Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Mahar di Awal


__ADS_3

Damon yang baru mau masuk ke mobil terkejut mendengar nama Shain, apa yang di maksud Shaina? dia pun masuk mobil dan menunggu ibu itu pulang.


"Makasih bu, ini udah selesai, aku pulang dulu, assalamualaikum." Ummi pun pergi dari warung, sementara Damon mengikuti dari jarak jauh.


Terlihat Hendra tampak duduk di depan rumah, karena Shaina tidak mau kalau tidak ada ibu, maka Hendra harus keluar, padahal saat ini Shaina sedang tidur di kamarnya, namun Hendra ingat pesan Shaina.


"Mi, Hendra mau pulang."


"Kita makan dulu, ini tadi Ummi beli sayur sekalian beli cemilan ucap Ummi.


Mereka pun masuk. Sementara Damon yang dari tadi mengikuti hanya bisa gigit jari.


Ternyata bukan Shaina, mungkin istri pemuda itu yang sedang hamil dan bernama Shain, tapi bukan Shaina.


Gumam Damon.


Akhirnya dia pun pergi meninggalkan tempat itu, dengan perasaan kecewa. Dia sangat berharap bisa bertemu Shaina secepatnya, namun slalu gagal.


"Ayo makan dulu," ucap Ummi. Ummi pun menyiapkan makan siang untuk Hendra di dapur dengan lauk seadanya.


"Nak sudah siap, kamu makan,sendiri ya, aku nggak bisa nemenin, maaf seadanya."


"Terimakasih," Hendra pun makan dengan lahapnya.


"Mi, masakan Ummi emang sangat lezat, mudahan nanti aku bisa nikmati masakan ummi ini tiap hari, doain Hendra Mi ya, mudahan Shaina bisa membuka hatinya dan mempercayai Hendra untuk jadi ayah dari anaknya."


"Insyaa Allah, kalau jodoh takkan ke mana kok."


"Oh ya Mi, Henxra pulang dulu, ingat esok Mi ya, Asdalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


Ummi pun mengantar Hendra sampai pintu rumah.


*


*


*


"Pah aku berangkat dulu."


"Lho kok pagi sekali, emang mau ke mana?


" Ke kantor lah pah, mau makan diluar dulu,"


"Emang Bibi belim,masak?"


"Udah pah, mau cari yang beda pagi ini."


"Hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Kum salam."


maklum mereka keluarga yang minim agama, menjawab seadanya. Hendra terbiasa karena sering ke tempat Shaina, kalau Hendra nggak ngucap salam, pasti ummi yang duluan.


Hendra pun berangkat menuju mobilnya yang sudah berada di halaman.

__ADS_1


Pagi yang cerah, Tampak Hendra sudah sampai di halaman Shaina.


"Assalamualaikum, Mi, Shain?" Tampak dari dalam muncul seorang wanita paruh baya sudah berpakaian rapi.


"Wa alaikum salam, Masuk dulu, Shaina masih berkemas."


Hendra pun masuk seperti biasa duduk di kursi butut.


Setelah Shaina selesai berkemas mereka pun pergi menuju mini market, yang di janjikan Hendra tanpa sepengetahuan Shaina dan ummi.


"Ini ada apa Mas? kok ke sini, ini kan bangunan kosong?" Tanya Shaina heran melihat bangunan di hadapannya.


"Kamu akan bekerja di sini mulai minggu depan, ini adalah mini market, jadi kamu tinggal duduk manis aja jadi kasir ya." Ucap Hendra.


"Hah? punya siapa Mas?"


Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju bangunan berukuran 25x25 itu.


"Besar banget Nak, ini punya kamu juga?"


Tanya Ummi.


"Ini milik Shaina Bu."


"Hah, apaan,sih Mas?" sahut Shaina heran.


"Ini buat kamu dan ummi, kalian akan tinggal di sini mulai minggu depan ya?"


"Mas, ini berlebihan."


"Kenapa? ayo kita masuk dulu."


"Baiklah."


"Ini lihatlah, semuanya atas nama mu, ini Dp buat mahar kita hihi."


"Mas, aku nggak mau, karena belum tentu kita berjodoh, karena jodoh itu rahasia Allah Mas." Shaina merasa tidak enak menerima semua itu.


"Anggap saja ini pemberian, atau Mahar di awal, hihi."


"Nak, ini malah akan membuat Shaina susah nantinya." sahut Ummi lagi.


"Tidak Mi, aku berusaha agar Mami tidak mengetahui ini semua, sampai dia memberi restu pada kami."


"Tapi..."


"Shain, ku mohon terimalah, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, maaf, Mami telah membuatmu sakit."


"Tidak apa-apa kok."


Mereka pun masuk ke dalam dan mengelilingi bangunan itu.


terdapat dua kamar tidur dan ruang besar, juga 1 Wc dan 1 kamar mandi di dalam ruangan yang juga mempunyai pintu. jadi pintu kamar mandi atau Wc tidak langsung terlihat dari ruang besar.


"Kalian akan diam di dalam sini. jadi Shaina suka-suka aja kalau mau buka toko jam berapa."


Setelah selesai berkeliling


mereka pun memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


"Paman, tolong rapikan semua ini, dan furnitur akan datang ahad depan juga barang jualan, tolong suruh 10 orang untuk membantu Shaina menyusun barang minggu depan jam 11 pagi!"


"Baik Tuan."


Mereka pun meninggalkan toko tersebut dan mengajak Ummi juga Shaina makan siang di sebuah restauran mewah.


Deg


Apa aku salah lihat ya? bukankah itu lelaki malam itu?


Shaina kaget ketika melihat lelaki malam itu(karena dia belum tau namanya) dan juga 2 wanita berada di restauran yang sama dengannya. Dengan cepat Shaina pun mengambil maskernya dan menutupi mulutnya.


"Ada apa Shain?" Hendra yang melihat kelakuan Shaina tampak heran.


"Nggak mas, cuma asap rokok, iya asap." kebetulan ada bapak-bapak yang sedang ngerokok. Sementara di sebrang sana.


"Bu makan yang banyak, Loli jangan bandel ya, ini Mas Bay udah datang, jangan nakal lagi ya?" Rupanya Damon bersandiwara jadi Mas Bay,suami Loli, seperti yang pernah ia lakukan pada Zeze dulu.


"Mas, makanannya enak sekali Mas," Ucap Loli


Mengapa wanita di sebrang sana sering menatap ke arahku ya? apa aku mengenalnya? bukankah dia bersama suaminya? aneh


Bathin Damon heran.


Damon pun mengingat-ingat, namun ia tidak bisa konsentrasi karena adiknya mengajaknya ngobrol.


"Nak, apakah uangmu cukup untuk membiayai adikmu ini, semua tabungan yang kau kirim sudah habis ibu pakai."


"Ibu tenang saja, tabungan ku masih banyak kok, mudahan kita bisa menyembuhkannya."


"Emang kamu kerja apa sih Nak?"


"Kerja di sebuah perusahaan besar bu, nanti kalau Loli sudah sembuh kita akan ke sana oke."


Damon pun kembali menatap wanita di sebrang sana.


tanpa sengaja mata mereka beradu.


Deg


Hati Shaina bergetar, dia tidak tau apa yang terjadi malam itu, karena telah di bius, namun yang jelas, lelaki itu adalah orang yang telah mengambil mahkotanya, perasaan dendam dan berbagai macam hadir di lubuk hatinya, namun ketika dia tersadar bahwa ini takdir.


"Astagfirullah."


"Shain, ada apa, sakit lagi?" ketika Istigfar itu keluar tanpa sadar, Hendra pun heran.


"Ooh nggak Mas, agak sedikit nyeri aja, tapi nggak papa kok, ayo makan lagi!


Mereka pun menantap makanannya sampai habis, namun lain dengan Damon,


Damon malah semakin penasaran dengan wanita di sebrang mejanya yang berjarak 4 meter.


apa aku mengenalnya, sepertinya iya.siapa ya....? pakai masker lagi, ngapain sih makan pakai masker.


Gumamnya lagi.


"Apakah dia?" Damon tampak melotot


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2