
"Halo semuanya, kenalkan namaku Samira" Sapaan gadis tersebut membuat ricuh seluruh kelas, ya seorang gadis dengan rambut coklatnya yang terurai panjang, hidung serta bibirnya yang membuat semua mata tak bisa memalingkan jika melihat ciptaan tuhan yang sempurna itu, kulit putih mulusnya se akan tersorot sebuah lampu, begitu terang, mata lebarnya yang di lengkapi dengan bulu mata lentik yang membuatnya semakin terlihat sempurna,
"Halo juga" Para Murid dengan kompak menjawab sapaan gadis bernama Samira tersebut.
"Dari mana asalnya, nomor sepatu berapa, rumah di mana, udah punya pacar apa belum" Pertanyaan - pertanyaan tersebut keluar dari para murid laki-laki, yang terkesima dengan kecantikan Samira.
Samira membalas pertanyaan tersebut dengan sebuah senyuman.
"Sudah sudah, kalian ini malu-maluin saja kalau liat wanita cantik itu" Pak Guru wali kelas mencoba menenangkan keributan yang terjadi di kelas tersebut.
"Cantik banget ya Nin, kayak artis-artis di film-film korea yang aku tonton" Manisya berbisik di telinga Nina yang kala itu tak kalah terpesonanya dengan Manisya.
"Iyah Sya cantik banget ini tuh,kayak model" Nina merespon perkataan Manisya sambil menatap ke arah Samira.
"Kamu duduk di bangku itu" Pak Guru menunjuk sebuah bangku kosong kepada Samira tepatnya di depan Rangga.
"Baik Pak" Jawaban Samira mengiyakan Pak Guru Wali Kelas, sebelum akhirnya Samira duduk dibangku kosong sesuai dengan yang di arahkan oleh Bapak wali kelas tersebut.
"Bapak tinggal dulu, kalian baik-baik dengan Samira yah" Pesan Bapak kelas kepada Para Murid, pesan itu sebenarnya di khususkan untuk para murid laki-laki yang terlihat ricuh saat kedatangan Samira.
Setelah keprgian Bapak Guru Wali kelas, Para Murid laki-laki berdatangan ke arah Samira, memeperkenalkan dirinya masing-masing, hal itu membuat bangku Samira kini di penuhi oleh para murdi pria yang ingin berkenalan dengannya.
"Lihat Nin" semua laki-laki di sini terpesona oleh kecantikannya" Manisya dan Nina menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan melihat tingkah teman-teman pria sekelasnya tersebut.
"Iyah Sya, laki-laki itu begitutuh, untung saja punya Mu lagi ga ada di sini Sya" Jawab Nina menanggapi peerkataan Manisya.
"Punyaku?" Tanya Manisya yang belum mengerti arah perkataan Nina.
"Adam Sya Adam masudku" Jawab Nina sambil menepuk pundak Manisya.
"Oh Adam maksudmu, tapi kayaknya Adam bakalan ngelakuin hal yang sama saat melihat gadis cantin Nin, namanya juga pria" Manisya mencoba menenangkan fikirannya, saat mendengar perkataan Nina yang sebenarnya membuatnya hatinya merasa resah.
Manisya melirik ke arah Samira yang memang masih di kerumuni oleh seluruh teman laki-lakl nya yang ada di kelas tersebut.
"Ya sudah lah, dia bukan sainganmu Manisya" Manisya berkata di dalam hatinya sambil menatap ke arah Samira, ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.
Saat suasana kelas lebih tenang yaitu ketika murid Laki-Laki yang berada di dalam kelas tersebut selesai untuk berkenalan dengan Samira, kini giliran Manisya yang mendekati Samira, kemudian Manisya mengurukan tangannya disertai dengan lebaran di kedua bibirnya tipisnya. "Hei, kenalin Aku Manisya" Manisya mulai memperkenalkan dirinya di ikuti dengan Nina yang bergiliran menjabat tangan Samira.
"Aku Samira" Jawab Samira Memperknalkan dirinya dengan Manisya dan Nina, merekapun terlibat percapakan untuk sesaat, menanyakan asal sekolah, rumah, serta menanyakan hobi samira.
Tak terasa jam perjalanan sekolah pun telah selesai. Para siswa sedang merapihkan buku mereka masing-masing untuk bersiap meninggalkan kelas yang telah berakhir.
"Nin, siapa aja jadinya yang mau ikut?" tanya Rangga menghampiri Nina.
"Nengok Adam? " tanya Nina memastikan pertanyaan Rangga.
"Iya nengok Adam" jawab Rangga membenarkan perkataan Nina.
"Paling Aku, Nisya dan Kamu" Terang Nina kepada Rangga.
"Gua ajak Samira biar agak banyakan, katanya dia mau ikut" Rangga mengajak Samira ikut bergabung dengan mereka.
"Iya ya ide bagus" Jawab Nina dan Manisya sambil menganggukan kepala mereka secara perlahan.
Rangga, Nina, Manisya dan Samira pun kini berada di dalam mobil milik Rangga yang memang hari itu Rangga sengaja meminjam mobil milik ayahnya agar memudahkan ia untuk mengjenguk Adam yang berada di rumah sakit tersebut.
Saat Rangga hendak menyalakan mobil miliknya, "Nin, Lo tau rumah sakit yang Mana kan?" tanya rangga dengan sedikit ragu melirik ke arah spion menatap kebelakang karena Nina dan Manisya duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Aku sih ga tau, coba kamu tanya sama cewek di pinggir aku ini" Nina menyenggol kaki Manisya dengan kakinya.
"Lo ta Sya?" tanya Rangga yang kini mengganti arah matanya kepada Manisya yang duduk tepat di pinggir Nina.
"I Iya, aku tahu" Jawab Manisya dengan sedikit ragu, kemudian Manisya pun memberitahu nama dan letak rumah sakit tempat Adam sedang di rawat.
Rangga mulai menyalakan mesin Mobilnya, tak lama setelah itu mobil yang di kemudikan Rangga melaju dengan kencang. "Kenapa Lo bisa tau Sya kalau Rangga di rawat di sana?" di tengah-tengan perjalanan tiba-tia Rangga memebrikan sebuah pertanyaan yang membuat Manisya terperanjat, sibuk memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan kepada Rangga.
"Ya elah Rangga, Lo tuh kayak yang ga tau aja, jangan pura-pura dong" Nina membantu Manisya menjawab pertanyaan Rangga.
"Ya itu si Gua tau, maksud Gua ituh Lo dapat info dari mana kalau Adam di rawat di sana, gua juga belum tahu ya kan" Semua teman sekelas Manisya memang mengetahui jika Manisya sangat menyukai Adam.
"Berarti kedekatan Lo sama Adam patut di pertanyakan" Jawab Nina tanpa memikirkan apa yang dia katakan.
"Maksud Lo apa?" tanya Rangga mulai menyolot kepada Nina.
"Sudah sudah, kalian jadi pada ribu begitu" Manisya memotong pembicaraan Rangga dan Nina takut jika mereka berdebat, karena Nina dan Rangga memang sering mempermasalahkan hal yang sepele menjadi hal besar, mereka juga sering saling bertengkar sampai tak menyapa dalam bebrapa hari.
"Kalian yah, layaknya suami istri yang sedang bertengkar" Samira yang sedari tadi terdiam akhirnya ikut berkomentar, mengomentari Nina dan Rangga yang berdebat.
"Hihi, mungkin jodoh yah" jawab Manisya kepada Samira sambil terkekeh menutup mulutnya.
Kemudian Samira pun ikut menertawakan Rangga dan Nina, hal itu membuat pertanyaan Rangga kepada Manisya mulai teralihkan.
"Ih amit-amit" Jawab Nina.
"Mending jomblo deh semuru hidup" Di balas oleh rangga.
"Hati-hati loh kalian, yang begini biasanya jodoh" Giliran Manisya yang memperingatkan Adam dan Rangga.
Kemudian Manisya dan Samira pun menertawakan expresi Rangga dan Nina yang bergidig tak mau jika harus berjodoh.
"Di sini" Manisya menunjuk sebuah pintu kamar pasien yang memang di sana letak kamar Adam.
Manisya pun mengetuk pintu tersebut dan membukanya secara perlahan
.
"Adam" Manisya memanggil Adam kemudian memasuk ke dalam kamar tersebut, di susul oleh Rangga, Nina dan juga Samira. Manisya melihat Adam sedang tertidur namun bukannya tidur di atas tempat tidur yang di sediakan rumah sakit tersebut, Adam terlihat sedang tidur di atas sofa tempat Manisya dan Adam tertidur semalaman.
Mendengar namanya di panggil, Adam mengerjap membuka matanya, kemudian merubah posisi badannya menjadi duduk di atas kursi.
"Ngapain kalian di sini" Tanya Adam dengan menatap Manisya, Rangga, dan Samir dengan tatapan tidak senang.
"Pertanyaan kamu itu salah Adam, harusnya terimakasih sudah datang ke sini" Manisya membenarkan perkataan Adam.
"Semau Lo" Adam begerak dari sofa nya kemudian berjalan menuju temapat tidurnya, mempersilahkan teman-temannya tersebut untuk duduk di atas sofa.
Manisya mencoba membantu Adam menaiki tempat tidurnya namun di tolak oleh Adam.
"Sudah lah Gua bisa sendiri" Jawab Adam sambil menaiki kasurnya dengan Nada tidak senang kepada Manisya, hal itu memuat manisya mengerutkan bibirnya, dan menahan sedikit sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
"Kenapa bisa begini dam?" tanya Rangga sambil berjalan menghampiri Adam kemudian duduk di kursi yang dekat dengan Adam.
"Entah lah, perasaan Gua gak ngebut bawa motor.." Jawab Adam menanggapi pertanyaan Rangga.
"Giliran aku aja yang nanya enggak di jawab" Manisya merasa cemburu dengan perlakuan Adam kepada Rangga, tidak sama dengan Adam memperlakukan Manisya.
Adam pun terlibat pembicaraan dengan Rangga, di tengah perbincangan mereka, "Oia Dam ini kenalin ada temen sekelas kita yang baru" Rangga memperkenalkan Samira kepada Adam.
__ADS_1
Samira pun berjalan dari sofa tempat ia duduk mendekat ke arah Adam, sebelum akhirnya mereka berjabat tangan.
"Samira" Sapa Samira kepada Adam lengkap dengan senyum lebar yang menampakkan gigi rapihnya yang putih.
"Adam" Jawab Adam dengan singkat.
Entah mengapa melihat Adam dan Samira bersalaman membuat perasaan Manisya menjadi tak karuan, Maniysa melihat Adam memberikan raut muka yang ramah kepada Samira, membuat dada Manisaya semakin sesak di buatnya, jantung Manisya berdegup lebih kencang dari biasanya, kedua lutut Manisya tiba-tiba saja melemas, Manisya beruasaha menutupinya kemudian menarika nafasnya sangat dalam dan berbisik di dalam hatinya, "ada apa denganku".
.
***
Mohon maaf tulisannya berantakkan, dan Terimakasih yang tak terhingga atas dukungan semuanya ^-^ v
__ADS_1