
"Sedang Apa kalian?"
Manisya dan Adam terkejut saat seseorang tiba-tiba berkata dari arah berlawanan dengannya. Manisya membelalakkan kedua matanya dan dengan segera melepaskan secara paksa tangan Adam yang mengisi ruas jari-jari tangannya, namun tak sempat terlihat oleh orang tersebut, dan seseorang itu adalah Rangga, untuk kedua kali nya hari itu ia memergoki kedua sejoli itu sedang bersama.
"Aku, aku!" Manisya memutar otaknya untuk mencari-cari sebuah alasan kenapa ia berada dengan Adam di depan sebuah toilet.
"Aku baru selesai buang ari kecil, ya buang air kecil!" Ucap Manisya dengan sebuah senyuman yang terpaksa di atas bibirnya.
"Benarkah?" Tanya Rangga dengan tatapan penuh curiga kepada Manisya.
"Entahlah, dia tiba-tiba menarikku datang ke sini!" tutur Adam dengan menarik salah satu sudut bibirnya, memutar balikkan hal yang sebenarnya.
"Apa?" Manisya terkejut mendengar perkataan Adam, kedua bola matanya seakan hendak berlari meninggalkan kelopaknya.
"Aku tidak menyuruhmu datang ke sini! Kamu yang datang sendiri menghampiriku" Manisya membela dirinya, tak ingin disalahkan atas apa yang tidak ia perbuat.
"Buktinya kamu berlari!"
"Aku berlari karena menghindarimu!" Manisya masih tak terima perkataan Adam.
"Kalian berdua berbuat yang tidak-tidak di sini?" Giliran Rangga yang bertanya dengan menatap kedua temannya itu.
Saat itu suasana sekolah sudah mulai ramai, ada beberapa siswa masuk ke dalam toliet, dengan tak menghiraukan Adam, Manisya dan Rangga yang sedang bercakap.
"Ti, tidak!" Manisya terkejut dengan pertanyaan Rangga.
"Kamu tahu? dia berusaha menggoda ku!" Ucap Adam sambil berlalu begitu saja meninggalkan Rangga dan Manisya yang masih berdiri mematung mendengar ucapan Adam.
Rangga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Adam, ia pun berlalu memasuki toilet yang berada tepat di hadapannya, mengabaikan Manisya yang ada di sana.
Sedangkan Manisya, ia berdiri mematung, dengan kedua tangannya mengepal di sertai kerutan di bibir tipisnya, matanya seketika ia bulatkan saat mendengar perkataan Adam.
"Menyebalkan sekali, Aku tidak menggodanya, dia sendiri yang mencium kedua pipiku!"
Ucap Manisya di dalam hatinya, saat mengingat Adam yang mencium kedua pipinya, Manisya memegang kedua pipinya tersebut, rona merah terpancar di raut wajahnya di sertai dengan sebuah senyuman di bibirnya saat itu, kemudian Manisya seketika melupakan apa yang membuatnya kesal oleh Adam, saat itu Manisya mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke dalam kelasnya.
Saat itu, suasana sekolah dan kelas sudah ramai, karena semua murid sudah terlihat berdatangan dan memenuhi kursi yang ada di kelasnya, dan Manisya pun berjalan melangkahkan kaki nya ke dalam kelas.
"Sya, abis dari Mana?" Nina datang dari arah belakang, menyapa Manisya dengan memeluk pundaknya.
Manisya terperanjat, terkejut dengan Nina yang tiba-tiba memeluknya.
"Aku, aku habis dari toilet Nina!" Ucap Manisya dengan mata melihat ke arah Adam yang tengah duduk di bangku nya yang paling belakang dengan jarak yang berdekatan dengan bangkunya.
"Aku sungguh tidak mengerti dengan semua tingkahnya!" Ucap Manisya dalam hatinya, tentu saja tak membiarkan Nina mendengarkan kata-katanya itu, karena Manisya belum menceritakan kepada siapapun akan sikap Adam yang berubah kepadanya.
"Hei, aku ngomong sama kamu loh!" Ucap Nina menyadarkan Manisya yang terlihat sedang berada dalam lamunannya itu.
"Maaf, maaf, aku melamun, kenapa kenapa?"
"Kamu itu ya, jangan - jangan masih melamun kan cowok idaman mu itu ya?" Nina mengangkat kepalanya mengarah kepada Adam.
"hehe, kamu tahu aja!"
"Tentu aku tahu, dalam otakmu itu isinya dia semua loh Sya!" Ucap Nina dengan tak melepaskan pelukannya pada Manisya, merekapun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Saat itu, saat sebuah pelajaran sedang berlangsung, tak sengaja Manisya melirik ke arah Adam, di tatapnya laki-laki tersebut selama beberapa saat, Manisya mengerutkan bibirnya saat mengingat perkataan Adam kepada Rangga, jika ia tengah menggoda Adam saat Rangga melihat mereka berdua di depan toilet.
Saat itu, tiba-tiba Adam melirik pula ke arah Manisya, hingga membuat mata mereka saling bertemu, Adam membalas tatapan Manisya dengan tatapan tajamnya. Manisya segera mengalihkan pandangannya dari Adam setelah beberapa saat pandangan mereka saling bertemu.
"Kamu, Manisya, Bapak perhatikan dari tadi kamu ngeliatin Adam terus!" Ucapan Bapak Boby yang merupakan guru Bahasa Indonesia itu, Pak Boby memang seorang Guru yang sangat Millenial, dekat dengan Para Murid dan sangat tau apa yang sedang hangat di perbincangkan oleh Para Murid.
"Tidak Pak, saya hanya melihat langit dari arah jendela sangat indah!" tutur Manisya dengan membela dirinya.
"Maksudmu langit yang berpayung Adam?" Ucap Pak Guru.
"Hehe!" Manisya hanya tersenyum tak lagi mengelak, saat itu Manisya tersenyum dengan menatap ke arah Adam, namun sayang senyum Manisya tiba-tiba memudar saat melihat Adam dengan tatapan tajamnya.
"Kalau begitu, tugas kalian untuk minggu depan, membuat sebuah cerita pendek, satu kelompok berdua, kamu Manisya sama Adam, Nina sama Rangga, Samira sama Rico,..!" Pak Guru menyebutkan nama-nama perkelompok sesuai dengan keinginannya.
"Yah kenapa harus sama cowok sih Pak!" Ucap Samira Protes kepada Pak Boby,
"Kalian tahu, laki-laki itu paling tidak bisa membuat sebuah cerita pendek, makannya kalian harus ajari mereka!" Ucap Pak Boby memberikan alasan kepada Para Murid nya.
Mereka pun tak lagi melakukan protes dengan ucapan Gurunya, dan Pak Boby segera meninggalkan kelas saat sudah mengakhiri pertemuan dengan para muridnya hari itu.
__ADS_1
"Drrt, Drrt, Drrt!" Ponsel Manisya tiba-tiba bergetar saat itu, di bukanya ponsel miliknya itu dengan segera saat ia tengah membereskan buku-bukunya ke dalam tas gendong miliknya.
Manisya sedikit membulatkan matanya saat melihat isi pesan tersebut, dengan tak membiarkan Nina yang merupakan teman sebangku nya itu menyadari akan hal tersebut.
"Aku membawa motor, kita akan mengerjakan tugas, aku tunggu di parkiran!" Isi pesan Adam kepada Manisya, saat Manisya tengah membacanya Adam melewatinya dengan tak menyapanya, Adam hanya lewat begitu saja di hadapan Manisya.
Mata Manisya mengikuti langkah Adam, dengan satu tangannya masih memegang ponsel miliknya.
"Padahal kan dikumpulkannya Masih minggu depan!" Ucap Manisya pada dirinya sendiri.
"Kenapa Sya?" Tanya Nina kepada Manisya.
"Nin, aku kan hari ini ada rencana mau mulai masuk kerja, udah beberapa hari aku pending karena aku sakit kan Nin, gimana yah?" Tanya Manisya bertukar ke resahannya kepada Nina.
"Gak papa Sya, kamu jangan paksain hari ini mulai kerja, kan kamu juga hari ini masih belum terlalu fit kan, aku saranin sih mending kamu istirahat dulu aja beberapa hari lagi Sya, kalau pun memang nanti posisimu di sana sudah ada yang menggantikan, aku yakin masih ada banyak kesempatan buat kamu belajar dan bekerja di tempat lain!" Ucap Nina menenangkan Manisya secara panjang lebar.
"Ya uda deh aku ngikutin saran kamu aja Nin!" Kata Manisya dengan memeluk tas gendong miliknya."
Saat itu teman-teman sekelas Manisya satu per satu berpamitan kepadanya meninggalkan kelas untuk pergi ke tujuan mereka masing-masing begitu pun dengan Samira, Nina, dan Rangga, yang sudah berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, Namun tidak dengan Manisya, ia memutuskan pulang paling terakhir setelah teman-temannya, karena ia sebenarnya sedang memikirkan apa yang mengganjal dalam hatinya yaitu sebuah pesan dari Adam untuk mengajaknya mengerjakan tugas pelajaran bahasa indonesia dari sang Guru.
Kini di dalam kelas tinggallah Manisya seorang diri, ia masih belum beranjak dari kursinya saat itu, menyenderkan kepalanya pada bangku.
"Aku malas sekali!" Manisya memejamkan matanya, ia mengabaikan suara hentakkan kaki di dalam kelasnya, dan mendekat ke arahnya, terdengar sebuah kursi di tarik dan bergeser mendekat ke arahnya, dengan mata terpejam, Manisya merasakan sebuah Parfum khas yang ia sangat mengenalnya.
"Sepertinya aku tahu ini wangi siapa!" Ucap Masih dengan mata terpejam dan kepalanya yang menyender pada bangku kelas dengan tas ia jadikan sebuah bantal.
"Apa kamu menyukainya?"
"Tentu saja, aku sangat menyukainya, ini sangat wangi!" Jawab Manisya dengan matanya yang masih terpejam menyender pada bangku!" Setelah mengucapkan perkataannya, Manisya terperanjat dan memposisikan badannya duduk tegak menempelkan punggungnya pada kursi, Manisya segera membuka kedua bola matanya, ia baru menyadari jika seseorang tengah berada di dekatnya memperhatikannya, Manisya di buat terperanjat, saat melihat sosok laki-laki yang baru saja berbicara tengah duduk di sebuah kursi tepat menghadap ke arahnya, dengan kedua tangan nya menyilang di depan dadanya.
Mata manisya membulat, kemudian berkata.
"Adam! kenapa kamu ada di sini?" Tanya Manisya yang masih terkejut dengan ke datangan Adam kala itu.
"Ini kelasku, jadi aku dengan bebas boleh datang ke sini!" Jawab Adam dengan menatap tajam ke arah Manisya.
"Em, maksudku, bukan nya kamu sedang menungguku di parkiran?" Manisya merasakan jantungnya berdegup kencang kala itu, ia begitu terkejut karena Adam yang tiba-tiba duduk berada didepannya.
"Ya aku menunggumu, dan kamu malah asik tidur di sini!" Sindir Adam dengan menatap tajam ke arah Manisya.
"Apa kamu begitu malas untuk bertemu denganku?" Tanya Adam kembali dengan tak merubah posisi duduknya.
"Tidak, Mana mungkin aku malas untuk bertemu denganmu, di saat aku selalu ingin bertemu denganmu!" Perkataan tersebut keluar begitu saja dari mulut Manisya, dengan segera Manisya menutup mulutnya, merasa jika ia salah berbicara.
"Maksudku, aku sedang tidak ingin mengerjakan tugas, kan waktunya juga masih lama!" Ucap Manisya.
"Benarkah?" Tanya Adam dengan mengangkat salah satu alisnya.
Manisya menjawab dengan menganggukkan kepalanya, Adam tiba-tiba berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Manisya.
"Ayolah!"
Manisya terdiam dengan mata menatap tangan Adam, mencoba mengartikan tangan Adam yang mengarah kepadanya, kemudian dengan segera mengangkat kepalanya dan menatap Adam yang sedang menatap ke arahnya pula.
"Ayo kemana?" tanya Manisya yang gagal faham dengan maksud Adam.
"Apa kamu ingin membuat semua orang termasuk Guru -Guru kita menyangka Kamu sedang menggodaku di kelas ini?"
"Tidak!" dengan segera Manisya menjawab perkataan Adam.
"Apa maksudnya, kamu selalu bilang aku menggodamu, menyebalkan sekali!" Dengan mengerutkan bibirnya Manisya berkata.
"Kalau kamu tidak ingin semua orang mengira kamu sedang menggodaku, kemarilah!" Ucap Adam dengan tangannya masih mengulur pada Manisya.
Manisya pun beranjak dari duduknya, menegakkan badannya dan bergeser dari kursi lebih mendekat kepada Adam, namun Manisya mengabaikan tangan Adam yang siap menggenggam tangannya.
Adam mengangkat salah satu alis matanya kemudian menatap tajam ke arah Manisya saat uluran tangannya tak di hiraukan oleh Manisya.
"Kamu berani padaku?" tanya Adam dengan memberikan sebuah kode menatap tangannya dan menggerakkannya kepada Manisya.
Manisya yang mengerti arah maksud ucapan Adam kemudian menjawab, "Aku takut ada yang mengira aku sedang menggodamu!"
Adam menarik salah satu sudut bibirnya dengan mata yang sengaja ia bulatkan.
"Baiklah!" Adam menyerah dan mulai melangkahkan kakinya mendahului Manisya untuk pergi meninggalkan kelas, kemudian Manisya menyusul berjalan di belakang Adam.
__ADS_1
Saat itu, suasana di sekolah mulai terasa sepi, semua murid sudah tak lagi terlihat di sana, hanya ada Adam dan Manisya yang sedang berjalan.
"Bukan kah kita mau ke parkiran motor?" tanya Manisya saat Adam berjalan tidak ber belok ke arah tempat parkir motor namun menuju arah pintu utama menuju gerbang
"Lebih baik kita naik bis saja!" Ucap Adam, tanpa melihat ke arah Manisya, sebetulnya Adam menghawatirkan kondisi Manisya, yang baru saja sembuh jika harus memakai motornya.
"Bagaimana dengan motormu, apa tidak apa-apa kalau di biarin di sekolah semalaman?"
"Biarkan saja!" Adam tiba-tiba mengentikan langkahnya, memindahkan tasnya kedepan dadanya, dan mengambil sebuah sweater dari dalam tasnya.
"Pakailah!"Adam memberikan sweater pada Manisya.
"Tidak perlu, tidak perlu, untukmu saja!"
tangan Manisya menahan Sweater yang Adam berikan kepadanya.
"Apa kamu Fikir memakai sebuah jaket dan sebuah sweater bersamaan merupakan sebuah gaya berbusana masa kini?" Adam menarik sedikit jaketnya untuk ia tunjukan kepada Manisya, Adam memang sudah memakai sebuah jaket di badannya, saat itu Manisya hanya terdiam tak merespon ucapan Adam kepadanya.
Adam segera melebarkan sweater berwarna abu miliknya itu, di lebarkannya bagian kepala sweater tersebut, kemudian dengan sengaja memasangkan sweater tersebut ke kepala Manisya.
Manisya hanya terdiam, seakan pasrah apa yang di lakukan Adam kepadanya.
Manisya segera memakai sweater yang Adam pasangkan pada kepalanya, setelah sweater tersebut terpasang di tubuhnya, Manisya yang begitu senang memakai sweater Adam, karena merasakan wangi tubuh Adam yang menempel pada sweater tersebut.
"Apa, apa sweater ini boleh untukku?"
Adam mengangkat alisnya kemudian berkata, "Apa kamu senang sekali mengoleksi bajuku di dalam lemari bajumu?"
"Tentu saja, rasanya ingin semua bajumu aku pindahkan pada lemari bajuku!" Manisya seketika membelalakkan kedua matanya dengan tangan menutup mulutnya, entah kenapa mulutnya itu sering sekali berkata terlalu berterus terang.
Adam menatap Manisya dengan tajam, sebenarnya ucapan Manisya itu begitu menggelitik hatinya, namun tidak Adam tunjukkan.
"Maaf, maaf, baju dan jaket mu yang sebelumnya masih ada di rumahku, aku akan mengembalikannya besok."
"Tak hanya jaket dan sebuah baju, orangnya orangnya pun untuk kamu miliki!" Jawab Adam dengan sebuah senyuman nakal tersemat di bibirnya.
Mendengar ucapan Adam, membuat tubuhnya menjadi melemas disertai dengan denyut nadinya yang bergetar cepat, Manisya mencoba menahan semua perasaannya saat itu, terdiam sesaat kemudian berkata.
"Tidak, aku tidak menginginkannya!" sangkal Manisya yang sebetulnya menahan perasaannya, perasaan senang dan bahagia mendengar ucapan Adam.
"Benarkah, kalau begitu berikan saja pada orang yang menginginkannya!" Ucap Adam dengan menatap tajam ke arah Manisya.
"Jangan!" Teriak Manisya tidak terima.
"Kenapa memangnya!" Tanya Adam mencoba mengetes Manisya.
"Jangan memberikan apapun kepada orang lain, saat sebuah barang sudah ada pemiliknya, itu punyaku!" Protes Manisya dengan mengerutkan bibirnya.
Adam tersenyum mendengar ucapan Manisya tersebut.
"Pintar!" Ucap Adam dengan mengelus-elus secara perlahan bagian atas kepala Manisya.
Manisya hanya diam tak berkata.
Setelah itu Adam segera melangkahkan kakinya kembali untuk berjalan ke arah luar, dengan Manisya mengekornya di belakangnya.
Saat berhasil keluar dari gerbang sekolah, Terdengar suara wanita memanggil nama Adam.
"Kak Adam!"
Seketika Adam dan Manisya menengok ke arah suara wanita tersebut.
"Emh, apa aku boleh meminta no ponselmu?"
tanya wanita tersebut dengan memberikan sebuah ponsel kepada Adam, Manisya yang berada di belakang Adam menoleh ke arah wanita tersebut, wanita cantik berambut panjang dengan sebuah seragam sekolah bukan berasal dari sekolahnya.
Mendengar perkataan wanita tersebut membuat Manisya melangkahkan kakinya sejajar dengan Adam, kemudian mengambil ponsel dari tangan wanita tersebut dan berkata.
"Tidak boleh!" Sambil memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.
***
Terimakasih sudah setia menunggu, karena beberapa hari ini tidak update.
dan maksih juga buat dukungannya 💗
__ADS_1