Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Pelukan Hangat


__ADS_3

"Apa yang kamu mimpikan wanita bodoh" Adam berkata sambil mengusap kepala Manisya secara perlahan sebelum akhirnya Adam dan Manisya tertidur dengan posisi berpelukan.


Waktu menunjukkan Pukul 05.30 pagi hari saat Manisya perlahan membuka kedua matanya, namun ketika membuka kedua matanya dengan sempurna ia di kagetkan dengan sesosok laki-laki sedang mendekap tubuhnya.


Manisya mencoba menatap sosok tersebut, ia menyempurnakan kedua bola matanya saat mengetahui laki-laki yang sedang mendekapnya saat ini ialah Adam.


"Adam" kata yang keluar dari mulut Manisya kemudian ia melanjutkan menutup mulut dengan tangannya bermaksud agar suara yang keluar tidak membangunkannya, namun hal itu gagal di lakukan, Adam yang sedang tertidur pun terbangun karena mendengar panggilan namanya, perlahan Adam membuka kedua Matanya, tanpa menatap ke arah Manisya yang sedang kebingungan mempertanyakan apa yang sedang terjadi, Adam membuka dekapan satu tangannya agar tak menyulitkan Manisya bergerak.


"Lo bangun" kata tersebut berhasil keluar dari mulut Adam. Kemudian Adam mengangkat badannya dari kursi, perlahan ia kembali ke tempat tidur yang sebelumnya ia tinggalkan untuk menemani Manisya yang tertidur di sofa.


Manisya hanya menatap Adam yang baru terbangun kemudian berjalan menuju tempat tidur yang memang di sediakan untuknya, Manisya yang terdiam kaku saat itu  masih terbuai dalam fikirannya, tak menjawab perkataan Adam.


"Kenapa Adam bisa tidur di sini, apa yang terjadi" Manisya mencoba mengingat kejadian semalam, namun ia hanya mengingat kejadian saat dirinya bermimpi tentang Ayah dan Ibunya, Ia juga mengingat saat Manisya mengatakan keinginannya untuk kembali pulang ke rumahnya, setelah itu Manisya tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu.


Manisya mencoba mengingat kembali kejadian setelah itu, namun hasilnya nihil, ia hanya mengulang ingatannya sampai dengan permintaannya untuk kembali pulang namun urung di lakukan karena merasa khawatir akan Adam.


Manisya mulai menyerah untuk ingatannya yang tidak bisa menjawab alasan Adam bisa mendekapnya di sofa. Manisya menatap ke arah Adam di lihatnya Adam yang tengah berbaring di atas kasur dengan mata nya yang tertutup.


"Em, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Manisya kepada Adam. Adam yang sedang menutup matanya, tiba-tiba membuka kedua matanya kemudain menatap ke arah Manisya dengan tatapan seriusnya saat mendengar Manisya bertanya sesuatu kepadanya seakan mengiya kan pertanyaan Manisya kepadanya.


"Apakah aku melakukan hal yang aneh tadi malam?" tanya Manisya kepada Adam,  berharap Adam menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sampai dirinya bisa mendekap Manisya di sofa.


"Apa menurut Lo, semua itu ulah Gua" Jawab Adam membalik pertanyaan kepada Manisya, membuat Manisya kini semakin bingung.


"Tidak, aku hanya khawatir saja aku melakukan hal yang bodoh, karena aku tidak mengingat kenapa kamu tiba-tiba bisa tidur di kursi" Jawab Manisya.


"Lo sekarang tahu kan, Lo itu selalu melakukan hal bodoh" jawab Adam dengan ketusnya menyindir Manisya.


"Iya iya, aku minta maaf karena sudah merepotkanmu" Jawab Manisya tak ingin terjadi keributan antara dirinya dengan Adam.


"Entahlah" Jawab Adam.


"Apa Maksudmu?" tanya Manisya saat mendengar jawaban dari Adam yang seperti itu.


"Memang apa yang aku lakukan kepadamu hingga kamu ragu untuk memaafkanku seperti itu" tanya Manisya mulai berterus terang menanyakan hal yang belum terjawab dalam fikirannya.


"Kenapa kamu bisa memelukku seperti itu?" tanya Manisya kembali.


"Memelukmu?" tanya Adam mulai terfikir hal jahil kepada Manisya.


"Gua meluk Lo?" tanya Adam menegaskan kembali pertanyaannya.


Manisya diam tak menjawab pertanyaan Adam.


"Hei Gadis bodoh, Lo tahu, Lo yang maksa-maksa gua turun dari kasur abis ituh Lo maksa Gua buat tidur di samping Lo di sofa dan Lo juga maksa Gua buat meluk Lo semalaman, dan Lo ga ingat" Adam mengatakkan kejadian yang bukan sebenarnya kepada Manisya, membuat Manisya terperanjat kaget mendengar perkataan tersebut. Di sisi lain Adam tersenyum lebar di dalam hatinya mengatakan hal sebaliknya kepada Manisya. "Benar-benar bodoh".


"Benarkah seperti itu?" tanya Manisya.


"Menurut Lo" Adam balik bertanya.


"Kalau begitu aku minta maaf aku menyesal sudah melakukan hal tersebut, bukannya aku menjaga kamu, malah sebaliknya" Manisya yang percaya perkataan Adam merasa menyesal atas perbuatannya kepada Adam.


"Apa aku mengigau juga?" tanya Manisya.


"Sesuai dengan apa yang Lo firikan" jawab Adam dengan singkat namun penuh Makna.


"Maaf" Jawab Manisya mengerutkan bibirnya dan memelankan suaranya merasa malu dan sedih akan perbuatannya kepada Adam.

__ADS_1


Adam manatap ke arah Manisya yang terlihat murung mendengar penjelasan dari Adam.


"Apa itu terlalu berlebihan" Adam berbisik dalam hatinya saat menatap mata Manisya penuh dengan penyesalan.


"Apa yang Lo mimpikan semalam, sampai Lo menggigau seperti itu?" tanya Adam kepada Manisya yang penasaran sejak semalaman melihat manisya mengigau menangis tersedu-sedu.


"Mimpi buruk itu tidak perlu di ungkapkan, karena setan akan senang mendengarnya" jawaban Manisya mengecewakan Adam yang sangat penasaran akan hal itu.


Adam memeperlihatkan tatapan kesalnya kepada Manisya, dengan tajam menatap ke arah Manisya.


Manisya balik menatap Adam namun hanya sesaat Manisya memalingkan mukanya kembali.


"Aku hanya bermimpi buruk tentang ayah ibuku, mereka tiba-tiba pergi meninggalkanku begitu saja" Jawab Manisya membuat raut muka Adam berubah seketika.


"Hanya itu?" Jawab Adam terdengar kecewa akan penjelasan Manisya kepadanya, dalam hatinya Adam ingin mengetahui mimpi apa yang Manisya Alami semalam saat semalam ia memanggil-manggil namanya di dalam tidurnya.


"Hanya itu, memang apa lagi" Manisya merasa Adam menyembunyikan sesuatu di dalam pertanyaannya.


"Sudah lah, tak usah di bahasa lagi" Adam menutup topik pembicaraan, merasa tidak puas akan yang di katakan Manisya, Adam masih penasaran dengan mimpi yang di alami Manisya saat ia memanggil-manggil namanya.


"Emh, apa sepanjang malam kamu memelukku" Tanya Manisya dengan sedikit ragu, dan menyembunyikan rona merah di pipinya, saat mengingat kembali pelukkan Adam yang begitu hangat.


"Lo yang memaksa Gua buat ngelakuin hal itu, menyebalkan" Jawab Adam dengan muka penuh amarah.


"Benarkah itu tidak bohong?" jawab Manisya membulatkan kedua bola matanya kini Manisya merasa tidak percaya apa yang di katakan oleh Adam.


"Lo gak percaya?" tanya Adam kembali.


"Bukan bukan begitu, aku percaya" Manisya memalingkan mukanya. Kemudian berkata menggerutu namun masih bisa di dengar oleh Adam. "Kalau begitu Aku akan tidur sekali laki dan akan menyuruhmu buat meluk aku sepanjang malam" Manisya mengembangkan kedua pipi dan mulutnya.


"Enggak enggak maksudku aku minta maaf menyuruh mu melakukan hal itu" Jawab Manisya mengerutkan bibirnya. Adam menatap tajam ke arah Manisya namun di dalam hatinya ia tertawa melihat tingkah Manisya.


"gadis bodoh".


"Baiklah, tidak usah membahasa mimpiku atau pelukkan itu lagi" kata Manisya kepada Adam.


"Lo gak sekolah?" tanya Adam sambil melihat ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 06.00, mengingatkan Manisya untuk segera bersiap ke sekolah.


"Ya ampun aku lupa" Aku siap-siap dulu, dengan terburu-buru Manisya masuk kedalam kamar Mandi yang letaknya dekat dengan pintu keluar kamar tersebut.


Saat hendak menginjakkan kakinya ke dalam kamar mandi Manisya berbalik arah melihat ke arah Adam dan berkata "Pak Komar datang ke sini jama berapa Dam?" tanya Manisya merasa khawatir jika harus meninggalkan Adam sendirian di dalam rumah sakit tersebut.


"Pak Komar lagi di jalan, Lo siap-siap aja" jawab Adam sambil memainkan ponselnya, tepatnya melihat pesan yang dikirim Pak Komar kepadanya.


"Baiklah aku siap-siap dulu" kata Manisya sambil melangkahkan kakiknya ke dalam kamar mandi.


Setelah Manisya bersiap dari dalam kamar Mandinya dan mengganti pakaian sekolahnya, Manisya pun keluar dari kamar Mandi tersebut, dan terlihat Pak Komar sudah berada di dalam kamar tengah bercakap dengan Adam.


"Pak Komar sudah di sini" Tanya Manisya menyapa Pak Komar kemudian menghampiri Adam dan Pak Komar yang sedang bercakap.


"Sudah Neng" Pak Komar Menjawab sapaan Manisya.


"Titip Adam ya Pak" Saya mau berangkat sekolah dulu, layaknya sepasang kekasih yang akan meninggalkan pasangannya Manisya menitipkan Adam kepada Pak Komar.


"Neng Manis ini lucu banget, siap Neng, Bapak Bakalan jaga Mas Adam dengan sangat baik" Pak Komar melebarkan senyumannya kepada Manisya saat mendengar Manisya menitipkan Adam kepadanya.


Manisya pun berpamitan kepada Adam dan Pak Komar.

__ADS_1


"Pak Komar, Adam, aku sekolah dulu" Manisya berpamitan kepada Pak Komar dan Adam. Namun saat hendak menarik pintu kamar agar Manisya bisa bergegas keluar, suara Adam menghentikan langkahnya.


"Mau kemana Lo?" tanya Adam sambil sedikit menyaring kan suara beratnya.


"Kan aku mau sekolah" Jawab Manisya dengan santainya.


"Biar saya antarkan Neng Manis" Pak Komar mendahului Adam, mengerti sebuah kode yang di berikan Adam kepadanya.


"Gak perlu Pak Komar saya naik Kendaraan online saja Pak" Jawab Manisya segera melangkahkan kakinya.


"Tapi Neng, Pak Komar merasa tidak enak kepada Adam yang seketika merubah raut mukanya menjadi tidak senang.


"Di sini saja temani Adam" Manisya kemudian berlari meninggalkan kamar tersebut saat mengetahui saat ini jam menunjukan Pukul 06.30.


"Dasar gadis bodoh" kata Adam menarik salah satu sudut bibirnya menandakan sebuah ketidaksenangannya.


"Ikuti gadis bodoh itu Pak Komar" Adam memberi perintah kepada Pak Komar.


"Baik Mas" Kemudian Pak Komar berlalu meninggalkan kamar tersebut.


Pak Komar dengan seksama memperhatikan Manisya dari dalam mobilnya tanpa di ketahui oleh Manisya, Pak Komar mengikuti Manisya yang menggunakan Ojek Online Menuju sekolahnya tepat di belakang motor yang Manisya tumpangi.


Walaupun sedikit lebih siang daripada biasanya dia datang kesekolah, Manisya tetap datang tepat waktu, saat itu di dalam kelasnya telah ramai, dan semua bangku kelas tersebut telah di duduki oleh pemiliknya masing-masing kecuali bangku milik Adam dan Manisya.


"Tumben kesiangan Sya" Tanya Nina kepada Manisya.


"Iyah aku kesiangan bangunnya" Jawab Manisya sambil menyimpan tas yang ia gendong ke atas bangkunya.


"Kesiangan apa kesiangan" tanya Nina yang memang tau jika ia semalam menginap di tempat Adam.


"Apa Adam baik-baik saja?" tanya Nina kepada Manisya.


"Dia sangat baik" Manisya menjawab dengan menyalahartikan.


"Huh kamu itu, bukan itu maksudku, Apa Kondisi Adam sekarang lebih baik?" Nina memperjelas perkataannya.


"Hehe, iya aku sangat bersyukur Adam baik-baik saja". Manisya terkekeh dengan jawaban sebelumnya yang di pahami oleh Nina.


"Kamu itu yah" Nina menggoyangkan pundak Manisya secara perlahan.


"Apa jadinya aku kalau Adam sekarang kondisinya tidak baik-baik saja, memikirkannya pun aku tidak berani" Jawab Manisya kepada Nina.


"Duh yah cinta Mati sama Adam". Nina menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Manisya yang sangat menyukai Adam tersebut.


"Sya kita pulang sekolah mau jenguk Adam, kamu mau ikut lagi ga?" tanya Nina.


"Tadi Rangga yang ajakkin" Nina melanjutkan perkataanya.


"Itu siii aku harus ikut, aku khawatir nanti Adam di apa-apaim sama kalian" Manisya terkekeh dengan perkataannya.


"Selamat Pagi semua" Sapa seorang guru memasuki kelas Manisya, dan di jawab oleh murid kelas tersebut dengan penuh semangat.


"Pagi Pak" .


"Kita kedatangan teman baru" Pak guru mempersilahkan seorang wanita yang berada di sampingnya untuk memperkenalkan diri.


"Halo semuanya, kenalkan namaku Samira"

__ADS_1


__ADS_2