Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Shaina Hilang karena Depresi


__ADS_3

"Nona? Kau mau kemana? ini sudah malam Nona?" Teriak seorang laki laki yang berpapasan dengan Shaina. Namun Shaina tidak memperdulikannya, lelaki itu pun juga melanjutkan perjalanannya.


"Nona...kau siapa? mana sendal mu nak?" Seorang perempuan yang sedang jualan sate pun menyapa Shaina heran, karena Shaina tidak lagi memakai sendalnya.


"Aneh, wanita itu tampak bersih walau sedikit acak acakan, apa dia orgil baru ya? kasian, cantik, takutnya di apa apain sama orang mabok?" Gumamnya.


Shaina tetap berjalan.


"Lihat, ada gadis cantik tuh, ayo!" 3 orang berandalan jalanan yang lewat di jalan itu pun menghampiri Shaina.


"Hey cantik! mau ke mana?" Shaina tidak memperdulikan mereka. Mereka pun mengikuti.


"Kita bawa saja yuk, kayaknya dia lagi depresi tuh, lihatlah, kakinya juga nggak pake sendal, pasti orang gila baru, masih bersih euy." Ucap salah seorang pemuda sambil tertawa kecil.


Mereka bertiga pun mendekat dan mencengkram tangan Shaina kasar.


"Lepaskan!" Teriak Shaina keras, namun mereka semakin erat mencengkram dan membawa Shaina menjauh dari jalanan.


"Hey siapa kalian, lepaskan wanita itu." Teriak seorang lelaki yang kebetulan lewat.


"Kau jangan ikut campur, ini urusan kami." ucap pemuda pemuda tersebut.


"Kalian ingin berbuat jahat kan, lepaskan!" pria itu mendekat, namun pemuda berandalan mengeluarkan pisau, membuat pria itu mundur.


"Awas kalian!" Pria itu berlari menjauh, mungkin dia mau mencari bantuan.

__ADS_1


🌷


"Bu apakah kau melihat seorang wanita berjalan melewati anda?" Tanya Fathir pada pedagang Sate.


"Oh sana Tuan, apa Tuan keluarganya?" Ibu itu pun ikut mengiringi Fathir seakan akan ingin menemui Shaina.


Aku suaminya bu." Bohong Fathir.


"Tadi arah sini, udah nggak kelihatan, kamu terus aja sana ya. kenapa dia jalan sendirian?" Ucap Ibu itu terlihat menyalahkan Fathir.


"Terimakasih bu." Fathir pun berlari menyusuri jalanan malam yang semakin gelap. tambah ada beberapa lampu jalanan yang padam.


"Tuan, tolong, ada wanita di sana sedang di sandra segerombolan lelaki." Ucap pemuda yang tadi ingin menolong Shaina.


"Di mana?" Pria itu pun berlari menuju di mana dia bertemu Shaina tadi, di ikuti Fathir yang bersemangat. Namun Shaina sudah tidak terlihat.


🌷


Tok tok tok


"Mi, assalamualaikum." Hendra mengetuk pintu mamahnya berada.


Ceklek


"Shaina mana Mah, kok belum balik ke kamar?" Tanya Hendra heran.

__ADS_1


"Tadi sama Ummi, mungkin di bawah." Ucap Ny.Linggar.


"Oh baiklah, aku,akan ke bawah sebentar." Ucap Hendra.


"Nak jangan, tunggu saja di kamarmu, tadi Zahwa rewel mungkin lagi nenangin." Bohong Mamah Hendra. Padahal Ummi ada di kamar dan bersembunyi. Karena Ummi sudah bercerita perihal kehilangan Shaina pada Ny.Linggar.


"Kalau begitu aku di kamar mamah aja." Hendra pun mau masuk.


"Jangan... di sini berantakan Mamah baru mau rapi in baju dari koper ayo!" Ny.Linggar pun menarik tangan Hanan dan menutup pintunya dari luar. Ny.Linggar ikut ke kamar Hendra.


"Mamah nggak papa kok berantakan."


"Biar mamah yang ke kamar kamu, biar mamah temenin ayo!" Ny.Linggar pun menggandeng tangan anaknya. Tak terasa butiran bening menetes di ujung matanya.


Benarkah tangan ini tak nisa lagi ku raih setelah 2 tahun ke depan?


mengapa begitu cepat ya Tuhaaan


Lirihnya.


🌷


"Shainaaaa, kau di mana?" Fathir terus berteriak teriak. namun yang di panggil tidak menyahut.


Sementara Shaina yang ada tak jauh dari Fathir, berontak, namun mulutnya di sumbat baju pemuda berandalan dan tangannya pun di pegangi mereka. Apa daya Shaina yang imut kecil tak mampu melawan, semakin lama tenaganya semakin hilang. Tubuhnya lun mulai lemah.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2