
"Apa maksudnya berkata seperti itu" Manisya yang gagal faham dengan perkataan Rangga mencoba mencerna maksud dari perkataan Rangga.
Tiupan Angin malam yang mengenai tubuhnya membuat ia segera bergegas dari area tenda menuju area Api Unggun, saat itu semua temannya tengah menikmati alunan musik gitar akustik yang di bawakan oleh salah satu temannya, Manisya pun duduk kembali di dekat Nina yang kala itu sedang bernyanyi bersama peserta yang lain mengikuti alunan musik gitar, Angin yang sedari tadi memasuki tubuhnya tanpa sebuah perintah kini bercampur dengan sebuah kehangatan yang tercipta dari nyala api yang berada di hadapannya.
Setelah beberapa saat Manisya mengikuti teman-temannya bernyanyi bersama, ia mengangkat kedua tangannya ke atas untuk di goyangkan ke kiri dan ke kanan mengikuti suara alunan Musik, namun ia tiba-tiba menurunkan kedua tangannya saat ia menatap ke arah Rangga, tentu saja Manisya mengingat Adam yang sudah pergi beberapa saat lalu karena sebuah insiden yang Manisya juga tidak mengetahuinya, Manisya berhenti bernyanyi, ia mengerutkan bibirnya dengan tatapan kosong menatap ketempat Adam berada beberapa saat lalu, entah mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi kacau mengingat Adam.
"Apa dia baik-baik saja, apa yang sedang dia lakukan sekarang, hiks, baru beberapa menit saja tidak melihatnya, aku sangat merindukannya!" Luapan perasaan Manisya dalam hatinya yang sedang resah memikirkan Adam yang kala itu jauh dari jangkauannya, suasana gembira yang tercipta di tempat itu tak membuat Manisya berhenti melupakan sosok Adam yang selalu ada dalam hati dan fikirannya.
***
Mas Adam kenapa sudah pulang Mas?, bukannya harus nginep ya?"
tanya Pak Komar sambil melajukan mobil yang di kemudikan nya, sebentar Pak Komar juga menatap ke arah spion yang memperlihatkan raut muka Adam kala sebuah lampu jalan berhasil menerangi semua bagian dari dalam mobil yang sedang di kendarai Pak Komar tersebut, Pak Komar melihat raut muka Adam yang sedang tidak baik, Adam berusaha menyembunyikan nya dengan menutup kedua matanya.
"Aku hanya ingin pulang!" Jawab Adam secara singkat, tanpa membuka matanya dan merubah posisi tangannya menjadi menyilang di atas dadanya.
"Untung saja Bapak Belum pulang Mas, tadi ngobrol dulu sama penjaga di sana!"
Adam tak merespon perkataan Pak Komar.
"Mas, kalo Neng Manis!"
Adam membuka matanya saat nama Manisya di sebut, ia juga menatap tajam ke arah Pak Komar.
"Maaf Mas, maksud Bapak Mbak Ara nya ga ikut pulang?" tanya Pak Komar dengan memperbaiki perkataannya, Pak Komar yang sering lupa akan permintaan Adam untuk tidak memanggil Manisya dengan sebutan Neng Manis.
"Dia sangat suka tidur dengan nyamuk dan serangga!" Jawab Adam sambil mengeraskan kedua rahangnya, kemudian menutup kembali kedua matanya yang terbuka.
"Maksudnya Mas?" Tanya Pak Komar yang tidak mengerti arah perkataan Adam.
"Sudahlah, aku ingin tidur!" Jawaban Adam membuat Pak Komar enggan mengeluarkan perkataan lagi.
Saat itu perasaan Adam sangat kacau, ia sendiri sangat bingung dengan apa yang telah di lakukannya, terlebih lagi jika mengingat Manisya yang melingkarkan tangannya pada tubuh Ferry, membuatnya sangat kesal hingga ke ubun-ubun.
"Sial." Kata Adam dengan mata yang terpejam.
"Ya Mas?" tanya Pak Komar yang secara samar Mendengar sebuah kata keluar dari Adam, namun Adam tak mengindahkan perkataan Pak Komar, Pak komar memiringkan kepalanya ke salah satu sisi beberapa saat, kemudian Fokus kembali dengan sebuah kemudi di tangannya.
***
Hari Senin pagi di sekolah, kala itu Manisya sedang berjalan melewati gerbang sekolah, ia sengaja datang lebih awal bermaksud agar segera bertemu dengan seseorang yang ia rindukan, ia menatap ponsel miliknya berharap pesan yang di kirimkan pada laki-laki yang selalu berhasil mengisi hati dan fikirannya itu, sejak di tempat camping dan satu pesan saat ia sampai di rumahnya, yang tak kunjung mendapat sebuah balasan.
"Apa sudah sampai rumah?" pesan pertama yang Manisya kirim saat di Kampung Camping.
"Dam, apa kamu baik-baik saja?" Pesan kedua yang Manisya kirimkan pada Adam, namun kedua pesan tersebut urung mendapat balasan, walaupun sang penerima pesan telah membaca kedua pesan tersebut, sebagai tanda dua centang biru tersemat di dalam pesan tersebut.
Manisya mengerutkan bibirnya, ia kemudian menatap lurus kedepan saat sebuah kaki terdengar melangkah di depannya, dan benar saja, langkah kaki tersebut adalah milik seseorang yang sejak dua hari yang lalu sudah ia rindukan, Manisya menarik bibir tipisnya sambil berlari menghampirinya, bahkan kini Manisya sengaja mendahuluinya, ia kemudian berbalik badan menatap Adam yang kala itu menghentikan langkahnya karena tertahan oleh Manisya yang menghalangi langkah kakinya.
Kini mereka saling berhadapan, Manisya masih menampakkan senyum terbaiknya untuk ia tunjukkan kepada Adam.
"Hai Adam!" Sapa Manisya sambil menggerakkan salah satu tangannya, terlihat sekali rona kebahagiaan terpancar di wajah Manisya. Namun tidak dengan Adam, ia hanya menatap tajam dengan wajah galaknya kepada Manisya.
"Aku ingin tahu kabarmu, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Manisya masih menatap ke arah Adam dengan perasan khawatir nya yang tak kunjung menghilang.
Namun betapa kagetnya Manisya, saat mendengar jawaban Adam yang kembali mendingin seperti sebelumnya.
"Gua gak punya urusan sama Lo, Minggir."
Jawab Adam dengan sorot mata yang tidak senang dengan kedatangan Manisya.
"Apa kamu marah kepadaku?" tanya Manisya.
Adam tak menjawab perkataan Manisya.
"Aku minta maaf, sudah membuatmu marah!" tutur Manisya yang sebetulnya sangat ketakutan melihat raut muka Adam yang seperti itu.
Adam masih tak merespon perkataan Manisya.
Ia masih menatap Manisya dengan tatapan tajamnya, sebelum akhirnya Manisya menunduk tak ingin sebuah masalah lebih besar menimpanya.
"Maaf!" Manisya meminta maaf kembali kemudian menundukkan kepalanya.
"Minggir Lo!" Adam tak menghiraukan perkataan Manisya, setelah Manisya memberi jalan kepada Adam, Adam berlalu begitu saja melewatinya.
Manisya menatap punggung Adam yang berjalan mendahuluinya, ia menarik nafasnya sangat dalam.
"Dia marah kepadaku!"
__ADS_1
"Sebentar, apa yang sudah ku lakukan hingga membuatnya marah kepadaku, apa aku sudah melakukan kesalahan, apa yang sudah ku lakukan?"
Manisya mengedepankan bibirnya melihat tingkah Adam kepadanya.
Manisya berjalan mengikuti langkah kaki Adam dengan kepala menunduk kebawah, tiba-tiba "Bruk!" Manisya menabrak sesuatu di hadapannya, ia segera menengadahkan wajahnya melihat benda yang sudah ia tabrak, Manisya membelalakkan kedua matanya saat mengetahui ia menabrak punggung Adam.
Adam menoleh ke kebelakang saat Manisya tengah berdiri mematung dengan mata lebarnya menatapi punggung Adam.
"Apa itu cara Lo minta maaf!" Adam yang kini memutarkan badannya menghadap ke arah Manisya.
"Maaf aku tidak sengaja!" Jawab Manisya yang masih berdiri mematung dengan salah satu bibirnya ia tekan menggunakan giginya, takut jika Adam memarahinya.
Adam masih menatap tajam ke arah Manisya, Manisya mengalihkan pandangannya kesembarang arah, tak tahan jika harus menatap sorot mata Adam yang tajam.
"Dasar wanita bodoh!" Ucap Adan secara perlahan, namun masih bisa di dengar oleh Manisya.
"Aku bisa mendengarnya!" Ucap Manisya sambil menarik kedua tali tas punggung yang melingkar pada tangan Manisya.
"Bagus!" Jawab Adam, kemudian Adam berbalik badan hendak melangkah kan kakinya.
"Kenapa aku menyukai laki-laki seperti itu yah!" Manisya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian kembali melangkahkan kakinya mengejar Adam di depannya.
"Adam, aku dengar hari ini kamu ada pertandingan basket ya sama sekolah lain?"
"Aku akan datang mendukungmu!" Teriak Manisya kepada Adam, seolah sedang mengeluarkan rasa risau di dalam hatinya.
Dari arah depan, terlihat Adam mengentikan langkah kakinya, kemudian menoleh lagi ke arah belakang, Adam berjalan menghampiri Manisya.
"Lo jangan bikin ulah!"
"Awas kalo Lo bikin ulah di sana!" Adam memberi peringatan kepada Manisya.
"Memangnya kapan aku bikin ulah?" tanya Manisya.
"Setiap waktu!" Jawab Adam.
"Setiap waktu?" Manisya diam sejenak mencoba berfikir.
"Aku tidak mengerti arah bicaramu!"
"Apa duduk, teriak dan tersenyum itu sebuah ulah?" Tanya Manisya.
"Baiklah nanti aku akan diam saja, tidak akan berkata satu patah katapun!"
" Apa memanggil namamu juga dilarang di sana?" Tanya Manisya kembali.
"Itu terkecuali!" Jawab Adam, membuat Manisya semakin bingung.
"Pokoknya jangan membuat ulah!"
"Baik, aku janji!" kata Manisya menaikkan kelingkingnya pada Adam, tentu saja Adam hanya menatap kelingking Manisya tanpa menyentuhnya.
"Satu hal lagi!" kata Adam dengan penuh keseriusan di wajahnya.
"Tunggulah sampai Gua selesai pertandingan, jangan beranjak satu langkahpun dari tempat dudukmu!"
"Hanya itu?" Tanya Manisya seolah menantang.
"Menunggumu bertahun-tahun pun aku sanggup!" Ucap Manisya kemudian terkekeh menertawakan apa yang dia ucapkan barusan.
"Lakukan!" Kata Adam menanggapi perkataan Manisya dengan menatapnya begitu tajam, kemudian Manisya seketika terdiam saat mendengar sebuah kata yang keluar dari mulut Adam.
"Lakukan!" Ucap Adam kembali sambil tak mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Manisya, Manisya masih berdiri mematung tak menanggapi perkataan Adam.
"Gua bilang lakukan!" Adam berkata untuk yang ketiga kalinya, saat belum mendapat respon dari Manisya.
"Aku berjanji!"
"Berjanji?" Adam mengangkat salah satu alisnya.
"Yah, aku berjanji akan selalu menunggumu!" Ucap Manisya tanpa berfikir terlebih dahulu.
"Bagus!" Adam menarik salah satu sudut bibirnya kemudian berlalu membiarkan Manisya berada di belakangnya.
"Fiuh!" Hela nafas Manisya terdengar saat Adam berlalu dari hadapannya, Manisya pun melangkahkan kembali kakinya, berjalan menuju kelasnya.
Hari itu di sekolah, pelajaran berjalan seperti biasannya sampai pada jam pelajaran terakhir.
__ADS_1
"Nin, kamu ikut ga, kau mau nonton Adam pertandingan Basket!" tanya Manisya sambil merapikan buku-bukunya kedalam tas miliknya.
"Aku ikut Sya, tuh dari tadi si cerewet itu udah wanti-wanti bilang ke aku wajib dateng buat ngedukung!" tutur Nina sambil menatap ke arah Rangga.
"Asiiik aku Ada teman!"Jawab Manisya sambil mendaratkan sebuah pelukan kepada Nina.
"Kita pesan Mobil Online aja ya Nin!" Ucap Manisya sambil memegang ponsel miliknya hendak memesan sebuah kendaraan online melalui ponselnya.
"Ayo!" tiba-tiba Rangga mengahmpiri Manisya dan Nina.
Manisya membulatkan kedua matanya mencoba mencerna maksud perkataan Rangga
"Aku bareng ma Rangga Sya!" ucap Nina sambil menunjuk ke arah Rangga yang berada di hadapannya.
"Yah,!" Manisya terlihat kecewa.
"Tuh pujaan hati Lo, masih nganggur, dia juga bawa motor!" Ucap Rangga memberikan sebuah kode.
Manisya menggelengkan kepalanya memberi sebuah kode kepada Rangga dan Nina, "Suasana hatinya lagi ga bagus, aku ga mau cari masalah!" Manisya berkata secara perlahan.
"Lo tuh ya, Kalo ga bareng sama dia, Lo bakalan dapat banyak masalah!" ucap Rangga, namun Manisya gagal faham dengan yang di ucapkan Rangga kepadanya.
"Yu Nin, kita duluan!" Rangga mengajak Nina bergegas pergi.
"Sya aku tunggu di sana ya!" Pamit Nina kepada Manisya.
"Nin tunggu!" Namun panggilan Manisya kepada Nina tak mendapat respon.
"Apa yang harus aku lakukan, apa benar ucapan Rangga, tapi aku tidak mau jika dia tidak mengajakku!" ucap Manisya dalam hatinya.
Saat itu Adam berlalu melewatinya tanpa satu patah katapun, hanya menatap tajam ke arah Manisya.
Tanpa berkata Manisya mengikuti langkah kaki Adam tepat di belakangnya.
"Apa yang aku lakukan, sepetinya aku akan mendapat masalah lagi!" Manisya mengigit bibir bagian bawahnya menghilangkan perasan khawatirnya.
Tiba-tiba Adam menengok ke arah Manisya, Manisya pun mengubah tatapannya kesembarang arah. Adam kemudian berjalan kembali, Manisya pun ikut berjalan mengikuti langkahnya.
"Lo ngikutin gua?" tanya Adam sambil menengok ke belakang ke arah Manisya berdiri, ia berkata dengan berterus terang kepada Manisya.
"Enggak, aku, aku cuma lagi melihat tempat parkir di sekolah ini, bagus juga!" kata Manisya sambil memutar badannya hendak berjalan menghindari Adam, Ada perasaan malu dan takut saat itu menyelimuti perasaan Manisya.
"Mau kemana Lo?" tanya Adam kepada Manisya yang terlihat sudah melangkahkan kakinya kedepan beberapa langkah.
"Aku sudah selesai dengan urusanku, aku pergi dulu!" Jawab Manisya menahan rasa malunya.
"Stop, diam di situ!" Perintah Adam kepada Manisya yang terlihat masih melangkahkan kakiknya.
"Kalo Lo terus Jalan, Gua bakalan bikin Lo ga bisa Nafas!" Ancaman Adam berhasil membuat Manisya mematung, dengan badan Masih membelakangi Adam.
Adam terdengar melangkahkan Kakinya ke arah Manisya.
"Apa maksud..!" Manisya berkata sambil memutarkan badannya, namun perkataanya terpotong saat sebuah benda berwarna hitam berhasil menutupi kepalanya.
"Pluk!" Tanpa sebuah aba-aba, helm berwarna hitam itu dengan sengaja Adam kenakan ke kepala Manisya, kini helm tersebut berhasil menutupi kepala Manisya.
"Jangan banyak bicara!" Ucap Adam sambil menarik tangan Manisya yang sudah siap dengan sebuah helm di kepalanya.
Manisya masih tak menyangka dengan apa yang dilakukan Adam, masih menatap bingung ke arah Adam, dengan sebuah helm di kepalanya.
"Lo bawa baju olahraga kan!" tanya Adam menatap ke bagaian bawah tubuh Manisya, dengan cepat Manisya menutupi roknya dengan kedua tangannya.
"Pake celana olahraga Lo!" Perintah Adam, yang merasa khawatir karena Manisya hanya memakai sebuah Rok Pendek.
"Baiklah, aku akan mendoublenya!" kemudian Manisya mengeluarkan celana olahraganya dari dalam tas miliknya hendak memakainya.
"Mo ngapain Lo?" tanya Adam melihat Manisya yang bersiap memakai sebuah celana di hadapannya.
"Buk!" Adam memukul helem yang sudah di pakai Manisya.
"Wanita bodoh!"
"Bukankah kamu menyuruhku memakai celana olahragaku?" tanya Manisya yang gagal faham dengan perintah Adam.
"Apa Lo juga akan membuka baju Lo di hadapan Gua saat Gua nyuruh Lo supaya Lo mengganti baju milik Lo?" Adam menarik nafasnya terlihat kesal dengan seorang wanita di hadapannya.
"Aku akan membukanya!"
__ADS_1
"Pluk!" Adam memukul kembali kepala Manisya yang terbungkus helm tersebut dengan menggunakan salah satu tangannya.