
Dekapan tubuh Adam membuat hangat seluruh tubuh Manisya yang memang kala itu tengah merasa ke dinginan akibat di terpa angin malam, Manisya yang kala itu memang tidak memakai jaket di tubuhnya.
Manisya hanya terdiam tak berkata maupun membalas pelukan Adam, ia hanya menatap kosong karena merasa terkejut dan dengan perlakuan Adam kepadanya.
"Apa kamu sedang mengambil sebuah kesempatan?" tutur Adam saat tangan nya masih mendekap tubuh Manisya, dengan seketika Manisya mendorong badan Adam yang sebelumnya sedang mendekapnya dengan erat, hal itu membuat tubuh mereka menjadi berjarak.
"Ti, tidak, apa maksudmu, aku tidak melakukan apapun kepadamu?" jawab Manisya sedikit gelagapan.
Terpancar sebuah senyuman dari bibir Adam yang jarang sekali ia temukan, membuat Manisya merasa sikap Adam kepadanya bertambah aneh.
"Apa kamu sedang merencanakan sesuatu yang jahat kepada ku, kamu begitu mencurigakan!" tanya Manisya dengan menyipitkan kedua matanya, berusaha menyelidiki sikap Adam.
Mendengar Manisya berkata tersebut kepada Adam, membuat Adam menarik salah satu sudut bibirnya, merasa gemas dengan sikap Manisya kepadanya.
"Kenapa kamu bisa tahu? aku memang sedang merencanakan sesuatu kepadamu!" Jawab Adam dengan sebuah senyuman jahil di bibir nya.
Mendengar hal itu membuat Manisya mundur dua langkah menjauhi Adam, ia teringat sebuah jentikkan jari Adam yang selalu berhasil mendarat di dahinya saat ia tengah lengah, Manisya kini menutup dahinya dengan kedua tangannya, khawatir Adam akan melakukan hal sama kepadanya.
"Tidak, bukan itu, kamu salah menebak!" Tutur Adam saat melihat Manisya mulai menutupi dahi menggunakan kedua tangannya.
"Gadis bodoh, Aku tidak akan melakukannya sekarang, tenang saja!"
Jawaban Adam membuat tenang perasaan Manisya.
"Hei bodoh, pakailah jaket mu, tubuhmu begitu dingin!"
Adam membuka resleting jaket miliknya.
"Apa kamu akan memberikan jaket itu kepadaku?" Tanya Manisya saat ia melihat Adam membuka resleting jaket miliknya.
"Tidak!" Jawab Adam dengan pasti.
"Aku tahu apa yang ada di dalam isi kepalamu itu, berharap jaket ini aku berikan untukmu, seperti sebuah drama romantis yang kamu tonton?"
"Hehehe." Manisya terkekeh.
"Apa aku harus memberikannya kepadamu?"
Kini jaket Adam sudah berhasil terlepas dari badannya.
"Tidak perlu itu untukmu saja!" Jawab Manisya dengan mengabaikan rasa aneh yang menyelimuti perasaannya saat melihat tingkah Adam.
"Baiklah jika kamu memaksa!" Adam mendekati Manisya, kemudian memasangkan jaketnya di atas pundaknya.
__ADS_1
"Tapi," Manisya hendak mengeluarkan sebuah perkataan namun terhenti saat melihat tatapan Adam.
"Baiklah jika ini kurang, aku akan memelukmu!" Kata Adam sambil mengangkat satu tangannya hendak merangkul Manisya, namun terhenti oleh tangan Manisya yang berhasil menghentikan rangkulan Adam.
"Aku tidak bilang seperti itu!" Manisya mengedepankan bibirnya kepada Adam.
"Aku hanya..!" belum sempat Manisya berkata, Adam sudah mendahuluinya berkata.
"Baiklah jika kamu memaksa!" Potong Adam, dengan segera merangkul pundak Manisya tanpa sebuah Aba-aba.
"Aku tidak.. "! Manisya hendak mengeluarkan kata dari mulutnya namun Adam tak membiarkan Manisya mengeluarkan perkataanya.
"Kamu ingin lebih dari ini?" tanya Adam dengan mengerutkan keningnya.
"Baiklah," Adam memposisikan badannya hingga membuatnya berhadapan dengan Manisya, ia hendak memeluk Manisya kembali, namun Manisya segera menghindarkan badannya dari dekapan Adam.
"Kamu itu sungguh aneh!" Kata Manisya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Memang apa yang aneh?" tanya Adam sambil mengerutkan alisnya yang lebat itu ia arahkan kepada Manisya, Adam menarik sudut bibirnya pula saat menatap Manisya penuh kemenangan.
"Tidak ada!" jawab Manisya dengan sebuah kerutan di dahinya.
"Ayo!" Adam mengulurkan tangannya ke arah Manisya.
"Kamu Adam kan?" tiba-tiba pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulutnya.
Adam menarik kedua sudut bibirnya, sebelum ia mengeluarkan sebuah perkataan.
"Apa wajahku ini tiba-tiba berubah
menyerupai wajah seseorang?" tanya Adam sambil memegang bagian rahangnya menggunakan kedua tangannya.
"Tidak, wajahmu tetap sama seperti wajah tampan dari seorang Adam". Tutur Manisya.
"Tapi, tapi tidak dengan sikap aneh mu, benar-benar bukan seperti Adam yang aku kenal, apa benar kamu sedang tidak sakit?" tanya Manisya kembali kepada Adam, Manisya sama sekali tidak mencurigai jika Adam bersikap Aneh itu karena menyukainya, ia hanya mengira jika Adam sedang tidak baik-baik saja.
"Hei Gadis bodoh, Gua ini Adam bukan siapa-siapa, ngerti ga Lo."
Mendengat Adam berkata seperti itu kepadanya, membuat Manisya seketika melebarkan bibir tipisnya hingga membuat gigi putih miliknya terlihat pula.
"Ya itu memang kamu!" Manisya menatap hari ke arah Adam.
"Ini memang Aku!" jawab Adam, sambil merangkul kembali pundak Manisya dengan sebuah jaket milik Adam di atasnya.
__ADS_1
Manisya membelalakkan kembali kedua bola matanya kemudian menunduk sambil berkata secara perlahan hingga tak terdengar di telinga Adam, "Ini bukan kamu!"
Mereka pun mensejajarkan langkahnya menuju tempat Api unggun, yang kala itu masih di penuhi oleh sorak-sorai peserta Camping yang berasal dari sekolah Manisya.
Saat mulai mendekat ke tempat api unggun, Adam melepaskan rangkulannya, khawatir kehebohan akan terjadi di sana saat semua mata menatap ke arahnya.
"Aku akan duduk dekat dengan Nina dan Samira!" Pamit Manisya kepada Adam, namun Adam tak menjawab perkataan Manisya. Manisya pun membuka jaket milik Adam yang membungkus tubuh bagian belakangnya itu, Manisya melingkarkan jaket tersebut ke pundak Adam, "Pakailah itu, kamu akan kedinginan, kamu hanya memakai kaos berlengan pendek, dan aku, aku sudah memakai kaos yang berlengan panjang milikmu juga, di dalamnya ada kaos punyaku juga, jadi aku tidak akan kedinginan!" tutur Manisya sambil tersenyum menatap ke arah Adam, dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Adam yang masih berdiri.
Manisya berbalik badan, kemudian tersenyum kembali menatap Adam. "Terimakasih sudah baik kepadaku!" kemudian Manisya berlalu meninggalkan Adam untuk mendekati Samira dan Nina yang kala itu tengah duduk menyaksikan sebuah Acara yang ditampilkan di depan api unggun.
Adam belum bergerak sedikitpun, ia hanya sibuk melihat bagian tubuh Manisya saat berlalu meninggalkannya, ia menatapnya dengan sebuah tatapan tajam ke arah Manisya.
"Gadis bodoh!" Adam pun duduk mendekat dengan Rangga yang kala itu sama seperti teman-teman nya yang lain sedang berkumpul menyaksikan sebuah acara tepat di depan api unggun.
Adam membetulkan jaket yang di pasangkan begitu saja oleh Manisya ke atas pundaknya, kini jaket tersebut berhasil menyelimuti badannya dengan sempurna.
Acara api unggun itu sungguh seru, hal itu terlihat dari sorak sorai dan senyuman kebahagiaan yang terpancar dari semua mata yang berada di sana. Namun tidak dengan Adam, ia tidak benar-benar menikmati acara tersebut, ia hanya fokus pada seorang wanita yang kini tengah duduk di sebuah tempat di mana matanya dengan mudah bisa menatapnya, ia menangkap wajah bahagia Manisya saat melihat acara tersebut.
"Dia gak kenapa - kenapa Dam?" tanya Rangga yang sambil melihat ke arah Adam, Rangga yang baru menyadari jika Adam tengah duduk tepat di sampingnya.
"Seperti yang Lo lihat, dia bisa dengan gampangnya melupakan kejadian tadi!" Tutur Adam begitu saja.
"Kejadian tadi?" tanya Rangga sambil menatap Adam dengan sebuah kerutan di dahinya.
Mata Adam dan Rangga pun saling beradu, "Maksud Gua, kejadian piring jatuh!" Jawab Adam memperjelas perkataanya kepada Rangga yang terlihat tidak mengerti maksud perkataan Adam.
"Kirian Gua apa!" Jawab Rangga.
"Lo lihat Dam, lama-lama Gua perhatiin si Manis ini sama kayak namanya, Manis juga, hihi, apa Lo yakin Lo ga mau sama Dia?"
"Maksud Lo?" Adam memberikan sebuah tatapan tajamnya kepada Rangga, namun Rangga belum menyadarinya.
"Maksud Gua, itu kasihan si Manis udah lama dia suka sama Lo, apa Lo ga akan kasih dia kesempatan?"
Adam masih menatap ke arah Rangga dengan tajam, sambil menahan sebuah emosi yang bergejolak jauh di dalam dada nya, Adam mengatur nafasnya sedemikian rupa, bermaksud membuang gumpalan emosi yang sedang ia tahan.
"Bukan urusan Lo!" Jawab Adam sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Ya elah sensitif amat!" Jawab Rangga.
"Kalo Lo gak mau sama si Manis, Gua juga mau kok, buat gua aja ya, gua suka sama dia!" kini giliran Ferry yang berbicara sambil tak henti menatap ke arah Manisya. Ferry merupakan teman dekat Rangga namun mereka berbeda kelas, kala itu Ferry, Rangga, dan Adam duduk berdekatan.
"Dia sangat Manis!" Ferry menarik kedua sudut bibirnya saat menatap Manisya.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba, "Bug" sebuah tonjokan berhasil mendarat di pipi Ferry.