Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Salah Gandeng, keseeeeel dooong


__ADS_3

"Ummi!?" Faruz pun mendekati Shaina dan menyapa Ummi.


"Kau bekerja di sini?" Tanya Ummi lagi, sementara Shaina hanya mematung sambil menggendong Zahwa.


"Iya Mi, rekan bisnis papa pemilik restauran ini. Silahkan, kalian boleh makan apa aja, aku traktir." Ucap Faruz


"Tidak! ayo Mi, kita pindah saja." Ucap Shaina tiba tiba.


"Lho? kok pindah? malah bagus kan kita nggak bayar?" Senyum Hendra sambil celoteh tanpa tau alasannya.


"Mas, nanti aku ceritain, ayo!" Shaina pun berpaling namun.


Hap


"Shaina, maafkan aku, saat itu aku tak berdaya, aku di intimidasi oleh mamah dan papah, padahal aku bisa nerima kamu apa adanya, namun mereka tidak mengizinkanku Shain." Ucap Faruz sambil memegangi tangan Shaina.


"Lepaskan!" Hendra pun bertindak, dia hempaskan tangan Faruz yang menggenggam tangan Shaina, sementara Shaina terasa kaku, lemes tak bisa bergerak.


"Kau siapa?" Tanya Faruz.


"Aku? aku suaminya, dan kau?"


"Oooh, jadi sudah ketemu lelaki lucnut yang telah merenggut kesucian seorang gadis, andai saja semua itu tidak terjadi, mungkin sekarang aku dan Shaina sudah punya anak yang sah." Ucap Faruz.


Buk buk buk


Tiba tiba Fathir menghantamkan bogam mentah ke muka Faruz hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Faruz bingung, yang suami yang ini, yang mukul yang oNo😁


"Aduh, kau siapa?" Teriak Faruz heran.


"Jaga mulut busukmu." Ucap Fathir.


"Hey, siapa kalian?....pak." Beberapa security pun datang menengahi.


"Sekali lagi kau meremehkan Shaina, kau akan berakhir dalam kuburan, Ayo Shaina!"

__ADS_1


Hap


Eeeeh Bengbeng Fathir malah meraih tangan Shaina dan membawanya keluar dari restauran itu. Sementara Shaina yang memang lagi syok tak bisa menyadari mana yang benar dan salah, dia pun melangkah bersama Fathir.


Salma hanya bisa diam dan mengiringi pasangan serasi yang satu tampan dan yang satu cantik itu, sementara Ummi menarik tangan Hendra, Ummi takut kepala Hendra akan kumat menghadapi masalah ini.


Fathir memasukkannya ke kursi depan miliknya. Lho Salma di mana doong?


"Tunggu!" Shaina sadar juga dan segera turun dari mobil.


"Hey, mau ke mana kau?" Tanya Fathir yang bingung dengan tingkah Shaina.


"Mbak Salma, maaf, silahkan masuk!" Shaina pun menghampiri Hendra.


"Obang, apa masih bisa nyetir?" Terlihat Hendra seperti memegangi kepalanya.


"Pelan pelan saja, bisa kok." Mereka pun naik mobil. Sementara Salma terlihat merajuk dan duduk di kursi belakang.


"Kita ke restauran yang tadi aja, yang kita lewati, walau tak semahal yang itu." Ucap Shaina.


Apakah lelaki itu masa lalu Shaina? apakah Lelaki itu meninggalkan Shaina setelah tau dia hamil. Bo**h sekali aku ini, mengapa malam itu aku tidak bisa mengendalikannya. Shaina, aku akan menebus semua kesalahanku


Lirih Fathir.


Apakah aku ini tidak berarti baginya? bagaimana dengan benih yang ku kandung ini? ya Allah, tolong beri aku petunjuk, kalau memang ini takdir yang harus ku jalani, aku ikhlas.


Lirih Salma. Dia pun meneteskan butiran bening di ujung matanya.


Mereka berhenti ketika sampai di restauran yang di tuju. Setelah semuanya terkumpul.


"Maaf, harus terjadi hal seperti tadi. Ayo! kita pesan makanan."


Mereka pun memesan menu yang tersedia.


"Salma, Ayo tambah lagi! sayuran ini bagus lho buat kesehatan bayimu." Ucap Shaina pada Salma.

__ADS_1


"Iya, terimakasih," Balas Salma. Salma yang merasa dongkol dengan Fathir hanya bisa makan sedikit, dia sangat kesal dengan ulah Fathir yang tiba tiba memegangi tangan Shaina dan meninggalkannya begitu saja.


"Maaf, aku mau kebelakang dulu." Ucap Shaina. Tak berapa lama kepergian Shaina Fathir mendapatkan telpon.


"Maaf, aku terima telpon." Fathir pun berdiri menerima telpon.


Sementara Shaina menunaikan hajat kecil, dia merasa tak karuan, Mantan tunangannya itu kini juga sedang berada di kota yang sama. Setelah mencuci muka dan kumur kumur.


Ceklek


Shaina keluar.


Hap


"Ho??? Fathir?kenapa kau kemari?" Shaina kaget ketika tiba tiba ada Fathir yang mencengkram tangannya.


"Aku mau bicara." Jawab Fathir, dia menatap wajah Shaina tajam.


"Lepaskan, dan bicaralah." Ucapnya.


"Aku bersalah, mungkin berapa kali oun aku minta maaf tak akan bisa menebusnya, lelaki tadi mantanmu kan?"


"Iya."


"Aku ingin memperbaiki kesalahanku, tolong, terima aku! aku tau Hendra sakit keras, dan dia kan meninggal." Ucap Fathir.


"Tuan, jaga ucapanmu, aku tak bermaksud meninggalkan Hendra sedikitpun meski dia sekarat sekalipun, dan kau, syukurlah aku tidak menikah denganmu, lelaki macam apa yang tega berkata demikian, padahal istrinya sedang Hamil muda."


Shaina sangat kesal dengan ucapan Fathir menyebut Hendra akan meninggal, walau bagaimana pun, kini hati Shaina hanya untuk Hendra. Dia wanita sholehah, mencintai dengan tulus, dan akan merelakan kalau memang akan di ambil kelak.


"Shaina, aku akan slalu menunggumu, sampai kapan pun." Balas Fathir lagi.


Deg


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka, betapa Syok dan tergoncang nya jiwa orang itu.πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2