Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Sesak di Dada


__ADS_3

Shaina terpaku, kakinya tak bisa lagi berjalan, dia terpana dengan pemandangan yang baru saja dia lihat, lelaki itu, lelaki malam itu.


Aku harus bagaimana? apa aku harus mengatakan kalau aku sedang hamil? Tapi dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Tapi, mengapa dia mengatakan waktu itu akan datang melamarku?


"Shaina, Shaina, ada apa? kau kenapa?" Luri pun mendekati Shaina yang terlihat lemes.


Bruk...


Tiba-tiba Shaina jatuh ke tanah, kakinya tidak bisa lagi berjalan, dia tidak pingsan tetapi terlihat syok.


"Shaina!" Hendra pun berlari mendekati Shaina dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Orang-orang di sekitarnya pun menoleh ke arah Shaina dan Hendra, karena menyaksikan Shaina di gotong Hendra.


"Ada apa itu Ze?" Damon menoleh ke belakang menatap orang-orang yang sedikit mendatangi Shaina.


"Entah! kayaknya ada yang jatuh." Sahut Zeze.


Shaina pun sudah masuk ke dalam mobil, dia terlihat lemes dan tak bertenaga, kayak nggak makan seminggu gitu. Hendra pun mengurungkan niatnya untuk membawa Shaina belanja, mereka pun putar balik menuju gerbang masuk Mall. namun.


Sepertinya aku pernah melihat gadis itu? tapi di mana ya, rasa tidak asing.


Damon mengguman sendiri saat Mobil Hendra lewat di depannya, terlihat Shaina sedang duduk di sisi jendela bersandar dan memejamkan mata, Damon pas kebetulan melihat kesamping sebelum masuk ke mobil.


Reader bayangin sendiri ya, biar lebih seru. Damon tampak masih menatap mobil Hendra sampai menghilang di balik belokan jalan.


Luri yang menyadari Damon menatap Shaina pun heran.


"Aneh?" Gumamnya.


"Ha? kenapa?" Shaina yang memejamkan mata pun, memaksa matanya untuk terbuka, karena mendengat Luri menggumam.


"Oh, enggak ko, itu tadi, ada pria menatap tajam padamu, sampai kita ngilang pun dia masih menatap kita," Jawab Luri.


Shaina pun berpikir. apakah lelaki itu yang di maksud Luri, karena pas lewat tadi kan Shaina sedang memejamkan matanya.


"Mungkin kamu ke kecapean Shain, baiknya kamu istirahat aja, nggak usah kerja." Ucap Hendra.


"Iya Mas, maaf aku merepotkan kalian." Shaina merasa bersalah.


"Nggak ko Shaina, malah aku yang salah karena memaksa kamu ikut. Padahal kamu udah cepe bekerja seharian." Hendra juga merasa tidak enak karena memaksa kehendaknya.


Setelah mengantar Luri, Hendra pin mengantar Shaina.


"Assalamualaikum. Ummi." Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah dengan menggunakan kerudung Syar'i besar hingga menutupi seluruh badannya, walau pin tidak memakai Cadar.


"Waalaikumussalam, eeeh, Nak Hendra. Masuk dulu!" Hendra pun meletakkan kedua tangannya di dada, karena ibu Shaina nggak pernah salaman dengan lelaki bukan muhrimnya.


Hendra pun duduk di kursi tamu yang sederhana. Ibu Shaina pun mengambilkan air mineral l.


"Maaf Nak, bukan apa-apa, tapi tidak baik kalau lelaki lajang jangan dengan perempuan yang sedang hamil, apalagi belum menikah." Nasehat Ibu pelan. Sementara Shaina membuatkan teh panas untuk Hendra.

__ADS_1


"Maaf bu, kami tadi sama Mbak Luri kok." Balas Hendra.


"Bu aku mau melamar Shaina, habis melahirkan kami akan menikah." Ucap Hendra percsya diri.


"Ih Mas, apaan sih, aku belum nerima lho, kok ngomong gitu?" Shaina protes.


"Kamu nggak ada pilihan lain Shain! kamu nggak boleh jadi milik orang lain." Hendra begitu yakin.


"Nak, kalau jodoh, pasti nggak kan kemana, mungkin Shaina harus berpikir jauh, karena dia tidak sendiri, dia harus memikirkan anaknya, dia harus meyakinkan bahwa lelaki yang benar-benar bisa menerima dirinya dan juga anaknya."


"Aku berjanji Mi, aku akan menerimanya, sungguh, aku akan menganggap anaknya adalah anakku."


"Tapi bagaimana dengan orangtuamu?"


"Aku akan membicarakannya masalah itu."


"Mas, aku perlu waktu, aku juga belum tau siapa ayah dari bayi yang ku kandung ini, aku benar-benar perlu waktu Mas." Shaina terlihat sedih, tidak terasa dia pun meneteskan air mata di ujung matanya.


Mansion Pak Manae


Jam 21.00


Siapa wanita tadi ya, aku merasa benar-benar mengenalnya, tapi di mana ya? aku seperti baru melihatnya kemaren tapi mengapa aku lupa?


Deg


"....???? apakah dia? Shaina, ya Shaina, wanita yang sedang mengandung benihku."


Brak


Damon pun berlari keluar mengambil jaket dan kunci motornya.


"Mas mau kemana malam-malam?" Zeze penasaran melihat Damon buru-buru, dia sedang duduk santai di ruang keluarga bersama Daxon.


"Ada keperluan sebentar." Damon pun keluar dan mengambil motornya.


dia pun melaju dengan cepat menuju Mall di mana dia melihat Shaina. Sesampainya di Pos satpam dia pun memarkirkan kendaraannya.


"Maaf pak, aku mau bertanya, bisakah aku melihat CCTV halaman Parkir ini."


"Maaf Tuan, apa keperluan Tuan, hingga tuan ingin melihat CCTV halaman parkir?"


"Itu..." Damon jadi bingung. Masa iya dia bilang mau mencari wanita tadi, pasti tidak bakal di izinkan.


"Dompetku jatuh saat aku ke mall sore tadi terakhir aku ada di parkiran ini, tolonglah aku pak."


"Baiklah Tuan, mari ikut saya." Mereka pun menuju ke sebuah ruangan yang mengendalikan CCTV.


Setelah menjelaskan kepada penunggunya Damon pun di bolehkan melihat CCTV sore tadi.

__ADS_1


"Dari jam berapa Tuan?"


"Sekitar jam 5." Kamera pun mulai di putar seeeeet sampailah mobil Shaina datang.


"Ini pak."


"Lho, kok di sini, ini kan nggak ada Tuan?" Karena Damon masih di bawah teras Mall, saat itu saat Shaina melihat Damon bersama wanita dan anak kecil.


"Mulai sini aja,Pak." Damon lun melihat dengan seksama.


Wanita itu terlihat sangat bugar saat keluar, dia pun sempat jongkok dan mengambil tasnya dari dalam mobil, juga sempat bercakap-cakap dengan teman di sebelah pintu. Ketika Damon mulai terlihat, layar itu menunjukkan, wanita itu langsung memegang dadanya, dan mulai bersandar di mobil. dia pun ngelap mukanya dengan ujung kerudungnya. wanita itu terus menatap Damon tajam, namun terlihat Damon asyik sendiri dengan anak di gendongannya.


"Argh, sial!" Damon mengumpat atas kecerobohannya, saat orang yang selama ini di carinya sudah di depan mata.


Layar menunjukkan kembali, perut wanita yang besar.


Ceklek


Damon lun memfoto layar dengan Hpnya. dan keluar tanpa kata-kata.


"Tuan, apa tuan melihat dompet tuan jatuh?" Tanya satpam.


Namum Damon tidak menghiraukannya.


Brak


Damon memukul setik motornya.


"Mengapa aku bo**h sekali. Shaina, kau dimana? mengapa kau tidak berusaha mencariku heh, atau.... atau kau mengira aku sudah melupakanmu, dan Zeze, ya dia pasti mengira Zeze dan anak itu adalah keluarga baruku, sial sial sial..."


Damon pun pergi meninggalkan Mall dan berjalan tanpa tujuan.


Dia pun sampai di rumah lama Shaina, dia hanya duduk di motornya dan memandangi rumah Shaina.


"Tuan, maaf, sedang apa kau di sini semalam ini?" Paman ronda mendekati Damon karena merasa heran.


"Semalam ini? emang sekarang jam berapa pak? Damon pun mengambil Hpnya.


" Jam 2 malam, baik pak, terimakasih, oh ya, apakah Shaina orang yang dulu menempati rumah ini pernah kemari?"


"Pernah, saat mengambil narang yang masih tertinggal."


"Ooh, baik pak, permisi."


"Emang Tuan siapa?"


"Temannya, udah lama nggak ketemu." Damon pun pergi dan pulang ke Mansion Pak Manae.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2