Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Perhatian Hendra buat Shaina


__ADS_3

Selesai makan Shaina dan Hendra pun kembali ke Kantor.


"Mas, baiknya duluan aja, aku tidak mau ada suara-suara miring tentang kita lagi." Ujar Shaina.


"Suara miring? memang mereka bicara apa tentang kita?" Hendra terlihat penasaran, dan mendekatkan wajahnya di muka Shaina.


"Oh, tidak ada, tapi aku sedang hamil, sedang Mas bukan siapa-siapa aku." Ucapnya lagi.


"Baiklah, kau duluan saja." Hendra pun mengiringi di belakang berjarak 3 meter. Shaina berjalan santai, ketika di tengah karyawan lainnya.


Hap


"Au, Mas," Shaina kaget ternyata saat yang tidak di harapkan terjadi, malah Hendra dengan sengaja merangkul pundak Shaina.


"Helo semuanya, menghadap sini!" Malah Hendra memberikan pengumuman. Semua karyawan langsung menatap Bosnya.


"Perkenalkan ini calon istri saya, setelah dia melahirkan kami akan segera menikah, kalau ada yang berani menyakitinya seujung kuku pun, aku akan menendang dia keluar dari perusahaanku ini, mengerti?"


Semua karyawan hanya mampu mengangguk.


"Oke silahkan kalian bekerja." Hendra pun melepaskan rangkulan dsri tubuh Shaina. Shaina pun berjalan menuju Ruangannya.


"Shaina tunggu!" Hendra memanggil.


"Mas apaan sih? bikin malu aja." Ucap Shaina jengkel.


Ceklek


Shaina masuk ruangannya, karena Shaina bagian keuangan, jadi dia punya ruangan sendiri, berdua dengan mbak Luri.


"Lho, Shain kenapa kok..." belum selesai Mbak Luri berucap munculah Hendra sang Bos.


"Kau keluar dulu!" Ucap Hendra pada Luri.


"I..iya Bos."


"Jangan!" Bentak Shaina.


Namun Luri tidak mau menolak permintaan Bosnya, dia terus berjalan menuju ointu.


"Kalau Mbak Luri keluar, aku juga keluar!" Bentak Shaina.


"Baiklah, Luri diam di situ menghadap Tembok." Seketika Luri berhenti dan menghadap pintu, berdiri mematung.


Hendra pun mendekati Shaina.


"Jangan dekat-dekat." Shaina menjulurkan tangannya melarang Hendra mendekat.


Hap


Cup


"Heeeh, Buih buih" Shaina meludah karena Bi**rnya di curi.

__ADS_1


Ngapain mereka


Gumam Luri, masih mematung.


"Mas," Shaina berhasil melepaskan diri dan menjauh, duduk di kursi, sambil menangis.


"Maafkan aku, aku sudah lama menantikan jawaban darimu, namun kau tak pernah menerimaku, saat ini aku tak ingin lagi kehilanganmu sayang."


Luri membelalak mendengar kata-kata Hendra sang Bos pujaan orang sekantor.


"Kau sama saja seperti pria sebelumnya, mencuri sesuatu yang bukan hak mu."


"Apa maksudmu?"


"Mbak Luri, kemarilah!" Luri tentu saja tidak berani mendekat, kalau Bosnya tidak memberi perintah.


"Kemarilah Luri!" Barulah Luri mendekat ketika Hendra memerintah.


"Duduk disini!" Hendra memberi sebuah kursi untuk Luri duduk di samling Shaina. Luri sudah menikah dan mempunyai seorang anak.


"Aku akan jujur dengan kalian, tolong dengarkan aku, dan jagalah aibku ini, mudahan Allah akan menyimpan aib kalian juga kalau memang ada.-


Shaina mulai bercerita dari awal sampai akhir, terlihat Luri pun meneteskan Air mata.


" Jadi Ayahmu meninggal karena beban moral?" Tanya Luri. Shaina hanya mampu mengangguk dia menangis walau dengan di tahan-tahan.Luri meraih kepala Shaina dan mendekapnya di pangkuannya.


"Menangislah! mungkin bebanmu akan sedikit hilang." Hendra hanya bengong menatap dua wanita di depannya.


"Baik Bos." Shaina masih terisak.


"Shaina, kamu sangat beruntung mempunyai Bos Hendra. dia sangat baik."


Shaina masih menangis, badannya bergetar hebat menahan isakan.


Tak terasa sore pun tiba.


"Ayo kita pulang, apa kau bisa mengendarai motormu?"


"iya, terimakasih Mbak, aku berharap kau bisa menyimpan aibku ini."


"Kau tenang saja, anggap saja aku Kakakmu, jangan sungkan."


Mereka pun sampai di parkiran motor


Hap


Tiba-tiba tangan Shaina di cengkram Hendra, dan dibawanya menuju mobilnya.


"Bagaiman dengan motorku?"


"Security, tolong antarkan motor matic itu ke rumah Shaina, ini uang untukmu." Dia memberikan uang 2 lembar berwarna merah, dan mengambil kunci dari Shaina dan menyerahkan pada security. Shaina pun tak bisa menolak, Dia masuk ke kursi belakang tanpa memperdulikan permintaan Hendra untuk duduk di sampingnya.


"Shaina, aku benar-benar tidak sabar untuk menikah denganmu, aku tidak perduli dengan perkataan orang tentangmu," Ucap Hendra.

__ADS_1


"Tapi aku takut Mas, tapi aku takut Mas, suatu hari nanti kau bosan padaku dan mengungkit masa lalu ini di depan anakku." Shaina tampak sedih kalau memikirkan masa depannya.


"Shaina, kenapa kau tidak percaya padaku, aku akan memperlakukan dia seperti anakku sendiri, percayalah? aku merasa tidak enak slalu kau curigai." Jawab Hendra lagi.


"Kita mau kemana Mas, kok belok kanan, eumahku kan belok kiri!" Shaina bingung mengala dia di bawa menjauh dari jalan menuju rumahnya.


"Kita ke kota, telpon ibumu, kau tidak pulang cepat hari ini." Jawab Hendra.


"Aku tidak mau Mas, aku harus pulang, kasian ibu." Jawab Shaina lagi.


"Ibumu bukan ank kecil Nduuuuk, kita akan belanja keperluan bayimu." Ucap Hendra lagi.


"Tidak! berhenti,aku tidak mau kita pergi berduaan, harus ada orang lain."Shaina tidak ingin ada fitnah di antara mereka.


" Hups, baiklah."


("Hello, Luri kau di mana?")


("Di rumah, ada apa?")


("Tunggu di situ aku mau mampir.")


Tuuut.


Hendra pun putar balik menuju rumah Luri yang tak begitu jauh dari tempat mereka berada. Selang 10 menit mereka pun sampai di sebuah rumah minimalis yang bersih.


"Bos, ada apa?" Luri yang menunggu kedatangannya di teras rumah bingung, tiba-tiba Bosnya mampir ke rumahnya.


"Ayo kita berangkat!" Ucap Hendra.


"Ha? kemana, bagaimana dengan anakku? penjaganya sudah pulang Bos"


Ucap Luri bingung.


"Mas, ada apa sih, jangan mengganggu Mbak Luri, kasian anaknya." Ucap Shaina lagi.


"Kita antat saja ke rumah bibi nanti aku yang bayar bonusnya, ayo! aku tidak punya waktu banayak." Hendra pun masuk keruang kemudi menunggu dua wanita itu masuk. Tanpa bisa menolak, Luri pun mengikuti kemauan Bosnya.


Setelah mengantar anaknya pada bibi yang tak begitu jauh, Luri pun masuk ke mobil.


"Mau kemana Bos?" Luri penasaran.


"Jangan panggil aku Bos, aku malu, Bos itu terkesan play boy dan juga tua, aku masih muda, untuk mendapatkan satu wanita saja aku susahnya minta ampun." Dia pun melirik Shaina dari kaca spion mobil. Sementara Shaina asyik dengan Hpnya, kayaknya dia sedang mencari orang yang memiliki selayar itu.


Sesampainya di parkiran mall mereka pun turun.


Deg


Kaki Shaina seakan lumpuh, jantungnya seakan berhenti berdetak, keringat dingin membasahi telapak tangan dan wajahnya. Dari jarak 4 meter dia melihat lelaki yang telah merenggut keperawanannya sedang menggendong seorang anak dan bersama seorang wanita cantik. Ia pun mengambil ujung kerudungnya dan me-lap wajahnya, saat lelaki itu lewat di depan Shaina, Shaina sedang ngelap mukanya dengan kerudung.


"Sayang, mau main lagi? emch" Lelaki itu Damon, sedang menggendong anak Zeze yang berusia 5 bulan, dan menciumi anak tampan itu, sedang Zeze berjalam sedikit di belakang Damon dan sedang membawa belanjaan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2