Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Di Cegat


__ADS_3

"Aku tidak sengaja Ze, saat aku kembali untuk melamarnya, Dia sudah pindah rumah."


" Trus."


"Aku tidak bisa menemukannya di mana pun hik hik hik." Damon menangis, hatinya begitu sakit.


"Sabarlah Mon, mungkin ini pertanda baik bagimu, mungkin saja ini awal bagimu untuk bertemu dengannya."


"Aku sangat berharap Ze, apalagi dia sedang mengandung anakku,"


"Tapi aku lihat dia pakai kerudung Mon, apa mungkin dia bisa menerimamu, secara kau kan Non muslim?"


"Oh iya Ze, aku tadi bermimpi, saat Azan dzuhur, Shaina di bawa sekrang lelaki, aku sudah memohon padanya untuk tidak meninggalkanku, namun dia bilang, kami tidak bisa bersama karena kami berbeda. apa ini pertanda karena masalah perbedaan agama kami?"


"Ah, itu hanya mimpi Mon, apa kau mau mengorbankan agamamu demi wanita dan anakmu itu?" Zeze tampak penasaran.


"Aku belum memikirkannya sampai sana Mon."


"Baiklah, aku harus pulang dulu, biar asisten Papah nanti yang menemanimu ya, kasian Daxon kalau di tinggal kelamaan."


"Pak Manae mana? kok nggak kelihatan,dari tadi?"


"Mungkin beliau lagi ngopi di kantin, nanti aku telpon dulu. Udah ya, semangat, mudahan kau bisa bertemu anak loe itu ya."


"Terimakasih Ze."


*


*


*


Malam pun tiba, seharian ini Damon hanya memandangi tangan Shaina yang ada di foto itu, sesekali air matanya pun mengalir.


"Shaina sayang, apa maksud fotomu ini?" Damlon terus memandangi foto tangan di layar Hpnya.


"Apa kau sudah bertunangan?"


Terlihat juga Shaina sedang memakai cincin berbentuk bulan sabit di jari manisnya.


"Mana boleh kau menikah dengan orang lain, sedang kau mengandung anakku." Gumamnya lagi, dia terus berbicara sendiri, sampai akhirnya dia tertidur.


*


*


*


Pagi menyapa dengan indah, Asisten Pak Manae pun sudah menyelesaikan semua administrasi Damon, mereka pun keluar untuk pulang ke Mansion.


"Pak, bolehkah aku bertanya?"


"Silahkan Mon, kalau aku bisa jawab, aku akan menjawabnya."


"Bukankah Bapak Muslim?"


"Iya Mon, ada apa?"


"Apakah seorang muslim dilarang menikah dengan non Muslim?"


"Tentu saja Mon, Karena waktu ijab qabul itu harus membaca syahadat."


"Hemmm."


"Emang kenapa Mon?"


"oh tidak, mau tau aja."


"Apakah kau mencintai seorang muslim?"


"Hemmm, entah lah Pak."


*


*


*

__ADS_1


"Shaina, bukankah besok kau akan mengunjungi perusahaan terhebat?"


"Iya Mi, mudahan saja aku sehat dan tidak ada masalah saat besok."


"Sekarang kau istirahat saja Shain, biar besok kau segar bugar."


"Baik Mi, mau sholat isya dulu, baru bobo." Shaina pun ke belakang untuk mengambil air Wudhu. Selesai wudhu dia pun sholat dengan khusus. dalam sujut terakhirnya dia berdoa dalam hati.


Ya Robb....


apa pun takdir Engkau, itu lebih baik dari kehandak Hamba, ampunkan Hamba dengan segala tuntutan kesempurrnaan, akan tetapi Hamba hanyalah orang hina.


Shaina pun salam, walau sebenarnya dia tidak sanggup menjalani beban hidup karena hamil di luar nikah, dia harus kuat, ini bukan kemauannya. Ini semua juga takdir Allah.


Shaina pun berbaring di kasurnya dan mulai terbuai di alam Mimpi.


"Shaina, tunggu aku! jangan pergi Shaina! ku mohon."


"Tidak bisa, aku tidak bisa Bang, kita berbeda, kita tidak bisa, jangan memaksa."


"Shaina, dia anakku, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, tunggu!"


"Tidak, jangan memaksa, ku mohon, pergilah, jangan, lepaskan, jangan, jangaaan."


"Shaina, bangun Nak, bangun nak, ada apa? kau mimpi apa?"


"Ummi.... hik hik hik, apa aku bermimpi? sepertinya sangat nyata Mi. Dia lelaki itu."


"Siapa Nak? lelaki yang mana?"


"Lelaki malam itu, ayah dari bayiku Mi."


Shaina meneteskan air matanya, dia pun mengelus-elus perutnya berulang kali, tiap kali dia mengingat masa depan bayinya, dia slalu terisak.


"Nak sudah pagi, baiknya kau mandi dan sholat dulu udah jam 5 Nak. ayo!"


"Baiklah Mi, hari ini aku akan ke kota untuk melihat perusahaan rekan Bisnis mas Hendra. Mudahan tidak terjadi apa-apa."


"Banyak-banyak istigfar nak ya, biarlah semua yang telah lalu, mudahan kita bisa melaluinya Nak hik hik hik." ibunya pun memeluk tubuh Shaina dan mereka pun menangis bersama. setelah puas menangis barulah Shaina berdiri dan membersihkan diri di kamar mandi.


Tok


Tok


Tok


Hendra sengaja lebih awal datang agar dia bisa ikut sarapan, hihi, gratis.


"Wa alaikumsalam, eh Nak Hendra? masuk Nak, Shain lagi mandi, tapi belum makan, kok pagi banget, katanya berangkat jam 10 kan?"


"Hihi iya Mi, sekalian mau sarapan bareng." Hendra cengengesan sambil menarik-narik telinganya. Sudah kebiasaan Hendra kalau lagi tersipu dia sering narik-narik telinganya sendiri.


"Ha????." Shain yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat hendra sudah datang, dia pun kembali masuk kamar mandi.


"Mi....tolong ambilin kerudung! Shaina nggak bawa, kok Mas Hendra udah datang?"


"Bentar Nak ya, ayo duduk dulu." Hendra pun tersenyum sempat melihat rambut basah shaina yang pakai babydoll.


Shaina, mudahan kau jodohku, aku tidak perduli bagaimana pun masa lalumu.


Gumamnya.


Ceklek


Shaina pun keluar dengan mengenakan kerudung syar'inya.


"Mas, kok udah datang?" Shaina pun duduk di kursi butut di ruang tamu.


"Hihi, mau minta sarapan sayaaaang." goda Hendra.


"Ih malu ah ." jawab Shaina.


"Nak Hendra jangan terlalu berharap banyak pada Shaina, aku takut orang tuamu tidak memberi restu."


"Mi, aku akan membawa lari Shaina kalau kami tidak di restui."


"Ih Mas, nggak boleh gitu, lelah Mas klo lari."

__ADS_1


"Hihi bisa aja loe Shain. Tapi bener lho, kamu nggak boleh nerima orang lain."


"Nggak tau Mas, kan jodoh rahasia Allah, kita nggak boleh maksa. Oh ya, mbak Luri mana?"


"Kita jemput di rumahnya aja Shain, sekarang ayo makan dulu aku udah laper nih."


Tanpa malu-malu Hendra pun minta makan kayak emaknya aja.


"Bayar ya? sekali makan 50 ribu?" canda Shaina.


"Oke, 1 juta pun, aku mau, asal 3 kali sehari biar bisa deket-deket kamu." Ngegombal.


"Mas, aku nggak enak klo Mas sering ke sini."


"Ah cuekin aja lagi."


Mereka pun makan bertiga di meja makan terbuat dari kayu biasa.


Selesai makan mereka siap berangkat.


"Kita ke rumah Mbak Luri dulu ya?"


"Jangan kenceng-kenceng Mas ya, takutnya nanti malah perutku nggak bersahabat." ucap Shain.


Mereka pun melaju di jalan yang ramai menuju kediaman Luri. seperti biasa, Shaina hanya duduk di belakang.


"Stop, stop, stop."


Tiba-tiba Mobil mereka di hadang oleh seorang wanita dan 3 pria kekar.


"Mas siapa mereka Mas?"


"Tenang, kamu cukup diam dan menurut apa kataku oke?"


"Baik Mas."


"Wanda, apa maumu?"


"Hen, aku tak sengaja melihat mobilmu, aku ingin bicara."


"Bicara apa lagi?"


"Aku tidak bisa lepas darimu Hen, aku tidak bisa melupakanmu."


"Bukankah kau sudah di jodohkan dengan lelaki kaya raya itu?"


"Aku tidak mau Hen tolong."


"Aku beberapa kali celaka gara-gara tunanganmu itu, aku tidak bisa meneruskannya lagi nda, maaf."


"Tidak, aku tidak mau, aku tidak terima."


"Trus aku,harus bagaimana? apa aku harus memaksa orang tuamu yang telah menghinaku?"


"Itu dulu Hen, sebelum kamu sukses, sekarangkan ayahmu punya banyak perusahaan, mereka tidak mungkin menolakmu."


"Heh, trus kalau suatu saat nanti aku banhkrut mereka pun akan menendangku kembali, tidak, aku tidak mau."


Ceklek


Hap


"Turun!" Tiba-tiba Wanda membuka pontu Shaina dan menarik Shaina keluar.


"Au, ada ala mbka?"


"Apakah wanita ini yang sudah meracunimu? dia istrimu?"


"Tunggu, dia bukan siapa-siapa, kami akan mengadakan rapat di perusahaan Manae Grop, dia karyawanku, lepaskan!" Hendra jadi panik melihat Shaina sudah di tangan Wanda.


"Maaf Nona, coba Nona lihat, kalau saya istri Pak Hendra, mana mungkin saya duduk di belakang Nona." Wanda pun menatap wajah Shaina, dan melepaskan cengkramannya.


"Baiklah, silahkan kalian pergi, tapi ingat Hen, aku akan tetap mengejarmu sampai kapan pun."


Hendra pun cepat-cepat mendekati Shaina.


"Kau tidak apa-apa? ayo masuk kita segera pergi, maaf, aku sudah merepotkanmu dan membuat mu khawatir."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2