Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Laila tertangkap


__ADS_3

"Nene, hauuuus." Zahwa terlihat lemas dan tak bertenaga, badannya juga panas menggigil.


"Ini, minumlah! kamu sakit, dan badanmu panas sekali ini, Laila, bagaimana ini? apa kita bawa ke rumah sakit saja?"


Ucap Luna terlihat khawatir.


"Jejak kita sudah di ketahui orang orang, dan aku tak mau mati konyol mah."


Jawab Laila.


"Lalu bagaimana dengan Zahwa? kita tidak bisa merawatnya di rumah begini?"


Luna benar benar khawatir dengan kedaan Zahwa.


"Kita minumin saja paracitamol, nanti dia juga akan sehat kembali." Jawab Laila.


Dia pun mengambil Hpnya dan tampak senyum senyum sambil chat dengan seseorang.


"Tapi bagaimana kalau dia tidak pulih Laila?"


Luna kembali meraba raba tubuh Zahwa yang terlihat menggigil.


"Aaah, biarin saja, mati juga nggak masalah, toh uang sudah masuk ke rekening kita."


dengan enteng Laila berucap sadis demikian.


"Huffs, aku tak setega itu Laila, aku masih punya hati." Jawab Luna.


"Ah sudahlah, aku mau tidur."


Bruk.


Laila masuk kamar dan menutupnya kasar.


Hap


Luna tampak menggendong Zahwa dan membawanya keluar. Mungkin untuk berobat, dia pun menaiki taksi yang lewat menuju sebuah klinik.


Jam menunjukkan jam 3 sore.


"Bu, tolong cucu saya bu, demamnya tinggi sekali dari tadi malam."


"Baik Bu, sebentar saya periksa dulu."


Setelah Zahwa diperiksa, Zahwa dipasangi infus, karena kondisinya sangat kritis, dia sudah pingsan sejak di dalam taksi tadi.


"Apa dia akan siuman?" Tanya Luna lagi.


"Insyaa Allah bu, kemana ibu atau ayahnya, kenapa tidak langsung di bawa tadi malam?" Tanya Bu Bidan itu.

__ADS_1


"Mereka kerja di luar kota Bu." Jawabnya.


Akhirnya Luna pun duduk dan menelungkupkan wajahnya di ranjang Pasien. Tak berapa lama dia tertidur.


...


...


...


"Zahwaaa, sayaaaang, Zahwa."


Shaina mengigau, dia terus memanggil nama Zahwa berulang ulang, kini badannya pun panas.


"Dok, apa yang terjadi pada Nyonya Shaina? mengapa dia demam dan mual mual? apakah dia hamil?" Tanya Bibi.


"Dia tidak hamil kami menunggu suaminya untuk menyampaikan ini, dia magh kronis Bi." Jawab Suster itu.


"Ooh, Nyonya, betapa malang nasibmu Nyonya, ujian apa lagi yang sedang menerpamu kali ini." Ratap Bibi sedih.


"Bi...haus." Shaina terbangun dan merasa kehausan. Zahwa juga sakit demam tinggi, mereka pasti saling terikat.


"Nyonya, alhamdulillah, kau sudah bangun, syukurlah, ini Nyonya."


Bibi pun mengambilkan air mineral untuk Shaina yang kehausan.


Suara pelan seakan tak berdaya Shaina membuat hati Bibi sakit.


"Nyonya, sabar dulu ya Nya, Tuan Fathir sedang berusaha menemukan mereka, dan mudahan berhasil."


Jawab Bibi merasa iba.


"Ummi


apakah tau Shaina sakit?" Tanya nya lagi.


"Tidak Nyonya, kata Tuan, baiknya Ummi tidak perlu tau," Jawabnya.


"Iya Bi, kasihan Ummi, sering memikirkan Shaina."


Jawabnya.


Shaina pun minum dan menghabiskan air mineral gelas itu.


"Mbak sudah sadar?"


Tiba tiba suster rumah sakit datang.


"Sus, sebenarnya aku sakit apa ya? kok begini?"

__ADS_1


Tanya Shaina.


"Mbak sedang Magh akut, apakah mbak sering terlambat makan?"


Tanya Suster itu.


"Iya Sus, akhir akhir ini aku juga susah tidur. Apakah separah itu?"


"Lambung anda tidak bisa menerima itu, perlu beberapa waktu untuk bisa pulih, itu pun tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Ada banyak pantangan yang harus anda hindari."


Ucap Suster lagi


"Baik Sus."


...


...


...


"Uaaaah," Laila terbangun dari tidur siangnya, dia pun segera keluar, untuk menemui Luna dan Zahwa.


"Ke mana mereka? kok nggak ada?" Dia pun ke dapur dan kamar mandi, namun tak menemukan Zahwa dan Luna.


"Atau jangan jangan Mamah membawanya ke Rumah sakit?"


Gumamnya. Dia pun mengambil Hpnya.


Drettt


Terdengar dering Hp di Ruang tamu.


"Ah Sial, di tidak membawa Hpnya."


Laila pun keluar.


"Jangan bergerak!" Tiba tiba Fathir polisi dan Krunya sudah berada di teras kontrakkannya.


"Ah..a..ada apa? apa salahku?"


Laila berusaha tenang walau pun masih sedikit gugup.


"Di mana kau menyembunyikan anakku?" Fathir mencengkram tangan Laila. Karena saat melihat lukisan wajah Luna Fathir segera ke kantor polisi kapan Luna keluar penjara, ternyata benar, mereka keluar bersamaan, makanya Fathir juga mencurigai Laila.


"Apa maksudmu? aku tidak tau apa apa soal itu, untuk apa aku berurusan dengan hal bejat begitu." Tambahnya.


Dreeet Hp Luna berbunyi di dalam rumah, Fathir pun mengalihkan wajahnya ke arah suara tersebut.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2