Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Mengejar Shaina


__ADS_3

Shaina pun menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Dia pun merebahkan diri di ranjang king size yang sangat empuk.


Ya Robb, rasanya aku tidak tau harus berbuat apa? kalau aku menemui lelaki itu, berarti aku akan merusak rumah tangga mereka, sedang mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak.


Shaina benar-benar dalam dilema. Hingga akhirnya dia pun tertidur.


Pagi menyapa dengan indah, matahari pun masuk lewat celah-celah jendela loteng.


Byur byur


Shaina sudah mandi dan rapi, dia begitu bersemangat untuk pulang dan menemui Umminya, dia ingin menceritakan masalah uang yang begitu banyak yang di beri lelaki malam itu.


Tok tok tok


"Shaina, apa kau sudah bangun?" Hendra mengetuk pintu kamarnya.


"Iya sebentar." Shaina pun segera memasang kerudung segi tiganya.


Ceklek


"Ayo Mas!" Shaina pun berjalan mendahului Hendra memasuki Lift.


"Kita jalan-jalan dulu ya? cari oleh-oleh buat,Ummi dan juga adikku."


"Terserah Mas saja." Mereka pun pergi menuju pusat perbelanjaan.


"Kita belanja keperluan bayi dulu ya?" ucap Hendra.


"Nggak perlu Mas, nanti beli di pasar dekat rumah aja." Jawabnya.


"Nggak, ini sudah di pusat perbelanjaan ngapain beli di lain, lagian di sini lebih murah kok." Ucap Hendra lagi.


Akhirnya Shaina pun menurut. Merwka pun masuk dan menuju ruang khusus perlengkapan bayi.


"Mbak silahkan di pilih, waaah kalian akan segera punya momongan, selamat ya."


Karyawan itu tampak ramah.


"Bukan mbak..."


"Iya Mbak, kami mau mencari pakaian bayi dan juga kasur." Jawab Hendra, dia males berdebat dengan karyawan itu, tidak ada untungnya juga menjelaskan hubungan mereka.


Shaina pun hanya bisa diam dan melotot ke arah Hendra.


"Di sini Mbak, ada berbagai macam merek dan model juga." Mereka pin memilih barang yang cocok dan bagus menurut Hendra. karena kalau Shaina yang milih inginnya yang murah mulu😃.


"Mas ini kebanyakan, terlalu mahal, cukup buat aku makan sebulan." ucap Shaina yang sudah mengira menghitung-hitung belanjaannya sekitar 5 jutaan lebih.


"Buat snak kok coba-coba, pilih yang kualitasnya bagus dooong."


"Tapi aku nggak bisa bayar sebanyak ini."


"Et et aku Calon papahnya lho. Ayo! kita ke kasir."


Setelah memilih barang yang di sukai, mereka pun membawanya ke kasir. dan bersiap pulang.


Sementara di gedung yang sama di lantai berbeda Damon tampak berjalan keluar dari sebuah ruangan, karena ini adalah gedung Pak Manae yang di sewakan, jadi ada ruang khusus buat Damon atau pun Pak Manae.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ustadz mau datang ke sini, melayani saya konsultasi. Karena saya terlalu sibuk dengan beberapa buah perusahaan." Ucap Damon sambil mengantar seorang ustadz keluar ruangan. Rupanya Damon sedang belajar banyak tentang islam, sepertinya dia akan menjadi Muallaf.


"Jangan sungkan, kalau kau sudah siap, silahkan hubungi saya lagi, di manapun saya, pasti akan datang." ucap Ustadz itu.


"Ustadz Hamka, terimakasih banyak."


Damon pun menyalami tangan Ustadz tersebut dan mengantarnya ke Lift. Setelah pintu Lift tertutup Damon pun berniat kembali ke ruangannya. Namun entah mengapa dia ingin bersantai dan memandang ke bawah lantai dasar, saat ini dia berada di lantai 4.


Tak sengaja dia menangkap sosok yang ia kenal.


"Shaina..Shaina." Awalnya Damon hanya mengguman.


"Shainaaaaa, Shainaaaaa." Dan akhirnya, berteriak keras. Namun yang di panggil tidak menoleh, karena jarak yang begitu jauh, dan juga suara bising mall tersebut.


"Shaina, kali ini aku tidak boleh gagal."


Tap tap tap


Dia memasuki Lift untuk turun. Sementara di bawah.


"Shaina, aku pengen ke kamar kecil dulu ya, setelah ini kita makan." Ucap Hendra.


"Baiklah Mas, aku tunggu di depan pintu sana ya." jawabnya.


"Baiklah." Shaina pun menunggu Hendra di depan pintu keluar bangunan megah tersebut.


Tring tring tring


{Assalamualaikum Mi, ini kami akan segera pulang}


{Tidak Mi, alhamdulillah, apa Ummi pengen pesan sesuatu?}


{Tidak Nak, cukup kamu selamat aja, bilangin sama Nak Hendra, pelan-pelan nyetirnya}


{Iya Mi, udah ya Mi, kami mau berangkat, assalamualaikum}


{Wa alaikumussalam}


*


*


*


Damon pun sudah sampai dibawah, pintu lift terbuka.


"Shaina, dimana kau?" dia pun berjalan mengarah pintu masuk.


Shaina,akhirnya aku menemukanmu.


Damon pun berlari menuju pintu keluar, sosok wanita yang di carinya itu sedang berdiri di samping pintu seperti menunggu seseorang.


Dadanya bergemuruh menahan gejolak, rasa bahagia bercampur aduk karena wanita yang selama ini di carinya sudah berada di depan mata. beberapa langkah lagi dia pun sampai


Hap


Damon pun memeluk wanita itu dari belakang cukup erat. Sengat erat sambil menangis sesunggukan.

__ADS_1


"Hey, Mas, ada apa? kenapa menangis, kamu kenapa?" Wanita itu kaget ketika di peluk dari belakang. Sedang Damon hanya mampu menangis karena bahagia.


Plak


Plak


Plak


Ketika tamparan yang sangat keras mengenai kepalanya, barulah ia melepaskan pelukannya pada wanita itu.


"Siapa kau? berani-beraninya memeluk-meluk istriku."


"Hah??" Wanita yg di peluk pun bingung. Tadi dia mengira suaminyalah yang sedang usil padanya.


"Jadi, kau?" Wanita itu kaget dan terlihat syok


Plak plak plak


3 tamparan mendarat di pipi Damon keras.


Ternyata Damon salah orang.


"Ha? maaf, maaf, saya salah orang." Damon tampak panik dan tak menyangka, padahal dia sudah bahagia sekali bisa menemukan wanita dan anaknya.


"Ada apa Bos?" Security pun berdatangan melihat Ada orang marah-marah pada Bosnya.


"Tidak apa-apa paman, sudah, saya yang salah."


"Jadi kau Bos di sini, mengapa se-enaknya memeluk istriku, apa kau kira bisa membelinya dengan uang, apa kau tidak melihat, istriku sedang hamil heh?" Suami wanita itu sangat marah.


"Maaf Tuan, ku kira tadi, dia istriku, karena sama lagi hamil." Damon berbohong, security malah bengong, Istri? mungkin itu yang ada di pikiran security, Damon kan belom menikah. Apalagi hamil. hihi.


"Makanya hati-hati, dasar PlayBoy."


pasutri itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Damom pun berjalan gontai menuju parkiran, dia masih berharap Shaina masih ada.


Apa aku salah lihat?


Gumamnya.


"Tidak, tidak salah, tunggu!" Dia pun bicara sendiri, dan mengulangi memorynya.


"Benar, aku tidak salah, wanita tadi kerudung Ungu, sedang Shaina berkerudung Maroon, ah sial, kenapa aku gagal fokus saat di loby."


Damon kembali gigit jari karena kegagalannya kali ini.


Sementara Shaina dan Hendra tampak sudah berada di mobil dan menuju jalan pulang.


"Ms, terimakasih banyak atas zemua ini, aku belum nisa membalasnya sekarang." ucap Shaina.


"Shain, kau hanya perli membalas Cintaku, ckckckck." Hendea cekikikan geli sendiri, sebenarnya dia tidak pandai menggombal, tapi karena Shaina keras kepala, dia pun sering belajar di google cara untuk menaklukkan hati wanita


BERSAMBUNG....


Like dan Komen ya.Author kurang semangat tanpa dukungan kalian para readers.

__ADS_1


__ADS_2