
Pembunuh bayaran palsu perenggut keperawananku
#Mual karena Hamil
Di sebuah kampung di kaki gunung. Tampak seorang wanita cantik langsing yang sedang terlihat sakit.
"Huak huak huak." Shaina muntah-muntah karena kehamilannya.
"Nak," seorang ibu mendekati putrinya yang sedang muntah- muntah.
"Ummi, maafkan Shaina Mi, karena kesalahan Shaina hidup kita jadi begini." Ternyata itu Shaina dan juga ibunya. Mereka sudah pindah ke desa lain dan berada di pedalaman.
"Sudah lah Nak, jangan bersedih, ini semua sudah takdir, ini juga kecerobohan Ummi, kalau saja Ummi menutup pintu itu rapat-rapat, pasti semua ini tidak terjadi, hik hik hik." Ibunya yang bilang jangan sedih, malah ibunya yang nangis duluan.
Sudah 4 bulan sejak kejadian itu Shaina tidak pernah lagi bertemu dengan Damon. No Hp yang dulu di simpan Shaina pun sudah di buangnya, karena no itu tidak pernah aktif. Dia juga sudah putus dengan tunangannya Faruz.
"Tidak Mi, ini juga salah Shaina, hik."
Akhirnya mereka berdua pun menangis bersama.
"Mi, minggu depan, Shaina akan di kirim ke perusahaan di bidang konveksi untuk kunjungan, apakah Ummi mau ikut?"
"Emang berapa hari Nak?"
"Sehati aja Mi," jawab Shaina.
"Nggak usah ah, lebih baik aku berkebun saja, biar kebunku bersih dan subur." Jawabnya lagi. Ibu Shaina berkebun saat datang ke desa ini, Sedang Shaina bekerja di sebuah Toko baju yang ada di pinggir kota berjarak 12KM dari tmpat tinggalnya.
"Baiklah Bu, Shaina mau mandi lagi dulu, baru berangkat kerja."
Shaina pun mandi di dapur kayu, karena di desa tersebut tidak ada Kamar mandi seperti di kota-kota. Selesai mandi mereka pun makan pagi bersma.
"Ibu Shaina berangkat dulu ya." Setelah salim Shaina pun pergi dengan mengendarai motor maticnya.
Selang beberapa menit dia pun sampai.
"Halo Bumil, tambah cantik aja deh," Seorang wanita lebih tua dsri Shaina menyapanya ramah.
"Ah ibu bisa aja, ibu juga sangat cantik Kok." Mereka pun berbicara panjang lebar masalah pekerjaan, dan selesai mambahasnya.Mereka pin santai di meja masing-masing.
"Aneh banget ya ini medsos, kadang ada orang ngegombal, kadang puisi aneh, lah ini mencari pemilik selayar, oh tunggu, dia seorang pengusaha kaya raya, coba lihat Shaina. Rara memperlihatkan layar Hpnya pada Shaina, karena meja mereka berdampingan.
Deg
Hati Shaina berdetak sangat kuat.
"Selayar itu?" Shaina sangat terkejut ketika melihat selayar miliknya 4 bulan silam.
"Ada apa Shain, kok mukamu pucat gitu sih?"
"Oh enggak Mbak, mungkin kelelahan saja, aku mau ke kamar mandi duku ya."
Shaina lun pergi meninggalkan ruangannya.
Apakah benar lelaki itu mencariku, apa Aku harus menemuinya?
Aku merasa sangat malu
Oh iya, apa nama FB nya tadi ya
Mengapa aku lupa melihat namanya.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Shaina pun kembali keruangannya dengan hati yang masih berdetak kencang.
ketika masuk ruangan.
"Huak..huak..huak.." Shaina kembali mual-mual dan dia pun terpaksa kembali ke kamar mandi.
Nak, apakah ayahmu tau, kalau kau sudah tumbuh di sini tanpa dasar cinta?
mengapa ayahmu baru mencarimu sekarang?
Shaina tampak merenung sendiri di kamar kecil. Selesai membersihkan mulutnya bekas muntah, dia pun keluar menuju kantin. Shaina makan siang sendirian.
"Shaina, aku mau bicara." seorang lelaki tampan mendekatinya, dan mengajaknya pergi dari kantin itu.
"Aku baru mau makan Mas, sudah memesan makanan."
"Tinggalkan saja, Bu bungkus saja ya, nanti saya ambil milik perempuan ini."
Pria iti langsung menarik tangan Shaina.
"Lepaskan Mas!" Lelaki iti lun melepas legangan tangannya.
mereka berjalan menuju parkiran monil.
"Aku duduk di belakang saja Mas, kita bukan muhrim."
"Bagaimana kita bicara kalau kau di belakang?" Protes Pria itu.
"Mas Hendra, apa yang ingin Mas bicarakan?"
Mereka pun sudah di dalam mobil dan melaju di jalanan yang terlihat sepi, karena masih jam kerja, juga bukan kota besar.
"Aku akan membawamu pada orang tuaku."
"Mas, aku sedang hamil, aku tidak boleh menikah Mas." Shaina terlihat panik.
"Kita akan tunangan dulu, setelah melahirkan barulah kita menikah."
Jawab Hendra.
"Mas,"
"Jangan membantah, saat kau menjadi tunanganku, aku akan membiayai hidupmu, kau tidak perlu bekerja keras seperti ini, suami macam apa yang meninggalkan wanitanya dalam keadaan hamil seperti ini?, keterlaluan kau juga slalu menolakku, padahal apa kurang ku coba! aku tampan, kaya, perhatian." ish lelaki ini sangat percaya diri.?.
Shaina hanya tersenyum pria didepannya memuji dirinya sendiri.
Hendra adalah lelaki kaya Bos perusahaan dia bekerja, ayahnya memberikannya perusahaan itu untuk Hendra, ada banyak perusahaan lainnya di kota besar yang dimiliki ayah Hendra. dia tidak sombong sangat naik hati kepada karyawannya.Semua wanita di kantor memujanya. Bahkan ada beberapa karyawan yang menggunjing.
Bos macam apa itu, masih banyak wanita yang lebih cantik dan singgle malah memilih wanita hamil di tinggal suami
jangan-jangan bukan di tinggal
mungkin saja hamil di luar nikah
Suara-suara seperti itu kerap sampai di telinga Shaina, namun karena Shaina butuh biaya hidup dia harus bertahan.
__ADS_1
Mereka pun sampai di Mansion Hendra, rumah mewah dengan halaman seperti lapangan bola.
"Assalamualaikum," Saat masuk Shaina pun mengucap salam, padahal Hendra lebih dulu masuk, mungkin Hendra tidak terbiasa mengucap salam.
"Waalaikumussalam, Eh Hendra, sama siapa itu?" Seorang wanita cantik, berkulit mulus dan langsing sedang duduk santai di sofa ruang tamu. Shaina pun menyalaminya dengan mencium tangan Ibu tersebut.
"Ini Shaina Bu, karyawan dari kantor." Jawab Hendra.
"Papa mana Bu? aku ingin bicara." Hendra pun duduk di samping ibunya, sedang Shaina duduk di Singgle sofa di sebrang ibu Hendra.
"Di kamar, bicara apa sih?" Ibunya pun berdiri memanggil suaminya. Tak berapa lama mereka keluar bersama.
"Hendra, ada masalah apalagi di kantor?" Tanya Ayahnya, Ayahnya terlihat lebih tua dari ibunya, mungkin karena lelaki tidak perawatan kale ya.
"Kemarilah Pah!" Hendra pun berdiri dan menyongsong kedatangan Ayahnya.
"Kenalin ini Shaina,." Shaina merapatkan ke dua tangannya, Dia tidak pernah bersalaman dengan lelaki manapun.
"Lesmana." Ayah Hendra memperkenalkan diri.
"Shaina Om."
"Pah aku ingin melamar Shaina."
"Hah!?........." Ibunya langsung melotot menatap anak semata wayangnya itu.
Sementara Ayahnya menatap Sahina dari kaki sampai kepala.
"Dia sedang hamil anakmu?" Pa Lesmana penasaran, bukankah Shaina sedang hamil, mengapa di lamar. Shaina pun tampak salah tingkah.
"Bukan Pah, dia...." Hendra melirik Shaina, antara mau bercerita atau menyembunyikan.
"Shaina, dia di tinggal oleh suaminya saat hamil muda." Ibunya pun terlihat mendelik, wajahnya terlihat Masam, kayaknya ibunya tidak merestui hubungan mereka.
"Bukankah seorang wanita hamil tidak boleh menikah?" Pak Lesmana terlihat biasa saja.
"Kami akan menundanya sampai dia melahirkan Pah." Hendra sangat yakin Ayahnya akan merestuinya.
"Terserah kau saja Hen, Papah hanya menuruti ke inginanmu saja, apa yang membuatmu bahagia."
"Pah, bagaimana dengan Santi? dia sangat berharap bisa jadi menantuku." Ibunya menyelang pembicaraan mereka.
"Aku tidak pernah menerimanya Bu, ibu saja yang terus mengajaknya ke sini." Jawab Hendra ketus. Shaina tambah salah tingkah melihat pertengkaran ibu dan anak itu.
"Sudah..sudah, itu terserah Hendra saja, aku tak mau ikut campur." Ucap Ayahnya lagi.
"Pah!" Pekik istrinya, sementara Hendra terlihat tersenyum.
"Ayo sayang!" Hendra pun pamit, Shaina pengen salaman dengan Ibu Hendra namun dengan sengaja Ibu Hendra berpaling dan pura-pura tidak melihat. Hendra pun segera meraih pergelangan tangan Shaina dan menariknya keluar.
"Kau tidak usah menghiraukannya anggap saja dia tidak ada."
Hendra membukakan pintu Mobil belakang dan menutupnya.
Mereka pun pergi ke sebuah restauran termahal di kota itu.
"Mas, kenapa harus ke sini? aku bisa makan apa saja ko!" Shaina merasa tidak enak di traktir dengan makanan yang mahal.
"Kamu harus terbiasa makan di tempat beginian, ayo!" Hendra pun mempersilahkan Shaina duluan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1