
Ny.Linggar kaget melihat kelakuan Shaina, dia pun tersenyum dan berbicara pelan.
"Apa kau mau makan?" Tanyanya pada Hendra.
"Nanti saja Mah," Berbisik.
"Besok aku ingin membawanya berobat ke luar kota." ucap Ny.Linggar
"Mah nanti saja kita bicara, biar dia istirahat dulu." jawab Hendra
Ny.Linggar pun mengangguk dan keluar.
Tubuh Hendra terasa kesemutan karena sudah cukup lama Shaina tertidur. Dia pun bcana memindahkan tubuh Shaina ke samping.
"Up......"
"Uaaaaah." Shaina terbanhun dan menggeliat.
"Oh?" Hendra pun kaget dan berhenti bergerak.
"Mas? maaf, aku ketiduran." Ucap Shaina yang spontan memanggil Mas.
"Oh, kau bangun? maaf aku
membangunkanmu ya?" jawab Hendra.
"Obang, ooh, kenapa aku ketiduran, kamu pasti cape. aku ketiduran, habis aroma wajahmu bikin Buncin hihi." Shaina pun memijet mijet tubuh suaminya.
__ADS_1
Hap
Hendra menangkap kedua pundak Shaina dengan kedua tangannya dan membawanya mendekat, wajah mereka saling bertatap dan makin mendekat. saat Bi...bir mereka bertaut mereka saling merasakan keindahan yang luar biasa.
Selanjutnya begitu aja lamaaa. banget.
Maaf ya... Author udah janji, nggak bekalan bikin Novel yang berbau por.....nog...rafi, jadi nggak bakalan ada tuh di novel author yang begituan. walau MP sekalipun 😁. orang yang suka baca novel begituan dia akan terasa hambar klo nggak baca, kyaknya gitu. tapi klo mau berhenti harus dipaksain, karena takut belum nikah trus nggak ada penyaluran.
"Obang mau makan?" Tanya Shaina.
"Iya, ayo kita keluar, tamu pasti sudah pada pulang." Ucap Hendra.
"Zahwa gimana? nggak di ASI-in?" ucap Hendra lagi, dia merasa dari siang tadi nggak merasa Shaina keluar kamarnya.
"Udah di stok kok tadi malam buat dia." Mereka pun keluar kamar. dan menuju dapur.
"Biar aku cari sendiri Bi, Obang mau makan apa?" Shaina oun menarikkan kursi untuk Hendra duduk.
"Kebalik lagi Can, yang seharusnya ngambilin kursi itu aku, bukan kamu.hihi." Hendra pun duduk.
"Nggak papa Bang, kan Obang lagi sakit!" Shaina pun membuka tudung saji.
"Mau opor ayam aja.",Ucap Hendra ketika melihat kuah yang kental itu sangat menggodanya.
Shaina pun mengambil kan nasi dan opor ayam.
"Kamu bisa masak opor?" Tanya Hendra.
__ADS_1
"Nggak bisa Bang, aku nggak bisa masak, klo dadar telor bisa kok, hihi." Shaina merasa sedikit malu.
"Nggak papa kan ada Bibi yang masak, kamu layanin aku dan Zahwa saja ya?"
Shaina menatap Hendra dan mengangguk.
"Obang, apa ada cita cita yang belum Obang capai?"
Hendra tampak berpikir.
"Sudah semua, yang terakhir itu ya nikahin kamu haha." Hendra kembali tertawa lepas, seakan tidak ada beban dalam hidupnya.
"Kalau nanti kita punya anak? kita namai apa ya?"
"Ah masih lama, MP juga belom, hihi." Hendra tertawa kecil. banyak tawa di wajah Hendra yang membuat Shaina makin sedih.
Obang, aku berharap semua yang dokter katakan itu salah. Mudahan ada keajaiban yang di berikan Allah untuk kita.
Bathin Shaina. Dia menatap wajah Hendra dengan tatapan kosong.
"Heyy, kenapa kau melamun, Ocan!" Hendra pun menggoyang pundak Shaina.
"Ho? ooooh, hihi, aku baru menyadari kalau wajah suamiku ini sangat tampan." ucapnya.
"Ooooh, ternyata kamu Pintar ngegombal ya, hahaha." Shaina pun tersenyum, kayaknya dia memang harus pintar ngegombal, biar kelak ketika ingatan Hendra hilang, dia akan mengingat sesuatu yang menyenangkan.
Sementara bibi yang sedang mencuci piring telah meneteskan air matanya, karwna telah mengetahui penyakit Hendra. Bibi yang slalu menemani Hendra sejak Hendra berusia 7 tahun itu sangat sedih.
__ADS_1
BERSAMBUNG....