
Tampak Shaina sedang sholat fajar sebelum sholat subuh. Doa di akhir sujud nya pun tampak panjang, terlihat sujud nya sangat lama.
"Berikan Hamba kesempatan untuk kembali bersama putri Sulung kami ya Allah."
Doa yang dia panjatkan dalam hati saat sujud nya itu padat berisi.
Doa saat sholat itu hanya dalam hati, ya, nggak boleh di ucapkan, yg berbahasa indo. itu yang ku tau.
Selesai Sholat Shaina pun berzikir tasbih dan tahmid berulang ulang, seakan akan bacaan itulah yang bisa menguatkan hatinya.
"Sayang, bangun! ayo sholat subuh!"
Shaina membangunkan Fathir yang terlihat masih terlelap, mungkin dia kelelahan beberapa hari ini dia tidak karuan tidur karena mencari Zahwa. Sementara Yola dan Rangga yang tidur di kasur bawah tampak masih tidur dengan posisi yang entah sudah berputar tak tau arah.
"Uaaaaaaah." Fathir menggeliat.
Hap
Menangkap Shaina dan membawanya kepelukan nya erat.
"Sayaaaang, emch emch emch." Kecup Fathir berlang ulang.
"Beng, belum cuci muka ah, nanti mukena Shaina kena liur Bengbeng ah." Canda Shaina, namun juga ada benarnya.
Fathir pun bangun perlahan dan berjalan menuju kamar mandi
Bruk.
Fathir menabrak dinding kamar mandi.
"Au."
"Beng, hati hati dooong!" pekik Shaina yang kaget mendengar jeritan Fathir.
..
..
__ADS_1
..
Pagi cerah di suatu desa yang jauh dari keramaian.
"Laila!bagaimana? apa Shaina sudah mengirimi kita uang? kita perlu biaya hidup." Tanya Luna.
"Belum aku periksa mah, nanti siang aku lihat lagi."
Jawabnya.
"Neneeeeee, Zahwa kangen mama dan adik Rangga ne. Ayo kita pulang!" Rengek Zahwa.
"Zahwa...mama kamu sedang sakit nak, nggak boleh di jenguk, nanti nular, kalau nanti sudah sembuh, kita ke sana ya...!"
Bohong Luna.
"Kalau begitu Zahwa mau nelpon mama dan adik Rangga." Cecernya lagi.
"Baiklah, nanti sore ya, sekarang nene belum ada pulsa."
"Janji ya nek!"
"Trus bagaimana dengan sekolah Zahwa?"
Zahwa kembali bertanya.
"Zahwa libur dulu ya sayang, nanti kalau mama sehat lagi, bisa sekolah kembali."
Jawab Luna.
Zahwa pun percaya begitu saja, dia kembali bermain rumah rumahan.
"Mah, hari ini kita harus pindah dari sini. Sepertinya polisi sudah membagi fotomu, mereka mengetahui, kalau kaulah yang menculik Zahwa."
Bisik Laila pada Luna.
"Iya, kita harus memberi obat tidur dulu pada gadis ini, agar dia tertidur sepanjang jalan."
__ADS_1
Luna pun ke warung menggunakan kerudung pasmina. Sepanjang jalan ia menunduk agar tidak ada yabg mengenalinya.
Sementara,Laila tampak berkemas.
"Tante ngapain berkemas baju? emang mau pindahan?" Tanya Zahwa yabg melihat Laila sibuk.
"Sayang, kita akan mencari rumah baru, karena di sini sempit, sampai mamamu sehat nanti baru kita jenguk, karena mamamu kena Virus, papamu juga." Laila pintar mencari alasan.
"Ooh."
Zahwa merasa bosan bermain sendiri, akhirnya dia berbaring di lantai ruangan kecil itu dan mulai tertidur.
..
..
..
"Huak...huak.."
Shaina tampak mual mual di pagi ini, kepalanya pun terasa pusing, dia terus ingin memuntahkan makanannya, namun tidak bisa keluar.
"Ada apa sayang?" Fathir pun membawakan minyak kayu putih untuk mengoleskan di punggung Shaina.
"Masuk angin kali Beng, beberapa malam ini aku nggak bisa tidur dan suka duduk di depan teras." Jawabnya.
"Hari ini aku akan kembali pencarian kita, perusahaan Linggar Grop dan Shinwa sudah aku serahkan pada ahlinya, sementara kau libur saja di rumah ya?" Titah Fathir.
"Baik Beng, tolong temukan Zahwa kita Beng."
Shaina pun menyandarkan kepalanya di pundak Fathir.
"Iya sayang.." Fathir pun membelai dan mencium pucuk kepala Shaina.
Sreeeet Bruk.
"Shaina...ada apa? sayang, bangun bangun sayang!"
__ADS_1
Shaina ambruk ke lantai.
BERSAMBUNG....