
Damon pun kembali ke Mansion.
"Tuan dari mana? Kok tampak kusut gitu?" Paman satpam menyapa Damon yang baru tiba.
"Jalan-jalan paman, sumpek." Damon pun duduk di pos paman satpam.
"Dari ngapelin pacarnya? kok kusut gitu, di putusin ya, ah masa, ada orang yang tega mutusin lelaki tampan kayak Tuan." Damon tak merespon, dia pun menatap layar ponselnya sambil bersandar di kursi butut.
Shaina, kau di mana, beberapa berita udah ku kirim namun kau belum juga ku temukan, aku akan terus mencarimu, ada anakku di sana, jangan sampai dia tumbuh tanpa ayah sepertiku.
"Tuan, Tuan, sudah pagi Tuan." Paman satpam lun menggerak-gerakkan tubuh Damon yang tidur sambil duduk.
"Uaaaaaah, sudah pagi? rasnya tubuh ini sakit semu paman, terimakasih tumpangannya."
Tap
Tap
Tap
Damkn lun masuk ke dalam rumah besar itu.
"Damon. Kau ke mana saja, kenapa telpon tak di angkat?" Pak Manae manyongsongnya di depan pintu rumah.
"Maaf Pak, saya ketiduran di depan pintu gerbang di los saypam, saya akan mandi dulu." Damon lun permisi dan berjongkok.
"Selesai Mandi dan makan aku tunggu di ruanganku ya!" Ucap Pak Manae.
"Baik Pak." Damon pun pergi ke kamarnya.
Ceklek
Dia membuka lemarinya untuk mencari baju ganti. Saat mengambil baju ganti
Sssset
sebuah kain segi 4 kecil jatuh ke kakinya.
Shaina
Bisiknya pelan, selayar berwana merah bekas pembalut luka dulu yang masih dia simpan. Dia pun mencium selayar itu.
Shaina, bagaimana pun caranya, aku harus menemukanmu, ada anakku bersamamu, kau di mana?
di genggamnya selayar itu di dadanya, ada tetesan bening mengucur dari sudut matanya.
Tok tok tok
"Tuan, anda di tunggu Pak Manae di ruangannya." Suara Bibi membuyarkan lamunannya.
"Baik Bi." Damon pun masuk ke kamar mandi.
Byur byur byur
Selesai mandi dia bergegas ke dapur untuk makan.
Tap
Tap
Tap
Damon terlihat melewati lorong menuju ruangan Pak Manae.
Ceklek
"Selamat pagi pak," Damon pun masuk.
"Duduklah! ada kerjaan untukmu besok, ini mendesak, aku terpaksa melakukan ini karena aku takut cucuku dalam bahaya." Ucap Pak Manae terlihat khawatir.
"Apa maksud Bapak, bukankah wanita Itu, Bu Mega adalah target terakhir kita?" Damon terlihat kesal.
"Aku tidak bisa menolak, kalau aku menolak maka mereka akan mengambil cucuku, pewaris tunggal perusahaanku Mon!"
"Hups, siapa mereka? biar mereka saja yang ku bunuh." Damon terlihat kesal.
"Damon, mereka orang kuat dan berkuasa." Manae tampak khawatir dengan Damon kalau dia bersikap nekat.
__ADS_1
"Aku sudah lelah pak, lebih baik aku membunuh orang yang mengancam kita, agar kelak dia tidak bisa lagi menakuti kita." Damon terlihat sungguh-sungguh.
"Kau ini, tidak semudah itu Mon." Ucap Pak Manar lagi.
"Baiklah, sekarang aku mau bertemu dengan orang itu, tapi tanpa sepengetahuan mereka, Bapak cukup melacak di mana sekarang mereka berada,aku pasti akan membereskannya." Damon benar-benar keras kepala.
"Terserah kau saja, tapi kalau terjadi apa-apa jangan pernah kau bawa-bawa namaku."
Pak Manae tak punya pilihan dia pun terpaksa mencari informasi keberadaan Tuan Manaf. Tuan Manaf dan Tuan Danu adalah sepupuan, tapi karena masalah harta warisan Tuan Manaf pun ingin melenyapkan Tuan Danu.
"Damon, malam ini Manaf ada di pabriknya yang di di kota A, dia turun langsung bersama anak buahnya, sekarang terserah kau, ini fotonya." Dano pun melihat foto di layar HP Pak Manae dan mengirimnya ke HP nya.
"Baik Tuan aku akan berangkat sekarang, dan mengincar dari jarak dekat.
Tanpa ragu Damon lun pergi dari Mansion Pak Manae.
#
#
#
Setelah berjam-jam, Damon pun sampai di kota tersebut. Dia beristirahat di penginapan dekat pabrik Pak Manaf.
#
#
#
3 jam sudah Damon menunggu kesempatan agar bisa menyusup masuk ke perusahaan, tempat yang sepi, akhirnya dia bisa masuk lewat pintu belakang, dia pun menyusuri lorong.
"Tuan Manaf, Ada telpon."
Langkah Damon terhenti ketika suara seseorang sedang bercakap-cakap, dia pun bersembunyi di balik dinding tak jauh dari mereka.
"Baiklah, kau pergi dulu aku ingin bicara privasi dengan orang ini." Manaf menyuruh anak buahnya pergi, karena dia ingin menelpon serius.
{Helo, sayang, ada apa}
{Aku harus mencari alasan untuk istriku kalau harus pergi lama sayang} Rupanya selengkuhan Pak Manaf.
{Baiklah, secepatnya}
Damon yang mengintip dari balik dinding pun menatap pergelangan tangannya yang di lilit selayar pemberian Shaina,
"Sayang, mungkin ini yang pertama juga terakhir, aku harus mem**nuh orang ini, karena dia bukanlah orang baik, Shaina, aku pasti menemukanmu, aku akan bertanggung jawab, Emch emch." Dia pun mencium selayar merah itu penuh cinta.
Buk
Buk
Buk
"Au, tolong, aduh, tolong."
Damon memukuli tubuh lelaki itu dari belakang, lelaki itu pun menjerit kesakitan.
Tap
Tap
Tap
Karyawannya yang tadi bersamanya lun datang.
"Hey, Hentikan,"
Dor
Damon pun tertembak di pinggangnya.
Bruk
Namun dia masih bisa melawan, dia pun mendorong Karyawan Pak Manaf hingga lelaki itu terjatuh dari lantai 3 ke lantai dasar. hingga tewas.Melihay Pak Manaf bersimbah darah karena kena pukulan,di kepala, Damon pun kabur, darah bercucuran dari pinggangnya tanpa henti. Sementara di bawah gedung. karyawan yang masih lembur pun terkejut melihat seseorang terjatuh dari lantai 3.
"Siapa dia?
__ADS_1
Mereka bergerombol untuk mengetahui.
"Bayu, dia bayu, innalillahi, dia sudah meninggal, ayo periksa di atas." security pun menuju lantai atas.
"Pak Bos terluka parah, ayo bawa,ke Rumah Sakit."
Pak Manaf tampak tidak sadarkan diri dengan darah terus mengucur dari kepala bagian belakangnya.
#
#
Sementara Damon terus berlari menuju jalan Raya yang sepi.mafena Labrik pak Manaf memang di daerah yang tergolong sedikit penduduk.
Tiiiit
Ketika sebuah kendaraan mendekat namun Damon seakan linglung dan terjatuh, pengendara pun panik dan turun dari motornya.
"Mas, ada apa? Mas, darah." karena lampu jalan menyorot wajah pengendara dan Damon, Damon pun menyadari siapa wanita yang ada di hadapannya.
"Sha,,,,ina, Ga....di...sku," Damon pun Pingsan karena kekurangan darah.
"Kau? apakah kau?" sesaat Shaina pun kaget ketika melihat dengan seksama wajah lelaki yang ada di depannya. bagaimana ini.
Dia pun menelpon mobil online terdekat.
"Tolong Pak, bawa dia ke rumah sakit aku akan mengikuti dari belakang. Mereka pun pergi menuju rumah sakit terdekat.
Tap
Tap
Tap
Ruangan IGD. Shaina terus beristigfar dalam hati berdo'a, agar ayah dari bayinya selamat.
Shaina terus menemani perkembangan Damon di dalam ruangan IGD tersebut.
Mas, sebenarnya siapa kau ini? mengapa kau sering sekali bertemu dengan bahaya.
Shaina pun menangis, dia tatap lelaki yang ada di depannya itu. Lelaki yang sangat tampan dan bersih. Tubuh Damon menggigil karena darah terus mengucur dari luka tembakan itu, karena menunggu dokter. Tim dokter pun datang, tubuh Damon langsung di bawa ke ruang operasi untuk pengambilan peluru.
Tring
Tring
Tring
Hp Shaina berbunyi.
Assalamualaikum
wa alaikumussalam
{Ibu, maaf, Shaina terlambat pulang, Shaina sedang mengantar orang sakit ke rumah sakit bu}
{Siapa sakit Nak}
{Nanti Shaina jelasin, sekarang Shaina tutup dulu bu ya}
Assalamualaikum
waalaikumsalam
Damon pun terlihat sudah selesai operasi dan di bawa keruangan biasa, Shaina pun mengikuti ke kamar di mana Damon di tempatkan.
Shaina duduk di sisi ranjang Damon.
"Shaina...Shaina..." Damon terus mengigau.
Shaina pun semakin menangis, mendengar lelaki itu menyebut namanya.
BERSAMBUNG....
Tinggalin jejak doong
Author crazy like nih😄😄😄
__ADS_1