
"Bukan urusan Lo" jawab Adam, masih menarik tangan Manisya.
"Itu menjadi urusanku saat kamu menarik tanganku." Kata Manisya sambil berjalan mengikuti Adam yang masih menarik tangannya.
Adam belum menjawab pertanyaan Manisya, ia masih menarik tangan Manisya secara perlahan karena tubuh Adam yang Masih terasa ngilu akibat sebuah kecelakaan yang Menimpanya.
Saat Adam sudah mendekati mobil sport berwarna merah miliknya yang terparkir tepat di depan loby, Adam melepaskan tangan Manisya.
"Ada ada denganmu, kenapa kamu menarik tanganku se enaknya?" tanya Manisya kembali saat Adam melepaskan tangannya.
"Harusnya gua yang tanya, kenapa Lo ga ikut mobil Rangga?" Tanya Adam dengan menatap mata Manisya penuh penasaran.
"Itu?" tanya Manisya dengan spontan menatap mata bulat Adam.
"Rumah ku kan dekat dari sini, kasian kan kalau Rangga harus pulang pergi, kita beda arah" Jawab Manisya dengan tidak menambahkan ke adaan yang sebenarnya.
Adam tak berkata lagi saat Manisya menjawab perkataan Adam, karena apa yang di katakan oleh Manisya sudah bisa ia tebak sebelumnya.
"Terus kamu?" tanya Manisya.
"Gua?" Adam memastikan kembali pertanyaan Manisya.
"Iyah kenapa kamu balik lagi ke sini?" tanya Manisya yang merasa penasaran karena Adam yang sudah pergi meninggalkan mereka duluan tapi kembali lagi ke rumah sakit.
"Ada barang Gua yang ketinggalan" Adam memberikan jawaban kepada Manisya, namun jawaban Adam tak membuat membuat Manisya Manisya merasa puas.
"Apa itu?" tanya Manisya yang masih penasaran dengan barang yang membuat Adam kembali lagi ke rumah sakit.
"Lo gak perlu tahu!" Jawaban Adam membuat Manisya mengerutkan bibirnya merasa kesal karena Adam tak menjawab pertanyaan yang membuat Manisya penasaran.
"Hem baiklah jika begitu." Jawab Manisya memperlihatkan raut muka kecewanya kepada Adam saat Manisya tidak mendapat jawaban yang ia inginkan.
"Masuklah!" Perintah Adam kepada Manisya sesaat setelah percakapan mereka berakhir.
"Masuk?" tanya Manisya memastikan pertanyaan yang baru saja ia dengar.
"Masuk lah kedalam mobil gadis bodoh!" tegas Adam menjawab pertanyaan Manisya.
"Tak usah memperdulikan aku, aku akan memakai Ojek Online, kamu ingat rumahku tak jauh dari sini" Jawab Manisya dengan sangat yakin kepada Adam.
__ADS_1
Namun Adam tak menjawab perkataan Manisya, Adam membuka pintu mobil bagian belakang yang masih kosong, mendorongnya secara paksa agar Manisya memasuki mobil miliknya. Akibat dorongan Adam, kini Manisya terduduk di dalam kursi bagian belakang sedangkan di bagian depan terlihat Pak Komar yang sedang memegangi kemudi memperhatikan mereka dengan menahan senyum di bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Manisya dengan memperlihatkan mukanya yang pucat pasi saat Adam memaksa nya untuk menaiki mobil tersebut, kemudian Manisya menggeser tempat duduknya saat melihat Adam hendak duduk di sampingnya.
"Gua cuma nyuruh Lo duduk di sini" kata Adam sambil duduk tepat di pinggir Manisya.
"Ada apa dengan muka Lo?" tanya Adam kepada Manisya yang melihat mimik muka Manisya berubah seketika.
"Gua gak akan makan Lo." Kata Adam bermaksud menenangkan Manisya, namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang Adam harapkan. Muka Manisya semakin pucat saat Adam berkata seperti itu.
"Neng Manis, mas Adam hanya mau nganter Neng Manis pulang, ini kan sudah larut." Kata Pak Komar berusaha menenangkan Manisya, dan benar saja saat mendengar perkataan Pak Komar, Manisya terlihat merubah wajah pucatnya menjadi merah merona.
"Benar kah?" tanya Manisya kepada Pak Komar saat mendengar penjelasan Pak Komar.
"Ternyata dia sangat perhatian." Tatap Maniysa kepada Adam sambil mengulum bibirnya merasa terharu dengan perlakuan Adam.
"Ngapain Lo liatin Gua kayak gitu?" Pertanyaan Adam membuat lamunan Manisya membuyar seketika.
Setelah itu Pak Komar melajukkan kembali mobil sport berwarna merah tersebut menuju rumah Manisya.
"Tidak ada, aku hanya mau bilang makasih." Jawab Manisya menyembunyikan rasa senang yang terpancar di seluruh wajahnya.
"Barang?" Pak Komar bertanya kembali memastikan kebenaran pertanyaan yang di berikan Manisya untuknya.
"Memangnya Ada barang yang ketinggalan Mas?" Pak Komar yang terlihat bingung, bertanya kepada Adam, namun Adam tak menjawab pertanyaan Pak Komar.
"Setau saya tidak ada barang yang ketinggalan neng Manis" Jawab Pak Komar kepada Manisya.
Namun di sisi lain Jawaban Pak Komar tersebut membuat Manisya kebingungan, karena Adam berkata jika ada barangnya yang tertinggal di rumah sakit, untuk itu ia kembali lagi ke rumah sakit tersebut untuk membawa barangnya yang tertinggal dan tak sengaja menemukan dirinya dan memaksa Manisya untuk ikut bersamanya.
Sejenak Manisya terdiam, mencoba mencerna apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Adam.
"Em, Apa maksudmu aku adalah barang yang tertinggal?" tanya Manisya mengutarakan apa yang ada dalam benaknya secara perlahan kepada Adam yang sedang menatap ponsel miliknya tersebut.
Mendengar pertanyaan Manisya membuatnya menghentikan aktivitas dengan ponsel miliknya sesaat, namun Adam tak penjawab perkataan Manisya.
"Baiklah aku mengerti." Manisya berkata kembali, kali ini perkataan Manisya berhasil membuat Adam melirik ke arahnya.
"Ngerti apa Lo?" tanya Adam se akan ragu dengan perkataan Manisya.
__ADS_1
"Hanya seperti itu mana mungkin aku tidak mengerti" Jawab Manisya dengan menarik kedua sudut bibirnya merasa sangat bangga.
"Coba jelaskan!" Adam penasaran dengan perkataan Manisya, Manisya mungkin akan berfikiran salah dengan apa yang di lakukannya.
"Kamu tahu, itu menandakkan kamu perduli sama aku, dan kamu tahu itu juga suatu pertanda jika kamu udah masuk dalam perangkap aku" Jawaba Manisya yang memang sering berkata terus terang tersebut, Manisya terkekeh menertawakan dirinya sendiri, tak memperdulikkan kedua pasang mata yang tiba-tiba membulat mendengar perkataan Manisya dengan berterus terang.
"Apa maksud Lo?" tanya Adam kepada Manisya yang mulai bingung dengan arah perkataan Manisya.
"Kalau aku bilang jangan marah ya, dan jangan menatapku seakan aku adalah mangsa yang ingin kamu terkam" Kata Manisya yang menirukan gaya se ekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.
"Terserah Lo" Jawab Adam kepada Manisya.
Pak Komar ikut terkekeh saat melihat Manisya menirukkan gaya harimau.
"Seperti itu kan Pak Komar?" tanya Manisya menarik kedua sudut bibir tipisnya kepada Pak Komar.
"Iya neng mirip" Jawab Pak Komar sambil tersenyum ke arah Manisya, namun senyuman Pak Komar terhenti saat ia melihat Adam sedang menatap kearahnya dengan tatapan seperti yang di katakan Manisya sebelumnya. Pak Komar yang ketakutan kembali menatap lurus kedepan sambil memegang kemudi mobil yang sedang ia kendarai.
"Coba jelaskan!" Adam mengingatkan Manisya yang hampir melupakan kata-kata nya yang ia keluarkan.
"Kamu tahu, kamu itu udah suka sama aku!" Perkataan Manisya yang begitu berterus terang membuat Adam seketika membulatkan kedua matanya menatap tajam ke arah Manisya yang membuat Manisya ketakutan, karena saat ini raut Adam seperti yang Manisya katakan sebelumnya seperti se ekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Di sisi lain Pak Komar yang mendengar perkataan Manisya pun terperanjat dibuatnya, Pak Komar tiba-tiba menekan rem nya secara mendadak. Hingga membuat tubuh Manisya terguncang hendak membentur sebuah Jok yang berada tepat di depannya, beruntung dengan cekatan Adam menahan kepala Manisya yang hendak terbentur sebuah Jok oleh tangan Adam yang masih di baluti oleh sebuah perban.
"Aw" Adam meringis kesakitan.
Mendengar Adam berteriak kesakitan membuat Pak Komar menghentikan mobil yang dikendarainya.
"Maaf" Manisya merasa menyesal karena telah membuat tangan Adam kesakitan.
"Maaf Mas" Pak Komar mengungkapkan rasa penyesalannya karena menginjak rem secara mendadak.
"Sudah lah" Jawab Adam menanggapi permintaan maaf Manisya dan Pak Komar.
***
Terimakasih atas dukungannya 😊😊.
Crazy up itu sebuah cita-cita 😔.
__ADS_1
semangat 💪💪