Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Rencana Licik


__ADS_3

Sementara Shaina dan Hendra tampak sudah berada di mobil dan menuju jalan pulang.


"Mau makan di mana?" Tanya Hendra.


"Sembarang aja Mas, satu arah pulang saja biar tidak belok-belok lagi." Jawab Shaina.


"Oke." Hendra pun melajukan mobilnya menyisir jalanan Kota, berharap ada warung makan yang dekat. Tak berapa lama mereka pun berhenti di sebuah warung makan sederhana bersih dan rapi, karena Hendra tau, selera Shaina bukan warung makan mewah, cukup bersih dan rapi dia sangat suka.


Setelah memesan beberapa makanan mereka pun sholat ashar di musholla tersebut.


Hendra yang slalu menyelipkan do'a untuk Shaina dan bayinya dia terlihat sangat senang, karena beberapa hari ini bisa bersama Shaina. Hanya saja dia belum bisa menaklukkan hati orang tuanya untuk menerima Shaina sebagai menantu mereka.


"Makan yang banyak ya biar kamu dan bayimu sehat terus sampai lahiran. Biar kita bisa cepat menikah." Hendra pun tersenyum.


"Mas apaan sih, aku mungkin nggak bisa, jadi bagian keluarga kalian Mas, orang tuamu kayaknya nggak mungkin merestui kita, kamu layak mendapatkan yang terbaik Mas." Shaina merasa tidak enak, kalau Hendra terus berharap padanya.


"Jangan begitu Shain, kita baru berusaha sedikit, setelah anak kamu lahir, aku akan lebih giat lagi meyakinkan orangtuaku untuk melamar kamu." Ucap Hendra lagi.


"Kita lihat saja nanti Mas, ayo! aku udah selesai nih." Hendra sudah dari tadi selesai, dia hanya menunggu Bumil yang masih ngemil.


Setelah Hendra membayar dan mereka pun pulang menuju kota tempat tinggal mereka. Di perjalanan mereka beberapa kali mampir untuk sekedar membeli minuman atau oleh-oleh untuk orang di kantor.


"Lho Mas? kok berhwnti?" Shaina tampak bingung Hendra tiba-tiba berhenti.


"Kita ke toko perhiasan sebentar ya, itu ad toko besar." Hendra pun memaksa Shaina Turun dari mobil. Shaina pun terpakasa mengikuti.


"Emang mau neli apa Mas?"


"Pilihlah satu cincin untuk kau pakai!"


"Aku sudah punya Mas," dia menunjukkan cincin bulan sabit miliknya pemberian Abinya dulu.


"Aku ingin kau menyimpan pemberianku ini, ayo pilih dulu! jangan menolak."


"TidakMas, nggak usah." Shaina tetap menolak.


"Mbak tolong ambilkan yang berlian itu ya?" Hendra menunjuk ke salah satu cincin yang bertahtakan berlian kecil.


"Ini berapa?" Hendra bertanya pada karyawan."


"35juta Tuan."


"Oooo?" Shaina hanya mampu membulatkan mulutnya terkejut.


"Kalau yang satunya Mbak."


"ini p.9 karat 75juta Tuan."


"Oke xoba liat,


Shain xoba yang ini."

__ADS_1


"Kemahalan Mas, nggak ah." Shaina tidak akan menerima itu, terlalu mahal baginya.


"Aku tidsk memberimu gratis heh? kamu bileh memakainya kalau kau bjsa menerima aku oke? Ayo coba duku muat nggak." Shaina lun mencobanya dan pas. Hendra pun membayar dan kembali melanjutkan perjalanan,


Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya mereka pun sampai.


"Assalamualaikum, Mi!" Shaina pun masuk dan mencari Ibunya, namun tidak ada.


"Maaf Mas, kita duduk di teras dulu,ya, nggak baik kalau ibu nggak ada kita malah berduaan di dalam rimah." Ucap Shaina sopan.


"Ya udah nggak papa, hups." Hendra menghempaskan tubuhnya di kursi butut depan rumah Shaina.


"Baiknya kamu segera lahiran, biar kita bisa berduaan terus." Ucap Hendra memghoda Shaina.


"Apaan sih Mas, ini takdir, mana bisa di ubah begitu saja, baru juga 6 bulan, masih 3 bulan lagi kaleee." Shaina sebenarnya merasa tidak enak, Hendra sering datang ke rumahnya, tali mau bagaimana lagi, dia kan Bosnya.


"Eh gimana kalau kamu operasi aja di usia 7 bulan nanti, biar kita cepat nikah." Hendra terus saja memaksa untuk menikah.


"Mas, olerasi itu nggak mudah, bahkan kalau tanpa sebab trus operasi kan mendahului takdir tuhan Mas. Kecuali kalau aku ada,kekurangan misal darah tinggi, BB bayi kegedean, atau juga ada hal lainnya yang membuat kita harus operasi. Lagian ni Mas, operasi itu lama sembuhnya, contohnya ni si Author๐Ÿ˜ƒ, udah 10 bulan sejak lahiran perutnya kadang masih terasa sakit, trus jahitannya itu timbul kaya cacing tanah gitu, nggak rapi banget kan?"


"Ah masa? emang kamu lihat?" Hendra tampak penasaran.


"Ya liatlah, wong kita ini ada di Halunya Author๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ."


"Ehhh Nak Hendra, udah datang?"


"Oh Ummi, dari mana Mi?" Hendra basa basi.


"Itu, dari sebelah, bayar iuran yasinan ibu-ibu di kampung sini. Ayo masuk!"


Bruk


"Aaaaah, enaknya." Hendra tiba-tiba berbaring di lantai meratakan pinggangnya yang sudah seharian nggak nemu tempat buat berbaring.


"Eh Nak, kok berbaring di situ, masuk ke kamar Shaina aja, sana, tapi Shaina nggak usah ke kamar dulu." Ucap ibunya Shaina.


"Emang boleh?" Tanya Hendra sambil menatap Shaina.


"Kalau Mas mau, bo-leh aja kok." Shaina malah ragh-ragu menjawabnya. karena dia ingin mandi dan berganti pakaian.


Hendra tersenyum.


"Nggak usah deh Mi, di sini aja, adem." Hendra pun memejamkan mata. Shaina pun masuk kamar dan mengambilkan bantal.


"Ini Mas."


"Oh(menatal Shaina) ini bantal kamu?" Shaina hanya mengangguk.


Hendra pun mencium bau aroma bantal tersebut, seperti candu baginya, aroma wangi shampo atau mungkin parfum Shaina masih melekat di bantal, hingga akhirnya dia pun tertidur.


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


"Mas, bangun!" Shaina menindih satu bandal ke kaki Hendra san menggoyangkannya, agar Hendra terbangun.


"Uaaaaah, enak tenaaaaan. jam berapa?"


"Udah jam 6 sore Mas, apa Mas mau mandi di sini atau bagaimana?"


"Nggak deh, aku pulang dulu ya."


"Baiklah, hati-hati ya."


Shaina pun mengantar ke depan pintu.


"Tentu sayang, aku akan hati-hati, aku takut kehilanganmu kalau sampai aku mati." Hendra yang dingin di kantor itu begitu gombal saat bertemu Shaina. Shaina hanya pura-pura tuli, dia hanya bisa begitu karena malas berdebat.


Handra pun sudah jauh meninggalkan kediaman Shaina menuju rumah mewahnya.


Tap


Tap


Tap


"Hendra, kau sudah datang? bagaimana rapat dengan Pak Manae?" Ayah Hendra yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Hendra.


"Iya Ayah, Mami mana Yah?"


"Lagi makan di dapur."


"Hendra? kamu sama siapa ke perusahaan Pak Manae?"


"Sama Shaina Mi, aku ke atas dulu ya, mau mandi dulu." Hendra pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang saling berpandangan.


"Yah, kita harus melakukan sesuatu, aku benar-benar tidak mau dia menikahi wanita itu, wanita hamil itu bagaimana bisa menjadi menantu di keluarga kita, yah sebaiknyakita pecat saja wanita itu."


"Mi, tunggu dulu, kita akan melakukan penawaran,"


"Penawaran?"


"Kita akan memberi tekanan pada Shaina." ucap Ayahnya.


Mami Hendra pun akhirnya tersenyum licik.


"Kalau begitu, aku akan meletakkan seseorang yang bisa melancarkan aksi kita Pah."


"Tapi jangan sampai Hendra tau Mah, nanti malah dia akan marah sama kita, Mamah tau kan, Hendra orangnya nekat."


"Tenang saja Pah, aku akan berhati-hati."

__ADS_1


"Baiklah, aku mau istirahat dulu, besok aku akan rapat dengan klien kita yang baru."


BERSAMBUNG...


__ADS_2