Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Rumah Kakek Adam.


__ADS_3

Saat di tengah tawa canda Adam dan Manisya tepat di depan pintu Masuk rumah kakek Adam, tiba-tiba pintu terbuka sebelum mereka membukanya, seseorang datang dari arah pintu dengan wajah yang sangat masam.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Mereka berdua terperanjat mendengar sapaan yang tak terduga dari arah pintu rumah.


"Kakek!" Adam menyapa kakek nya yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempat Adam dan Manisya bekerja selama ini.


Apa yang terjadi dengan Manisya mengetahui Kakek Adam memergoki mereka sedang bercanda tepat di hadapannya dengan memasang muka masam, tentu saja hal itu membuat seluruh tubuhnya serasa membeku seketika, jantungnya berpacu sangat cepat, telapak tangannya mengeluarkan keringat pertanda ia sangat gugup.


"Kakek aku membawa..!" Belum sempat Adam melanjutkan ucapannya hendak memperkenalkan Manisya kepada kakeknya, sang Kakek segera memotong ucapan Adam dengan sengaja.


"Masuklah semuanya sedang menunggumu di dalam, sudah terlalu lama mereka menunggu!"


Benar apa yang selama ini Manisya duga, ia benar-benar merasa tak di anggap saat itu, Kakek Adam hanya menyapa cucunya sangat ramah sedangkan dirinya sama sekali tak dianggap, memandang setitik ke arahnya pun seakan enggan, sudah Manisya perkiraan memang hal ini akan terjadi, namun tetap saja walaupun sesuai dugaannya, tapi mungkin tak sekuat itu.


Kakek Adam membelakangi badannya dan segera masuk ke dalam rumah, itu juga merupakan suatu isyarat agar Adam segera masuk mengikuti langkah kakinya.


Adam menarik tangan Manisya agar bersama melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, namun tangan Manisya menarik lengan Adam dengan segera.


"Em, apa ini bukan acara untuk keluarga saja, apa tidak apa-apa jika aku masuk ke dalam?" Rasa ragu yang semakin besar membuat nya memberanikan diri untuk bertanya kembali kepada Adam.


"Ya ini memang acara keluarga saja, dan kamu datang bersamaku, kamu tamuku, tidak apa-apa tenang saja!"


"Tapi aku takut keluarga mu akan keberatan jika aku ikut bergabung dalam acaranya!" Rasa ragu yang tak kunjung pergi membuatnya kembali bertanya pada Adam.


"Bukankah kamu juga akan menjadi bagian keluarga besar kita nantinya!"


"Keluarga besar!" Manisya membesarkan matanya dengan kedua alisnya sengaja ia angkat ke atas.


"Jangan bertanya lagi, masuk saja!" Adam menarik tangan Manisya dengan sedikit memaksanya, berkat ucapan Adam, ada rasa bahagia menyeruak dalam hatinya membuat keraguannya seketika menghilang, ya Manisya sangat senang mendengar ucapannya Adam tentang kedepannya ia akan menjadi keluarga besar.


Manisya berjalan dengan penuh percaya diri dengan kedua sudut bibirnya tertarik sempurna, mengekori Adam yang sudah berjalan di depannya.


"Keluarga besar? ya keluarga besar, kedepannya akan menjadi bagian dari keluarga besarnya!" Ucapan tersebut ia ulang kembali berharap rasa percaya dirinya tumbuh semakin besar demi menghadapi riuk dalam hubungannya dengan Adam, itu sangat berhasil, buktinya kini ia sangat bersemangat.


"Ya?" Tiba-tiba Adam bertanya.


Manisya mengangkat alisnya kembali sambil tersenyum menatap Adam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku hanya sedang bersemangat!"


"Baguslah!"


Akhirnya Manisya menginjakkan kaki ke dalam rumah Kakek Adam, pintu yang menjulang tinggi, lebih 2 kali lipat tinggi ukuran badannya menyambut kedatangannya, Rumah bergaya klasik dengan perabotan mewah yang terlihat terawat bersih memanjakan mata Manisya, sempat-sempatnya Manisya membayangkan jika salah satu barang itu tak sengaja ia pecahkan, mungkin saja seumur hidupnya ia harus menanggung cicilan untuk membayar keruskan tersebut, ah bahkan uang yang sempat ia pinjam untuk Adam saja belum terkumpul penuh dalam tabungannya, segera mengalihkan lamunannya yang tak berarti itu, menatap lurus ke tempat ruang makan.


"Sayang, kamu baru datang!" Wanita berparas cantik yang sudah tak asing lagi di mata Manisya menyambut ke datangan Adam, segera memeluk Adam dengan penuh kebahagiaan terpancar dari wajahnya.


"Maaf aku terlambat!" Jawab Adam sambil membalas pelukan wanita yang masih terlihat muda itu tak lain adalah ibunya sendiri.


Setelah Ibu dan Anak itu berpelukan, Kedua matanya beralih pada Wanita yang sedari tadi berdiri tepat di samping Adam memperhatikan ke arah tersebut, wanita itu tak lain adalah Manisya, senyumannya melebar memandangi Manisya yang juga menatap dengan ramah pada ibu Adam.


"Kamu juga ikut sayang!" Memeluk Manisya.


"Menantuku!" Bisik Sang Ibu di telinga Manisya, membuatnya sangat terkejut, dan segera membulatkan kedua bola matanya.


"I Iyah, tadi Adam mengajak saya, hehe!" Senyum Manisya nampak grogi.


"Sudah lama sekali tidak melihat mu! kamu terlihat berbeda sekarang, tambah cantik!"


"Hehe!" Senyuman Manisya menyeringai bersama dengan kedua pipi nya yang merona.


Setelah itu terlihat Sang Ayah pun mengekori wanita yang menjadi istrinya, bergantian menyapa Adam dan Manisya.


"Iya Baik!" Jawab Manisya.


Saat kakiknya semakin mendekat ke arah meja makan, keringat dingin kini tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya, dari kejauhan ia melihat seorang laki-laki paruh baya sedang menyantap makanan yang tersaji di atas meja makan, sejenak mata Manisya dan laki-laki paruh baya itu yang tak lain adalah Kakek Adam saling menatap, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang saat ia merasakan tatapan yang tak bersahabat dari laki-laki yang sekaligus menjadi CEO di perusahaannya.


Saat itu tiba-tiba Adam menggenggam tangannya untuk sesaat, mengusapnya dengan lembut, sambil menatap Manisya seakan memberi sebuah kekuatan saat itu, "Tenanglah tak usah gugup, aku bersamamu!"


Dan sang kakek mendapati cucunya melakukan hal yang Manis kepada Manisya membuat tatapannya semakin tidak bersahabat kepada Manisya.


"Kau tidak mengajak Bagas?" Tanya Sang Kakek setelah melepas pelukan Adam, matanya menyipit kepada Manisya namun bibir berkata kepada Adam.


"Tidak, dia bisa menyetir sendiri!" Jawab Adam secara ketus.


"Malam tuan, eh kakek, eh Pak!" Manisya mengulurkan tangannya kepada sang Kakek, Manisya begitu gugup saat harus menyapa Kakek Adam yang merupakan CEO di perusahaannya.


"Panggil saja dia Kakek!" Adam meluruskan ucapan Manisya yang terlihat kebingungan memanggil kakeknya.

__ADS_1


"Tidak, panggil aku tuan!" Jawab Pria Paruh baya itu tak terima Adam dengan ucapan Adam.


"Ini di rumah, Kamu harus memanggilnya Kakek!" Jawab Adam seakan memberi peringatan kepada Manisya dan juga kakeknya, Adam tak mau kalah.


"Sudah sudah, terserah kamu saja mau panggil apa! ayo duduk kita makan bersama!" Giliran sang Ibu menengahi perselisihan yang semakin menegang di antara mereka.


"Panggil dia Kakek!" Adam memberi perintah masih tetap mempertahankan keinginan supaya Manisya memanggilnya Kakek.


"Baik!" Jawab Manisya yang sudah mendaratkan tubuhnya di atas kursi makan, ia Begitu gugup merasa pernah merasakan hal yang sama saat Adam memperlakukan dirinya jauh sebelum akhirnya ia mendapat kan hatinya.


"Ya ampun mereka benar-benar sama!" Ucap Manisya dalam hatinya, memang tingkah kakek Adam dan Adam sangat mirip.


Begitulah hubungan antara Sang Kakek dan Adam, Sang Kakek sangat menyayangi cucunya dengan cara yang berbeda, mereka kerap bertengkar seperti anak kecil saat berdebat sesuatu, karena memang hubungan mereka yang terbilang sangat dekat, namun akhir-akhir ini hubungan Adam dan sang kakek tidak terlalu baik.


Setelah Ibu Adam mempersilahkan Adam dan Manisya menyantap makanan dengan menu lengkap yang tersedia di atas meja, keheningan terjadi beberapa saat, hanya sesekali terdengar suara sendok garpu berebut memainkan nada di atas piring, ya mereka sama sekali tak berbicara saat menyantap makan malam tersebut.


"Ada apa kakek mengundangku kemari?" Tanya Adam setelah semua orang selesai menyantap makan malamnya.


"Bukankah seharusnya seorang cucu mengunjungi Kakeknya?"


Adam terdiam tak menjawab ucapan sang kakek, karena ia memang sudah lama sekali setelah kembali ke Indonesia belum berkunjung ke tempat kakeknya.


"Maaf aku belum sempat mengunjungi kakek!"


"Apa dia yang melarang mu untuk mengunjungiku?" Menunjuk Manisya dengan tatapan tajam sang Kakek.


"Ti tidak, tidak!" Jawab Manisya tak ingin di salahkan atas apa yang tidak ia lakukan.


"Ayah sudah lah, bukankah Dia juga sudah datang?" Sang ibu sudah merasa gemas dengan tingkah sang Ayah yang sangat kenakan-kanakan.


"Aku akan menentukan tanggal pernikahanmu!"


"Pernikahan? Apa maksud kakek?" Adam sangat terkejut mendengar ucapan kakeknya.


"Bukankah aku sudah mengatakan kamu harus menikah dengan anak dari rekan kerja kakek, dia wanita yang baik dengan pendidikan yang tinggi, dia sangat pintar!"


"Brug!" Ucapan Sang Kakek membuat perasaan Manisya diremas-remas, tubuhnya melemas seketika, sama sekali ia tak bisa lagi berucap, bibirnya seakan membeku.


"Apa maksud kakek?" Adam menaikkan suaranya.

__ADS_1


"Tanggal pernikahan? yang benar saja! Apa kakek tidak lihat aku sudah membawa seorang wanita hari ini? dan aku juga sudah bilang jangan pernah ikut campur urusanku! aku sudah mempunyai wanita pilihanku sendiri!" Adam berkata Dengan sejuta emosi bergemuruh dalam dadanya namun masih ia simpan baik-baik tak sepenuhnya ia lampiaskan.


"Kau tahu, aku tidak menyukainya, sangat tidak menyukainya!"


__ADS_2