
"Jaga bicara Lo!" Adam menarik kembali kerah baju milik Ferry hendak memberikan sebuah pukulan lagi pada wajah Ferry, kali ini Ferry berontak dan hendak membalas memukul Adam, untung saja Rangga ada di sana, ia mencoba menarik tubuh Adam yang berusaha memukul Ferry kembali.
Kini Api unggun sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian saat itu, mereka tengah memperhatikan suara keributan dari arah Adam dan Ferry, Susana saat itu semakin memanas, seperti kobaran Api dari Api Unggun yang tengah menyala.
"Ada apa ini?","Ada apa ini?" Pertanyaan demi pertanyaan terdengar dari para peserta Camping, sebagian datang mendekat ke arah keributan.
Manisya pun yang saat itu sedang menyaksikan sebuah acara di depan Api Unggun, kini mengalihkan perhatiannya kepada suara keributan berasal, Manisya masih memperhatikan ke arah asal keributan, samar ia melihat dua sosok laki-laki tengah di pisahkan dan dengan posisi tangan siap beradu, beberapa saat Manisya menatap ke arah sosok yang tengah ribut tersebut, sebelum akhirnya Manisya membelalakkan kedua matanya saat mengetahui sosok laki-laki yang tengah ribut adalah Adam.
"Nin, itu Adam bukan ya?" Tanya Manisya menepuk-nepuk paha Nina.
"Bener Sya, sama si Ferry!" Jawab Nina sambil menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar.
"Sya, mau kemana?" Teriak Nina melihat Manisya berjalan terburu-buru.
Tanpa mendengar perkataan Nina terlebih dahulu, Manisya segera beranjak dari duduknya, terlihat di sana Pak Guru yang tengah menenangkan Ferry, sedangkan Rangga tengah mendekap Adam agar Adam bisa meredam emosinya.
Manisya menatap bingung, mengangkat salah satu alisnya kepada Rangga, berharap Rangga memberikan sebuah jawaban atas kebingungan Manisya. Rangga hanya menggelengkan kepalanya, namun saat Pak guru melepaskan Ferry yang terlihat lebih tenang, tiba-tiba Ferry berlari dengan sebuah kepalan di tangannya, Manisya yang melihat kejadian tersebut membelalakkan matanya kemudian dengan sengaja memeluk Ferry bermaksud menghentikan langkahnya agar tidak memukul Adam, kini tangan Manisya melingkar pada tubuh Ferry membuat semua mata menatap ke arahnya,
"Jangan pukul dia!" Teriak Manisya, dengan tangan melingkar pada tubuh Ferry.
Ferry begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Manisya, seketika menghentikan langkahnya.
Di arah berlawanan, Adam membelalakkan kedua matanya, dengan menatap tajam ke arah Manisya, emosinya semakin memuncak tatkala melihat Manisya melingkarkan tangannya di tubuh Ferry.
"Lepasin Gua!" Pinta Adam kepada Rangga yang menahannya agar tidak memukul Ferry.
Rangga belum melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh Adam, "Tenang dulu Lo Dam, masalah sepele bisa jadi rumit ini!" Setelah mendengar perkataan Rangga, Adam yang tengah berontak, kini lebih bisa menahan emosinya.
Adam terdiam namun masih menatap tajam ke arah Manisya, Ada perasaan yang sedang bergejolak memanas jauh di dalam hatinya, kedua rahangnya pun kini ikut mengeras, dadanya kini terasa sesak menyaksikan kejadian tersebut, ingin sekali rasanya ia meluapkan semua emosi yang ada pada dirinya saat ini.
"Ayolah Bro yang tenang!" Rangga berusaha menenangkan Adam kembali.
Adam berusaha mendengarkan perintah Rangga, Adam mencoba melepaskan emosinya dengan menarik nafasnya sangat dalam dan membuangnya begitu saja secara kasar.
Setelah merasa Adam sedikit lebih tenang, Rangga membuka secara perlahan tangan yang sedang mengunci tubuh Adam.
"Santai ya Bro, Lo pasti akan malu nanti!" Rangga menepuk pundak Adam secara perlahan.
__ADS_1
Adam menatap Rangga dengan tatapan tajamnya, sebelum akhirnya ia melangkahkan kedua kaki nya, kemudian berjalan lurus kedepan sambil menatap ke arah Manisya dengan sebuah tatapan yang sangat tajam.
Adam berjalan ke arah Manisya dengan tak mengalihkan tatapannya pada Manisya, saat itu Manisya masih dengan posisi yang sama mengunci badan Ferry oleh kedua tangannya, bermaksud mencegah Ferry agar tidak melukai Adam.
Ada perasaan takut pada hati Manisya saat melihat Adam berjalan menghampirinya, takut jika Ferry dan Adam melakukan perkelahian lagi, takut jika harus melihat Adam terluka, untuk itu saat Adam berjalan melewatinya mata Manisya saling beradu namun tangan Manisya semakin kuat mengunci tubuh Ferry.
Untungnya hal yang ditakutkan Manisya tidak terjadi, Adam tak melakukan apapun, ia hanya berjalan menatap ke arah Manisya tanpa memperdulikan Ferry, dan berlalu begitu saja dengan sebuah emosi yang tersimpan di dalam dada nya, namun kali ini bukan kesal akan perkataan Ferry, namun emosi karena Manisya melingkarkan tangannya pada tubuh Ferry.
"Ah, Syukurlah!" Ucap Manisya membuang Nafasnya kemudian melepaskan tangannya yang melingkar pada tubuh Ferry.
"Maaf!" Ucap Manisya sambil sedikit mengangguk pada Ferry, Manisya kemudian menghampiri Rangga, Manisya meminta pula maaf kepada teman-teman nya mewakili Adam dan Ferry karena telah membuat suasana api unggun yang tidak kondusif, dan saat itu suasana di tempat Api Unggun perlahan menjadi kondusif Kembali, dan melanjutkan acara yang belum selesai tersebut.
"Apa Adam baik-baik saja?" tanya Manisya kepada Rangga yang saat itu hendak berjalan mengejar Adam.
"Fisiknya sangat baik, tidak ada yang terluka, sepertinya bagian dalamnya yang terluka, kamu yang harus mengobatinya!" Kemudian Rangga berlalu begitu saja, mengabaikan Manisya yang hendak berkata kepadanya.
"Aku yang harus mengobatinya?, maksudnya apa?" Manisya menarik salah satu alisnya ke atas mencoba mencerna apa yang di katakan Rangga.
"Apa maksudnya?"
***
"Maaf Pak, Saya sudah membuat keributan, saya izin pulang duluan!" Pramit Adam kepada seorang guru yang sedari tadi mengikuti langkahnya.
"Bagaimana caranya kamu pulang dari sini?"
tanya Pak Guru kepada Adam.
"Mobil saya masih ada di sini Pak!" jawab Adam kepada Pak Komar.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan!" Jawab Guru tersebut.
"Yah Lo ga asik banget dam, Masa Gua di tinggal."
"Gua balik dulu." Adam mengabaikan perkataan Rangga yang kala itu mencoba membujuknya untuk tidak pulang.
"Adam," Teriak Manisya dari kejauhan yang terlihat kaget karena Adam membawa sebuah tas di punggungnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Manisya masih berjalan mendekat kepada Adam yang kala itu telah bersiap untuk melangkahkan kakinya, namun sayangnya Manisya tak mendapat jawaban dari Adam, Adam mengabaikan panggilan Manisya, ia melewati Manisya dengan begitu saja seolah-olah ia tak melihat Manisya yang kala itu tepat berada di hadapannya.
"Adam!" Panggilan Manisya kepada Adam yang melewatinya, Namun ia tak mendapat balasan, Adam hanya berlalu begitu saja membuat Manisya mengerutkan bibirnya sambil menatap punggung Adam yang berjalan membelakanginya, Manisya terus menatap Adam hingga satu titik bayangannya pun tak terlihat lagi, saat itu tersirat perasaan sedih dalam raut wajah Manisya.
"Kenapa dia?"
"Acara belum selesai, ayo kalian gabung lagi!" Bapak Guru memberi instruksi kepada Rangga dan Manisya untuk bergabung kembali dalam acara api unggun.
"Baik Pak, kita menyusul!" Jawab Rangga.
Setelah itu, Pak guru berlalu meninggalkan Manisya dan Rangga.
"Apa dia akan pulang?" Tak mendapat jawaban dari Adam, Manisya pun bertanya kepada Rangga.
"Iyah, dia akan pulang!" Jawab Rangga.
"Memangnya dari sini ada bus?" Tanya Manisya mulai merasa khawatir.
"Tidak ada, dia bersama Supirnya!" Jawaban Rangga membuat perasaan Manisya sedikit tenang.
"Supir?" Manisya mengerutkan dahinya, kemudian melepaskan kerutan tersebut saat mengetahui Pak Komar adalah supir yang di maksud Rangga.
"Sya Gua mau nanya sama Lo!" Rangga menatap Manisya dengan sebuah tatapan keseriusan.
"Nanya apa?" Jawab Manisya sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Apa hubungan Lo sama Adam?"
"Hubungan?" Manisya mengerutkan dahinya.
"Hubungan Aku dengan Adam sama seperti hubunganku dengan Mu, memangnya ada masalah apa?" Manisya merasa aneh dengan pertanyaan Rangga.
"Apa Lo yakin?"
"Aku tidak berbohong, kamu bisa tanyakan kepada Adam, memangnya kamu fikir aku siapanya Adam?"
"Gua fikir, Lo adiknya Adam!" kemudian Rangga berlalu meninggalkan Manisya sendirian.
__ADS_1