
"Tuan Hendra, sebenarnya anda mengalami Alziemer, atau penuaan dini."
Dengan berat hati dokter itu mengatakan kondisi Hendra saat ini.
"Alziemer? apa benar begitu dok, berarti selama ini aku sering melupakan sesuatu, karena kondisi itu?"
Hendra Syok, badannya lemas, kepalanya mulai sakit.
"Benar Tuan,"
"Apa ada obat dok? walau semahal apa pun akan aku tebus dok, tolong!"
Hendra memohon agar bisa di sembuhkan.
"Maaf Tuan, karena itu kerusakan syaraf2 tertentu, jadi tidak ada obat untuk saat ini Tuan."
Dokter pun dengan sangat menyesal harus mengatakan kabar buruk itu.
"Oh...berapa? berapa tahun lagi aku akan bertahan dalam kondisi sehat?"
Hendra sangat memprihatinkan.
"1tahun, kurang lebih satu tahun, dan ingatanmu akan memburuk dan mungkin kau pun akan melupakan dirimu dan keluargamu sendiri."
Ucap dokter lagi.
"Ya Allah, lalu aku harus apa?"
Hendra jadi bingung dan sangat terpukul.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan saat ini, apa kau punya istri atau anak?"
Tanya dokter.
"Istri ada, cuma belum punya anak."
Jawabnya
"Kalau kau ingin punya keturunan, baiknya kau lakukan sekarang. ini hanya obat untuk mengurangi rasa nyerimu saja ya."
dokter pun memberikan resep.
Hendra keluar dengan kaki gontai.
...
...
...
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Tak ada sahutan.
"Tuan, wa alaikum sa,,445lam.-
Bibi yang datang.
"Mamah dan Shaina sudah datang?"
Tanya Hendra.
"Belum Tuan."
Hendra pun masuk ke kamar tamu dan merenung.
Apakah aku harus mengatakan semua ini pada Shaina?
Lirih hati Hendra.
Dia galau, pikirannya kacau.
1Tahun?
Hendra mulai meneteskan air mata, dia lun mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya..
...
...
Ceklek
Ternyata Hendra sudah tidur.
"Mbak Laila, mari aku antar ke kamar atas."
"Iya, terimakasih."
Ternyata Shaina sudah menemukan cinta monyet Hendra.
"Mbak mandi aja dulu, nanti malam kita makan bersama."
Shaina pun meninggalkan kamar Laila.
Ceklek.
"Laila? kau sudah datang?"
Sesaat Shaina tertegun.
__ADS_1
"Obang! kau sudah bangun? apa kau ingin mandi, atau makan?"
Shaina pura pura tidak mendengar pertanyaan Hendra.
"Kita menikah ya? apa kau mau?"
Kali ini, Shaina berhenti berjalan, air matanya mulai menetes.
"Baik Bang, malam ini."
Shaina pun keluar kamar dan ke dapur untuk minum.
"Shaina? ada apa?"
"Mah, Hendra mulai melupakan aku, mengapa secepat itu? tadi pagi baik baik saja kok? apa dia sedang memikirkan sesuatu?"
Shaina mulai terisak.
"Tapi apa kau serius akan menikahkan Hendra dengan Laila?"
Ternyata Laila sudah janda beberapa tahun ini.
"Mah, aku ingin mengabulkan permintaan Bang Hendra untuk terakhir kali."
Shaina merasa ini lah yang bisa dia lakukan untuk Hendra.
"Baiklah, tapi kalau kau tidak siap, tidak apa apa, oh iya, bagaimana dengan mu, apakah ada tanda tanda kehamilan?"
"Belum mah."
"Baiklah, aku ke atas dulu nengok Laila."
Hendra harus punya keturunan, bagaimana pun caranya, mudahan setelah menikahi Laila dia akan segera hamil.
Lirih hati Ny.Linggar, ternyata hatinya tetap sama, busuk di dalam, hanya karena ingin dapat keturunan dia bisa baik baik,sama Shaina.
Tok tok tok
Ceklek
"Tante? masuk Tan!"
Laila yang baru saja mandi keramas terlihat cantik dan anggun, Laila dia wanita yang tidak menggunakan hijab.
Ny.Linggar masuk.
"Laila, malam ini kau akan menikah dengan Hendra, aku ingin kau segera bisa punya keturunan, kau sudah tau kan, kalau Hendra sekarang sedang sakit, kalau kau bisa hamil, maka aku akan memberikan sebuah perusahaan yang ada di pinggir kota untukmu, dengan catatan, kau akan melahirkan seorang anak laki-laki."
Laila tersenyum sambil sedikit mengerucutkan bibirnya. Seperti apa sebenarnya Laila yang sekarang.
__ADS_1
Nex....
BERSAMBUNG....