Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Madu namun Terasa Pahit.


__ADS_3

Gedung Pak Manae Grop. 10.00


"Ze...mungkin aku akan pensiun dini, aku akan usaha kecil kecilan dan fokus merawat Yola. Mungkin mulai bulan depan."


Ucap Fathir saat berada di ruangan Zeze.


"Kenapa begitu Thir? aku merasa nyaman dan aman kalau bekerja bersamamu! ku masih bisa merawat Yola kok! dan juga, kau bisa bawa yola ke mari kalau kau mau?" Bujuk Zeze.


"Aku bawa Yola kemari? ngaco kamu, nggak keren ah, masa Bos kayak aku di suruh bawa anak ke kantor, hahaha."


Fathir merasa di remehkan saja.


"Nggak papa lagi Thir, lagian kan, di sini suka suka eloe, mau jungkir balik juga nggak ada yang marah, Papah sangat percaya padamu sampai daxon kelak sudah layak untuk menggantikan posisi Papah."


Tambah Zeze lagi.


Zeze memang sangat akrab dengan Fathir, dia merasa bersaudara kandung dengannya.


"Kamu kan bjsa hnadle semuanya. Lagian kalau apa apa, kamu bisa minta bantuanku."


Fathir berdiri dan berjalan menuju pintu.


Ceklek


"Aku mau sarapan dulu, kau mau ikut?"


Fathir melangkah keluar.


"Aku sudah makan, aku mengurangi makanan dengan hanya makan roti pagi."


"Baiklah, assalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


..


..


..


"Bos, apa minggu depan kita jadi berangkat ke kota X untuk memeriksa lahan kosong itu?"


Tanya Salman, saat mereka sarapan di warung depan perusahaan.


"Iya. Aku ingin mendirikan perusahaan kecil kecilan, aku akan pensiun bekerja di perusahaan Manae grop Man."


Ucap Fathir. Dia melahap makanan yang ada di hadapannya.


"Bos, apakah Bos akan tetap menduda begini? Udah hampir setahun lho Bos?"


Salman mungkin ingin Bosnya punya pendamping.

__ADS_1


"Aku tidak bisa Man, separuh hatiku telah di isi seseorang, seperempat hatiku sudah hilang hanya tersisa seperempat saja untuk krang baru, aku takut akan menyakitinya."


Ucap Fathir merasa tidak pantas lagi menambatkan hatinya pada wanita lain.


"Apa Bos masih mengharapkan Nona Shaina?"


Salman merasa iba dengan Fathir, dia sangat tau selama ini Fathir merenung bukan karena di tinggal istri meninggal, namun karena selalu merasa bersalah dengan masa lalunya.


"Jangan tanya itu lagi Man! ayo cepat makannya, biar kita pulang ke rumah mamah, Loli juga pasti sedang merindukan Yola. Anaknya kan kemaren meninggal gara gara dia defresi berat saat dalam kandungan."


Ucap Fathir sambil menghabiskan sisa makanan.


"Apa Bos,akan mencari kyai baru untuk belajar tentang Agama? bukankah mertua Bos, ayah Salma juga sudah pindah kota karena menikah lagi?"


"Iya, kayaknya begitu, aku harus terus belajar memperbaiki agamaku, usiaku semakin menua, namun aku masih di sini dengan banyak kekurangan."


"Ah Bos jangan nyindir, apalagi dengan aku Bos, aku Islam sejak lahir tapi belum Fashih tajwid mengaji, hihi."


"Makanya belajar, jangan cuma ngomong doang."


"Kadang aku malu Bos belajar ngaji, udah tuaan udah serba berbulu, hihi."


"Hus, di tempat beginian malah membahas bulu, ayo pulang! aku sudah selesai, aku sangat merindukan Yola,-


Mereka pun selesai makan dan meluncur menuju rumah pak Manae.


🌷


🌷


🌷


"Huak...huak...aduh mengapa akhir akhir ini aku mual dan sering pusing ya?"


Ucap Shaina yang sedang di dapur ingin mengambilkan makanan Hendra.


"Non, mungkin saja Non sedang hamil! coba Non periksa!"


Ucap Bibi yang sedang merapikan alat masak.


"Mungkinkah? aku akan periksa sendiri nanti, terimakasih Bi, aku nyuapin Mas Hendra dulu."


Shaina pun ke kamar membawakan nasi Hendra.


Ceklek


"Obang! makan!"


"Shaina, kau kemana saja, kok lama amat sih?" Protes Hendra yang terlihat sangat lapar.


"Aku ngambilin nasi Obang, ini!"

__ADS_1


Shaina dengan telaten menyuapi Hendra sesuap demi sesuap. hingga habis.


"Obang, hari ini aku di rumah saja menemani kamu, tapi aku mau keluar sebentar ada yang perlu ku beli, apa Obang mau nitip sesuatu?"


"Buah apel saja, yang banyak ya?"


"Baiklah."


Shaina sudah selesai menyuapi Hendra. dia pun kembali ke dapur.


"Huak...huak..."


Ternyata Laila yang sedang muntah di dapur. Apa dia hamil?


"Waaah, kau pasti hamil."


Ucap Ny.Linggar yang tiba tiba muncul.


Bagaimana hamil? di apa apain juga nggak?


Lirih hati Laila.


"Oh Mamah! apa mungkin mah?"


Laila berpura pura.


"Mungkin saja."


Ny.Linggar melirik Shaina yang sedang minum air hangat untuk menghilangkan mualnya.


"Shaina! kamu nggak usah ke kantor lagi, biar Laila yang mengurus mulai sekarang."


Ucap Ny.Linggar.


Sekarang Shaina sudah faham, bahwa sikap Ny.Linggar kemaren hanyalah palsu.


"Baik Mah. Aku permisi."


Shaina pergi meninggalkan dapur.


Ceklek


"Obang sedang apa?"


Terlihat Hendra sedang menulis diarynya kembali, baru kali ini Shaina melihatnya.


"Oooh, tidak. apa kau jadi pergi?"


"Iya, ini udah siap siap."


Shaina pun mengambil tas dan pamit untuk keluar membeli sesuatu, tentu saja ingin membeli tespak.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2