
Zahwa tampak bermain bersama Yola di ruangan keluarga.
"Kak Zahwa sebenarnya ke mana aja sih? kok lama nggak pulang pulang?" Tanya Yola.
"Aku di ajak Nenek keliling kota Dek, katanya mama lagi sakit, makanya nggak bokeh di tememuin. Ternyata nenek bohong, kesel dek jadinya."
Ucap Zahwa.
"Asyik ya kalian main di sini, sementara adik kalian sakit di rumah sakit, ini pasti gara gara kamu Zahwa, kamu anak ha*am yang datang ke rumah ini mengundang kesialan."
Tiba tiba Pa Linggar muncul dan membentak Zahwa dan Yola yang sedang main.
"Kakekk."
Zahwa merqsa takut melihat Kakeknya itu sedang menatap tajam ke arahnya, dia pun bersembunyi di balik tubuh Yola.
"Kek, kok ngomong akak Zahwa anak ha*am sih?"
Kini Yola merasa tertantang untuk membela Zahwa yang sedang ketakutan.
"Emang benar! kau juga! hanya numpang di sini, kalau bukan Rangga cucuku satu satunya, tentu saja aku tak sudi melihat kalian ada di sini."
cercanya lagi.
Kini Zahwa pun mulai menwteskan air matanya, walau dia tidak berani bersuara. Sementara Yola memegangi tangan kakak Tirinya itu mencoba menguatkan.
"Kakek jahat, kok kakek ngomong begitu sama kak Zahwa."
Teriak Yola.
"Kurang ajar kau, baiklah kau mengatakan jahat padaku, maka aku akan menjadi jahat beneran."
Pa Linggar pun mendekat dan ingin memukul Yola juga Zahwa.
"Papah! hentikan!"
Tiba tiba Shaina datang berlari dari ruang dapur.
"Mengapa papah mau mukulin mereka? apa salah mereka pah?"
Tanya Shaina yang tak tau permasalahannya.
"Mah, kata Kakek, kak Zahwa anak ha*ram, apakah kak Zahwa nggak boleh di sentuh?"
__ADS_1
Tanya Yola polos.
"Astagfirullah paaah, mengapa papah tega? apa salah Zahwa sama papah?"
"Sayang, bawa kakak ke kamar dulu ya, biar mama bicara sama kakek.
Yola pun menggandeng Zahwa yang gemeteran, maklum selama ini dia tidak pernah di marahi begitu.
"Saat Zahwa kembali ke mari, kenapa justru Rangga cucuku yang sakit? mengapa tidak Zahwa saja heh?" Ucap Pa Linggar.
"Pah, Rangga sakit bukan karena siapa siapa, dia tertabrak di depan pagar pah."
"Apa? jadi.. dia tertabrak? mengapa tidak kau katakan dari awal?"
Pa Linggar tampak syok.
"Aku takut papa terkejut, sekarang Rangga udah baikan kok, mungkin besok sudah boleh pulang, tak kurang apa pun."
"Tetap saja aku terkejut kan? kau sengaja menyembunyikannya dari aku kan? seandainya Rangga meninggal! mungkin kalian akan menggantikannya dengan orang lain untuk mendapatkan warisannya heh? begitukah?"
Pak Linggar terlihat sangat kesal.
"Linggar pratama! kami tak seburuk itu!"
Tiba tiba Fathir sudah berdiri di depan pintu.
Fathir tampak sangat emosi, dengan tanggan mengepal.
Tap
Tap
Tap
Hap
"Kita tidak bisa di sini lagi. Ayo, kemasi barang barangmu dan juga anak anak!"
Ucap Fathir.
"Beng! tunggu! kita bicarakan baik baik, walau aku juga merasa kesal di katain macam macam namun kita bisa bicarakan ini."
Bujuk Shaina.
__ADS_1
"Tidak! tidak ada yang bisa kita bicarakan."
"Pergilah, pergi kalian dari rumahku! aku bisa mengurus diriku sendiri, aku bisa melakukannya sendiri pergiii!" Bentak Pa Linggar.
"Kakeeek." Rangga yang melihat pertengkaran pun merasa sedih.
Ceklek Bruk
Fathir masuk dan menarik tangan Shaina, lalu menutupnya kasar dengan kakinya.
"Beng...Tunggu dulu!"
Fathir sudah mengeluarkan tas dan memasukkan beberapa baju.
Yola dan Zahwa melihat itu hanya termangu dan heran.
"Mama...kita mau ke mana? kok baju Yola di masukkin dalam tas?"
Yola yang tak pernah melihat Fathir marah pun menjadi takut bertanya pada Fathir sendiri.
"Nak, Yola diam dulu ya."
Sementara Zahwa yang memang dari tadi sudah merasa takut dia hanya diam seribu bahasa.
"Beng, tunggu dulu!
Kali ini malah Shaina memeluk tubuh suaminya dari belakang erat, namun tubuh kekar Fathir tetap bisa bergerak dan sudah menyelesaikan tugasnya, semua baju yang ada di lemari sudah berpindah tempat ke dalam tas dan koper.
" Ayo!"
Bagai seorang peternak, Yola, Rangga dan Zahwa berjalan mengikuti Fathir begitu juga Shaina.
"Beng! tunggu dulu, jangan tergesak gesak."
Shaina masih berusaha membujuk Fathir dengan mencengkram pergelangan kekar Fathir yang sedang membawa tas dan koper.
"Apa kamu tidak punya harga diri heh, kamu sudah di hina ingin mengambil warisan orang tua itu, heh, keterlaluan, aku tidak terima kamu di hinakan begitu Shaina!"
"Ya...pergi kalian semua dari rumahku ini!"
Pa Linggar yang muncul dan duduk di depan kamarnya di atas kursi roda masih marah dan mengusir mereka.
Rangga pun terkejut dan menatap sedih kakeknya.
__ADS_1
Kakek yang selama ini menyayanginya, memanjakannya kini telah berubah.
BERSAMBUNG....