Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Bertemu


__ADS_3

Damon pun terus mengingat-ingat, namun ia tidak bisa konsentrasi karena adiknya mengajaknya ngobrol.


"Mas, lagi suapin doong." Di mata orang yang tidak tau, tentu saja Loli terlihat normal, karena kelakuannya tidak terlalu tampak, kalau dia stres berat.


"Iya, ini aaaa...aaa." Loli makan dengan lahap.


Sementara di sebrang di restauran yang sama.


Deg


Apa lelaki itu banyak istri? wanita itu jelas bukan yang waktu itu bertemu dengan kami.


Shaina tampak tambah bingung. Ayah dari bayi yang di kandungnya punya banyak istri, malah yang ini juga lagi hamil tua. Batinnya.


"Mas ayo cepetan makannya, aku agak sedikit mual nih, mungkin Debay minta banyak istirahat." ucap Shaina pada Hendra. dia pun tergesa-gesak menghabiskan makanannya.


"Kamu sakit? baiklah, Mi apa mau membungkus lagi?"


"Nggak usah Nak ini aja, udah kenyang, lagian di rumah juga udah banyak lauk kok." ucap Ummi.


Hendra pun ke kasir untuk membayar, sementara Shaina tampak masih mencuri-curi pandang pada Damon, hatinya terasa sakit, dia baru tau kalau ayah dari bayinya itu play boy suka mempermainkan wanita, tak terasa ada setetes air mata menetes di ujung matanya."


"Nak, Shain, kamu sakit nak?" Ummi malah khawatir melihat anaknya tiba-tiba menangis.


"Oh iya Mi, perutku sedikit kram," Bohongnya.


Hendra selesai membayar dan mereka pun berjalan menuju mobil, Shaina terus menutupi mukanya dengan Masker, namun ternyata Ada ikatan bathin antara Damon dan anaknya itu.


Deg


Apakah itu Shaina?


Bathin Damon, dia sesaat terpana menatap wanita yang sedang hamil berjalan berdampingan dengan seorang lelaki. Walau Shaina menutupi sebagian wajahnya, namun entah mengapa Damon masih ingat mata itu, mata yang menghiba dan menangis malam itu.


"Bu, tunggu di sini ya? ada sedikit urusan, Loli, Mas Bay mau pipis tunggu ya." Loli hanya mengangguk.


Ketika Shaina sudah masuk ke mobil dan Hendra pun sudah menghidupkan mobilnya. dari kejauhan.


"Shainaaa.....tungggu...Shainaaaa, ini aku.."


Damon berteriak sambil berlari.


Shaina yang mendengar pun panik, tidak mungkin dia menemui lelaki bajingan itu, dia tidak ingin bertemu sekarang, tidak sekarang.


"Shaina, apa kau mengenalnya?"


"Mas ayo cepat, nanti aku jelaskan, ayo jalan!"

__ADS_1


Melihat kepanikan Shaina, Hendra pun melaju dengan cepat meninggalkan parkiran restauran. sementara terlihat dari spion Damon masih mengejar mobil Hendra sampai Mobil tenggelam di kejauhan jalanan.


"Shainaaaaa.." Damon tampak terjatuh di jalanan, dia menangis, mengapa harapannya slalu pupus begitu saja.


Maafin Author ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€. Setelah ini kalau ketemu lagi, pasti Author temuin Deh beneren sumpah๐Ÿ™Kalau ada๐Ÿ˜€.


"Shaina, sebenarnya ada apa sih? mengapa lelaki itu mengejar kita? dia juga memanggil-manggil namamu lho, apa dia mantanmu? atau orang sepertiku yang juga tergila-gila padamu heh?" Cecer Hendra penasaran.


"Nak Hendra ada-ada aja, semasa hidupnya, Dia tidak pernah boleh pacaran, dia anak yang sangat taat pada orang tua Nak." jawab Ummi, sedang Shaina terlihat masih gugup dan pucat juga sedikit gemetar.


"Lalu siapa dia?"


"Mas, nanti di rumah ya." Pinta Shaina. Shaina sangat pucat.


"Ini Nak, minum dulu." Ummi oun memberikan sebotol air mineral pada Shaina.


Guk guk guk


habis seketika, cuma ukuran kecil sih. keringat oun keluar dari jidad Shaiana.


"Nak, kamu kenapa? sakit?"


"Tidak Mi,"


"Tapi kamu kok gemetar?"


"Shain, kenapa kau berpikiran begitu? aku siap menjadi bapaknya, kita kubur semua masa lalumu ini, kita akan hidup bahagia, kita akan pergi jauh, sehingga tak satu pun ada orang yang mengenalimu lagi, kau jangan khawatir berlebihan, nanti malah stres dan mengganggu janinmu." Ucap Hendra.


"Tapi bagaimana kalau tiba tiba ada yang mengenaliku dan membocorkan rahasia ini, takdir itu siapa yang tau, aku benar benar khawatir." Shaina mengelus elus perutnya yang sudah besar.


"Nak, kita serahkan saja kepada Allah, Dia lebih tau segalanya, tanpa harus menduga duga, mudahan Allah sembunyikan aib kita, selama ini kita tidak pernah mencampuri aib orang kan? lagian ini juga kecelakaan, bukan di sengaja."


"Maafkan Shaina Mi. Shaina telah banyak mengecewakan Ummi di hari tua Ummi, Shaina janji akan selalu menjaga Ummi sampai kapanpun, meski Shaina tak pernah menikah sekalipun."


"Shain, kok gitu, aku akan menerima bayi dan juga Ummi dengan senang hati di rumah kita nanti, percayalah padaku."


Sepanjang jalan penuh dengan drama kehidupan. Ummi yang melihat Shaina sedih pun tak mampu menyembunyikan tetesan bening di ujung matanya, hatinya pun sakit sama seperti Shaina, kadang dia juga mengutuk dirinya yang telah gegabah subuh itu.


"Shain, maafkan Ummi juga ya?"


"Untuk apa Mi?-


"Bukankah semua ini karena kebiasaan Ummi tidak mengunci pintu saat pergi ke pasar?"


"Ummi hik hik hik." Tangis,Shaina malah menjadi jadi.


Tak terasa mereka pun sudah sampai di halaman rumah. Shaina masih terlihat pucat dan lemes. Merwka pun turun dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Shain, sebenarnya ada apa? siapa dia?" Hendra dan ummi terlihat sangat penasaran melihat tingkah Shaina tadi.


"Apa ibu mengenalnya?" Tanya Hendra.


"Tidak Nak, ibu baru kali ini melihatnya.


"Kita masuk dulu, aku akan menceritakannya."


Mereka pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Kalian ingin tau dia siapa?" ucap Shaina


"Iya Shain." jawab Hendra yang sangat penasaran.


"Masih ingatkan Mbak Zeze anak pak manae, dulu aku pernah melihat lelaki itu menggendong bayi bersama mbak Zeze, keluar dari sebuah Mall, mungkin mereka suami istri. Tadi lelaki itu sedang bertiga dengan wanita hamil dan juga ibu-ibu, mungkin ibunya, dan Bumil itu juga mungkin istrinya." Shaina terdiam sejenak.


"Trus apa hubungannya denganmu? kenapa dia mengenalmu?"


"Itu...itu." Shaina tampak ragu dan menatap wajah ibunya lekat-lekat.


"Ada apa Nak?" ibunya tambah khawatir lagi.


"Dia lelaki malam itu, ayah dari bayi ini." Shaina mengelus perut besarnya.


"Apa?" Bersamaan.


Hap


Hendra pun mengambil kuncinya dan berlari menuju Mobil.


"Mas mau ke mana?" Shaina berteriak kecil.


"Aku akan memberinya Pelajaran lelaki buaya itu."


"Mas, jangan! sudahlah, aku tidak apa apa, aku hanya perlu menghindarinya, agar aku bisa tenang."


"Dia harus tau, bahwa dia telah menorehkan luka yang dalam Shain. agar dia tau cara menghormati wanita." Hendra oun mauk ke dalam mobilnya.


"Jangan Mas tunggu! aku tidak ingin bertemu dengannya, aku sudah beberapa kali menghindarinya, ku mohon, biarlah semua ini terpendam selamanya, aku ingin tenang Mas."


"Tidak bisa Shain, kau tidak boleh asrah seperti itu,"


"Tidak!" Shain lun berdiri di depan mobil Hendra.


BERSAMBUNG....


Like dan komen. upah lelah ketika berfikir mencari ide๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2