Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
2 Pria Ganteng


__ADS_3

Di kediaman Damon.


"Kamu udah di khitan mandi juga udah, sekarang kita mengganti nama Tuan, jadi Tuan mau nama apa?"


Tanya ustadz Hamka.


"Muhammad Fathir Ustadz."


"Ooh, jadi kamu sudah menyiapkan nama?"


"Ini sih pemberian seseorang yang istimewa." Sahutnya.


"Ciye ciye..., siapa sih?" tanya Zeze yang menemani Damon ke rumah ustadz Hamka.


"Dia, orang pertama yang membuat aku jatuh hati, hihi." Damon tertawa kecil, dia sangat senang bisa memakai nama yang di berikan Shaina padanya.


"Bagaimana dengan ibu dan adikmu?"


"Mereka setuju aja, lagian selama ini aku punya agama tapi seperti tak punya tuhan saja kan? mana pernah aku mengikuti aturan agamaku sebelumnya." ucapnya lagi.


"Baiklah, mari!"


Uztadz Hamka pun membacakan ayat pergantian nama. Setelah beberapa saat acara pun selesai.


"Terimakasih, Ustadz kami mohon pamit, karena aku harus ke rumah sakit lagi untuk menjenguk malaikat kecilku, Zahwa."


"Iya, karena kamu udah resmi muallaf, maka jangan lupa slalu ucapkan salam setiap bertamu atau pun pulang ya. Belajar lagi pada guru2 agama di sekitarmu."


"Baik ustadz, terimakasih banyak."


"Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


*


*


*


Tap


Tap


Tap


Fathir tampak memasuki halaman Rumah sakit tempat Shaina di rawat, wajahnya berseri seri dan tampak senyum mengembang di wajahnya. Jam menunjukkan jam 10 pagi.


"Assalamu alaikum, Mi... bagaimana? sudah bisa pulang?"


"Oh Tuan, iya, hari ini sudah boleh pulang."


"Baiklah, aku akan mengurus administrasinya."


"Oh, iya, baik." sahut ummi. Sementara Shaina tampak sedang menyusui anaknya dan membelakangi mereka.


Fathir pun pergi menuju administrasi.


"Shain, bagaimana kita mengangkut barang sebanyak ini?"


"Serahkan saja pada Tuan itu. Dia yang membuat gaduh begini, bikin malu saja, aku malu Mi sama perawat yang melihat kita, mereka menatap aneh."


"Iya, Ummi juga merasakan, tapi mungkin saja dia orang baik Nak, apa kau tidak ingin menerimanya?"


"Bagaimana dengan Hendra Mi, aku jadi bingung, lagian lelaki itu juga udah punya istri dan juga anak bayi, kasian Mi."


"Tapi apa benar dia sudah menikah? baiknya kau tanyakan dulu Nak."


"Aku yakin Mi, saat itu aku melihat mereka berjalan keluar dari mall tampak begitu bahagia."


"Tapi mungkin saja dia keluarganya atau adiknya."

__ADS_1


"Adiknya kan yang hamil kemaren, udah lah Mi, aku tak mau membahas, lagian aku juga nggak kenal dia, aku juga bingung sama Mas Hendra."


"assalamualaikum. Mi, kok beres beres? udah bisa pulang?"


"Wa alaikum salam, nak Hendra, iya nak sudah boleh pulang hari ini, itu tadi Tuan siapa namanya ya, kok aku nggak pernah nanya, dia sedang mengurus Administrasi." jawab Ummi.


"Oh, baiklah. Mari aku bantu Mi."


Mereka pun membersihkan perlengkapan yang harus di bawa.


Tok tok tok


"Sudah beres ayo Shin, biar ku antar ke mobilku dulu." Ajak Fathir.


Shaina pun bingung.


"Nggak, biar aku yang antar," ucap Hendra lagi.


"Nggak, aku udah janji akan mengantar mereka pulang."


"Aku udah membreskan Admin, dan juga akan mengantar mereka."


"Nggak, sama aku aja." ucap Hendra lagi.


"Sudah ah, malu maluin," Ucap Ummi.


"Kami naik grabe saja, kalian bawa saja semua barang yang ada di sini." Ucap Shaina.


Shaina pun sudah selesai ngASI bayinya dan turun dari kasur melangkah keluar ruangan.


Ummi pun mengikuti sambil hanya membawa tas bajunya dan baju Shaina.


"Kalau begitu kau saja yang bawa semua ini, karena ini semua kau yang beli."


Hendra pun nyelongong keluar mengekori Ummi dan mengambil Tas yang di bawa Ummi.


Tap


Tap


Tap


Fathir merebut Zahwa dari gendongan Shaina, dan membawanya berjalan mendahului yang lainnya.


"E..e...e...e awas jatuh." Pekik Shaina. Namun tangan Fathir yang tegap dan kokoh mampu merangkul bayi mungil itu walau hanya dengan satu tangan.


"Lho, kok pulang semua, trus yang di dalam di apain? mubazir." Ucap Ummi.


"Nanti ada yang ngambil." Ucap Fathir, Fathir sudah menghubungi 2 pegawainya yang kemaren membawa barang itu.


Sampai di parkiran Fathir pun masuk membawa anaknya di ruang kemudi.


"Kalian kalau mau naik grabe silahkan saja, tapi anak ini wajib bersamaku." Ucapnya.


Dia pun menghidupkan mesin.


Shaina hanya mematung terpaku, sementara Fathir sudah mulai memutar arah mobilnya.


"Tunggu! baiklah. Sebentar."


"Mas Hen, maaf, aku terpaksa ikut Anakku,"


"Iya Shain, susah kalau ngeladeni oranganeh."


"Baiklah Nak, biar Ummi temenin Nak Hendra."


"Baik Mi, sampai jumpa di rumah, assalamualaikum"


"Ya, wa alaikum salam.


Hendra dan Ummi pun masuk mobil. Shaina juga memasuki mobil Fathir,"

__ADS_1


"Hey mengapa di belakang?"


"Tuan, tidak baik kalau kita duduk berdampingan, biar aku di belakang saja."


"Uuuh, terserahlah, Ini." Fathir pun menyerahkan malaikat kecil itu pada Shaina.


"Maaf, siapa nama Tuan sebenarnya?"


"Muhammad Fathir."


"Oooo?" Shaina melongo menatap ke arah Fathir yang sedang menyetir.


"Muhammad Fathir, nama yang indah bukan? sama seperti orang yang telah memberikannya padaku cantik dan sholehah."


"....." Shaina bingung mau jawab apa, akhirnya dia memilih diam dan tersenyum tipis merasa tersanjung, sambil membelai mesra pipi gadis mungilnya.


"Kenapa diam? mamah Zahwa!" Gida Fathir lagi.


"Ah, Tuan berlebihan,"


"Shaina, apa kau tidak tau? selama ini aku mencarimu, bahkan selayar itu pun masih aku simpan."


Gombal


Lirih hati Shaina.


Fathir terus saja meracau bercerita macam macam. akhirnya tak ada jawaban.


"Shaina, kau tertidur?" Fathir mencoba memindai lewat spion depan. Dia pun tersenyum saat melihat Shaina memejamkan matanya. Sementara Zahwa sudah tergeletak di sampingnya, di atas kursi mobil.


Wanita idaman, tolong izinkan dia menjadi milikku ya Tuhaan.


Bathinnya


Tak terasa perjalanan itu terasa singkat bagi Fathir, mereka pun sudah sampai di pekarangan rumah Shaina.


Fathir pun membuka pintu, dan menatap wajah Shaina juga putri kecilnya bergantian.


Ceklek


"Shain ayo bangun!" tiba tiba Hendra datang dari pintu sebelah dan membangunkan Shaina. karena dia tau kalau Fathir lagi menikmati wajah cantik Shaina dengan matanya😃.


"Oooh? sudah sampai? aku ketiduran."


Fathir pun segera mengangkat Zahwa karsna memang dia berada di dekat Zahwa.


Mengganggu saja.


Gumamnya


"Apa?" Ucap Shaina yang mendengar ucapan Fathir. Fathir tak menjawab dan mengangkat Zahwa menuju rumah kontrakkan Shaina.


"Ummi, aku akan mencarikan kalian tempat tinggal yang lebih besar dari ini, dan di tempat yang sejuk." Ucap Fathir saat memasuki ruang tamu mungil Shaina.


"Nggak usah Tuan, di sini sudah sangat nyaman."


"Mi, kenalkan namaku Muhammad Fathir, nama yang di berikan Shaina kemaren."


Hendra yang baru masuk sedikit kaget mendengar Shaina memberikan nama untuk Pria saingannya itu.


"Apa kau sudah khitan? nggak kepotong habiskan?" Canda Hendra sambil sedikit menyindir.


Fathir merasa sedikit malu, memang itu maksud Hendra.


"Masih banyak kok." Fathir mencoba menghilangkan malunya dengan sengaja berucap demikian.


Shaina yang mendengar percakapan mereka pun merasa salah tingkah.


Ya Allah, bagaimana ini?


Bathinny.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2