Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Zahwa Melarikan diri


__ADS_3

Rangga berlari keluar pagar, Shaina yang memang kurang sehat pun tertinggal jauh karena nafasnya terasa sesak.


"Rangga, tunggu nak! jangan pergi, paman! cegat Rangga paman!" teriak Shaina.


Fathir yang mendengar teriakan Shaina pun keluar dan menyusul Shaina.


Bruk


"Aaaaaaa" Teriakan Rangga siang ini seakan dunia Shaina runtuh, dia terus berlari menuju arah suara, karena Rangga sudah hilang di balik pagar tinggi itu, sementara paman Satpam sedang istirahat makan siang di dapur.


"Rangga...." Shaina memeluk tubuh Rangga yang berumuran darah. Fathir pun memeluk Shaina sambil berteriak.


"Tolooong, siapa saja tolong." Teriaknya.


Beberapa orang pun berhenti dan membawa tubuh Rangga ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit, sementara penabrak telah melarikan diri. Shaina pun pingsan di pelukan Fathir.


"Bi, tolong jaga Shaina, aku akan ke rumah sakit menemani Rangga." Ucap Fathir.


"Baik Tuan." Bibi yang sedang menyapu halaman saat Shaina dan Fathir kejar kejaran sudah menyusul saat itu juga.


"Rangga...sadar Nak, jangan tambah beban mamamu nak, tolonglah, sadar!"


Fathir menggoyang goyang tubuh Rangga, Dia tau, kalau sampai Rangga kenapa kenapa, maka entah apa yang akan terjadi pada Shaina, sudah seminggu lebih ini Shaina kurang istirahat karena memikirkan Zahwa, dan sekarang di tambah Rangga.


Tak berapa lama mereka sampai rumah sakit.


"Sus, tolong anak saya sus!" Fathir menggendong Rangga dan membawanya sambil berteriak teriak.


"Baik Tuan kemari!"


Rangga langsung di tangani di ruang IGD.


"Sepertinya kepalanya terbentur hebat Tuan, apa yang terjadi?" Tanya perawat.


"Dia tertabrak mobil saat berlari kencang sus, apakah ada akibat dari benturan itu?"


Tanya Fathir.


"Kita akan periksa ke ruang pemeriksaan ya Tuan, tapi kita menunggu surat dulu."


Jawab perawat.


"Baik Sus, tolong yang terbaik sus, berapa pun harganya akan saya tanggung."


Fathir pun menunggu dengan gelisah, dia mondar mandir tak karuan.


Dreeet


Hpnya bergetar.


'Helo, Fathir, apa yang terjadi? kau di Rumah sakit mana?'


Suara Zeze dari sebrang telepon.


'Rumah sakit Bunda Ze, Rangga tertabrak.'


Jawabnya.


'Baiklah, aku akan ke sana.'


tuuut


"Tuan, kami akan membawa Rangga ke ruang pemeriksaan, silahkan ikuti!"


Fathir pun mengikuti di belakang.


...


...


...


"Mana Rangga? apa yang terjadi padanya? aku mendengar kalian berteriak, ada apa?"


Rupanya pa Linggar tidak mengetahui perihal tertabraknya Rangga. Lala dan Rara pun bingung harus mengatakan apa.

__ADS_1


"Mana Shaina?" Cetus Pa Linggar lagi.


"Tuan besar, Nyonya Shaina pingsan di depan sama Bibi."


Jawab Lala ragu. Dia sangat takut salah bicara, karena Pa Linggar duku terkenal angkuh dan pemarah.


Dia lin mendorong kursi rodanya menuju teras, di ikuti Lala dan Rara.


"Bi, kenapa Shaina pingsan heh? kenapa tidak di bawa masuk?"


Tanya Pa Linggar.


"La, tolong panggil paman satpam di dapur."


Mungkin paman satpam lagi ke asyikan makan hingga tidak mendengar orang orang yang panik.


"Iya Bi."


"Anu Tuan, Nyonya pingsan karena kaget saja."


Bibi takut mengatakan yang sebenarnya.


"Lalu kemana Rangga?"


Tiba tiba pa Linggar bertanya keberadaan Rangga, membuat Bibi seakan akan berhenti bernafas.


"Itu...anu...Tuan."


"Anu kenapa? di mana Rangga? heh!"


Pa Linggar terus mendesak


"Uuuuuuaaaaaaah, Rangga... anakku... Ranggaaaaaa."


Shaina Siuman setelah kurang lebih 30 menit pingsan.


"Nyonya...Alhamdulillah nyonya sudah siuman, ayo Nya, kita masuk ke Rumah!" Ajak Bibi pun menggandeng Shaina, sementara Rara mendorong pa Linggar.


"Ke mana Rangga?",Tanya pa Linggar.


"Itu, anu pah, Beng Fathir mengajaknya jalan jalan mungkin lagi belanja ke mini market."


Ucapnya.


"Oooh, baiklah, trus kenapa kau pingsan?"


Pertanyaan ini pun tak mampu Shaina jawab, rasanya ia ingin menghilang saja dari sini.


"Mungkin Nyonya hanya kecapean,Tuan, dia terlalu memikirkan Non Zahwa.


"Oooh, Baiklah, aku mau istirahat, kalau Rangga datang, suruh dia menemui aku ya!"


Titahnya.


"Naik Tuan Besar."


Pa Linggar pun mendorong kursi rodanya memasuki kamarnya.


"Nyonya, bagaimana ini?"


Bibi terlihat panik.


"Tenang saja, kita tunggu kabar Beng Fathir saja ya Bi."


...


...


...


Zahwa sudah berbaring di sebuah ranjang pasien, kayaknya dia kembali di bawa ke klinik oleh Luna.


"Ghia, bagaimana keadaan Zahwa?" Tanya Luna.


"Uwa, kayaknya dia terkena tyfus, bagaimana Uwa membawanya jauh dari keluarganya? kasian dia Uwa?"

__ADS_1


Ternyata perawat itu adalah keluarganya yang ada di luar kota, kini Luna membawa Zahwa ke luar kota untuk menghindari Shaina dan keluarganya.


"Aku ingin membalaskan dendamku sama wanita yang telah merenggut kebahagiaanku Ghia."


Suara Luna berapi api.


"Tapi kasian anak ini Uwa, dia hanya anak kecil, dia tidak bisa terpisah dengan ibunya."


Ucap Ghia lagi.


"Aaah sudahlah, kau sembuhkan saja dia, nanti aku akan membayarmu ah, jangan cerewet."


Ketus Luna pada ponakannya itu.


"Aku tidak mau ikut dan terbawa bawa oleh permasalahan Uwa ya? kalau sampai Uwa tertangkap, jangan pernah Uwa menyebut kita adalah keluarga."


Jawab Ghia lagi.


"Iya iya ah kau ini, kau itu jadi seperti ini karena mamamu juga ngutang banyak sama aku, sudah jadi orang kok sombong amat sih."


Luna tampak kesal dengan ulah ponakannya.


"Uwa, tapi kan aku sudah mencicil dan melunasinya, jadi itu sudah selesai kan?"


Jawab Ghia juga tak kalah kesal.


"Kalau kau ngutang di rentener tentu saja itu hanya 1/3 dari utangmu heh!"


Ucap Luna tak mau kalah.


"Terserah Uwa ah, itu kalau Uwa mau makan ada nasi di meja, dan air minum. Aku mau melihat pasien lainnya."


Karena klinik ponakannya itu cukup besar dan ternama di kota tersebut. Luna pun keluar untuk mencari cemilan, Ghia juga sedang pergi melihat pasien lainnya. Sementara Zahwa mulai menggerak gerakkan tangannya.


"Mamaaaa... aku kangen mama... mamaaaaa."


Zahwa mengigau, namun kini matanya mulai terbuka.


"Di mana aku?"


Zahwa,memindai sekitar.


"Aku harus menemui mama."


Dia pun mulai menarik selang infus. Berhasil, dia keluar pelan pelan. berjalan melalui beberapa orang yang memang tidak mungkin mengenalinya.


Dia terus berjalan dan sampai di ponggir jalan Raya.


Setelah Cukup lama menunggu taksi, Zahwa pun kini sidah berada di taksi.


"Nona muda mau ke mana?" Tanya Sopir sopan dan pelan.


"Aku mau ke Linggar grop paman."


Jawabnya. karena hanya itu yang dia ingat sekarang.


"Linggar grop? perusahaan besar itu? memang siapa di sana?" Tanya sopir.


"Mamahku adalah pimpinan muda di sana Paman, apa kah paman mengenalnya?"


Tanya Zahwa.


Seketika wajah paman itu menyeringai dan tersenyum mecurigakan.


"Benarkah? apa kau punya no,HP mamamu?"


Tanya Paman itu.


"Maaf paman, aku di bawa lari nene beberapa hari ini. jadi aku tidak punya no HP nya,"


Jawab Shaina.


"Oooh."


Kini wajah paman sopir tersenyum sangat lebar, wajah penuh misteri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2