
Tap
Tap
Tap
Fathir mendekati arah Hp tersebut.
Hap
Dia menerima telepon.
'Sayaaang, kau di mana? aku sudah menunggumu nih!'
Ternyata di tengah tengah pelariannya Laila masih sempat berpacaran.
Tuut tuuut tuuut.
Fathir mematikan telpon.
Ternyata saat mengambil telpon tadi Laila mengambil telpon Luna. Dia pun tersenyum sambil melirik ke tangannya yang sedang memegangi Hp Luna.
"Kau jangan bohong, kami mendeteksi No Hp yang mengirim pesan ada di sini, jadi kau jangan main main!" Ucap Fathir lagi.
"Aku benar benar tidak tau apa apa." Jawabnya.
"Katena kita tidak banyak bukti, maka kita tidak bisa menangkapnya." Ucap salah satu Polisi. Akhirnya para polisi itu pergi, namun tidak dengan Fathir dan kru.
Hap
Fathir mencengkram tangan Laila dan membawanya masuk.
"Kau! tidak akan bisa lolos dariku, selama kau tidak buka mulut, maka kau akan berakhir membusuk di ruangan ini!"
__ADS_1
Laila pun di ikat dan di dudukkan di kursi ruang tamu.
"Kalian jaga dia, aku akan melacak keberadaan tante Luna." ucap Fathir.
..."Baik Bos!" Ujang dan kawan kawannya pun duduk di teras, sambil ngerokok. Sedangkan Fathir dan pa Baron pergi entah mau ke mana, yang jelas mereka terus melacak keberadaan Luna....
"Ke mana lagi kita mencarinya Thir?" Tanya pa Baron.
"Aku ingin minta bantuan sama Zeze, dia pasti punya orang hebat untuk melacak. Aku juga akan mengirim foto ke stasiun stasiun Tv untuk mencari wajah pelaku."
Mereka berangkat menuju kediaman Zeze.Sesamoainya di Mansion Zeze, dia sedang menemani daxon bermain, Daxon sudah berusia 10 thun anak yang tampan namun kadang egois karena di manja sang kakek dulu.
"Ze Assalamualaikum."
Sapa Fathir.
"Wa alaikum salam, hey, ada apa? bagaimana kabar Shaina? apakah ada titik terang hilangnya Zahwa?" Tanya Zeze.
"Hmmm." Fathir menggeleng loyo.
Dia pun menghempaskan badannya di sofa depan teres.
"Lalu srkarang bagaimana?"
Zeze pun ikut duduk di samping Fathir disebelah meja kecil.
"Aku ingin minta bantuan anak buahmu yang sadis sadis itu untuk beraksi."
Pinta Fathir.
"Tapi mereka Arogan Thir, apakah itu tidak masalah?" Tanya Zeze lagi.
"Aku sudah tidak perduli dengan itu, yang penting anakku selamat." Jawabnya.
__ADS_1
Fathir pun merilekskan diri dengan menutuo ke dua matanya, dan mengabaikan segalanya.
Termasuk pertanyaan demi pertanyaan dari Zeze. Sepertinya kini Fathir sudah tertidur pulas.
Mengapa sekarang Fathir tampak begitu tampan ya?
Entah mengapa pikiran Zeze kini terdengar kotor, apakah dia menaruh hati pada Fathir?
"Hust hust." Salman yang melihat dari jarak yang lumayan jauh pun menyenggol Baron yang lagi asyik main HP. Dia pun menoleh dan menatap Zeze. Mata Zeze tak lepas daMri wajah Fathir yang memang sangat tampan dan mempesona.
"Waaah, bakal seru nih, bagaimana kakau ternyata bos Zeze jatuh cinta dengan Fathir dan Fathir pun demikian?" Tanya Baron.
"Ah jangan bercanda kamu, Fathir itu mati matian untuk ngendapatin Non Shaina, mana mungkin dia setega itu." Jawab Salman.
"Ah kamu, kayak nggak tau aja, sekarang kan emang zaman gitu euy, waktu ngejar, gunung tinggi pun di daki, eh giliran udah dapat, malah di buang begitu saja." Sahut Baron lagi.
"Jangan ah, aku nggak rela, Fathir udah cocok sama Non Shaina yang sholehah." Timpal Salman.
"Kita liat aja nanti!" Sahut Baron.
...
...
...
Kini siaran langsung di televisi swasta lokal, dan kebetulan suster yang merawat Zahwa pun melihat itu di ruangannya.
"Lho... itu kan pasien yang aku rawat sekarang? gawat, aku harus memastikannya sendiri."
Suster itu oun berjalan menuju ruangan Pasien.
Ceklek
__ADS_1
BERSAMBUNG....