
"Aku!" Jawab Manisya dengan begitu bersungguh-sungguh, tanpa menatap ke arah para wanita cantik yang sedang menantikan sebuah jawaban dari bibir miliknya.
Mendengar perkataan Manisya membuat semua mata para perempuan penggemar Adam itu dengan kompak membelalakkan kedua matanya menatap ke arah Manisya, mengisyaratkan ketidak percayaan mereka kepada Manisya.
"Kamu?" Mereka bertanya kepada Manisya secara bersamaan.
"Ah, tidak mungkin?"
"Iyah tidak mungkin Adam memilih mu untum menjadi pacarnya!" Protes mereka kepada Manisya, sebetulnya melihat ekspresi wanita-wanita cantik itu, yang tidak percaya dengan perkataan Manisya, membuat tubuh Manisya seakan menggelitik tubuhnya, rasanya Manisya ingin tertawa terbahak - bahak melihat keraguan di bola-bola mata indah mereka.
"Kalian tidak percaya padaku?" Manisya menatap satu-persatu wajah - wajah cantik tersebut.
"Aku berkata sungguh-sungguh!" Jawab Manisya dengan mengangkat dagu runcingnya ke atas.
"Apa buktinya?" Salah satu wanita Cantik menantikan sebuah bukti jika Manisya dan Adam sedang berpacaran.
"Asal kalian tahu, Cinta Sejati itu tak perlu di umbar, ia akan selalu bersemai di dalam hati!" Manisya mengeluarkan kata-kata puitisnya untuk meyakinkan geromobolan wanita pecinta Adam.
"Baiklah, jika kalian mau bukti!" Manisya memutarkan kedua bola matanya sedang berfikir, hal apa yang harus dia lakukan untuk membuktikan jika Adam dan dirinya memang benar-benar berpacaran.
"Kalian Lihat, aku akan memanggil namanya dan melambaikan tangan kepadanya, jika dia melambaikan balik tangannya padaku, berarti aku ini memang spesial untuknya!" Jelas Manisya dengan sebuah kesepakatan di dalamnya.
"Hanya itu?" tanya salah seorang diantara mereka.
"Jika seperti itu, aku juga bisa?" tantang seorang wanita cantik dengan sebuah kaos polos yang menutupi badannya.
"Silahkan, kamu boleh mencobanya, jika dia membalas lambaian tangan dan teriakan mu berarti dia menyukaimu!" sebetulnya Manisya saat itu hanya senang saja menjahili mereka para gadis muda dengan wajah yang begitu cantiknya.
"Jika Adam tak merespon teriakan dan lambaian tangan kalian, dan sebaliknya Adam hanya merespon teriakan ku dan lambaian tanganku, kalian harus mengakui, jika Adam Benar-benar pacarku, jik Adam juga tak merespon teriakan ku, berarti nasib kita sama!"
Manisya mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman dengan penuh arti, sebetulnya ia menahan tertawanya yang ingin ia keluarkan saat itu juga, melihat muka-muka kecewa yang terpampang nyata di hadapannya. Manisya berencana menahan ketawanya sampai Adam tak memberinya respon pada teriakan dan lambaian tangannya.
"Kalian mau mencoba duluan?" tantang Manisya kepada Wanita-wanita tersebut.
"Apa kalian sudah bersiap dengan pertahanan patah hati kalian?, kalo kalian sudah bersiap, aku akan menunjukkannya pada kalian!" Kata Manisya dengan begitu percaya diri menepuk dadanya dengan menggunakan telapak tangannya.
Senang sekali rasanya menjahili wanita-wanita polos itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya!" ucap salah satu wanita dengan rambut yang di kuncir rapih.
"Silahkan, dengan senang hati!" Ucap Manisya dengan melebarkan kedua tangannya seperti posisi menyambut mempersilahkan pada gadis tersebut.
Tanpa sebuah aba-aba, gadis tersebut dengan segera berteriak memanggil Adam.
"Adam, hei, Adam, ini aku!" Adam yang tengah bermain, sejenak menatap ke arah suara yang memanggilnya, kemudian mengalihkan pandangannya, tak menghiraukan panggilan gadis tersebut.
Dalam hatinya Manisya terkekeh, "Kalau di pandang seperti itu sih, aku sudah biasa!"
Manisya menatap wanita yang mencoba memanggil Adam namun tak mendapat respon itu, mengusap secara perlahan punggung gadis itu, mencoba menghibur hatinya yang mengalami penolakan.
"Apa ada lagi yang mau mencoba?" Manisya memberi kesempatan wanita yang lain nya untuk mencoba berteriak dan melambaikan tangannya pada Adam.
"Adam hei, aku menyukaimu!" Teriak salah satu wanita sedang mencari perhatian Adam yang tengah sibuk bermain basket itu, kini mereka tidak fokus menonton sebuah pertandingan, tetapi fokus dalam pertandingan memperebutkan perhatian Adam.
Sang wanita sangat kecewa, sedikit pun Adam tak menghiraukan teriakannya, ia menundukkan kepalanya dengan mengedepankan bibirnya. Manisya yang merasa iba, seakan berkaca dengan dirinya sendiri menepuk bahu pundak wanita itu.
"Kamu harus kuat!"
Setelah semua wanita penggemar Adam melakukan sebuah panggilan, mencoba menarik perhatian Adam, kini tibalah Manisya untuk mengikuti mereka, berteriak dan melambaikan tangan pada Adam.
Saat itu Adam terlihat sedang beristirahat, mendengar sebuah arahan dari pelatih, sesekali Adam meng anggukan kepalanya saat sang pelatih memberi sebuah nasihat untuk memperbaiki pertandingannya.
Kala itu Adam, sedang memegang sebuah Handuk di tangannya sambil memperhatikan pelatih yang memberikan sebuah arahan kepada kelompok tim nya
"Sekarang giliran Mu!" Ucap seorang wanita seakan menjadi sebuah kompor untuk teman-teman nya.
"Iya cepat lakukan lah!"
"Cepat panggil dia!"
Terdengar di telinga Manisya suara-suara menyuruhnya untuk segera berteriak dan melambaikan tangannya pada Manisya, membuat Manisya ingin bergegas untuk berteriak dan melambaikan tangannya pada Adam.
Saat itu suasana di dalam gedung sedang sepi, para pemain pertandingan termasuk Adam, sedang melakukan istirahat tanpa pergi meninggalkan area pertandingan.
Manisya tiba-tiba berdiri, menatap ke arah Adam, ia perlahan menarik napasnya kemudian mengeluarkan nya secara teratur.
"Kalian lihatlah, cara mengungkapkan perasaan seperti ini!" Manisya berkata dengan membanggakan dirinya pada wanita - wanita yang di sana.
__ADS_1
Manisya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia Kembali menarik nafasnya, ia seperti sedang memberikan contoh pada wanita-wanita cantik yang duduk berdekatan dengannya.
"Adaaaaaamm!" Teriak Manisya yang begitu kencang membuat suasana di dalam gedung yang tengah sepi menjadi ramai seketika, semua mata kini menatap ke arahnya.
Adam menatap ke arah Manisya, ia sangat tahu betul suara yang memanggilnya berasal dari wanita yang selalu mengganggu hidupnya.
Dan Manisya begitu kaget, Manisya baru satu kali memanggilnya namun tiba-tiba Adam datang menghampirinya.
"Lihatlah, Adam datang kemari, dia benar-benar datang kemari!"
"Mereka benar-benar berpacaran!"
"Aku tidak menyangka!"
Bisikan suara tersebut berhasil sampai di telinga Manisya, ia hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Sepertinya aku melakukan kesalahan lagi!" Manisya hendak berlari meninggalkan kursi duduknya, namun karena tempat duduk Manisya terletak di depan tepatnya sangat dekat dengan area pertandingan, Membuatnya terlalu telat untuk melarikan diri, Adam yang dengan mudahnya melompati dinding penghalang antara area pertandingan dan kursi penonton, kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Mau kemana?" Tanya Adam sambil menarik tas Manisya.
"Aku? hehehe, aku mau ke toilet!"
"Akan aku antar!" Ucap Adam membuat Manisya merinding.
"Ti, tidak, tidak perlu, tiba-tiba saja hasrat ingin ke toiletnya menghilang." Jawab Manisya sambil memutar badannya menghadap kepada Adam.
"Ada apa memanggilku?" tanya Adam yang bertanya pada inti permasalahan.
Kini semua mata teman-teman wanitanya tak henti menatap ke arahnya, tepatnya menatap ke arah Adam, mengagumi ke indahan mahluk yang ada di hadapan Manisya saat ini.
"Aku hanya ingin memanggilmu!" jawab Manisya menyembunyikan kebohongannya.
"Apa kamu bikin ulah lagi?" tanya Adam masih menatap ke arah Manisya.
"Tidak!" Jawab Manisya memutar kedua bola matanya.
"Plak!" Jentikkan jemari Adam berhasil mendarat di dahi Manisya.
"Kenapa menyentil dahi ku!" Manisya mengerutkan bibirnya sambil mengusap dahinya yang kini menjadi merah.
"Menyebalkan sekali!" ucap Manisya sambil mengusap dahinya yang terlihat memerah.
Manisya memutarkan matanya, ternyata saat itu ia tengah menjadi sebuah pusat perhatian, semua mata menatap ke arahnya meminta penjelasan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu!"
"Apa kalian sedang melihat hantu?" tanya Manisya yang masih merasakan kesal dengan jentikan jemari Adam pada dahinya.
"Apa betul kamu pacaranya Adam?" tanya seorang wanita berambut panjang terurai kepada Manisya, namun semua mata menanti jawaban Manisya.
"Apa kalian lihat apa yang di lakukan nya kepada ku?" tanya Manisya menatap mata para wanita secara satu persatu.
"Jadi kalian beneran pacaran?" tanya yang lainnya mencoba mengartikan Manisya.
Manisya terkejut mendengar perkataan wanita itu, secara perlahan ia menggeleng kan kepalanya, "Kalian ini benar-benar!" sangat tidak peka, jawab Manisya seolah menyalahkan para geromobolan wanita.
"Baiklah aku minta maaf sebelumnya, aku telah membohongi kalian, aku sama seperti kalian, ngefans banget sama mahluk yang namanya Adam!" Manisya sambil menunjuk Adam dengan menggunakan jemarinya.
"Aku tidak percaya!"
"Ku juga!"
"Ya sama aku juga tidak percaya!"
"Aku juga!"
Dan perkataan yang sama masih terngiang di telinga Manisya.
"Ada apa ini, kenapa wanita-wanita ini menjadi tidak percaya kepadaku? kenapa mereka semua percaya jika aku adalah kekasihnya Adam!"
Manisya merasa ada yang salah dengan semua teman wanita yang baru ia kenal tersebut.
"Baiklah, terserah jika kalian tidak percaya!" Ucap Manisya sebenarnya heran, apa yang membuat mereka yakin jika dirinya dan Manisya berpacaran.
Pertandingan basket kini mulai kembali, mereka yang duduk dekat Manisya tetap berteriak memanggil nama Adam, dan seolah tak perduli dengan keyakinan mereka, jika Adam Manisya memiliki sebuah hubungan, mereka masih berteriak memanggil Nama Adam.
"Ada apa dengan mereka ini, tau jika aku pacarnya tapi masih berani-beraninya memanggil nama pacarku di hadapanku sendiri!"
__ADS_1
"Pacarku, ya Adam pacarku, hihi?" Manisya berkata dalam hatinya kemudian terkekeh sendiri sambil memanggil Adam dengan sebutan, "Pacarku!"
Saat itu, Manisya tidak benar-benar memperhatikan Adam yang tengah melakukan pertandingan basket, ia hanya merasakan kesal dalam hatinya saat semua wanita dalam ruangan itu tak berhenti memanggil nama Adam.
Saat, Manisya meninggalkan kursinya untuk pergi ke toilet saat sebuah panggilan alam tiba-tiba menyeruak datang menyelimuti seluruh tubuhnya, ia bergegas meninggalkan tempat duduknya itu.
Hanya sekitar 10 menitan, Manisya berada di dalam toliet, ia berjalan kembali untuk duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya.
Manisya tiba-tiba membelalakkan kedua matanya saat menatap ke area pertandingan bahwa Adam sudah tak terlihat lagi di sana.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Manisya kepada salah satu wanita yang duduk di pinggirnya.
"Saat pertandingan barusan ada yang pingsan!"
"Pingsan?" tanya Manisya sambil membulatkan kedua bola matanya, "Siapa yang pingsan?" tanya Manisya kembali.
"Entahlah, aku lupa namanya!"
"Bukan Adam kan?" tanya Manisya yang menampakkan raut muka khawatirnya.
"Bukan, dia baik-baik saja, dia hanya ikut menolong!" Jawaban Wanita cantik tersebut membuat hati Manisya tenang.
"Syukurlah!" Ucap Manisya saat mengetahui jika Adam baik-baik saja.
Menurut perkataan teman wanitanya, Pertandingan dihentikan untuk sementara waktu.
Saat itu Manisya masih menampakkan raut mukanya yang khawatirnya akan ke adaan Adam.
Tak terasa 30 menit telah berlalu, Manisya masih duduk di dalam stadion menunggu ke datangan Adam. Kala itu bangku- bangku yang awalnya terisi sebagian oleh para penonton pertandingan, kini mulai terlihat kosong, bahkan hanya dalam gedung tersebut hanya Manisya dan petugas kebersihan yang sedang membersihkan gedung tersebut.
2 Jam telah berlalu, Manisya yang sudah berusaha menghubungi Adam kala itu namun tidak mendapat jawaban, masih tidak menggerakkan tubuhnya dari kursi miliknya.
"Mba maaf, kita mau kunci gedungnya!" Petugas penjagaan menyapa Manisya untuk segera bergegas dari kursi sedari tadi tidak ia tinggalkan.
"Sudah mau tutup ya pak?"
"Iyah Mba, mba bisa tunggu diluar ya, di sana ada kursi juga!"
"Baik pak, terimakasih banyak!".
Manisya pun berjalan keluar gedung olah raga tersebut, kini sudah tak lagi nampak orang - orang yang tadi memenuhi gedung tersebut baik di dalam maupun di luar gedung, Manisya kini berada di luar gedung olahraga, ia menatap la arah langit yang sudah tidak lagi berwarna terang, Manisya melebarkan bibirnya saat ia melihat cahaya bintang di atas sana, seakan tersenyum menyapanya dalam kesunyian.
Tanpa sebuah jaket, Manisya duduk di sebuah kursi yang terletak didepan gedung, angin malam kini berhasil menyapu tubuhnya.
"Kenapa dia tak menjawab ponselnya ya! apa dia sudah pulang atau!" Manisya yang kala itu sudah melakukan berkali panggilan dan mengirimkan sebuah pesan kepada Adam namun tak kunjung mendapat balasan, akhirnya pasrah dengan ke adaan, memutuskan untuk menunggu Adam.
"Jangan berfikir yang tidak - tidak, aku hanya harus menunggunya!"
Manisya memainkan kakinya, sambil menatap bintang, "Apa yang sedang di lakukannya?"
"Apa mungkin dia melupakan aku yang menunggunya di sini?"
Manisya melirik ke arah jam yang terletak di atas pergelangan tangannya, saat ini menunjukkan pukul 08.30. namun kedatangan Adam masih belum nampak.
Jam 09.30, Manisya yang mulai kedinginan kini mulai merasakan ketakutan karena saat ini sudah terlalu malam untuk seorang wanita berkeliaran di luar sendirian, Manisya memutuskan untuk duduk menempel pada dinding gedung olahraga dengan memeluk lututnya.
Entah apa yang ada dalam fikiran Manisya saat itu, ia hanya mengingat janjinya pada Adam untuk tidak meninggalkan nya seusai pertandingan, untuk itu Manisya masih tetap berada di sana.
Tiba-tiba sorot lampu sebuah mobil datang menghampiri Manisya, namun tak di indahkan nya, ia hanya berpangku pada lututnya dengan wajah bertelungkup.
Seseorang keluar dari mobil, menghampiri pos pengamanan.
"Tadi saya liat sih mas, mbaknya masih duduk di kursi di dalam, tapi gedungnya mau saya kunci, jadi saya sarankan mbaknya duduk di kursi luar Mas!"
Kemudian terdengar suara langkah kaki berlari dari pos penjagaan menuju gedung olahraga,
"Sya, Sya, di mana kamu!" teriak kaki-laki tersebut memanggil Manisya. Laki-laki itu tak lain adalah Adam. Ia berusaha mencari Manisya ke segala tempat namun tidak menemukan.
"Sya.. Sya.. kamu dimana!" teriak Adam masih memanggil Manisya.
Adam kini terlihat frustasi di buatnya, berkali kali ia menendang kan kakinya di atas tanah, mengusap gusar wajahnya, serat mengacak-acak rambut tebalnya sudah ia lakukan, namun Manisya tak kunjung di temukan.
Dengan perasaan khawatir, takut , dan bingung Adam memasuki Kembali mobil miliknya, setelah duduk di kursi kemudinya, Adam menyipitkan kedua matanya saat melihat seorang wanita dari sorot lampu mobil miliknya , dengan segera Adam menghampiri wanita tersebut.
"Hei, apa yang kamu lakukan disini? wanita bodoh!" Adam memberi sentuhan pada pada kepala Manisya, Manisya pun mengangkat wajahnya menatap sendu ke arah Adam.
"Aku menunggu mu!"
__ADS_1