
Tiba-tiba, Adam yang masih di baluti dengan emosi yang semakin memuncak, memeluk Manisya dengan sangat erat bahkan kedua hidung mereka kini saling beradu, kemudian.
"CUP"
Adam mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Manisya.
Manisya yang kaget terdiam sejenak, sebelum akhirnya berontak melepaskan ciuman Adam, namun Adam semakin larut dalam ciumannya, ia melakukan gerakasn kasar mencium Manisya,karena meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan. Perlawanan Manisya tak sebanding dengan Adam, membuat Manisya tak bisa menghentikan dekapan dan ciuman Adam yang ia rasa sangat kasar. Adam seperti sedang menumpahkan segala amarah dan kekesalan pada gadis yang selalu membuatnya jengkel tersebut, Manisya pun hanya terdiam pasrah karena Adam tak kunjung melepaskan ciumannya.
Entah kenapa tiba-tiba Manisya mengeluarkan Airmata di kedua pipi Nya, Manisya sangat bingung dengan perasaannya, haruskah ia sedih, kecewa atau bahkan bahagia, ia merasakan hatinya yang tersayat seperti terkena goresan pisau yang sangat tajam. Airmatanya keluar begitu saja, sedangkan Adam masih dalam posisi menciumnya, namun kini ciumannya tidak sekasar di awal, kini Manisya merasakan sebuah ciuman penuh dengan luapan emosi.
Setelah Adam puas meluapkan semua emosinya, dia melpaskan Manisya secara kasar, ia pun melihat airmata yang jatuh dari pipi Manisya.
Mereka terdiam dan saling menatap sejenak.
Kemudian.
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Manisya sambil mengusap air matanya.
"Aku membantumu mewujudkan Mimpi indahmu!" Jawab Adam dengan sangat lancar.
Hening kini, Manisya tak berani berkata ataupun menatap ke arah Adam, ia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, dan mencoba menenangkan perasaannya yang seperti hancur berkeping-keping.
Tak lama kemudian Bis sampai di pemberhentian terakhir, karena pertengkaran mereka membuat mereka terlewat di pemberhentian yang dekat dengan rumah mereka masing-masing.
Adam yang posisi duduknya memang memudahkan untuk keluar terlebih dahulu, ia berlalu pergi meninggalkan Manisya yang masih dalam posisi duduk. Manisya masih larut dalam perasaanya yang hancur berkeping-keping, ia pun tak menyadari jika kini Adam telah berlalu pergi meninggalkannya.
Sesekali Manisya menyeka Airmata yang tiba-tiba kelauar jika teringat ciuman kasar Adam.
"Apa yang harus aku lakukan" Manisya masih berlarut dalam lamunanya, ia hanya diam tak bergeming, hingga akhirnya ia tersadar jika Adam sudah tak lagi duduk di sampingnya. Manisya pun bergegas pergi meninggalkan Bis tersebut.
__ADS_1
Di dalam terminal Manisya melihat Adam hendak menaiki mobil yang memang sering di pakai untuk menjemput Adam, Adam pun melihat ke arah Manisya, namun Manisya yang sedang menata hatinya yang hancur memalingkan mukanya dari tatapannya Adam. Manisya pun segera memesan Taxi Online.
Saat Manisya sedang duduk menunggu pesanan Taxinya, seorang Pria parubaya yang tak lain adalah Pak Komar yang merupakan supir pribadi Adam menghampiri Manisya.
Pak komar memberikan senyumannya kepada Manisya.
"Neng Manis apa kabar" tanya Pak Komar
"Baik Pak" Manisya menjawab dengan tatapan sendu.
"Masih ingat saya kan neng" Pak Komar berbasa-basi.
"Masa lupa sama Pak Komar" Walaupun sedang tak ingin tersenyum, Manisya memberi senyuman hangat kepada Pak Komar.
"Ada apa ya Pak" tanya Manisya kepada Pak Komar.
"Itu neng, Mas Adam Nyuruh Bapak ngajakin Neng Manis untuk pulang bareng, hayo neng sekalian" Jawab Pak Komar.
"O begitu" Pak Komar.
"Lho kok kayaknya lagi cemberu-cemberutan begini toh neng, kayaknya lagi pada marahan ya" Pak Komar mencoba menebak situasi yang sedang terjadi antara Manisya dan Adam.
"Enggak kok Pak" Jawab Manisya.
Saat Manisya sedang bercakap dengan Pak Komar, Taxi Online pesanan Manisya datang.
kemudian Manisya berpamitan kepada Pak Komar, mengakhiri perckapan mereka.
"Pak Komar Taxinya sudah datang saya pergi duluan ya" Manisya beralu memasuki taxi pesananya tanpa mengiraukan Pak Komar yang gelisah takut akan omelan Adam karena tak bisa membujuknya untuk pulang bersama.
__ADS_1
Taxi online yang membawa Manisya pun berlalu pergi.
Pak Komar kini berada dalam Mobil yang akan dia bawa bersama Adam, tepatnya mobil milik Adam, dan Adam yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Pak Komar dari dalam mobil menatap ke arah Pak Komar, menantikan sebuah penjelasan.
"Begini Mas, tadi Neng Manis sudah saya minta untuk pulang bareng sama Mas Adam, tapi neng Manis Menolak, katanya sudah nanggung pesan Taxi Online, belum sempat membujuk, Taxi Online nya ke buru dateng Mas" Pak Komar memberi Alasan.
"Begitu saja tidak bisa" Adam meluapkan kekecewaannya kepada Pak Komar, merasa Pak Komar tidak membantu karena tidak bisa membujuk Manisya untuk ikut pulang dengannya.
"Saya minta maaf Mas" Pak Koma tak mau memperpanjang urusan dengan Adam akhirnya meminta maaf.
"Mas Adam lagi neng Manis ya?" Pak Komar mencoba menebak apa yang sedang terjadi.
Adam tak menjawab pertanyaan Pak Komar.
Pak komar yang mulai melajukan mobilnya membuat percakapan kembali dengan Adam, karena perasaan menyesalnya tidak bisa mengajak Manisya pulang bersama.
"Begini Mas, menurut pengalaman saya, kalau lagi marahan sama perempuan, jangan di ganggu dulu aja, nanti kalau sudah tenang baru coba di jelasin duduk permasalahannya cari jalan keluar, yang utama kita para pria harus pandai merayu Mas, Cewek kalau hatinya udah kena, bakalan gampang dapetint cinta nya mas" dengan pandangan lurus memantau jalanan Pak komar memberi nasehat kepada Adam yang duduk tepat di belakang kursniya.
Pak Komar juga melihat raut muka Adam yang kusut layaknya seseorang yang sedang di landa sebuah permasalahan.
Adam dengan tatapan kosongnya tak menghiraukan Pak Komar yang memberi sebuah Nasehat, entah apa yang ada dalam fikirannya.
"Coba Mas Nanti pas mau tidur di telepon aja, biar Masnya ga kefikiran" Pak Komar masih berusaha menghibur.
Karena Adam tak kunjung menjawab perkataan Pak Komar, Pak Komar mencoba melihat ke arah kaca spion yang menampakkan kursi bagian belakang, terlihat Adam yang menyenderkan kepalanya ke atas kursi, ia juga memejamkan kedua matanya. Pak komar yang melihatnya kini berhenti berbicara kepada Adam, kini hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil tersebut dan Pak Komar pun hanya fokus memperhatikan jalanan, walaupun sesekali ia melirik ke arah Adam.
"Sepertinya memang bertengkar" Pak Komar bergumam dalam hati, kemudian menarik nafasnya sangat dalam.
Adam yang menutup matanya, namun ia tidak tertidur, ia terlarut dalam fikirannya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, tepatnya kenapa ia harus mencium wanita yang sebetulnya sangat ia benci, wanita bodoh yang selalu bikin masalah jika bertemu dengannya, ada perasaan menyesal di benaknya.
__ADS_1
"Wanita keras kepala, Wanita bodoh, Wanita menyebalkan, Wanita pembuat masalah, Wanita kurang ajar, Akkh sial"