Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Sangat Merindukanmu


__ADS_3

"Peluk aku seperti ini setiap hari!" Adam memeluk erat wanita yang menghilang dari hadapannya selama 4 tahun itu.


Manisya terlihat mengangguk mengiyakan ucapan Adam, ia juga membalas pelukan Adam dengan erat, menikmati bagaimana hangatnya pelukan yang ia rindukan selama ini.


Setelah beberapa saat, Adam melepaskan pelukannya kepada Manisya.


"Kenapa kamu tiba-tiba memelukku?" Tanya Adam memutar balikkan keadaan seolah Manisya lah yang memeluknya terlebih dahulu.


Manisya mengerutkan bibirnya, seolah tak terima apa yang di ucapkan Adam kepadanya.


"Aku hanya membalas pelukanmu, bukan kah kamu tadi yang memeluk ku terlebih dahulu?"


"Kali ini aku maafkan!" Ucap Adam tak menghiraukan perkataan Manisya, ia juga mengusap lembut bagian atas kepala Manisya.


"Dia masih sama, suka memutar balikkan kenyataan!"


"Baiklah!" Ucap Manisya.


"Apa maksudmu?" Tanya Adam yang sudah berbalik badan, memutar badannya kembali menatap Manisya.


Tiba-tiba Manisya memeluk Adam terlebih dahulu dengan erat.


"Kali ini aku akan lebih pintar?" Ia membenamkan kepalanya pada dada Adam, memeluknya dengan erat.


"Kamu sedang menggodaku?" Sambil membalas pelukan Manisya.


Manisya terlihat menggelengkan kepalanya menjawab ucapan Adam.


Saat itu, tiba-tiba air mata dari kedua kelopak Mata Manisya menetes, bagaimana tidak seseorang yang sangat ia rindukan selama ini tiba-tiba memeluknya dengan hangat, benar-benar ia rindukan, kali ini airmata nya tak dapat terbendung lagi keluar begitu saja membasahi kedua pipinya.


"Kamu menangis?"


Adam merasakan sesuatu yang hangat menempel pada bajunya kemudian mengangkat wajah Manisya ke hadapannya, Namun Manisya tak membiarkan Adam melihatnya, ia melepaskan pelukannya kepada Adam dan segera menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Tidak?"


"Ini apa?" Mengusap kedua pipi Manisya menggunakan kedua tangannya yang terlihat basah.


Manisya menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya.


Adam kembali memeluk Manisya dalam dekapannya.


"Tolong maafkan aku!" Ucap Manisya.


Adam mengusap lembut bagian belakang kepala Manisya secara perlahan seolah menjawab ucapan Manisya.


Setelah itu untuk beberapa saat mereka berpelukan melepaskan kerinduan setelah sekian lama.


"Aku bilang aku akan memaafkan mu jika kamu datang ke sini setiap hari!"


"Baiklah aku akan datang setiap hari ke sini!" Sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adam dengan posisi masih berpelukkan.


"Apa kamu akan terus memelukku sampai besok pagi?"


Mendengar ucapan Adam membuat Manisya melepaskan pelukannya dengan segera.

__ADS_1


Pipi Manisya merona, ia sungguh malu dengan apa yang di ucapkan Adam kepadanya.


"Aku permisi ke kamar mandi!" Dengan segera melangkahkan kakinya menghindari Adam.


"Kamar mandi sebelah sini!" Adam menunjuk kamar mandi dengan arah yang benar, karena Manisya melangkahkan kakinya pada arah yang salah.


Tanpa berkata Manisya segera memutar badannya, sambil menunduk menuju kamar mandi.


***


"Bagaimana kalau mulainya besok saja, hari ini rumahmu terlihat rapih, dan aku sebenarnya tidak terlalu pintar mengerjakan pekerjaan rumah tangga!" Tutur Manisya sesaat setelah keluar dari kamar mandi dan duduk di sebuah sofa dengan canggung tepat di pinggir Adam.


Adam menengok menatap Manisya yang duduk tepat di pinggirnya untuk sesaat, setelah itu berkata, "Aku sudah tahu!"


"Kalau tahu kenapa dia menyuruhku merapihkan rumahnya!" gerutu Manisya di dalam hatinya.


"Baiklah, Mulainya besok saja!"


"Kalau begitu aku mau permisi pulang dulu!" Sambil beranjak dari tempat duduknya.


Dengan refleks Adam menarik tangan Manisya hingga membuatnya mendaratkan tubuhnya kembali di atas kursi dan duduk tepat di pinggirnya.


"Aku belum menyuruhmu untuk pergi!"


Manisya sungguh terkejut karena Adam menarik tangannya dan membuatnya duduk kembali di pinggirnya.


"Lalu harus sampai jam berapa aku di sini?"


Mendengar pertanyaan Manisya membuatnya memberikan tatapan tajam ke arah Manisya.


"Tidak, bukan begitu maksudku, aku hanya, aku hanya, aku hanya ingin mandi dan mengganti bajuku, ya bajuku!"


"Kalau begitu kamu bisa menggunakan baju ku saja untuk sementara!"


Manisya membulatkan kedua bola matanya mendengar perkataan Adam, ia sungguh bingung untuk mencari alasan, karena sebetulnya bukan ingin mandi atau mengganti bajunya, hanya saja sejak sore perutnya sudah memanggilnya untuk segera di isi makanan.


"Tidak perlu, kalau begitu nanti saja!" Jawab Manisya.


"Besok jangan lupa untuk membawa baju ganti dari rumah, kalau kamu mau kamu bisa mandi di sini!"


"Iyah aku akan membawa baju ganti!" Ucap Manisya dengan tidak bersemangat.


Setelah percakapan mereka selesai tiba-tiba suara keroncongan perut Manisya bunyi seakan memanggilnya, dan Adam tentu saja mendengarnya dan menatap ke arah Manisya yang memalingkan wajahnya ke arah lain begitu malu.


"Kamu lapar?"


"He he!" Manisya tersenyum dipaksakan sambil menahan rasa malunya.


"Maaf aku tidak menawarkan kamu makan!"


"Tidak, tidak perlu minta maaf!" Jawab Manisya.


Sebenarnya alsan Manisya untuk segera pulang bukan karena ingin mandi atau ingin mengganti bajunya namun alasannya tak lain adalah ia sangat lapar sekali saat itu.


"Lain kali katakan saja kalau kamu lapar!"

__ADS_1


"Iya!" jawab Manisya sambil tersenyum kecut.


"Kamu mau makan apa, biar aku belikan!" Adam beranjak dari kursinya.


Manisya segera menarik tangan Adam, menahannya.


"Tidak perlu membeli, yang ada di rumah saja!"


"Aku tidak memiliki apapun di rumah, kecuali mie instan!" Jawab Adam.


"Mie instan? ya tidak apa-apa mie instan saja, aku akan membuatnya sendiri!" Kini giliran Manisya yang beranjak dari kursinya, ia sangat bersemangat saat Adam mendengar kata Mie Instan dari mulutnya.


Kali ini Adam yang menarik tangan Manisya hingga ia mendarat kan kembali tubuhnya di atas kursi.


"Tidak, jangan makan mie instan, aku akan memesankan nasi goreng spesial untukmu!"


Tangan kanannya masih menggenggam tangan Manisya, sedangkan tangan kirinya membuka sebuah aplikasi untuk memesan sebuah makanan.


"Padahal sepertinya makan mie instan sangat enak!" Gerutu Manisya secara perlahan namun masih bisa di dengar oleh Adam.


Adam menatap tajam ke arah Manisya.


"Katakan padaku seberapa sering kamu memakan mie instan?"


"Setiap hari!"


Kedua mata Adam membulat mendengar ucapan Manisya.


"Apa katamu, setiap hari?"


Manisya mengangguk mengiyakan ucapan Adam.


Adam menjentikkan jarinya di dahi Manisya.


"Aaaaw!" Teriak Manisya sambil refleks mengusap dahinya yang terlihat merah, namun ia sebetulnya sangat terharu setelah sekian lama akhirnya merasakan hentikan dari jari Adam kembali.


"Buang semua mie instan yang ada di rumah kosmu! kamu sungguh-sungguh memakannya setiap hari?"


Manisya mengangguk.


"Sepulang dari sini kamu harus membuang semuanya! seberapa banyak mie instan di rumah kostmu saat ini?"


"Ada dua dus?"


"Dua dus?" Kedua mata Adam membulat sembari menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar jawab Manisya.


"Kirim videonya kepadaku!"


Manisya hanya menganggukkan kepalanya tak bisa membantah ucapan Adam.


Adam hendak menjentikkan kembali jemarinya di dahi Manisya, seketika Manisya memejamkan matanya karena ketakutan.


"Kamu itu menyebalkan sekali!" Bukan sebuah jentikkan yang mendarat di dahi Manisya tapi sebuah ciuman lah yang mendarat di sana, Adam menciumnya tepat di dahi Manisya yang berwarna merah akibat jarinya, setelah itu Adam mendekap kembali tubuh Manisya dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu!"

__ADS_1


__ADS_2