
"Coba lihat Mas, betul gak itu neng Manis" Giliran Pak Komar yang merasa penasaran.
Adam menatap layar ponselnya dengan serius, ia membolak-balikkan gambar yang Pak Komar Ambil, kemudian menarik keningnya hingga terbentuk sebuah kerutan di sana, dan akhirnya Adam berkata mengambil sebuah kesimpulan.
"Benar-benar wanita bodoh". Kata-kata yang keluar dari mulut Adam sesaat setelah melihat gambar dan Video yang diambil Pak Komar. Setelah itu Adam menggerakkan badannya dari tempat tidur, ia meletakkan ponsel yang ia pegang ke atas nakas yang letaknya selalu tepat di pinggir tempat tidur, Adam perlahan menurunkan kedua kakinya yang tidak luka namun Masih terasa ngilu, Pak Komar yang melihat hal itu datang membantu Adam untuk turun dari tempat tidur.
"Mas Adam , mau kemana toh, jangan banyak gerak dulu, kan bandannya masih pada pegel - pegel kan Mas" kata Pak Komar kepada Adam yang sangat khawatir melihat kondisi Adam saat ini sambil membantu Adam turun dari tempat tidur.
"Tanganku saja yang sedikit luka Pak Komar jadi jangan khawatir" Adam berbalik menenangkan Pak Komar, sambil memberi sebuah kode untuk tidak lagi membantunya saat Adam berhasil turun dari kasur tempat ia berbaring.
Setelah turun dari tempat tidur, Adam berjalan secara perlahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, menuju ke arah pintu, Ia membuka perlahan pintu kamarnya hingga akhirnya suasana di luar kamar pun terlihat dengan jelas. Betul saja yang di katakan Pak Komar, kini ada seorang Wanita tengah Menangis tersedu-sedu dengan menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya tepat di depan kamarnya, wanita itu tak lain adalah Manisya.
"Benar benar wanita bodoh" Adam menggelengkan kepalanya, menatap sekitar, ia melihat setiap orang yang berlalu melewati Manisya menatapnya dengan penuh iba, entah apa yang ada dalam fikiran mereka. Adam berjalan menghampiri Manisya, ia pun berjongkok mengikuti posisi Manisya saat ini, dan mereka pun kini saling berhadapan, Manisya tidak menyadari bahwa Adam kini berada tepat di hadapannya, dengan satu tangannya yaitu tangan kanan Adam yang tidak mengalami luka, Adam mencoba membuka jari jari Manisya yang menutupi wajahnya satu persatu, namun bukannya membuka matanya, Manisya kini semakin menutupi mukanya dengan memangku wajahnya pada lututnya kemudian kedua tangannya bersilang menutupinya, tangisannya semakin kencang. Manisya masih belum menyadari jika laki-laki yang mencoba menarik jemarinya yang kini tengah berada di hadapannya tak lain ialah Adam.
"Apa stock air mata Lo segitu banyaknya?" Adam bermaksud menenangkan Manisya dengan caranya.
Mendengar perkataan tersebut membuat tangisan Manisya terhenti sesaat, ia segera menengadahkan wajah bengkaknya yang Masih tersiram Ari mata menatap ke arah suara yang tepat berada di hadapannya, Manisya diam sesaat, setelah mengetahui itu Adam, Manisya segera memeluk Adam hingga badan Adam kini menyapa lantai, hal ini dikarenakan Adam yang kaget dan kesulitan menahan badannya yang terguncang secara tiba-tiba karena pelukan kencang Manisya, Namun Adam segera membetulkan posisi badannya dengan satu tangan kanannya yang tidak terluka. Manisya memeluk Adam dengan begitu eratnya ia pun menangis kembali bahkan lebih kencang di pelukan Adam. Adam membiarkan hal itu sesaat, bahkan Adam mencoba menenangkan Manisya dengan menepuk-nepuk secara perlahan punggung Manisya dengan tangan kanannya yang tidak terluka, dan membiarkan tangan kiri yang diperbannya hanya menempel pada punggung Manisya.
"Maafkan aku"
"Maafkan aku" kata -kata tersebut keluar dari mulut Manisya di sela tangisannya, Adam tak membalas perkataan Manisya, ia kembali mengusap punggung secara lembut.
Setelah beberapa saat tangisan Manisya pun telah mereda. "Lo tau, mungkin hari ini Lo akan menjadi selebritis di rumah sakit ini" Perkataan Adam membuat Manisya melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu" tanya Manisya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Adam menggerakkan kepalanya dengan perlahan mengarah ke susatu tempat, Manisya pun melirik ke arah yang di tunjukkan oleh Adam, betapa kagetnya Manisya saat tau banyak pasang mata sedang memperhatikannya bahkan sebagian ada yang mengambil foto mereka.
Manisya menggerakkan kepalanya secara perlahan ke arah kerumuman orang - orang yang memperhatikan nya pertanda sebuah permintaan maaf Manisya.
Kemudian Adam berdiri, "Bangunlah jika tidak ingin membuat semua orang membuat keributan di sini!" Perintah Adam yang lengkap dengan pakaian rumah sakitnya kepada Manisya sambil berjalan menuju kamarnya, Manisya pun mengikuti langkah Adam di belakangnya.
"Neng Manis apakah baik-baik saja" sapaan Pak Komar kepada Manisya yang merasa khawatir pula melihat Manisya menangis tak henti-hentinya.
"Pak Komar, aku minta maaf sudah membuat keributan" Manisya menjawab sapaan Pak Komar yang kala itu sedang membantu Adam menaiki kasurnya kembali. Melihat pemandangan Pak Komar yang sedang sibuk membantu Adam membuatnya ingin melakukan hal yang sama kepada Adam, namun ia menahan ambisinya mengingat posisinya bukan siapa-siapa Adam.
"Apa Adam baik-baik saja Pak Komar" tanya Manisya kepada Pak Komar, sebuah pertanyaan yang sedari tadi ia ingin tanyakan langsung kepada Adam namun urung ia lakukan.
"Sesuai yang neng Manisya lihat, Mas Adam hanya terluka di bagian tangan dan wajahnya saja, di tambah dengan seluruh badan yang masih pegal-pegal, namun dokter sudah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan tak ada luka serius di bagian dalam ataupun bagian luar tubuh Mas Adam" Penjelasan Pak Komar membuat hati Manisya tenang.
"Syukurlah, aku sangat khawatir" Jawab Manisya menahan deraiaan air mata yang hendak keluar dari kedua kelopak matanya, namun air mata Manisya menetes begitu saja, dengan cepat Manisya mengusap air matanya.
Tak Ada perkataan yang keluar dari mulut Adam, ia hanya sibuk memperhatikan Pak Komar dan Manisya yang sedang berbincang, sesekali menatap penuh selidik ke arah Manisya.
"Neng Manis, Pak Komar titip Mas Adam dulu yak, Pak Komar mau ambil keperluan Mas Adam dulu, tadi karena buru-buru ga sempat bawa apa-apa" Kata Pak Komar yang kepada Manisya yang Masih berdiri dengan raut muka khawatirnya.
"Oia Pak Baik, biar saya yang menemani Adam di sini" Jawab Manisya memberikan senyuman nya kepada Pak Komar karena senang Pak Komar menyuruhnya menjaga Adam.
Kemudian Pak Komar pun berjalan keluar kamar, sesaat setelah Pak Komar keluar dari kamar terjadi keheningan sesaat.
"Apa benar kamu baik-baik saja" Tanya Manisya kembali kepada Adam.
__ADS_1
"Apa yang akan Lo lakuin, jika gua saat ini tidak baik-baik saja" Adam balik bertanya kepada Manisya.
"Mungkin aku tidak akan berhenti menangis" Jawab Manisya tanpa berfikir kepada Adam.
"Hanya itu?" tanya Adam kembali kepada Manisya.
"Lantas aku harus bagaimana?" Manisya mulai bingung dengan perkataan Adam.
"Fikirkanlah!" jawab Adam dengan nada malas nya.
"Ambilkan aku remote tv itu!" Adam menunjuk sebuah remote yang letaknya berada di sebuah meja yang berada di depan kasur Adam dan sulit di jangkau olehnya.
Tanpa berkata, Manisya membawakan remote tv tersebut dan memberikannya kepada Adam.
"Bagaimana bisa Lo tau kalo Gua di sini?" sebuah pertanyaan yang berada di benaknya sejak tau jika Manisya sedang menangis tersedu-sedu di depan kamarnya.
"Seorang Bapak Polisi meneleponku saat aku sedang di bis" Tanya Manisya.
"Polisi?" tanya Adam mengerutkan keningnya, dan melepaskan kerutannya saat mengetahui sebuah jawaban.
"Iya" jawab Manisya secara singkat.
"Lo nangis sejak di bis?" tanya Adam penasaran.
"Em, itu aku em" Manisya belum menjawab pertanyaan Adam. Adam memberikan tatapan tajam seperti biasanya kepada Manisya saat Manisya belum menjawab pertanyaannya membuat Manisya ketakutan.
__ADS_1
***
Terimakasih atas dukungannya.. ๐คน