Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Merebut Minimarket Shaina


__ADS_3

Kau akan menyesal Luna.


Lirih Pak Linggar.


Dia pun masuk ke kamar dan mengambil telponnya.


'Helo, aku butuh 2 orang yang pintar dalam menguntit.'


Ucap Pak Linggar pada seseorang di sebrang sana.


'Oke, pasti, mau di pakai kapan?'


Tanya orang itu.


'Mulai besok.'


'Oke!'


Pak Linggar pun menutup telpon


Tok tok tok


"Masuk!"


Ceklek.


"Papah mau makan?"


Ternyata Shaina yang datang.


"Biar aku ke dapur saja sama Bibi."


Pak linggar pun mendorong kursi rodanya sendiri.


...


...


...


Sebulan telah berlalu.


Pagi yang cerah, hari ini Shaina akan pergi ke rumah umminya. Mungkin dia ingin bersandar di pundak umminya menghilangkan sedikit beban.


"Pah...apa papah ingin sesuatu?"


Palah mertuanya yang sedang santai membaca koran di depan rimah pun menoleh.


"Tidak Shain, kau mau ke mana? kok rapi banget?" Tanya mertuanya.


"Aku akan ke rumah ummi hari ini pah, aku akan membawa Bang Hendra juga."

__ADS_1


Jawabnya.


"Baiklah, hati hati ya."


Shaina pun saliman dan pamit.


"Kita mau kemana?" Tanya Hendra setelah berada dalam mobil.


"Ke rumah ummi Bang. udah lama kita nggak ketemu Ummi."


Mereka pun meluncur kekediaman lama mereka. Setelah berjamjam karena Shaina membawa mobil dengan sangat pelan, mereka pun sampai.


"Assalamualaikim Mi."


"Wa alaikum salam, eeeh Cucu Ummi yang cantik."


Ummi oun menggendong Zahwa dn membawanya masuk. Sementara Hendea di gandeng Shaina memasuki rumah sekaligus mini market itu.


"Bagaimana keadaan Hendra?"


Tanya Ummi pada Shaina.


"Mi...dia sudah melupakan segalanya, bahkan sama aku saja dia kadang lupa."


Shaina terlihat berkaca kaca.


"Yang sabar nak, mungkin Allah lagi mengujimu, mungkin ini akan mengangkat derajatmu kelak."


"Iya Mi.


"Minum." Ucap Hendra.


"Tunggu Bang!" Shaina pun mengambil cangkir dan mengisi air lalu menyerahkan pada Hendra.


Bruk


Hendra menepisnya.


"Lho? kenapa Bang?" Shaina heran.


"Botol." Ternyata Hendra pengen minum di notol yang dingin.


"Oooh, baiklah."


Shaina pun keluar menuju mini marketnya dan mengambil minuman dingin. lalu ke kasir. Walau milik sendiri, tentu saja tetap menscanenya lebih dulu. dan membayarnya juga. demi laporan keuangan kasir.


"Shaina...keluar kau!"


Teriakkan seorang wanita mengagetkan Shaina yang hampir masuk ke dalam rumah kembali terkejut. Dia pun berbalik dan mendekati suara tersebut.


"Mamah? ada apa mah?"

__ADS_1


Shaina kaget saat melihat mama mertuanya datang bersama Laila dan juga beberapa orang seperti notaris gitu.


"Kau! kemasi barang barangmu dari sini! dan angkat kaki dari minimarket ini!"


Usirnya pada Shaina.


"Mah? ini minimarketku mah! ini mahar Bang Hendra padaku sebelum kami menikah."


Ucap Shaina.


"Heh, itu dulu, sekarang kau bukan siapa siapa. kau kami ceraikan dari Hendra."


Ucap Mamah Hendra.


"Mah. Aku sedang hamil anak Mas Hendra, aku akan merawatnya sampai takdir yang akan memisahkan kami."


Ucap Shaina.


"Heh, apa kau yakin anak itu anak Hendra heh?"


Ucap mamahnya.


"Mah...hentikan! jangan memfitnahku yang bukan bukan."


Shaina pun masuk kedalam.


"Ayo! tutup toko ini!"


Ny.Linggar menyuruh karyawan menutup mini market itu dan mengambil kuncinya.


Sementara Shaina di dalam.


"Mi, aku titip Zahwa, aku harus melakukan sesuatu."


"Baik Nak." Ummi pun mendengar keributan di depan dan sudah mengetahui perihal mamah Hendra yang datang.


"Bang, ayo!"


Hendra pun di bawa keluar.


"Kita bicarakan ini di rumah, aku tidak ingin Ummiku melihat ini."


Ucap Shaina.


Sepasang mata menatap pertengkaran mereka dan menelpon seseorang.


'Iya Bos, baik, terimakasih.'


Ucap lelaki itu.


BERSAMBUNG....(527)

__ADS_1


__ADS_2