Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Menemuinya


__ADS_3

"Wanita keras kepala, Wanita bodoh, Wanita menyebalkan, Wanita pembuat masalah, Wanita kurang ajar, Akkh sial"


Adam yang masih emosi, mengeluarkan kata-kata makian yang di tujukan kepada Manisya, ia mengusap gusar mukanya dengan telapak tangannya.


Pak Komar yang kaget mendengar kata makian Adam karena ia mengira Adam sedang tidur, refleks menoleh ke arah Adam.


"Mas kenapa toh?" tanya Pak Komar sangat penasaran.


Adam tak menjawab, ia kembali memejamkan kedua matanya.


"Jangan gitu Mas, itu ga baik" Pak Komar mengingatkan.


"Soal neng Manisya ya, apa yang bisa saya bantu mas?" tanya Pak Komar.


"Mengajak seorang gadis bodoh masuk mobil saja tidak bisa" Jawab Adam sangat tepat sasaran, membuat Pak Komar enggan berkata kembali.


***


Manisya yang kini duduk di kursi tepatnya duduk di belakang kemudi taxi online, mencoba berfikir, mencerna apa yang sedang terjadi, ia menatap kosong ke arah jendela sesekali ia mengusap kedua pipinya karena buliran airmata yang tiba-tiba berjatuhan sudah tak lagi bisa ia tahan, Manisya sedang bingung dengan perasaannya.


"Apa maksudnya menciumku, dia bahkan mengambil ciuman pertamaku, dia adalah laki-laki menyebalkan yang pernah aku temui, kenapa aku harus begitu suka pada nya, tidak aku kini sangat membencinya, aku sangat benci."


Manisya terhanyut dalam fikirannya, sesekali menyeka kedua matanya yang di penuhi air mata. Manisya hanya merasakan kekesalan yang memuncak dalam hatinya. Ia pun menyenderkan kepalanya dia atas kursi, memejamkan kedua matanya bukan karena mengantuk, melainkan berusaha untuk menenangkan fikirannya.


Sesampainya di rumah, Manisya yang kedua matanya kini sembab akibat ulah Adam, tak ingin menampakkan mukanya di hadapan kedua orangtua nya, takut jika sejumlah pertanyaan di lontarkan kepadanya, beruntung kedua orangtua Manisya sedang tidak berada di rumah, ia pun segera masuk ke dalam kamar mengganti baju, dan membersihkan seluruh badannya sebelum akhirnya merbahkan diri ke atas kasur.


Saat Manisya mencoba memejamkan matanya, ia mendengar bunyi ponselnya bergetar, "drrt drrrt drrrt drrr" dengan perasaan Malas ia pun meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas tersebut. Saat Manisya berhasil meraih ponselnya, seketika ia membulatkan kedua matanya di ikuti dengan mengangkat kedua alisnya, di layar ponsel Manisya tertera nama yang selama ini selalu ia nantikan panggilan telepon darinya.


"Adamku memanggil"


Itu merupakan panggilan telepon dari Adam sang idola, namun bukannya ia jawab panggilan telepon tersebut, Manisya hanya menatapnya dengan bingung, sampai akhirnya panggilanpun terputus.


"Apa yang aku lakukan, kenapa aku tidak menjawab panggilannya, sial, aaaa" Manisya yang sedari tadi menekuk wajahnya kini berubah seketika, dengan mata yang sembab namun air muka yang bahagia.


Saking kagetnya ia lupa untuk mengangkat panggilan telepon dari Adam. Manisya yang menyesal menghetak-hetakan kakiknya serta memukul-mukul kasur yang yang sedang ia tiduri. "Aaaaaa kenapa aku tidak mengangkatnya". Meluapkan kekecewaan atas kelakuaknnya sendiri.


Tak lama setelah itu ponsel Manisya bergetar kembali. "Drrrt drrrt drrrt" Manisya melebarkan bibir tipisnya dan membulatkan kedua bola matanya saat mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari panggilan Adam, dengan segera Manisya mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo" Manisya mulai menyapa.


"Di mana lo? " Adam bertanya.


"Ada apa kamu telepn Dam?" balik bertanya.


"Gua tanya lo di mana?" Adam.


"Aku di rumah" Jawab Manisya.


"Keluar" Adam memberi sebuah perintah.


"Keluar? Maksut kamu Apa?"


"Gua di depan rumah lo" jawba Adam yang membuat manisya seketika kaget.


"Kamu serius Dam?" Manisya masih tidak percaya.


"Gua kasih waktu satu menit buat lo keluar" Adam memperingatkan Manisya.


Kemudian Manisya segera turun dari kasur, membuka gordeng kamarnya yang menampakkan bagian depan rumahnya hingga jalanan yang tak pernah berhenti di lalaui kendaraan bermotor pun terlihat, Manisya menyipitkan kedua matanya saat melihat sosok yang tengah berdiri tepat di sebuah sepeda motor.


"Dia benar-benar datang" kemudian Manisya mentutup kembali gordeng kamarnya untuk segera bergegas menemui Adam yang tengah menunggunya di tepat di depan rumahnya.


"Sedang apa di sini dam?" tanya Manisya yang baru sampai menghampiri Adam


Adam menatap ke arah Manisya, tepatnya melihat ke arah matanya yang bengkak, kemudian melihat ke arah hidung manisya yang memerah, Adampun sedikit mengerutkan dahinya, ia pun mengerti hal itu terjadi saat seseorang telah menangis.


"Kenapa mata dan hidung lo" tanya Adam walaupun ia sudah mengetahui penyebabanya.


Nisya merasa kaget karena ia lupa sebelum terima panggilan dari Adam, ia baru selesai menata hatinya, dan saat itu pula airmatanya baru mengering akibat insiden dengan Adam di dalam bis, Manisya menepuk nepuk kelopak mata dan hidung merahnya dengan kedua tangannya bermaksud untuk menutupinya.


"Enggak dam aku gak kenapa-napa ini tadi abis makan yang pedas-pedas" jawab Manisya dengan nada kelagapan, karena ia tak pandai dalam berbohong. Perasaan bencinya kini terkubur saat bertemu dengan Adam, ia kembali dengan perasaan mengagumi seorang Adam.


"Kamu ada apa ke sini dam" Manisya bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Ada yang mau gua omongin." Adam memberikan sebuah helm kepada Manisya, bermaksut agar ia memakainya kemudian ikut dengannya menaiki sepeda motor yang kini sudah ia naiki.

__ADS_1


"Lihatlah pakainaku!" Menujukkan piyama yang ia kenakan dengan menarik sedikit baju Manisya dengan kedua tangannya


"Apa kamu tidak keberatan jika berbicara di sini saja, atau di rumahku?." "Aku sedang tidak ingin keluar." Menangis membuat manisya kehilangan tenaganya, karena itulah ia menolak ajakan Adam.


"Apa lo lagi nolak gua?" Tanya Adam dengan memperlihatkan air muka tak senang kepada Manisya.


"Maaf, bukan begitu maksudku, aku hanya sedikit lelah" Manisya menundukan kepalanya tak ingin melihat tatapan kesal Adam yang akan membuat seluruh badannya semakin melemas.


"Baiklah gua ngomong di sini"


"Gua minta lo lupain kejadian di BIS tadi!." Perkataan Adam tersebut membuat terkejut Manisya hingga ia merasakan dadanya yang sesak menahan rasa sakit.


"Kenapa memangnya?" tanya manisya mengerutkan bibirnya sambil menahan linangan airmata yang perlahan memenuhi kedua kelopak matanya.


"Tidak ada alasan, gua hanya minta lo lupain kejadian di Bis tadi" Adam kembali dengan kata-katanya.


"Kamu ke sini hanya untuk menyampaikan itu" tanya manisya menahan tenggorokannya yang semakin mengering.


"Tidak, ada hal lain yang ingin gua omongin juha sama lo" Jawab Adam.


"Ini tentang utang lo" Adam meneruskan.


Adam yang belum selesai berbicara di potong oleh Manisya yang kini ia sudah tak bisa membendung airmatanya "Kenapa kamu selalu seenakanya jika berbicara denganku"


Menarik nafasnya kemudian berkata kembali.


"Kamu tahu ada hal yang tidak bisa kita lupakan seumur hidup, dan tentang hutangku pasti aku akan membayarnya, bersabarlah aku sedang mencari pekerjaan." Airmatanya berjatuhan meluapkan emosinya yang tak terima Adam menyuruhnya melupakan ciuman pertamanya.


Manisya mentap Adam dengan air mata yang mengalir, kemudian ia usap kedua matanya menggunakan tangannya agar tidak menghalangi pandangannya dan berharap airmatanya segera mengering, namun airmatanya tetap mengalir deras mewakili perasaannya.


"Bukan..." Saat Adam hendak berbicara kembali, Manisya berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi meninggalkannya.


Adam menarik nafasnya kemudian mengusap gusar wajahnya, tersirat kebingungan di dalam wajahnya, awalnya Adam berniat meluruskan semuanya namun kini situasinya malah semakin rumit.


"Wanita Bodoh." Berkata sambil menatap ke arah Manisya, tepanya bagian belakang tubuh wanita yang selalu berhasil membuatnya jengkel tersebut.


Setelah tak terlihat lagi sosok tubuh Manisya dari pandangannya, Ia pun menaiki sepeda motor miliknya yang terpakir tepat di pinggirnya, Adam pun melajukan kencang motor yang ia kendarai.

__ADS_1


__ADS_2