Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Mebujuk untuk Menerima


__ADS_3

Rangga sudah sampai di Rumah sakit.


Perawat pun langsung memasangkan infus. Wajah Rangga terlihat pucat, dia terus meingis menahan sakit.


"Beng, bagaimana ini?"


"Sabar sayang, kita dengar penjelasan dari dokter dulu." Bujuk Fathir menenangkan Shaina yang terlihat panik dan meneteskan air mata.


"Obang, maafkan aku!" Gumamnya, namun tentu saja Fathir tidak mendengar. Karena Fathir suka cemburu kalau mendengar kenangannya bersama Hendra.


Setelah diperiksa dan di tanyai apa saja yang sakit.


"Maaf mbak, kayaknya anak ibu mengalami infeksi lambung. Dan ini sudah memdekati parah, maka kami harus mengoperasinya."


Ucap asisten,dokter yang jaga.


"Oh Allah, bagaimana ini Beng, berapa biayanya Pak?"


"Karena dia belum ada BPJS kemungkinan memakan biaya 30 juta Bu."


"30 juta? Beng!" Wajah Shaina pun terlihat muram, mengingat dia tidak punya uang sebanyak itu.


"Sayang, sabar duku, aku akan berusaha."


"Hah, Beng...aku baru ingat, kenapa aku melupakan itu?"


"Ada apa?"


"Uang yang dulu Bebeng berikan, nggak lernah aku pakai, ada berapa ya, 500juta kalau nggak salah."


"Hah? benarkah?ya Allah sayaaaang, kok kamu sampai lupa sih?"


Ucap Fathir, wajah Shaina pun berseri.


...


...


...


"Nek, kok ikannya nggak enak sih, biasanya mama yang masak enak kok."


Protes Yola saat memakan ikan goreng yang ke asinan.


"Yola, nggak boleh gitu sama Nenek, itu kan telor dadar ada, biar makan itu aja." Bujuk Zahwa.

__ADS_1


"Nggak mau, itu juga pasti asin, biar aku telpon Papa aja buat beli in ikan bakar kesukaanku."


Ucapnya.


"Jangan, papa sama mama lagi ngurus dek Rangga di Rumah sakit." Ucap Zahwa.


"Papa kan bisa pulang, trus mama yang jagain Rangga, masa jaga gitu aja mesti berdua?"


Ucap Yola kasar.


"Mama jagain di kamar, trus papa ngambilin obat dek Yolaaa." Sahut Zahwa.


"Tapi kan Rangga itu bukan anak papa, kok mesti papa yang jagain juga?" Ucap Yola lagi.


"Yola, sekarang Rangga itu juga anak papa," ucap Zahwa lagi.


"Papa Rangga itu udah mati kakaaak."


"Dek, nggak boleh ngomong gitu, kalau manusia itu makhluk paling sempurna, kalau tiada itu ya menjnggal, kakau binatang, pohon barulah mati."


"Sama aja kale."


Yola pun berjalan menuju kamar.


"Zahwa...kamu jangan terlalu sering ngenjawab Yola, biarkan saja dia, nanti dia akan mengerti sendiri, dia mudah tersinggung, aku takut nanti dia malah marah padamu Nduk." Ucap nenek.


Zahwa pun membantu menyapu se isi rumah mungil itu.


🌷


🌷


🌷


Pasca operasi Rangga, Dia terlihat mulai beraktivitas dengan berjalan di bawah matahari pagi.


"Bagaimana sayang perutnya? udah nggak sakit lagi?"


Tanya Shaina yang menemani Rangga berjemur.


"Sedikit nyeri aja mah. Papa mana?"


"Papa lagi kerja sayang, masih di bagunan baru buat kita bikin warung es buah yang baru, alhamdulillah pelanggan kita udah banyak dan sekarang harus buka cabang baru." Ucapnya.


"Alhamdulillah, mama jangan sedih lagi ya, Rangga janji, kalau nanti Rangga besar akan jagain mama kok."

__ADS_1


"Emch, terimakasih sayang." Shaina pun menggandeng Rangga masuk ke dalam rumah, karena sudah terlalu lama berjemur.


...


...


...


Fathir tampak sibuk mengontrol warung jus cabang miliknya, kini Fathir dan Shaina sudah menjadi Bos warung Jus yang sudah berdiri 5 buah di kota itu sangat ramai.


"Assalamualaikum."


Suara yang sudah sangat lama tidak pernah terdengar itu membuat Fathir terkejut.


"Wa alaikum salam."


Fathir berbalik dan berdiri takjub, dia tidak bergerak, tidak bersuara bahkan hanya menatapnya saja.


"Apa kau tidak ingin mempersilahkan kakek tua renta ini duduk?" Ucap Pa Linggar.


"Oh, silahkan pak." Fathir pun mempersilahkan kakek Rangga duduk di kursi depan.


"Bagaimana kabar Shaina dan anak anak?"


Sebenarnya Fathir sempat membenci orang tua ini, orang yang telah menghancurkan bisnisnya.


"Alhamdulillah mereka baik, ada apa Bapak menemuiku?"


Ucap Fathir, dia merasa tidak suka di datangi laki laki ini.


"Aku akan mengembalikan semuanya padamu, apa yang pernah aku ambil dulu, klien dan perusahaan." Ucap Pa Linggar.


"Maaf Pa, sekarang kami sudah pulih dari keterpurukan itu, dan kami juga sudah memulai bisnis baru yang berjalan lancar, aku sanggup memberi ke tiga anakku kehidupan yang layak seperti dulu lagi." Ucap Fathir menyombongkan diri.


"Aku hanya punya Rangga, dan aku berharap kamu mau menggantikan aku sebelum Ranggaku besar." Pintanya lagi.


"Tapi maaf, aku tidak bisa, bukankah dulu bapak sendiri yang telah mencabut Rangga dari ahli waris itu?" Ucap Fathir lagi.


"Hufs, aku tau aku salah, aku minta maaf, baiklah, aku akan menunggumu berubah pikiran, karena aku tau, Shaina akan mendengarkanmu, jadi akan sia sia kalau aku menemui nya, makanya aku putuskan untuk menemuimu terlebih dahulu."


Pa Linggar pun pamit.


Fathir hanya memandang lelaki itu, walau ada sisi hayinya yang merasa kasian, melihat lelaki tua itu berjalan tertatih tatih karena usia.


Haruskah aku sampaikan ini pada Shaina? namun mungkin akan menggores luka lama lagi, di mana pa Linggar pernah menghinanya.

__ADS_1


Lirih hati Fathir.


BERSAMBUNG....


__ADS_2