Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Sedang Apa Kalian!


__ADS_3

"Mau kemana kamu!" Ucap seorang dari balik pintu yang tertabrak olah Manisya.


Manisya mengangkat kepalanya, menatap ke arah suara yang tak asing di telinganya, seketika jantungnya berdegup kencang di ikuti dengan bulatan di kedua bola matanya, saat di lihatnya seseorang yang ingin ia temui sejak malam tadi, dan orang yang membuat ia ingin kembali kerumahnya saat itu juga, ia adalah Adam.


"Adam, hehe!" Manisya menyembunyikan kegugupannya saat itu.


"Mau kemana?" tanya Adam dengan memegang lengan Manisya yang hendak melangkahkan kakinya menjauh dari hadapannya.


"Aku, aku mau, aku mau ke toliet!" Jawab Manisya, menyembunyikan sebuah rencana nakal nya.


"Bukan nya tadi kamu bilang mau pulang?" Ucap Adam, dengan menatap Manisya.


"Kamu mendengarnya, aku hanya lupa jika sedang sakit, makannya aku akan kembali lagi ke rumahku, dan tolong katakan jika aku masih sakit!" Tutur Manisya yang sudah tak bisa lagi menutupi rencana nakalnya yang akan meninggalkan sekolah saat itu, bukan karena sakit di tubuhnya kembali terasa, namun rasa canggung jika harus bertemu dengan Adam, namun siapa menyangka orang yang di hindari nya adalah orang yang pertama ia temui di kelas saat itu.


Kala itu Manisya mencoba melangkahkan kakinya kembali, namun lengannya masih di pegang oleh Adam, dan Adam mengencangkan pegangannya terhadap lengan Manisya saat Manisya berusaha melangkahkan kaki nya.


"Katakan itu sendiri!" Ucap Adam.


"Kan AKu mau pulang!" Protes Manisya dengan detak jantung yang masih berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Kalau begitu aku akan bilang pada Guru, jika kamu melarikan diri!" Ucap Adam,


"Jahat sekali!" Kata Manisya dengan mengerutkan bibirnya, dan menatap ke arah Adam*, "Kenapa di telepon dia Manis sekali, tapi sangat galak jika bertemu!"* Manisya berucap di dalam hatinya.


Adam menarik lengan Manisya hingga membuatnya melangkahkan kakinya satu langkah kedepan hingga memasuki ruangan kelas.


"Bukan kah semalam kamu bilang tidak akan masuk sekolah hari ini?" Adam bertanya seolah menginterogasi Manisya, menatap tajam ke arahnya dengan tangannya memegang lengan Manisya, sesekali Adam membetulkan tas punggung yang menempel di salah satu pundaknya.


"I, iya, Memang semalam rencananya aku tidak akan masuk sekolah hari ini, tapi, tapi karena aku sudah sembuh, tadi pagi aku memutuskan masu sekolah saja, jika terlalu sering kan pelajaran akan banyak tertinggal !" Jelas Manisya secara lancar, namun dengan tidak mengatakan hal sebenarnya kepada Adam, jika ia sangat ingin berjumpa dengannya saat itu juga.


"Benarkah kamu sudah sehat?" tanya Adam dengan melepaskan tangannya yang memegang lengan Manisya kemudian menempelkan tangannya pada dahi Manisya, menatap ke arah Manisya dengan tatapan penuh curiganya kepada Manisya.


"Terus kenapa kamu mau pulang?" tanya Adam sambil melepaskan tangannya dari dahi Manisya namun tatapannya tak lepas dari wanita berambut pendek .


"Em!" Manisya memutarkan kedua bola matanya, mencari sebuah alasan yang tepat.


Manisya diam sesaat, kemudian berkata dengan sedikit menaikan nada bicaranya,


"Kenapa kamu selalu ingin tahu!" Manisya protes karena sedikit saja berbohong membuat dirinya tak lepas dari interogasi Adam, dan seakan mengetahui apa yang ada dalam hatinya itu.


"Kamu berani kepadaku!" Ucap Adam dengan jari siap menyentil dahi Manisya.


Manisya segera menutup dahinya menggunakan kedua tangannya.


"Tidak, aku hanya kesal kenapa kamu selalu tahu jika aku berbohong!" Protes Manisya dengan memasang muka kesalnya.


"Kamu tahu! fikiran bodoh mu itu mudah sekali aku baca!" Adam menurunkan wajahnya mendekat kepada wajah Manisya, Manisya hanya memasang wajah kesalnya sambil menatap ke arah Adam, dengan tangannya yang masih mengamankan dahinya, takut jika Adam tiba-tiba menyentil dahinya.


"Jangan pernah berbohong kepadaku, atau kamu tahu akibatnya!" Ucap Adam memperingati Manisya dengan posisi wajahnya masih ia dekatkan kepada Manisya.


Adam memposisikan kembali kepalanya ke posisi seharusnya, dengan tatapan masih tak lepas kepada Manisya.


"Coba bilang kepadaku, apa alasanmu?" Tanya Adam seolah sedang menginterogasi Manisya yang masih memasang muka kesal nya.


"Alasan apa?" tanya Manisya yang berpura-pura lupa.


"Jangan berpura-pura lupa!" Ucap Adam seolah tahu apa yang ada di fikiran Manisya.


Mendengar perkataan Adam tersebut, membuat Manisya seketika membelalakkan kedua matanya, ia begitu terkejut dengan apa yang di katakan Adam kepadanya seolah ia tahu apa yang ada di dalam fikiran Manisya.


"Cepat katakan! apa yang membuatmu memutuskan untuk datang kesekolah? setelah sampai, kamu ingin melarikan diri!"


Manisya masih terdiam, bingung harus mengatakan apa kepada Adam, jika berbohong lagi dan Adam mengetahuinya, kali ini Adam pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Katakan!" Ucap Adam saat melihat Manisya hanya terdiam membisu, kala itu Adam menyimpan sebuah emosi dalam fikirannya.


Manisya masih terdiam, ia mengangkat kepalanya yang kala itu tertunduk dan menatap ke arah Adam secara perlahan.


Manisya memejamkan kedua matanya dan berkata,

__ADS_1


"Aku hanya merindukanmu!"


"dan Aku terlalu malu untuk bertemu denganmu!" Manisya melanjutkan perkataannya dengan sedikit berteriak, dengan masih memejamkan kedua matanya.


"Bodoh!" ucap Adam dengan berhasil menjentikkan jarinya di dahi Manisya, raut muka Adam berubah seketika setelah mendengar perkataan Manisya, emosi yang tersimpan dalam dadanya, pudar seketika.


"Aw!" Teriak Manisya kesakitan, dengan terus memegang dahinya menggunakan kedua tangannya.


Adam menatap ke arah Manisya dengan seulas senyum di bibirnya, kemudian memegang halus bagian atas kepala Manisya.


Tiba-tiba,


"Pada ngapain kalian?" Ucap Rangga dengan menatap penuh selidik ke arah Manisya dan Adam, Adam dan Manisya yang kala itu tengah berdiri berhadapan, sedang tangan Adam yang masih menyentuh bagian atas kepala Manisya dan Manisya masih di sibukkan dengan mengusap dahinya, seketika menengok ke arah suara, Manisya yang sangat terkejut dengan ke datangan Rangga, membelalakkan kedua matanya, menghentikan sementara aktivitasnya mengusap dahinya.


"Pagi-pagi kalian udah berbuat mesum!" Ucap Rangga begitu saja tanpa memikirkan apa yang ia ucapkan.


Manisya menggeleng-geleng kan kepalanya, membantah apa yang Rangga katakan kepadanya.


"Siapa yang berbuat mesum, aku hanya sedang berbicara kepada Nya!" Ucap Manisya dengan mengerutkan bibirnya, tak terima dengan perkataan Rangga kepadanya, Manisya mencoba membela dirinya, kini kedua tangannya tak lagi menempel pada dahinya.


"Lo bener, dia sedang mencoba menggoda Gua!" Ucap Adam dengan sambil menatap ke arah Manisya, dengan seulas senyum jahil di bibirnya, sengaja menggoda Manisya.


Manisya membelalakkan kedua matanya menatap ke arah Adam saat mendengar apa yang keluar dari mulut Adam, Adam hanya menatap senyum ke arah Manisya kemudian setelah itu, Adam melangkah kan kakinya menuju bangku tempat ia duduk di kelas itu, membiarkan Manisya di liputi kekesalan terhadapnya.


"Ih menyebalkan, siapa  yang menggoda, orang aku hanya sedang berbicara saja dengannya!" Manisya mencoba membela dirinya, namun Adam tak menghiraukannya, ia berlalu meninggalkan Manisya begitu saja, karena kesal, Manisya mencegat Rangga yang saat itu sedang melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Di tatapnya Rangga dengan raut muka kesal nya kemudian berkata dengan menaikan nada bicaranya.


"Aku tidak berbuat mesum, dan aku juga tidak sedang menggodanya!" jelas Manisya berakhir dengan kerutan di bibirnya serta menatap ke arah Adam yang saat itu sedang duduk santai dengan menarik salah satu sudut bibinya tanpa menoleh ke arah Manisya.


"Lo ga takut, kalau Lo begini kesemua laki-laki, dia akan menggantung mu!" Tutur Rangga sambil menunjuk ke arah Adam, Rangga berhasil menakuti Manisya yang kala itu berdiri menghalangi jalannya.


Seketika Manisya memegang lehernya, fikirannya travelling mengikuti perkataan Rangga.


"Apa maksudmu!"


"Lo gak lagi godain Gua kan?" tanya Rangga mengangkat salah satu alisnya.


"Enggak, aku hanya sedang berbicara padamu!" Rangga mengangguk-anggukan kepalanya.


Kemudian Rangga berjalan kembali menuju kursinya, meninggalkan Manisya yang berdiri mematung di didepan kelas.


"Memang apa salahku!" Tanya Manisya menatap punggung Rangga yang sedang berjalan saat itu, namun Rangga hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalian menyebalkan!" Ucap Manisya dengan berteriak kepada Adam dan Rangga yang kini telah bersandar pada kursinya.


"Hadeuh, kalian ini pasangan yang amat serasi, si pintar dan si..!" Rangga menghentikan perkataanya saat Adam menatap tajam ke arahnya.


"Sorry, Gua salah ngomong!" Rangga ketakutan melihat tatapan Adam, ia kemudian menepuk mulutnya secara perlahan menggunakan tangannya.


Saat itu, dengan perasaan kesal, Manisya berjalan dari depan ruangan kelas menuju kursinya, tatapan kesalnya tak sekalipun lepas mengarah pada Adam, namun Adam yang mengetahuinya tak menghiraukan sama sekali tatapan kesal Manisya kepadanya.


"Drrt, Drrt, Drrt." Ponsel Manisya bergetar, kemudian dengan segera melihat pesan yang ada pada handphone nya tersebut, Manisya melihat sebuah pesan padi aplikasi WhatsApp dari nomor yang asing dan belum ada nama dalam kontak ponselnya itu, Manisya mengerutkan dahinya saat membuka pesan tersebut, tiba-tiba Manisya menarik nafasnya sangat dalam serta membulatkan kedua bola matanya saat membaca pesan dari nomor yang tidak ia kenal tersebut.


"Apa kamu sedang berusaha menggodaku kembali, aku perhatikan dari tadi kamu tak henti-hentinya menatapku!"


Kata tersebut di kirimkan Adam melalui aplikasi WhatsApp di dalam ponselnya kepada Manisya.


"Nyebelin!" Ucap Manisya secara perlahan namun masih bisa terdengar oleh Adam.


Kemudian Manisya pun terlihat mengetik sebuah pesan pada layar ponselnya.


"Aku akan membuang ponselmu!" Pesan tersebut berhasil Manisya kirimkan kepada Adam.


Setelah membaca pesan yang dikirimkan Manisya melalui ponsel miliknya, Tiba-tiba Adam menghampiri Manisya yang kala itu tengah duduk di kursinya.


"Berikan Ponselku!" Perintah Adam dengan mengulurkan tangannya yang di biarkan terbuka, meminta ponselnya yang semalam tertinggal di rumah Manisya.


"Tidak Mau!" Ucap Manisya sambil menatap ke arah Adam disertai sebuah kerutan pada bibir titipis nya.


"Aku akan membuangnya pada tong sampah!" Ancam Manisya kepada Adam.

__ADS_1


"kamu berani kepadaku?" Tanya Adam dengan mengangkat salah satu alisnya, merencanakan sesuatu untuk merebut ponselnya.


"Kenapa tidak?, aku sangat pemberani!" Ucap Manisya sambil menyembunyikan tasnya di balik punggungnya, karena saat itu ponsel Adam memang berada di dalam tas miliknya.


Saat itu Adam lebih mendekatkan kembali tubuhnya pada Manisya, ia berusaha meraih tas milik Manisya yang di sembunyikan di balik punggungnya itu, sesekali Adam menggelitik pinggang Manisya, namun Manisya hanya bergerak sekali-kali, karena gelitikkan Adam yang tak begitu berarti baginya.


"Cepat berikan ponselku!" Perintah Adam masih berusaha meraih tas Manisya.


"Tidak, aku tidak mau!" aku akan membuangnya!" Ucap Manisya masih dengan pendiriannya mempertahankan sebuah tas.


"Kamu benar-benar sedang menggoda ku kan!" Ucap Adam sambil membentuk sebuah jentikkan di tangannya.


Manisya membulatkan kedua matanya, merasa ketakutan melihat dua jari Adam yang terlihat membentuk sebuah bulatan, siap untuk menjentikkan jarinya di dahi Manisya, kala itu Manisya sudah siap dengan menutupi dahinya menggunakan salah satu tangan nya.


Mereka berdua terlihat sedang asik berdua, mengabaikan Rangga yang tak henti menatap ke arah Adam dan Manisya dengan sebuah gelengan pada kepalanya.


"Kalau tidak ingin merasakan ini, cepat berikan ponselku!" perintah Adam dengan lebih mendekat jarinya pada dahi Manisya yang kini terhalang oleh tangan Adam.


"I, iya, tunggu!" Manisya mengambil tasnya dari balik punggungnya, dan tangannya mulai masuk ke dalam tas miliknya saat itu, hendak mengambil ponsel Adam yang berada di dalamnya.


Manisya menatap lurus kedepan, memikirkan sebuah rencana nakal dalam benaknya.


"Pagi pak guru!" Ucap Manisya dengan menatap ke depan ruangan kelas.


Mendengar ucapan Manisya, Adam yang kala itu sedang posisi mengancam Manisya, mengangkat badannya menjadi berdiri, dan melihat ke arah depan ruangan kelas mereka, dan saat itu, tiba-tiba Manisya berlari sangat kencang, memasukan ponsel Adam kedalam saku rok nya.


Adam yang tengah terkecoh oleh Manisya, melihat ke arah wanita itu yang berhasil melarikan diri darinya, kemudian ikut berlari mengejar Manisya.


Saat itu, suasana masih sangat sepi, belum terlihat siapapun di luar kelas. Mereka pun saling mengejar, Langkah seribu Manisya terhenti, saat Adam berhasil mengejarnya, Adam menarik tangan Manisya dan membawanya ke samping kelas, tepatnya di depan sebuah toilet.


"Cepat berikan ponselku!" Ucap Adam dengan menatap Manisya yang kala itu menempelkan punggungnya pada sebuah dinding.


"Tidak mau!" Jawab Manisya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Aku akan membuangnya pada toilet !" Manisya berkata kembali, dengan nafasnya yang masih belum teratur akibat berlari kencang menghindari Adam.


Adam belum berkata, ia sibuk menatap tajam ke arah Manisya dengan jarak yang begitu dekat, dengan sebuah rencana yang sudah tersusun rapih dalam fikirannya.


Adam tiba-tiba mengangkat dagu Manisya kemudian membuatnya menengok ke sebelah kiri.


"Cepat berikan ponselku!"


"Tidak mau!" Jawaban Manisya masih sama.


Manisya membelalakkan kedua matanya, saat tiba-tiba Adam mengecup pipi kanannya, jantung Manisya tiba-tiba berdetak sangat kencang.


"Aku bilang berikan ponselku!" tangan Adam masih memegang dagu Manisya.


"Tidak, aku akan mem..!" Jawaban Manisya terhenti saat sebuah kecupan dari bibir Adam kembali mendarat, kali ini di pipi kirinya, ia sungguh terkejut dan membulatkan kembali kedua matanya, jantungnya kembali bergetar dan seluruh badannya tiba-tiba melemas.


"Aku bilang cepat berikan ponselku!" Kata Adam dengan tangan masih menempel pada dagu Manisya.


"Aku!" Ucap Manisya, namun perkataannya terhenti saat Adam sudah bersiap hendak mendaratkan sebuah ciuman di bagian yang lain wajah Manisya, tepatnya pada bibir Manisya.


Manisya mendorong tubuh Adam, hingga membuat jarak mereka sedikit berjauhan.


"Inih!" Manisya memberikan ponsel Adam yang telah di ambil dari saku roknya.


"Pintar!" Ucap Adam sambil memberikan sebuah senyuman pada Manisya yang kala itu tengah mengerutkan bibirnya menatap kepada Adam.


Adam mengambil ponselnya dari tangan Manisya, kemudian mengusap lembut bagian atas kepala Manisya, setelah itu menggenggam tangan Manisya untuk menariknya berjalan di belakangnya, saat mereka hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba,


"Sedang apa kalian?"


***


Sedih banget 😔 😂 😭, ternyata ada bagian yang hilang di sini, yasud harus nulis ulang.


*Curhat sedikit ☺️

__ADS_1


Terimakasih ya Gaes atas dukungannya. 😊


__ADS_2