pesan kepadamu untuk tidak menungguku!"
"Pesan?" Segera meraih tasnya mencari keberadaan ponsel miliknya.
"Tidak apa-apa, hape ku mati!" Kedua sudut bibirnya kembali terlihat sambil memperlihatkan ponselnya pada Adam.
"Kenapa tidak bilang pada sekertaris ku jika kamu ingin bertemu denganku?"
"Itu, em, aku aku langsung ke tiduran saat sampai di sini!" Ingin rasanya ia memberitahukan Adam sebenarnya apa yang tengah terjadi, namun mana mungkin ia lakukan, seakan mengadu domba sekertaris yang sudah memperlakukan nya dengan se enaknya.
"Apa sekertaris mu sudah pulang?"
"Sudah dari tadi, aku menyuruhnya pulang terlebih dahulu!"
"Kamu sudah membuatku menunggu sangat lama, berikan aku sebuah hadiah?" Berkata Manja pada Adam dengan tangan kanannya ia ulurkan pada Adam.
"Hadiah, mau aku belikan apa?" Tanya Adam sambil meraih tangan Manisya.
Manisya menggelengkan kepalanya kemudian mengambil ponsel Adam yang ia simpan di atas meja.
"Berikan aku foto mu yang paling tampan!" Manisya mengambil beberapa foto Adam yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Maksudmu aku lebih tampan di foto di bandingkan aslinya?" Adam menampakan tatapan tajamnya pada Manisya.
"Tentu saja tidak, ketampanan mu akan bertambah jika ada aku di sisimu!" Menatap sambil tersenyum.
Kali ini Manisya mengambil foto bersama, kemudian, menjadikan foto mereka wallpaper di milik Adam.
"Ini hadiahku!" Menunjukkan foto yang sudah menjadi wallpaper di ponsel Adam.
"Kamu yakin muka bantal mu yang akan terpasang di sini?" Adam menggoda Manisya yang sedari tadi tak memperhatikan bagaimana bentuk wajahnya dalam foto tersebut, bahkan rambutnya terlihat berantakan, ia hanya sibuk memperhatikan wajah Adam yang tampan dalam foto tersebut.
Manisya yang baru tersadar segera meraih ponsel Adam dalam genggaman nya, namun sayang Adam berusaha menghadangnya dan segera memasukannya pada saku celana miliknya.
"Kamu curang, aku akan mengganti fotoku yang paling cantik, sini pinjam ponselnya!"
Adam hanya tersenyum melihat tingkah Manisya yang cemberut karena gagal meraih ponsel Adam.
"Tidak bisa di ganti, kamu sendiri yang menginginkan nya!"
"Curang!" Melirik Adam dengan kesal.
Adam hanya tersenyum meraih kemenangan, tangannya kini menyentuh kepala Manisya, ia merapihkan rambut Manisya yang memang tengah berantakan itu.
"Seperti ini?" Tangan Adam berhenti menyentuh kedua pipi Manisya, kemudian mengecup lembut bibir Manisya secara perlahan, Manisya hanya mematung menatap Adam karena terkejut.
"Ada sesuatu di matamu!" Ucap Adam sambil menarik tangan Manisya pergi dari sana.
Perkataan Adam membuat tangan Manisya sibuk dengan kedua matanya.
"Pembohong!" Ucap Manisya setelah menyadari jika Adam tengah menjahilinya.
***
Tiga hari kemudian.
Jam pulang kantor telah tiba, Manisya dengan segera meninggalkan ruangan kerjanya menuju ruangan Adam, entahlah hari itu ia sangat merindukan Adam, setelah ketiduran di ruang tunggu saat menunggu Adam, ia belum bertemu kembali dengan Adam, mereka hanya komunikasi melalui ponsel, hal ini di karenakan baik Adam dan Manisya tengah di sibukkan oleh pekerjaan masing-masing.
"Mba Linda, apa Pak Adam ada di dalam?"
"Ada, apa anda sudah membuat janji?"
"Tidak, aku hanya Rin..!" Manisya memotong ucapannya.
"Aku ada hal mendesak ingin bertemu dengannya!"
"Bukankah sudah saya bilang untuk membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan Pak Adam?"
"Baiklah saya akan menunggunya di sini saja!"
"Terimakasih karena sudah mengerti!" Jawab Linda sangat sinis menatap Manisya.
Tak ingin berdebat, Manisya duduk di kursi tunggu seperti biasa, sebelumnya ia memang sudah mengirimkan pesan kepada Adam, jika ia menunggunya di luar ruangan nya, namun Adam belum merespon pesan yang ia kirimkan.
Saat Manisya tengah duduk di kursi, Ia begitu terkejut saat seorang yang ingin ia temui keluar dari ruangan Adam dengan menekuk wajahnya, ya dia adalah CEO yang merupakan kakek Adam, segera Manisya bangkit dari duduknya dan mengejar CEO.
"Tuan!" Panggil Manisya.
Seorang pria menghadang Manisya agar tidak mendekat ke arah CEO.
"Maaf mba, saat ini tuan tidak ingin bertemu dengan siapapun!"
"Kalau anda tidak berhenti saya akan berteriak!"
Manisya berkata sangat kencang.
Pria yang mengawal CEO segera menghadang nya tak ingin tuannya mendapatkan masalah.
"Hentikan!" Perintah CEO kepada pria tersebut, CEO pun menghentikan langkah kakinya, dan dengan segera menghadap ke arah CEO.
__ADS_1
Dengan berani Manisya menyodorkan tangannya, dengan senyuman lebar ia berikan untuk laki-laki yang menjadi Kakek kekasihnya itu.
"Hehe, maaf saya sedikit mengganggu perkenalkan saya Manisya tuan, saya harap tuan mengingat nama saya dengan baik!" Namun sayang sang CEO sama sekali tidak memperdulikan ucapan Manisya, ia hanya menatap tajam ke arah Manisya, memang bukan pertama kali mereka bertemu namun memang sengaja hal itu Manisya lakukan.
Raut wajah kecewa Manisya sembunyikan, dan dengan berani Manisya meraih tangan CEO memberikan sebuah kotak kecil, sambil berbisik. "I itu, hadiah perkenalan kita!" Ucap Manisya dengan sangat gugup.
"Wanita tidak tahu sopan santun!"
Ucap CEO sambil menatap tajam ke arah Manisya kemudian ia berlalu meninggalkan Manisya yang masih mematung tak berdaya, bahkan kini kedua lutut Manisya berubah lemas saat mendengar ucapan CEO.
Manisya segera duduk kembali di atas kursi sebelumnya dengan jantung miliknya yang kini berdetak sangat kencang.
Sekertaris Adam hanya menatapnya dengan penuh tanya, tak mengetahui apa yang di lakukan Manisya kepada CEO.
Satu jam telah berlalu dan Adam belum terlihat keluar ruangan.
Seorang laki-laki yang tak lain adalah sekretaris Adam juga datang, ia menarik kedua alisnya melihat Manisya, dan Manisya tersenyum menatap ke arahnya.
Barry berbisik kepada Linda, "Sudah berapa lama dia menunggu di sana?"
"Mungkin satu jam?" Jawab Linda.
Barry terlihat terkejut mendengar jawaban Linda.
"Satu jam katamu?"
"Memangnya kenapa?" tanya Linda penasaran, namun Barry tak sempat menjawab pertanyaan Linda, Ia buru-buru masuk ke dalam ruangan Adam.
"Besok jadwal kita jam 08.00 ada rapat dengan para direksi..!" Barry menginformasikan jadwal Adam untuk besok hari.
"Apa hari anda ada jadwal kencan tuan?"
"Itu tidak termasuk dalam list pekerjaan!" Jawab Adam sinis tak ingin urusan pribadinya terganggu.
"Baiklah, saya permisi dulu!" Barry melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Ia melihat Manisya bermain game di dalam ponsel miliknya, Barry menghampiri Manisya.
"Apa anda lihat Linda?"
"Linda?" Manisya yang agak asing dengan nama tersebut mencoba mengingat, saat itu Linda tak terlihat di meja kerjanya.
"O sekertaris, mungkin dia sedang ke toilet!" Jawab Manisya.
"Baiklah terimakasih, apa anda sudah menunggu lama di sini?" Tanya Barry.
"Em tidak sekitar 60 menit!"
"60 menit?" Barry sangat terkejut mendengar Jawaban Manisya, keringat dingin kini menjalar di seluruh tubuhnya.
"Pak Adam menyuruh Anda masuk, saya permisi dulu!" Wajah Barry berubah pucat, bagaimana tidak, jika Adam mengetahui hal ini ia pasti akan menjadi sasaran empuknya, tak ingin di salahkan ia memutuskan segera pergi dari ruangan tersebut.
"Baik terimakasih banyak!"
"Aneh sekali!" Ucap Manisya yang melihat Barry lari terbirit-birit.
"Tok tok!" Manisya mengetuk pintu.
Karena tak Ada jawaban, Manisya membuka pintu, ia tak melihat sosok Adam di sana.
"Bukan kah laki-laki yang tadi bilang, Adam menyuruhku masuk ke sini, kenapa dia tidak Ada!" Ucap Manisya.
Ia memutuskan untuk menunggu di dalam ruangan tersebut, Manisya mendaratkan tubuhnya di atas sofa, matanya tak berhenti menatap seluruh ruangan yang di desain sangat modern dan tersusun dengan sangat rapih.
"Ruangannya bagus sekali!"
Sebuah papan nama yang tersimpan di atas meja, mengalihkan pandangannya, ya nama lengkap Adam tertera di sana, Manisya berjalan mendekati meja tersebut menatapnya sambil tersenyum, ia mengangkat papan nama Yangs begitu indah berbahan dasar kaca tersebut, kemudian tangannya pun menyentuhnya dengan lembut.
"Menyentuh namanya saja aku sudah bahagia!" Kedua matanya masih berbinar menatap papan nama milik Adam.
Saat itu tiba-tiba seseorang masuk dari arah luar.
"Apa yang sedang kau lakukan!" Ucap Linda saat melihat Manisya berdiri sambil tersenyum menatap papan nama milik Adam, sontak saja hal itu sangat membuat kaget Manisya yang tengah menatap papan nama berbahan dasar kaca tersebut, dan, "Brang!" Papan nama yang tengah Manisya pegang itu seketika terjatuh, hancur bahkan Mengani kaki miliknya.
"Kau tahu, sungguh tidak sopan, kenapa kau masuk ke dalam ruangan Pak Adam saat dia tidak berada di dalam ruangan, bahkan tidak ada yang menyuruh mu untuk masuk ke dalam sini! dasar wanita tidak sopan, murahan!" Linda belum puas memaki Manisya, ia sangat kesal saat memergoki Manisya yang berada di ruangan Adam.
Tangis Manisya pun pecah, ia menangis tersedu-sedu sambil jongkok menyentuh pecahan - pecahan kaca yang sudah tidak terbentuk lagi, bahkan ia tidak memperdulikan kakinya yang kini berdarah terkena pecahan kaca tersebut.
"Aku menyuruh mu keluar wanita murahan!" Emosi Linda masih belum turun.
"Ada apa ini!" Adam tiba-tiba muncul menyaksikan Linda memakai maki seseorang dalam ruangannya, ia juga mendengar ada seorang wanita yang menangis tersedu-sedu, namun belum menyadari jika wanita yang menangis itu adalah Manisya, karena saat itu Manisya tengah jongkok menyentuh serpihan-serpihan kaca.
"Apa yang kau lakukan di ruanganku?" Adam sangat kesal mendengar Linda berteriak di ruangannya.
"Maaf Pak, ini salah saya, saya sudah melarangnya masuk tapi saat saya ke toilet wanita ini tiba-tiba sudah berada di ruangan bapak!" Linda menunjuk Manisya yang sedang menangis tersedu-sedu.
Kemudian Adam melangkahkan kakinya melihat wanita yang di maksud oleh Linda, betapa kagetnya Adam saat mengetahui wanita yang sedang di maki oleh Linda bahkan ia kini tengah menangis tersedu-sedu sambil merapihkan papan nama yang telah hancur tak terbentuk adalah Manisya, wanita yang sangat ia sayangi saat ini.
Adam segera berlari menghampiri Manisya.
Tangis Manisya pecah saat melihat Adam di hadapannya. "Hiks hiks, ini pecah!" Mengangkat serpihan kaca memperlihatkan nya kepada Adam.
"Saya akan memanggil petugas pengamanan dan petugas kebersihan tuan!" Ucap Linda.
Adam menahan emosinya yang kini memuncak di kepalanya, ia menatap tajam ke arah Linda, seolah mengatakan jangan melakukan hal apapun saat itu, dan jangan bergerak satu langkah pun dari tempat ia berdiri saat ini.
Linda hanya diam mematung, masih belum memahami apa yang sedang terjadi di hadapannya.
"Adam ini pecah!" Manisya berkata dalam tangisnya, ia masih belum terima papan nama milik Adam yang indah kini hancur tak terbentuk.
"Sudah lah, ini hanya papan nama kita bisa bikin lagi nanti!" Segera Adam menyeka air mata Manisya, kemudian memeluknya dengan erat.
"Maaf aku membuat papan namamu jadi hancur!"
Adam mengusap lembut kepala Manisya, setelah menepuk perlahan punggungnya berharap wanita yang ia peluk kini segera menghentikan tangisannya.
"Kau tahu, itu sangat indah, aku sangat menyukainya!" Manisya masih mempermasalahkan papan nama dalam pelukan Adam, masih sambil menangis tersedu-sedu.
"Ya aku akan memperbaikinya, aku berjanji!" Jawab Adam.
"Apa Kamu ingin menambahkan namamu di sana?" Tanya Adam masih memeluk Manisya.
"Tidak, itu akan sangat Aneh!"
"Baiklah bagaimana mau mu saja!" Jawab Adam.
"Buatkan satu untukku?" Mereka masih tak melepaskan pelukan masing-masing.
Adam mengangkat badannya agar bisa menatap Manisya dengan leluasa.
"Untuk apa? itu hanya papan nama!" Sambil merapihkan rambut Manisya, menyelipkan sebagian rambutnya ke sela-sela telinga wanita itu, setelah itu menyeka air matanya yang masih menetes membasahi pipi Manisya.
"Ada namamu di sana, jadi aku sangat menyukainya!"
Mendengar Jawaban Manisya membuat Adam tersenyum menatap wajah Manisya.
"Bodoh!" Tangan Adam memukul perlahan puncak kepala Manisya.
"Baiklah aku akan membuat kan satu untukmu!"
Kemudian Adam mencoba membantu Manisya untuk berjalan menuju sofa, betapa terkejutnya Adam saat ia menyadari jika Kaki Manisya terluka oleh pecahan kaca.
"Kakimu berdarah!" Ucap Adam setelah itu ia menatap tajam ke arah Linda seolah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Manisya, ya ini semua memang kesalahannya, ia baru menyadarinya setelah melihat bagaiman Adam memperlakukan Manisya. Linda yang masih berdiri mematung menyaksikan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara sambil menahan dua lutut miliknya yang tiba-tiba melemas, jantung yang tiba-tiba berdetak kencang serta keringat dingin yang tak henti bercucuran menyaksikan betapa ia sedang di hukum karena berbuat kesalahan, Linda kini tak bisa berpikir jernih, setelah itu ia tahu ia akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah ia perbuat.
"Tidak, ini hanya sedikit, hanya di punggung kaki saja, aku tidak apa-apa!" Jawab Manisya yang sudah terlihat tenang, namun tidak dengan Adam, Adam masih menyimpan emosinya untuk Linda.
Tanpa berkata lagi Adam mengangkat Manisya dengan kedua tangannya, mendudukkannya di atas sofa, setelah itu segera meneteskan alkohol mengolesinya dengan sebuah betadin serta menutup nya dengan sebuah perban.
"Jangan memarahi nya!" tiba-tiba Manisya berisik di telinga Adam.
Seketika Adam menatap tajam ke arah Linda, Adam masih terlihat masih menyimpan emosi untuk Linda.
__ADS_1
"Kau keluar dari ruanganku!"