
"Gimana Manis, maksud ku Ara, ayolah, biarkan aku yang mengantarkanmu pulang." Giliran Baron yang memohon kepada Manisya agar ia bersedia diantarkan pulang oleh Baron.
Manisya berfikir penuh keraguan, di lihatnya Adam yang kini tengah menatap ke arahnya sambil menghentak-hentakkan ponselnya di atas meja secara perlahan, kali ini Manisya sungguh mengerti sebenarnya maksud dari tatapan Adam, Manisya kini melihat kembali tangan Samira yang masih menggelayut manja melingkar pada lengan Adam, ada sebuah emosi yang menyelinap di dalam hatinya saat melihat hal tersebut, tepatnya saat melihat Adam hanya membiarkan hal tersebut terjadi.
Dalam hati kecilnya ada rasa yang Manisya inginkan, yaitu Adam yang melarangnya untuk pergi dengan Baron dan penolakan Adam terhadap Manisya.
Manisya menatap ke arah Baron, kemudian menjawab perkataan yang kini tengah di nantikan oleh Baron.
"Baiklah!" Jawab Manisya yang menyembunyikannya kekecewaannya kepada Adam.
"Beneran nih?" Jawab Baron dengan wajah yang begitu senangnya atas permintaan dirinya karena permintaanya Manisya setujui.
"Hehe." Manisya tersenyum melihat Baron yang begitu bahagianya.
"Makasih Cantik." Baron menarik kedua sudut bibirnya, kemudian ia berikan kepada Manisya.
Di sisi lain, tanpa mereka sadari, Adam semakin kencang menghentakkan ponselnya di atas meja, menekan-nekan gigi gerahamnya hingga terlihat dari sebuah gerakan pada rahangnya.
"Berarti aku sama Adam nih pulangnya, kencan pertama, Yeay." Samira mengepalkan kedua tangannya lalu ia angkat ke atas, menandakan sebuah kemenangan.
"Mau kan dam antar aku?" Tanya Samira kembali masih dengan posisi tangan melingkar pada Samira.
Adam belum menjawab perkataan Samira.
"Diam berati setuju ya dam." kata Samira mengangkat kembali dua tangannya yang ia kepalkan ke atas.
Ada guratan kekecewaan saat Samira berkata seperti itu, tak ada alasan bagi Manisya untuk melarang Adam menerima ajakan Samira. Kata-kata yang ia nantikan dari Adam pun kunjung keluar dari mulut Adam.
__ADS_1
"Ya sudah, dia memang tidak ingin mengantarku pulang, berarti saat ini aku sudah betul mengiyakan ajakan Baron, berharap Adam yang mengajakku." Kata Manisya jauh di dalam hatinya menyimpan sebuah kekecewaan kepada Adam.
"Ayo kawan - kawan, ini sudah larut!" kata Baron sambil beranjak dari tempat duduknya, mengajak seluruh temannya untuk bergegas pulang.
Mereka semua mengikuti ajakan Baron berdiri dari tempat duduknya, kecuali Adam yang terlihat masih duduk di kursi dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya, ponselnya masih ia hentakkan ke atas meja secara perlahan.
Manisya, Baron, dan Samira telah bersiap untuk berjalan meninggalkan Restoran tersebut.
"Ayo Dam kita pulang!" Ajak Samira kepada Adam, saat Manisya dan Baron mulai berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan Adam yang masih duduk dan Samira yang berdiri menunggu Adam.
Adam menatap ke arah Manisya dan Baron yang kala itu bisa terlihat oleh kedua matanya saat mereka perlahan meninggalkan Adam dan Samira yang masih belum beranjak dari tempat sebelumnya, ponselnya ia genggam dengan begitu erat masih dengan tekanan di gerahamnya yang membuat otot pada rahanya kini terbentuk sempurna.
Samira membelalakkan matanya saat Adam berlari dari tempat duduknya meninggalkan Samira begitu saja.
"Adam?" Teriak Samira kepada Adam yang terlihat berlari ke arah Manisya dan Baron, namun Adam tak menghiraukan panggilan Samira, ia hanya berlari.
Tak ada perkataan antara Adam dan Manisya saat pintu Lift tertutup dengan sendirinya.
Adam masih dalam posisi tangannya menggenggam tangan Manisya secara kuat.
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan dalam benak Manisya yang ingin ia tanyakan kepada Adam, namun urung ia keluarkan saat melihat raut muka Adam yang terlihat kesal.
Saat pintu lift terbuka, Adam dengan posisi tangan Masih menggenggam Manisya melangkahkan kakinya dengan cepat, mengabaikan para petugas hotel yang terlihat menyapanya.
"Adam, tolong pelan-pelan!" Manisya yang terlihat sangat kewalahan mengikuti langkah kaki Adam, tangannya yang masih di tarik secara kuat oleh Adam, kini Manisya merasakan nyeri di sana.
"Jangan berisik!" Jawab Adam menanggapi perkataan Manisya, masih menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Adam!" kata Manisya memanggil Adam merasakan sakit di tangannya, kala itu mereka berada tepat di depan mobil sport merah milik Adam, Adam sedikit melonggarkan genggaman tangan Manisya.
Adam menarik salah satu sudut bibirnya, menatap kea arah Manisya.
"Lo tau, Lo itu wanita paling bodoh dan menyebalkan di dunia ini!" Jawab Adam merubah posisinya kini menjadi berhadapan, dengan tangan Manisya yang masih ia genggam, seakan meluapkan emosinya kepada Manisya.
"Apa maksudmu?" tanya Manisya mulai berkaca-kaca mendengar perkataan Adam.
"Lo tau, Gua benci gaya Lo yang selalu tersenyum pada setiap laki-laki!" Tanya Adam penuh emosi.
"Dan Lo, kenapa Lo dengan begitu gampangnya mengiyakan ajakan Baron?, Lo gak lupa kan sama siapa Lo kemari?" Adam menghakimi Manisya, kini Manisya menundukkan kepalanya akibat menahan Air mata yang hendak keluar dari kedua matanya saat mendengar perkataan Adam.
"Apa Lo juga suka sama Baron?" tanya Adam masih meninggikan suaranya.
Tiba-tiba Manisya yang sedang menunduk, mengangkat kepalanya menatap Adam, Airmatanya kini tak terbendung lagi membahasi kedua pipinya.
"Kamu tahu, kamu itu laki-laki paling menyebalkan di dunia ini, asal kamu tahu, aku tidak menyukai laki-laki manapun di dunia ini selain menyukaimu, dan aku sangat menyesal akan hal itu!" Manisya menangis tersedu-sedu tak memperdulikan Adam yang kini menatapnya.
"Menyesal?" Adam mengulangi perkataan Manisya.
"Iyah aku menyesal, dasar Laki-laki menyebalkan, jika memang kamu tak ingin aku pergi bersama dengan Baron, coba katakanlah!" Manisya masih mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya sambil beruraian arimata di hadapan Adam.
"Laki-laki menyebalkan, laki-laki egois, apa kamu Fikir kamu juga tidak bersikap seenaknya membiarkan seorang wanita dengan begitu mesranya menempel padamu di hadapanku!" Tangis Manisya pecah saat mengucapkan kata- kata terakhir tersebut.
"Aku sangat menyesal menyukaimu, aku menyesal!".
Manisya berusaha melepaskan tangan Adam yang menggenggam erat tangannya, ia hendak berlari meninggalkan Adam, Adam barusaha menahan Manisya dengan menggenggam kuat tangannya, di tariknya Manisya hingga jarak mereka semakin dekat, di tatapnya Manisya yang kala itu masih beruraian airmata dikedua pipinya, di lepaskan nya tangan Manisya yang ia genggam, kini tangan Adam beralih memegang pipi Manisya, di hapusnya airmata yang membasahi pipi Manisya, entah Apa yang ada di fikiran Adam saat itu tiba- tiba ia mendekatkan bibirnya pada bibir Manisya, sebelum akhirnya bibir mereka saling menyatu beberapa saat, di baluti dengan air mata Manisya yang masih berurai hingga akhirnya airmata terhenti karena sebuah ciuman yang mereka lakukan.
__ADS_1