
Tiga malam sudah, Manisya terbaring di rumah sakit, hari ini hari ke tiga Manisya di rawat, ia kini sudah lebih baik, Manisya sudah tidak merasakan kepala yang berat, hanya badannya yang ia rasakan masih sedikit lemas, dokter pun mengijinkan Manisya untuk pulang dari rumah sakit tersebut.
Ibu Dewi yang tak lain adalah ibunda Manisya sedang membereskan baju dan perlengkapan Manisya untuk di bawa pulang, dan sang Ayah sedang membereskan Administrasi.
"Saya ingin melakukan pembayaran untuk biaya rumah sakit an Manisya Gadis Aralan" Ayah Manisya berbicara kepada petugas Admin di rumah sakit tersebut.
"Biak Pak, saya cek kan terlebih dahulu, mohon untuk menunggu sebentar" Petugas Admin mengecek biaya rumah sakit Manisya.
"Totalnya, 65.275.200" sang petugas Admin memberitahukan total biaya rumah sakit kepada ayah Manisya.
"Apa mba, boleh di ulang" tanya Ayah Manisya yang kaget mendengar Nominal tersebut, ia tiba-tiba panik mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
"65.275.200 sudah sama obat untuk di bawa pulang" petugas rumah sakit menjelaskan lebih detail.
"Itu an Manisya Gadis Aralan kan mba" ayah Manisya masih mencoba memastikan.
Petugas rumah sakit pun berusaha mengecek kembali jumlah tagihan atas nama Manisya Gadis Aralan.
"Betul Pak an Manisya Gadis Aralan" Petugas Admin menyebut nama Nisya dengan lengkap.
"Mmm, mba apa bisa saya meminta keringanan pembayaran, atau cicilan misalnya" Ayah Manisya memohon keringanan, mengesampingkan rasa malunya, agar sang anak bisa pulang, Ayah Manisya mencari jalan keluar karena ia tak memegang uang sebanyak itu, di dompetnya, setengah dari biaya tersebut juga tidak ada, itupun hasil mengumpulkan tabungan yang ia dan istrinya miliki.
"Saya cek disini semua pembayaran sudah dilakukan Pak, bapak hanya perlu menandatangani saja, silahkan tandatangan di sebelah sini." dengan penuh tanda-tanya dalam benaknya, sang Ayah menandatangani dokumen tersebut mengikuti perintah, sambil berfikir kencang karena kebingungan memikirkan siapa yang membayar tagihan anaknya tersebut.
"Sudah di bayar mba?" tanya Ayah Manisya.
"Iyah, pembayarannya sudah lunas" jawab petugas Admin.
"Tapi saya belum membayarnya lho mba" jawab Sang Ayah.
"Di sini saya cek sudah di bayar ko Pak" petugas Admin menegaskan kembali.
"Apa saya bisa tahu siapa yang sudah membayarnya" tanya sang Ayah kembali.
"Untuk hal tersebut kebetulan belum tertera di sini Pak, jadi mohon maaf saya tidak bisa memberitahukan" Petugas Admin memberi informasi yang membuat Ayah Manisya sedikit kecewa.
"Baiklah kalau begitu, Terimakasih banyak mba, saya permisi" Ayah Manisya berlalu dengan sedikit kecewa karena tidak diberi tahu siapa yang sudah membayar tagihan rumah sakit sang putri tercinta.
Sampailah sang Ayah di kamar Manisya, terlihat Ibu Dewi yang sedang membereskan perlengkapan, dan Manisya yang sudah di lepas infusan mencoba untuk turun dari tempat tidur.
"Ayah, sudah selesai?" Tanya Ibu Dewi Kepada suaminya tersebut yang baru saja masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Sudah sayang" jawab Bapak Aralan singkat.
"Kenapa Mukanya ditekuk seperti itu?" Ibu Dewi yang melihat suaminya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ibu tau ga tagihan Rumah Sakit disini berapa, hanya untuk istirahat tiga malam saja" Tanya Pak Aralan kepada sang istri.
"Memang nya berapa ayah?" Tanya Ibu Dewi penasaran
"Coba lihat!" Memberikan Nota pembayaran pada Sang istri.
Seketika Ibu Dewi membelalakkan kedua bola matanya karena terkejut melihat jumlah tagihan tersebut.
"Kenapa besar sekali" Ibu Manisya berkata dengan Airmuka yang bingung.
"Memang berapa bu jumlah tagihan nya?" tanya Manisya yang melihat sang Ibu tiba-tiba pucat.
"65.275.200" jawab sang Ibu.
"Apa" Manisya tiba-tiba memutar otaknya mencari jalan keluar untuk melaunasinya.
"Tapi kalian tidak usah khawatir" Pak Aralan menenangkan.
"Seseorang dengan hati yang sangat baik telah membayar tagihan rumah sakit" Perkataan Ayah Manisya membuat Istri dan Anaknya tenang seketika.
"Entahlah, mereka tidak bisa memberitahu nya" Ayah Manisya yang kebingungan mencari informasi.
"Manisya, apa kamu punya seorang kekasih?" Ayah Manisya yang masih penasaran mencoba menginterogasi.
"Tidak yah, Manisya tidak punya kekasih" Jawab Manisya jujur.
"Benarkah" Sang Ayah memastikan.
"Betul ayah, Manisya tidak punya pacar" Manisya menjawab Masih dengan jawaban yang sama.
"Mm, kayaknya Manis tau yah siapa yang membayar biaya rumah sakit Manisya" Manisya mulai teringat akan kata-kata Adam.
"Kamu tahu? Lalu siapa?" tanya sang Ayah.
"Sepertinya Adam" jawab Manisya.
"Nak Adam?" Jawab Sang Ayah.
__ADS_1
"Apa kalian punya hubungan spesial?" Sang Ayah Masih tidak percaya.
"Tidak ada Ayah, kami hanya teman sekelas, mungkin Adam tau biaya disini sangat mahal, dan Adam sendiri kan yang bawa Manis ke rumah sakit ini, mungkin itu salah satu bentuk tanggung jawab Adam" Jelas Manisya.
"Makannya yah Manis suka sama Adam, walaupun pada akhirnya Manis sendiri yang harus membayar tagihannya pada, mimpi apa aku" Hati kecil Manisya berbisik.
"Kalau begitu Ayah harus berterimakasih pada Nak Adam" Jawab sang Ayah.
"Ayah, biar nanti Manisya saja yang menyampaikan terimakasih pada Adam, kalau ayah yang bilang langsung, takutnya Adam nanti merasa tidak enak" Manisya memberi ide.
"Baiklah kalau begitu, sampaikan rasa Terimakasih banyak Ayah pada nak Adam ya Manis" Ayah.
"Baik Ayah"
Pagi itu Manisya Akhirnya keluar dari rumah sakit bersama Ayah dan Ibunya dengan menaiki mobil tua milik sang Ayah. Disepanjang perjalanan menuju rumah, Manisya sibuk dengan lamunannya, mencari cara atau pekerjaan untuk melunasi hutangnya, Ia menatap toko - toko yang ia lewati berharap ada tulisan "lowongan pekerjaan" Namun setiap toko yang mobil ayah lewati, Manisya tak kunjung mendapatkan kata-kata tersebut.
Manisya yang duduk di kursi belakang kemudi, meraih ponselnya, kemudian mengetik sebuah pesan.
"Adam, aku pulang hari ini, terimakasih untuk biaya nya, aku akan segera menggantinya" Manisya
Tak lama ponsel Manisya bunyi kembali, ia membuka ponselnya.
"Baguslah, kalau lo tau diri" Adam membalas pesan Manisya.
Seketika mata Manisya melebar dengan sempurna, ia tidak menyangka Adam membalas pesan untuk yang kedua kalinya.
Walaupun pesan yang dikirimnya tidak se indah harapannya, ia tetap saja sangat senang.
"Duh, bagi-bagi donk senyumnya"
Goda sang Ayah yang tak sengaja melihat Manisya tersenyum sendiri saat melihat kaca spion yang memperlihtakan wajah bahagia anaknya tersebut.
"Apa si Ayah, Manisya cuman seneng aja hari ini udah bisa pulang dari rumah sakit" Manisya menjelaskan tak mau ada kesalah pahaman.
"Coba ibu tebak, kayaknya ibu tau yah kenpa Manisya kelihatan senang begitu" Sang ibu yang ikutan menengok ke arah belakang, mencoba mengartikan sesuatu.
"Apa bu, cepat kasih tau Ayah" Sang Ayah penasaran.
"Boleh ga sayang?" Ibu Dewi meminta izin keoada Manisya.
"Boleh apa si bu, orang ga ada apa-apa" Kata Manisya.
__ADS_1
"Terus kenapa kelihatan senang sekali setelah dapat pesan dari Adam?"