
"Iyah aku menangis sejak menerima telepon dari Bapak Polisi, saat mengetahui kamu kecelakaan" Kemudian Mansiya menundukkan kepalanya menahan rasa malu yang kini datang menyelimuti firkirannya.
Mendengar hal tersebut membuat Adam menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya sudah sejak dari tadi Manisya menangis.
"Dan Lo ke sini memakai?" tanya Adam kembali.
"Aku kesini menggunakan Ojek Online" Manisya mengerti arah maksud perkataan Adam, Manisya segera menjawab pertanyaan yang belum Adam selesaikan.
"Dan Lo nangis saat naik Ojek Online?" Adam masih belum berhenti bertanya kepada Manisya.
"Emm" Manisya menundukkan kepalanya merasa malu untuk menjawab pertanyaan Adam.
"Aku tidak menangis" Jawab Manisya sambil memutar-mutar kan bola matanya, menutupi kebohongan.
"Jangan berbohong!" Adam mengetahui jika Manisya berbohong, karena Manisya memang tidak pandai dalam menyembunyikan sesuatu.
"Anu aku," Bibir Manisya sulit mengatakan jika ia memang menangis sejak pertama mendengar kabar jika Adam mengalami kecelakaan.
" Sudah lah Gua sudah tau jawabannya" Adam memotong kata - kata yang sudah berada di ujung lidah Manisya.
"Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya" Jawab Manisya kemudian mengigit bibir bagian bawahnya karena sedikit kesal dengan jawaban Adam.
"Itu hak Gua" jawab Adam membuat Manisya tak ingin berkata lagi.
"Apa Lo sebegitu khawatirnya hingga air mata Lo terbuang begitu saja?"
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat Khwatir kamu kan.." Manisya memotong perkataan Nya Ia hampir mengeluarkan kata yang akan membuatnya menunduk akibat salah memilih kata.
"kamu kan orang yang aku sukai" Manisya meneruskan kata-kata tersebut di dalam hatinya.
"Kenapa Kamu bertanya seperti polisi yang sedang menginterogasi seorang tahanan, Sekarang giliran aku yang bertanya, dan kamu wajib menjawabnya" kata Manisya memberikan sebuah kesepakatan kepada Adam.
"Dari Mana kata wajib itu berasal? dan apa Lo tau penyebab seseorang bisa menjadi seroang tahanan?" Pertanyaan Adam membuat Manisya kebingungan.
"Em, em, itu karena, dari, dari " Adam berhasil mengecoh Manisya yang ingin bertanya kepadanya, Manisya kebingungan, Fikiran kerasnya membuat Manisya gelagapan.
Di sisi lain Adam menarik salah satu sudut bibirnya menandakan sebuah kemenangan "Dasar Gadis Bodoh" Adam membisikan kata tersebut dalam hatinya.
Manisya segera sadar jika Adam sedang mengalihkan pembicaraannya, "Kali ini aku tidak akan terkecoh, itu tidak penting, kamu itu menyebalkan" Jawab Manisya setelah berfikir keras.
"Memang apa yang mau Lo tanyain?" tanya Adam.
"Apa yang membuatmu bisa masuk rumah sakit seperti ini?" tanya Manisya, segera setelah mendapat aba-aba dari Adam.
"Sudah lah, Gua malas mendengar pertanyaan lagi, Gua mau tidur, Lo duduk di sana dan jangan membuat keributan" Adam menunjuk sofa yang tersedia dalam kamar tersebut, namun Adam tak menjawab pertanyaan Manisya ia malah membalikan badannya membelakangi Manisya dan mulai memejamkan Matanya dengan senyuman penuh kemenangan.
Manisya mengerutkan bibirnya, ia kecewa dan kesal kepada Adam karena tak menjawab pertanyaannya Manisya, dan pada percakapan Adam dan Manisya selalu berakhir seperti itu, Manisya menarik nafasnya sangat dalam. "Huh Menyebalkan" Manisya berkata secara perlahan, Namun kata tersebut Masih biasa terdengar oleh Adam, namun tak di hiraukan okeh Adam, ia kembali membenahi posisi tidurnya.
Manisya pun pasrah dan pada akhirnya mengikuti perintah Adam untuk duduk di sofa yang menghadap ke arah tempat tidur yang di tiduri oleh Adam dengan posisi Adam membelakangi Manisya.
Manisya dengan sabar duduk menunggu Adam yang mulai tertidur, "Apa yang membuatnya bisa mengalami kecelakaan seperti ini, lebih baik aku bertanya kepada Pak Komar" Manisya berkata dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah itu Manisya memainkan ponselnya, ia membuat kesibukan dengan menonton sebuah drama Korea yang sedang ramai di perbincangkan di kalangan pecinta drama Korea saat ini, Manisya juga memasang headset nya agar tidak mengganggu Adam yang tengah tertidur.
Satu jam telah berlalu, Manisya menatap ke arah Adam, di lihatnya Adam yang Masih terbaring membelakanginya tiba-tiba bergerak membalikkan badan hingga wajah tampannya kini bisa terlihat dengan jelas oleh Manisya. Bisa menatap Adam dengan jelas membuat Manisya tersenyum lebar, ia kini mengabaikan ponsel yang tengah menampilkan drama korea kesukaannya itu untuk menatap wajah Adam yang tengah tertidur pulas.
" Tidur aja dia tampan" Manisya menatap wajah Adam yang memiliki hidung mancung, bibirnya yang tebal dan berwarna merah natural, bulu matanya yang lentik serta alisnya yang lebat hitam membuat Manisya sangat takjub seperti melihat sebuah pemandangan ciptaan tuhan yang sangat sempurna, Manisya mengerutkan dahi beserta bibirnya saat melihat pipi Adam yang putih mulus kini tergores oleh luka, Manisya menghentikan tatapannya karena perasaan menyesal melihat luka Adam, ia segera mengalihkan padangan saat di bawah kelopak matanya telah terisi penuh air mata, segera Manisya menyeka kedua Matanya serta Menarik nafasnya secara mendalam tak ingin ia kembali berlarut dalam kesedihan.
Setelah itu, Manisya kembali menarik sudut bibirnya, Manisya mendapatkan sebuah ide hebat yang menyelimuti firkirannya, Manisya membuka headset yang terpasang di kedua telinganya ia biarkan begitu saja di atas sofa yang ia duduki, kemudian Manisya berjalan secara perlahan agar tak membangun kan Adam yang tengah tertidur pulas, Manisya mendekat ke arah Adam hingga kini jarak mereka hanya beberapa centimeter, Perlahan Manisya memposisikan ponselnya yang telah ia siapkan dengan posisi kamera ponsel yang siap untuk mengambil gambar Adam, tanpa sepengetahuan Adam Manisya mengambil beberapa kali foto Adam yang tertidur pulas, Manisya juga merekam sebuah video.
"Ternyata dia sama dengan ayah dan
adikku, tidurnya mendengkur". Berkata dalam hatinya tak ingin Adam terbangun. Manisya mengehentikan rekaman videonya dan berjalan kembali secara perlahan menuju sofa sebelumnya, Manisya menahan tawanya saat melihat kembali rekaman video Adam yang tertidur. Saat sedang menikmati video yang ia rekam, tiba-tiba dari luar kamar terdengar sebuah keributan.
"Apa dia baik-baik saja Pak Komar" pertanyaan seorang wanita sambil menangis, kemudian suara pintu kamar terdengar terbuka.
"Ceklek" Pintu terbuka dan munculah Wanita dengan rambut pendek, badannya yang tinggi langsing bak seorang Model, wajahnya yang putih mulus, hidung dan matanya merupakan perpaduan sempurna, wanita tersebut memakai dress hitam selutut dengan model sederhana namun tetap elegan dan Manisya juga menebak Pakaian yang di pakai wanita tersebut merupakan apakaian dengan harga selangit, sayangnya Manisya sendiri tidak mengetahui merek - merek tersebut, ia hanya terkadang mendengarnya saat Nina bercerita.
Wanita tersebut langsung menghampiri Adam yang tengah tertidur pulas, di ikuti dengan Pak Komar dan seorang pria dengan kumis tebalnya berdiri di dekat pintu, tak lama datang pula seorang Laki-laki berkacamata datang mendekat ke arah wanita tadi, Pria berkacamata itu memeluk wanita yang menangis tersebut, wanita tersebut menangis tersedu-sedu melihat Adam yang terluka, wanita itu juga mengusap rambut Adam berulang kali, kemudian mengusap pipinya yang terluka secara perlahan, wanita tersebut juga menutupi tubuh Adam dengan sebuah selimut yang sebelumnya di biarkan begitu saja dekat kaki Adam.
"Sudah lah, jangan terlalu berlebihan menangisnya, liatkan dia baik-baik saja" Pria berkacamata tersebut menenangkan wanita berambut pendek tersebut.
Namun bukannya berhenti menangis, wanita berambut pendek tersebut menangis semakin kencang.
"Sudah sudah", Pria tersebut menenangkan wanita berambut pendek kembali.
Karena keributan tersebut akhirnya Adam membuka matanya.
__ADS_1