Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Rumah buat Zahwa


__ADS_3

Sementara Fathir ternyata dia tidak langsung pergi dari kampung Shaina berada, dia pun ke warung bu minah yang ada di pinggir jalan.


"Bu, bolehkah aku minta bantuan ibu?" Ucap Fathir.


"Kau siapa?" Bu inah tampak bingung karena merasa tidak mengenal Fathir.


"Aku pernah mampir ke sini, boleh aku bicara sama ibu?" Ucap Fathir lgi.


"Boleh, ayo duduk di sini." Jawab Bi Inah.


Fathir pun duduk di sebuah bangku panjang, karena kios bu inah sedang sepi jadi mereka bisa leluasa bicara.


"Begini bu, aku mau mencari rumah, apa ada orang menjual rumah besar di sini?" Fathir memukai pembicaraan. buat apa rumah?


"Kalau di sini tidak ada tuan. Kalau di kampung sebelah ada." Jawab Bi Inah lagi.


"Kampung sebelah? apa ada yang bisa mengantarkan aku ke sana?" Fathir tidak tau jalan tentunya, marena dia tidak tau daerah situ.


"Tunggu, aku akan menelpon ponakanku dulu ya." ucap Bi inah lahi, dia pun berjalan ke dalam. Bu inah pun mengambil Hpnya dan menghubungi seseorang.


....


....


....


"Nak, tunggu ya, biar budi ponakanku mengantarkanmu ke sana, oh iya, apa ada pekerjaan ya, karena ponakanku ini tidak punya pekerjaan, kalau ada sih sembarang, orangnya nggak milih milih untuk kerjaan."


"Baik bu, aku akan bicara dengannya."


"Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam." Bersamaan.


"Kau Budi?"


"Iya Mas."


"Antarkan anak ini ke rumah yang mau di jual di kampung sebelah, kau tau kan, yang di pinggir jalan itu?" Ucap Bi Inah lagi pada ponakannya.


"Apa Mas mau membelinya?" Tanya Budi.


"Aku akan melihat lihat dulu, kira kira sebesar apa dan seharga berapa ya?" Fathir pun bertanya.


"Kalau tidak salah ukurannya itu 25x30 Mas, kalau harganya kemaren 700juta. Tapi masih Nego, memang Mas mau pindah atau mas ini jual beli rumah?" Tanya Budi penasaran.


"Untuk di tempati sendiri, Baiklah, mari!"


Mereka pun pergi menuju Rumah tersebut.


setelah 20 menit perjalanan.



"Ini rumahnya Mas." Budi pun menunjukkan sebuah rumah minimalis yang terliahat indah dan tak terlalu besar.


"Wow, Fantastis." Ucap Fathir, kayaknya di sudah jatuh hati.


"Apa Mas tertarik?" Tanya Budi.


"Sangat, sangat tertarik, ayo! bawa aku menemui pemiliknya." Fathir meminta untuk bertemu penjualnya.


"Baik Mas, mari!" Budi juga tampak senang, karena dia pasti dapat royalti dari penjualan tersebut.

__ADS_1


Mereka pun menuju pemilik rumah tersebut.


"Assalamualaikum." Ucap Fatjir, dia teringat lesan Ustadz, slalu mengucsp salam.


"Wa alaikum salam. Siapa ya?..... ooh Mas Budi, masuk!" Seorang napak bapak nyembul dari pintu depan.


...


...


...


"Mau nanya soal rumah, apa masih mau di jual?" Ucap Fathir.


"Oh, masih, apa Tuan berminat?" Bapak itu terlihat berseri dan berharap rumahnya laku, kali ini.


"Saya sangat berminat Pak." Sahut Fathir.


"Tapi harganya naik Mas, karena sekarang semua bahan juga naik, kami menawarkan 1.200.000.000 juta." Ucap bapak itu.


"Apa? kok tinggi sekali Pak, kemaren kan cuma 700 juta, aku juga bilang sama Mas ini segitu. Bagaimana Mas?" Budi tampak merasa tidak enak, karena telah salah menginfokan.


"Apa tidak kurang lagi?" Fathir pun menego.


"Bisa aja Mas." Jawab pemiliknya.


Setelah nego negoan sekian dan sekian tercapailah kesepakatan.


"Baiklah, deal 850 juta ya." Ucap Fathir.


"Ya, oh iya, kalau di belakang masih ada sisa tanah ukuran 7x30 tuan, jadi masih bisa buat sebuah rumah mungil." ucap Bapak tersebut.


"Oh, begitu? oh iya, pembayaran mau transfer atau cas." Fathir bertanya kembali.


"Baiklah, Budi, besok temenin aku ke Bank ya. Sekarang ayo kita pulang dulu." Ucap Fathir.


"Baik Mas." Budi pun pamit kepada Bapak pemilik dan berjanji akan datang besok.


Diperjalanan.


"Budi, aku ingin kau jadi satpam di rumah itu nanti, apa kau mau, masalah gajihnya, kau mau berapa?" Tanya Fathir


"Benarkah, terimakasih Mas.masalah gajih asal cukup makan saja aku,sudah senang." Ucap Budi.


"Masalah makan nanti itu gratis, kau akan aku buatkan rumah kecil di belakang, jadi kau standbay siang malam, nanti anakku dan 2 orang wanita yang akan tinggal di sana." Rumah itu pasti buat Zahwa dan keluarga.


"Baiklah, Bos terimakasih banyak."


"Kok tiba tiba panggil Bos?" Fathir menatap Budi dan mengernyitkan alisnya.


"Karena mulai sekarang kau adalah Bos yang memberiku pekerjaan Tuan." Budi terlihat sopan.


"Hahaha, santai saja." ucap Fathir.


Mereka pun sampai di warung Bi inah. Fathir pun di suguhi kopi manis dan berbincang banyak bersama Budi.


"Hendra." Gumam Fathir, ketika matanya tertuju pada sebuah mobil yang lewat, yang di dalamnya ada Hendra.


"Apa Bos?" Tanya Budi heran.


"Oh nggak, itu tadi temen lewat, udah ya, aku pamit, nanti besok aku kesini lagi, Budi tolong no HPmu."


Budi pun menyerahkan no Hp.

__ADS_1


*


*


*


"Assalamualaikum, Mi?"


"Wa alaikum salam, Nak Hendra?"


"Hendra, aku mau bicara." Tiba tiba Fathir datang.


"Tuan masih di sini?" Ummi bingung, padahal Fathir udah pergi sejak sejam yang lalu.


"Ada apa?" Hendra pun mendekati Fathir.


"Aku ingin kau menjauhi Shaina dan bayiku."


"Heh? dia itu calon istriku, mengapa aku harus menjauhinya?" Hendra tersenyum sinis, membuat Fathir tambah emosi.


"Kau tidak boleh menikahinya, aku adalah ayah Zahwa, aku tidak percaya dengan siapa pun untuk menjadi ayah sambungnya." Fathir tidak terima kalau Shaina di nikahi Hendra.


"Hei, selama 7 bulan ini kau ke mana saja? mengapa kau tak berusaha mencarinya?" Hendra pun tampak emosi menanggapi larangan Fathir.


"Aku sudah berusaha mencarinya, bahkan aku sempat beberapa kali hampir bertemu dengannya, namun dia menghindar." Fathir tampak menurunkan suaranya dari sebelumnya.


"Berarti dia tidak ingin menikah denganmu, lagian kau punya banyak wanita, buat apa lagi kau mau menikahi Shaina?" Hendra menunjuj muja Fathir.


"Kurang ajar, lancang sekali mulutmu ini heh."


Buk buk buk


Hantaman keras pun mengenai pipi Hendra, dan bibirnya pun mengeluarkan darah segar.


"Hentikan, cukup." Ummi pun melerai mereka.


"Hentikaaaaaaan." Tiba tiba Shaina berdiri di depan pintu dan menyaksikan perkelahian itu.


Buk buk buk


Shaina pun mengambil sapu lidi dan memukuli Fathir berulang ulang.


"Pergi kau dari sini! pergi kau dari hidupku pergiiii!...hik hik hik." Shaina mengamuk dan menangis, dia benar benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.


"Shaina, maafkan aku." ucap Fathir sambil mau mendekat, namun Shaina mengacungkan sapunya kembali.


"Pergi! pergi kau baji ngan. pergi dari hidupku. hik hik hik."


"Nak, ku mohon, pergi lah, biar Shaina tenang dulu tolong."


Hendra hanya mampu menatap wanita pujaannya itu dengan hati yang sangat pilu. Dia merasakan apa yang, Shaina rasakan, dilerkosa dan hamil, melahirkan tanpa suami, sangat sulit.


Bruk


Shaina jatuh pingsan setelah mengamuk.


BERSAMBUNG....


Mampir yuk.


WANITA BERCADAR BIRU


80 epesode.

__ADS_1


__ADS_2