
Bagi Manisya, ini merupakan hari-hari tersulit menghadapi Adam, ia juga sudah berjanji kepada Adam untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang kejadian mereka beradu bibir, dan Manisya pun menepati janjinya tidak menceritakannya kepada siapapun termasuk Nina sahabatnya sendiri.
"Sya, kamu rencananya mau kuliah kemana?" tanya Nina kepada Manisya yang memang saat ini mereka sudah berada di tingkat akhir sekolahnya. Beruntungnya Manisya, Nina, Adam, Samira dan Rangga masih berada di kelas yang sama.
"Em," Manisya menoleh ke arah Adam yang duduk masih di pinggirnya.
"Aku mau kuliah ke tempat Adam." Jawab Manisya dengan berbisik di telinga Nina.
"Eh kamu tahu belum, Rangga bilang dia bakalan kuliah di luar Negri, di Mana ya aku lupa." Nina memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh Adam.
Mendengar hal tersebut membuat Manisya terkejut dan membelalakkan kedua matanya.
"Kamu tidak bohong Nin?" tanya Manisya tidak percaya perkataan Nina.
"Aku kata Rangga, coba saja tanyakan kepada Nya!" Jawab Nina.
Manisya menundukkan kepalanya merasa pasrah jika memang hal itu terjadi.
"Semoga tidak begitu!"
"Kamu gak akan barengan sama aku Sya kuliahnya?" Tanya Nina kepada Manisya.
"Pengennya gitu si Nin, tapi kamu tahu akan kepintaranku ini di atas rata-rata manusia pada umumnya!" Jawab Manisya dengan menekan sebuah telunjuk pada kepalanya.
"Jadi kamu berencana kemana?" tanya Nina yang masih belum puas dengan perkataan Manisya.
"Entahlah, sepertinya aku akan bekerja terlebih dahulu!" Jawab Manisya.
"Bekerja?" Tanya Nina.
"Kok gitu sih Sya?" tanya Nina masih dengan posisi duduk di bangku sekolah.
"Memangnya kenapa?" tanya Manisya.
"kamu itu harus kuliah Sya!" Nina merasa khawatir dengan salah satu sahabatnya itu.
"Iya, iya cerewet!" Jawab Manisya sambil mencubit kedua pipi Nina yang duduk tepat di sebelahnya.
"Kamu tahu ga Nin, Cita-cita aku apa?" tanya Manisya kepada Nina.
"Memangnya apa?" Nina menarik salah satu alisnya, ia arahkan kepada Manisya.
Manisya melirik ke arah Adam. "Naik pelaminan bersamanya!" Jawab Manisya dengan membisikkannya pada telinga Nina secara perlahan.
"Iyah makannya kamu ituh, supaya pintar, supaya bisa mengejarnya sampai ke ujung langit, kamu harus kuliah Sya!" Jawab Nina sambil menggoyangkan kedua pundak Manisya dengan kedua tangannya.
"Iyah, Iyah cerewet aku kuliah, aku akan kuliah sambil bekerja Nin, aku tidak ingin membebani orangtuaku." Jawab Manisya dengan memperlihatkan wajah seriusnya.
"Nah gitu dong, pokoknya kamu harus melanjutkan kuliah!"
"Baiklah Nina sayang, semoga aku bisa!" Jawab Manisya membuat Nina mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Maksudmu?" tanya Nina kembali masih menatap ke arah Manisya.
Manisya menjawab pertanyaan Nina dengan sebuah senyuman, menutup pembicaraannya dengan Nina.
***
"Besok jangan sampai kesiangan ya, dan jangan lupa membawa jaket dan perbekalan obat masing-masing." Pesan seorang guru mengakhiri pertemuannya kala itu, ya besok pagi adalah liburan akhir minggu, semua murid tingkat akhir tepatnya kelas 12 mengadakan acara berkemah di sebuah desa yang memang terkenal dengan ke indahan alamnya.
"Baik Pak!" Jawab semua murid kepada guru yang bersiap meninggalkan kelas tersebut.
"Adam kamu ikut kan?" tanya Manisya kepada Adam yang terlihat sedang membereskannya buku-buku miliknya kedalam kelas.
"Apa Lo nyuruh Gua supaya gak ikut, supaya Gua kena hukuman?" jawab Adam.
Mendengar perkataan Adam membuatnya menarik kedua sudut bibirnya, ada perasaan senang saat Adam menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang panjang.
Melihat Manisya tersenyum membuat Adam menatap Manisya dengan tatapan tajamnya.
"Tidak, bukan itu maksudku, maksudku kamu jangan sampai kesiangan ya!" Jawab Manisya menyembunyikan rasa senangnya, setelah sekian lama ia baru mendengar kembali Adam yang berkata panjang lebar kepadanya.
"Adam, nanti kamu duduknya sama aku ya!" Samira kini ikut bergabung di tengah pembicaraan Adam dan Manisya.
Adam tak menjawab perkataan Samira, ia sibuk dengan sebuah tas dan buku miliknya.
"Enak aja, Adam sama Aku donk!" Jawab Manisya kepada Samira yang kini semakin akrab, mereka terkekeh menertawakan kelakuan mereka sendiri.
"Minggir kalian!" Adam berkata ketus kepada Manisya dan Samira yang kala itu menghalangi langkah Adam untuk pergi meninggalkan kelas.
Manisya dan Samira bertatapan mengangkat kedua tangannya di sertai dengan kedua pundaknya kemudian menarik kedua sudut bibirnya masing-masing melihat tingkah Adam.
"Iya Ra, hati-hati di jalan." merekapun melambaikan tangannya berpamitan, tak lama setelah itu, Manisya dan Nina pun bergegas meninggalkan kelas yang sudah mulai terasa sepi itu.
***
Ke esokan harinya semua murid telah berkumpul untuk bersiap melakukan perjalanan ke sebuah desa yang jaraknya membutuhkan waktu dua jam dari sekolah mereka.
"Ra, kamu lihat si Manis ga?" tanya Nina kepada Samira karena Manisya belum terlihat kedatangannya.
"Emang dia belum dateng?" tanya Samira kepada Nina.
"Belum Ra, coba kamu teleponin dia gih!"
"Oke Nin, aku coba telepon dia." Samira mencoba memanggil Manisya dengan ponsel miliknya.
"Ga aktif Nin!" jawab Samira.
"Ya ampun Anak itu." Nina mendesah khawatir.
Nina mendekati Rangga yang kala itu tengah berdiri dekat dengan Adam.
"Ga Lo lihat Manisya ga?" tanya Nina kepada Rangga.
__ADS_1
"Emang dia belum dateng?" Rangga malah balik bertanya kepada Nina.
"Belum, telepon nya ga aktif lagi." jawab Nina.
Adam yang mendengar perkataan Nina, seketika membelalakkan matanya, mengangkat salah satu alisnya.
"Gadis bodoh itu belum datang?" giliran Adam yang penasaran.
"Iya." Nina mengangguk mengiyakan perkataan Adam. Kemudian Nina berusaha menelpon Manisya kembali, Adam pun terlihat mencoba memanggil Manisya memalui ponsel miliknya, namun telepon Manisya sedang tidak aktif.
"Ayo anak-anak, Masuk lah ke Bus kalian masing-masing, sesuai dengan daftar nama kalian yang ada di depan bus, yang tertera nama kalian." Seorang guru berteriak memberikan instruksi melalui Speaker Toa yang ia pegang, membuat semua murid bergegas memasuki bus yang telah terparkir tepat di depan sekolah.
Adam, Nina , Rangga dan Samira masih terlihat Khawatir mencari Manisya yang masih belum terlihat batang hidungnya.
Kini terlihat guratan kebingungan di balik wajah Adam, karena khawatir akan keberadaan Manisya, Adam berlari mendekati guru yang tengah memberikan sebuah instruksi.
"Pak, bolehkah keberangkatannya di undur sekitar 15 menit?" Adam meminta tolong kepada pak Guru untuk menunda perjalanan mereka.
"Memangnya kenapa?" tanya Pak Guru mengesampingkan sebuah Toa yang ia pegang.
"Ada yang belum datang Pak." Jawab Adam.
"Baiklah, 15 menit saja ya, setelah lewat 15 menit suruh saja dia menyusul sendiri!" Jawab Pak Guru yang terlihat sedikit kesal dengan.
Lima belas menit pun telah berlalu, Pak Guru yang bertugas untuk mengatur murid menghampiri Adam.
"Ada gak Adam?" tanya Pak Guru kepada Adam yang kala itu tengah duduk di sebuah kursi bersama Rangga, Nina, dan Samira.
"Belum ada Pak!" Jawab Adam sambil melihat jam tangannya.
"Kalau begitu biar saya saja Pak yang menunggunya, Nanti biar saya menyusul kesana!" Adam memberi sebuah ide kepada Pak Guru.
"Kamu gak apa-apa menunggunya sendiri?" Tanya Pak guru kepada Adam.
"Tidak apa-apa, nanti saya menyusul kesana!" Jawab Adam sambil menatap ke arah Pak Guru dan teman - temannya.
"Kalau begitu bapak dan rombongan pergi dulu ya, bapak titip Manisya, dan kalian ayo naik Bus!" Ajak Pak Guru kepada Nina, Samira dan Rangga.
"Apa kamu gak apa-apa Adam menunggu Samira sendirian?" Tanya Nina yang khawatir akan Manisya.
"Tidak apa-apa, Pergilah!" Jawab Adam membiarkan teman-temannya berangkat terlebih dahulu, meninggalkan dirinya dan Manisya. Merekapun berpamitan kepada Adam untuk segera naik ke dalam Bus, dan rombongan Bis pun pergi meninggalkan Adam seorang diri.
Kala itu Adam mencoba menghubungi Manisya kembali namun ponselnya tak kunjung aktif.
"Halo, tidak ada?" Adam menelepon beberapa orang untuk mencari Manisya, namun hasilnya pun Nihil.
Adam memutuskan untuk menunggu Manisya sambil duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana, tepatnya di bawah pohon dengan daun yang rindang hingga membuat matahari berebut dengan sebuah tangkai untuk menyinari tubuh Adam.
Satu jam telah berlalu, Adam saat ini tengah memejamkan kedua matanya namun tidak tertidur, ia menumpu kan salah satu kakinya di atas pahanya dengan menggerak-gerkan kakinya menyembunyikan perasaan khawatirnya, tangannya ia lipatkan di atas dadanya secara menyilang, sesekali ia pun menatap ke arah jam yang menempel pada tangannya.
"Tak tak tak tak" Suara kaki seseorang tengah berlari kencang dengan nafas tersendat-sendat, ia menghentikan langkahnya, kemudian wanita itu berjongkok menumpu kan tangan pada kedua lututnya.
__ADS_1
"Fiuh." Suara tarikan nafas seorang wanita kini terdengar.
"Adam!"