Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Di ambang kebangkrutan


__ADS_3

"Ayo di makan! Rangga , jangan melamun, Zahwa, Yola mana?" Tanya Shaina saat makan pagi di dapur.


"Masih di kamar Ma, katanya makan di sekolah saja," Jawab Zahwa.


"Lho, kok gitu, semua orang udah mau makan bersama dia malah bertingkah, susah payah aku bikin telor dadar ini sampai gosong sebelah." Gumam Fathir.


Fathir pun berdiri, terlihat ekspresi wajahnya kesal.


"Beng makan saja, biar aku yang datengin."


Shaina pun berdiri dan setengah berlari menuju kamar.


Ceklek.


"Sayang, ayo makan!" Ajak Shaina.


"Nanti saja Ma, di kantin." Sahutnya tanpa menoleh.


"Nanti papa marah lho! hari ini menu spesial telor dadar bikinan papa." Bujuk Shaina lagi.


Yola pun berdiri dan berjalan menuju dapur, dia memang takut kalau papanya marah.


Bruk


Yola menghempaskan diri di kursi dapur.


"Yola! ada apa sih denganmu?"


Tanya Fathir, namun Yola tidak menjawab, hanya wajahnya saja terlihat cemberut.


"Yola, hari ini masakan papa enak lho, walau agak gosong hahaha." Ucap Zahwa, namun juga tak di hiraukan.


Sementara Rangga sudah menyelesaikan makannya dan berjalan menuju ruang tamu.


Yola pun mengambil sedikit nasi dan memakannya.


"Semuanya selesai makan, ayo berangkat! hari ini mama yang jemput ya!" Ucap Fathir.


"Iya pa." Hanya Zahwa yang menyahut.


"Hati hati Beng,"


Shaina pun salim dan Fathir pun kecup mesra jidad Shaina, kali ini pun membuat hati Yola cemburu. Sensitif amat Yola ih.


"Assalamualaikum." Ucap Zahwa.


"Wa alaikum salam."

__ADS_1


Rangga dan Zahwa sudah salim dan diberi kecupan di jidad. Pas giliran Yola dia hanya salim, saat Shaina ingin mengecup jidadnya Yola segera berpaling.


Pasti ada sesuatu nih.


Lirih hati Shaina.


Di dalam mobil Rangga masih tampak diam begitu juga Yola.


"Yola, kok wajahmu cemberut, ada apa sih?" Zahwa yang memang suka bicara pun bertanya.


"Nggak papa kok." Jawabnya.


"Tapi kok wajah kamu gitu." Tanya Zahwa lagi.


"Nggak kok, oh iya, gimana rasanya masih kecil udah di bikinin papah Rumah besar?"


Tanya Yola.


"Apa kamu marah karena rumah itu? kalau kamu mau, kamu boleh ambil kok, tapi itu kan rumah kita bersama." Sambung Zahwa sendiri.


"Papa pasti sangat sayang sama kamu kan?"


Mereka berbicara seakan berbisik biar Fathir tidak mendengarnya.


"Kalian kenapa bisik bisik, ada rahasia rahasiaan ya sama papa?" sahut Fathir.


Ucap Zahwa.


"Emang kenapa rumah itu untuk Yola? rumah itu kan milik Zahwa sebelum Zahwa lahir! Rumah itu papa hadiahin waktu Zahwa masih dalam perut mama lho!"


Ucap Fathir. Uh uh uh... bikin hati Yola makin terbakar aja ni papa.


"Oh ya? emang Papa sangat sayang ya sama kak Zahwa."


Kaki ini Rangga yang jadi penasaran.


"Papa sayang kok sama kalian semua, tapi kan saat itu baru Zahwa yang ada, sementara kalian berdua belum lahir."


Ucap Fathir lagi.


"Tapi waktu Yola belum lahir, papa nggak ada hadiahin Yola rumah tuh!"


Jawab Yola terdengar kesal.


"Mmmm, jadi Yola pengen rumah juga?"


Kaki ini Fathir mengerti, mengapa Yola uring uringan di rumah. Pasti merasa cemburu.

__ADS_1


"Siapa sih yang nggak ingin rumah mewah kayak gitu," Jawabnya.


"Oke! tapi Yola janji ya...rajin belajar dan jangan males, nanti papa nabung dulu, kalau udah cukup uang papa akan beli in rumah buat Yola juga ya!"


Bujuk Fathir.


Yola pun tersenyum, ada harapan dan Halu yang jauh ke masa depan, rumah yang besar dan megah, itulah yang ada di pikirannya.


...


...


...


"Maaf pak, ada laporan keuangan dari bendahara." Ucap Staf yang masuk ke ruangan Fathir.


"Baiklah, silahkan duduk!"


Karyawan itu pun duduk.


"Begini pak, laporan ini tidak sesuai dengan pengeluaran, dan bahkan bonus karyawan bulan tadi lemburan pun belum di bayar pa."


Adu supervisor itu.


"Apa? jadi kalian hanya menerima gajih pokok? baiklah aku akan menelponnya."


tut tut tut


Tidak tersambung, berulang kali menelpon, namun tidak tersambung.


"Sial, kemana dia? mengapa tidak aktif?"


Gerutu Fathir.


Tok tok


"Masuk."


"Pak, gawat, penanam saham menarik semua sahamnya dari perusahaan kita, dan mereka pun pindah ke perusahaan Linggar grop."


Seorang karyawan yang baru masuk memberi kabar yang sangat buruk.


"Oooh, apa ini? Linggar grop? keterlaluan, ini pasti olah mertua Shaina."


Gerutu Fathir.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2