
Shaina dan Ny.Linggar pun sudah sampai rumah mereka.
"Sekarang, kemasi barang barangmu, dan tinggalkan Hendra bersama kami!"
Hendra yang mendengar namanya di sebut pun memegangi lengan Shaina erat, seperti anak kecil.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan Bang Hendra di sini, kalau aku harus keluar, maka aku akan membawa Bang Hendra bersamaku." Jawab Shaina tegas.
"Hahaha, baguslah kalau kau baaa pesakitan itu bersamamu."
Ny.Linggar tertawa galak. Sedang Laila hanya duduk manis di tangga paling bawah mendengarkan pertengkaran mereka.
Ceklek
"Ada apa ini?"
Pa Linggar keluar dari kamarnya.
"Pah, aku mohon, izinkan aku tetap di sini menjaga Bang Hendra, sampai takdir itu datang."
Pinta Shaina, dia pun mulai meneteskan air matanya. Sementara Pa Linggar terlihat tersenyum dan mulai tertawa ringan sambil menatap Luna
"Dasar sinting."
Guman Luna atau mama tiri Hendra.
"Hahahahaha, kau tidak akan ke mana mana Shain. Merekalah yang akan pergi." Tunjuk Pa Linggar ke arah Luna dan Laila.
"Hey, apa maksudmu Pah? ini ...dia sedang mengandung pewaris tunggal keluarga Linggar." Ucap Luna sambil menarik tangan Laila.
"Hahahahaha....."
Pa Linggar memencet tombol, entah apa itu.
Tap tap tap
Benerapa polisi pun masuk.
__ADS_1
"Ada apa, siapa yang di tangkap?"
Laila panik sementara Ny.Linggat hanya bengong.
"Shaina..."
Menxengat,nama Shaina di tangkap, Ny.Linggar pun tersenyum.
"Sudah ku duga, kau pasti ingin mengusir Shaina juga kan?"
Ucap Ny.Linggar bangga.
"Tidak!" Ucap Pa Linggar.
"Lalu?" Kali ini Ny.Linggar yang gugup.
"Kau dan kau."
Pa Linggar mengarahkan telunjuknya pada Laila dan Luna.
"Apa maksudmu pah? aku ini istrimu, dia menantumu dan sedang mengandung pewarismu."
Hap
2 orang polisi perempuan pun menangkap tangan Laila.
"Ada apa? lepaskan aku! aduh" Teriak Laila sambil lura lura kesakitan, dia lun memegang tangannya dN meringis.
"Hahahahaha."
Pa Linggar terus tertawa. membuat Luna bergidik sendiri.
Apa lelaki ini sudah gila?
Gumam Luna.
"Papah, kasian Laila, memang ada apa ini pah?" Shaina pun ikut bingung, sementara Hendra bersembunyi di bawah ketek istrinya seperti anak kecil yang ketakutan akan tertangkap basah.
__ADS_1
"Bu polisi, silahkan laksanakan tugasmu!" Ucap Pa Linggar.
Pa linggar pun berdiri dan berjalan menuju Shaina dan Hendra.
"Papah? kau?" Ny.Linggar terbelalak saat tau bahwa suaminya selama ini hanya berpura pura stroke.
"Kau terkejut? heh, mengapa aku baru menyadarinya, kalau selama ini kau hanya mengincar hartaku cih!"
Pa Linggar meludah merasa jijik dengan Luna istrinya.
"Pah, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Pah, kita akan punya penerus Pah, kalau Hendra meninggal, kita akan punya cucu penerus perusahaan pah."
Ny.Linggar memeluk kaki pa Linggar.
"Hey...mau apa kalian, kenapa kalian sangat tidak sopan heh!"
Laila yang di gerayangi oleh dua polwan pun berteriak histeris. 2 polwan itu mengangkat sedikit baju kaos Laila membuka ikatan gumpalan perutnya.
Doooor
Kini bukan orang hamil yang terlihat, namun hanya gumpalan kapas yang di balut kain.
"Apa bantal itu penerusku? hahahahaha."
pa Linggar terus tertawa.
"Hah!!? kau!?" Ny.Linggar pun terbelalak melihat Laila yang telah membohonginya selama ini.
"Mah, aku terpaksa." ucap Laila
"Pah, tolong maafkan aku, aku akan memperbaiki semua ini, aku akan berbakti padamu, Shaina dan juga Hendra, ku mohon Pah."
Luna terus memohon.
"Tolong bereskan mereka.
Tap tap tap Bruk
__ADS_1
Pa Linggar masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.
BERSAMBUNG...(4523)